SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Pulang kampung 3


__ADS_3

Rombongan mobil yang membawa Rachel bersama yang lainnya, mulai masuk ke wilayah tanah milik Almarhum Javier. 21 tahun yang lalu, Tanah yang luasnya hampir 15 hektar dan di tumbuhi oleh belukar dan bebas pohon pisang kepok, berubah menjadi perkebunan yang maju, bukan hanya perkebunan saja yang ada di sana, beberapa Villa mewah yang sengaja Javier sewakan masih berdiri kokoh di dataran bukit kecil yang sudah ada saat Javier membeli tanah tersebut.


"Wow... cantiknya!" seru Amanda dan Lisa bersamaan, ketika melihat hamparan bunga Krisan berwarna warni, di sebelah kiri mereka.


"Ini taman Bunga, milik Elu, Chel?" tunjuk Lisa, matanya masih berbinar ceria melihat pemandangan bunga Krisan. berjejer sesuai dengan warna bunga.


"Punya Papa, bukan punya Gw" jawab Rachel. sekenanya, sambil mengelus kepala Elton yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


"Iya...tapi kan jatuhnya ke elu, semua" sahut Lisa kembali.


"kita turun di sini, yuk! kita jalan sampai rumahnya, Rachel... Gw jatuh cinta sama pemandangan di sini" ucap Amanda.


"Rumah Rachel masih jauh" sahut Rully


"kita harus melewati kebun brokoli dan kebun paprika, baru sampai ke rumah Rachel" lanjutnya lagi.


Rachel hanya memejamkan matanya, sambil menahan rasa nyeri, karena pergerakan bayinya di dalam perutnya.


menghiraukan ocehan ketiga temannya.


"Kok, Luh tahu?" tanya Amanda pada Rully.


"Yah tahu lah, Manda. ini kan kampung, kita berdua" jawab Rully.


Amanda hanya mengangguk saja.


"kalian tenang saja, Gw akan jadi pemandu wisata buat elu berdua, kita akan menyusuri seluruh perkebunannya Rachel" Ucap Rully.


"Oke!!" ucap Lisa dan Amanda gembira.


"Jangan lupa ajak aku, yah!" celetuk Dion, yang Duduk di samping sopir.


"Enggak malu ikut sama, Cewek?" tanya Lisa.


"Nggak... itung-itung aku yang akan jadi Bodyguard kalian" sahut Dion.


"Bodyguard? sorry...kita tidak butuh Bodyguard, kalau kuli panggul, mungkin kami butuh...siapa tahu kita tertarik petik sayuran dan Bunga Hias" oceh Ananda. sambil memasang Headset di telinganya, lalu kembali melihat pemandangan di luar mobil.


Wajah Dion menjadi merah menahan rasa geramnya.


Wah... bintitan kali nih cewek, masa seorang Dion yang memiliki wajah tampan begini, di suruh panggul sayuran, Dion.


Rachel hanya tersenyum.


Sedangkan Rully dan Lisa hanya menggeleng kepala, karena ocehan Amanda.


"Teman kamu Habis makan cabe rawit berapa kilo? Ngomongnya nyelekit banget" Tegur Dion.


Lisa dan Rully kembali tertawa kecil mendengar ucapan Dion.


"Maklumi aja, kak. ngomongnya emang begitu, ceplas-ceplos" sahut Lisa merasa tidak enak.

__ADS_1


Di mobil yang lainnya.


"Pemandangan di sini Indah sekali, aku penasaran dengan pemilik perkebunan ini?" ucap Ansel.


"Itu Soal gampang, Kau bisa menemui dirinya" sahut Maikel.


Anson hanya tertawa kecil mendengar ucapan Maikel. Anson lebih memilih menikmati pemandangan perkebunan.


"Apa kau mau mengenalkannya pada ku?" wajah Ansel terlihat ceria.


"Semua itu bisa di atur, asal kau bersedia meninggalkan dunia ini!" lanjut Maikel.


"Jangan asal bicara kamu, Maikel!" seru Ansel "Masa aku harus Mati?"


"Aku serius, tidak bercanda!' sahut Maikel.


Anson memutar bola matanya, mendengar percakapan mereka berdua.


Anson tak habis pikir dengan kedua orang yang sifatnya bisa berubah. setelah usia sudah melebihi setengah abad.


Maikel yang dulu tak banyak bicara, sekarang pintar beradu mulut dengan adiknya.


Sedangkan Ansel, semakin hari, semakin membuat dirinya, bisa darah tinggi. karena kekonyolan yang di buatnya semakin menjadi.


"STOP... JANGAN BERDEBAT!" Pandangan matanya menatap ke arah Maikel dan Ansel.


"Mengapa kalian berdua membuat telinga ku menjadi sakit" tegur Anson pada kedua Pria yang usianya sama dengan dirinya.


Maikel dan Ansel Langsung mengulum bibirnya. mendengar ucapan Ason.


"Perkebunannya ini, Milik Javier, Ansel! apa kau tidak melihat lambang milik Javier di pintu gerbang perkebunan ini?" ucap Anson.


"Ini milik Javier? yah Tuhan... selama ini aku mengkhawatirkan dirinya, aku takut dirinya terlunta-lunta di Indonesia, dan ternyata dia membangun sebuah istana di daerah ini" oceh Ansel. sambil menggelengkan kepalanya. tak percaya dengan kemajuan adiknya di negara ini.


"Adik mu itu bahkan memiliki sebuah pulau Pribadi dan ada sebuah resort Mewah di dalam pulaunya, di tambah dirinya membuat tambak, ikan laut di sepanjang pulaunya" ujar Maikel.


Anson dan Ansel Sampai terkejut dengan ucapan Maikel.


"Aku Serius" Maikel meyakinkan dua manusia yang memiliki wajah yang sama.


"Benarkah? aku akan meminta Rachel, untuk mengajak ku ke Pulau itu" ucap Ansel.


"Jangan menyusahkan menantu ku! kau lupa kalau dirinya sedang hamil, lagian juga Rachel tidak pernah ke pulau itu, cuma aku yang pernah ke sana"


"Tenang saja aku akan membawa mu, memancing di sana" Maikel tersenyum pada Ansel.


"Kau berhutang janji pada ku" sahut Ansel.


Sesaat mereka semua terdiam, sambil memandang jalanan.


"Pantas aku tidak bisa mencari keberadaannya, dia sengaja bersembunyi di tempat terpencil seperti ini" ucap Anson. mengingat perjalanan mereka masuk kedalam desa kecil. sampai mereka mendapat jalanan yang mulai menuju ke tempat Javier tinggal.

__ADS_1


"Pedesaan di sini tidak sama dengan pedesaan yang berada di negara kalian, jadi kalian menganggap desa ini terlalu kecil?" sahut Maikel.


"Tentu saja" ucap Anson


Di Mobil para wanita.


Mereka menikmati pemandangan juga sama seperti yang lainnya, cuma di sini berbeda.


Karena supir yang membawa mobil mereka, Orang suruhan Rachel, yang bekerja di perkebunan.


Mereka semua malah sibuk, bertanya pada sang supir, tentang seputar perkebunan.


Sedangkan di Mobil yang satunya.


Kepala Anthony sudah terasa mau pecah. karena ngidamnya.


Aroma parfum mobil, Daniel membuat kepala Anthony terasa sakit di tambah perutnya yang mulai meronta-ronta karena rasa mual.


Beberapa kali Daniel menghentikan mobilnya di pinggir jalan, karena Anthony yang ingin mengeluarkan semua cairan yang bergejolak di dalam perutnya.


Membuat mobil mereka tertinggal jauh dari rombongan.


"Kepala mu masih sakit?" tanya David khawatir.


Anthony hanya menggeleng lemah. sambil menghirup Aroma Save care.


"Daniel, bisakah kau berhenti di depan situ?!" Anthony menunjuk kearah sebuah gerobak asinan yang mangkal di pinggir jalan.


"Kau mau apa? ini sudah gerobak ke-tiga yang kita singgahi... Jangan macam-macam! kau hanya mengendusnya dan tak ingin membelinya" ucap David.


Tiba-tiba wajah Anthony menjadi sedih, karena keinginannya tidak di turuti.


"Mengapa kalian kejam sekali, aku hanya ingin menghirup nya" lirih Anthony.


"Nih hirup!" David menyodorkan, beberapa kantong plastik yang berisi asinan, yang terpaksa mereka beli, karena Anthony menghirup di atas wadah tempat asinan.


"Tidak mau...Gw maunya, gerobak yang itu" Anthony memasang wajah cemberut.


"Buset dah... sampai di tekuk tuh muka" David tertawa kecil melihat wajah Anthony.


"Gimana? kita turutin maunya? Gw takut dia nangis " ucap Daniel.


Dustin hanya mengulum bibirnya, menahan tawanya, melihat wajah suami adiknya yang mulai mengeluarkan air matanya.


"Lah dia nangis, baru aja di omongin " Tawa David pecah seketika di dalam mobil, melihat Wajah Anthony berlinang air mata.


Bukh...


Sebuah bantal kecil yang sengaja berada di dalam mobil, melayang tepat di wajah David.


"Dasar teman laknat, gw lagi susah malah di ketawain" sungut Anthony. tak terima David menggoda dirinya.

__ADS_1


Tawa David malah semakin pecah.


TBC


__ADS_2