SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.

SEBAGAI PENGANTIN PENGGANTI.
Perhatian Ansel.


__ADS_3

Anthony, melangkah tegap sambil menarik kopernya, keluar dari London City Airport. sejenak Anthony menghirup udara kota London, lalu menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Rasa letih sudah menjalar di tubuhnya. karena perjalanan yang di tempuhnya sangat panjang memakan waktu yang lama.


Senyum Bahagia terlihat dari Bibirnya, ketika melihat kehadiran Oliver yang datang menjemputnya.


"Maaf aku merepotkan mu" ucap Anthony ketika masuk kedalam Mobil.


"Ini hal yang biasa, aku tak merasa di repotkan" sahut Oliver. tersenyum kecil.


Sepanjang perjalanan ke Mansion mereka asik mengobrol bersama, ternyata Oliver dan Anthony satu pemikiran bila dalam urusan berbisnis.


"Apa kau bahagia menikah dengan Adikku, Anthony" tanya Oliver tiba-tiba.


Anthony tersenyum tipis mendengar pertanyaan Oliver.


"Aku bahagia... sangat bahagia, Rachel istri yang perhatian, walaupun sedikit cerewet" Anthony tertawa kecil bila mengingat istrinya mengomel, kalau dirinya pulang larut malam, masih sibuk melihat dokumen yang lainnya.


"Aku tak menyangka gadis bodoh itu akan menjadi istri ku..." Anthony tersenyum tipis, rasanya dirinya ingin cepat sampai lalu memeluk dirinya.


"Gadis Bodoh...hai adik ku gadis yang pintar, apa kau lupa dia sudah memasangkan sistem keamanan data di perusahaan mu" Oliver tak terima adiknya di bilang bodoh.


"Kalau soal kecerdasan istri ku tak usah di ragukan lagi Oliver, bagaimana aku tak mengatakan dirinya bodoh, waktu menolong mu,tanpa berpikir panjang, dia merentangkan kedua tangannya menghadang mobil ku, untuk menolong mu" ujar Anthony.


Anthony juga menceritakan saat melihat Rachel kedua kalinya di lampu merah waktu menolong seorang nenek yang kesulitan menyebrang.


Oliver hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Anthony " Mungkin jiwa sosialnya Menurun dari Mommy nya" ucap Oliver.


"O, ya..." Anthony.


"Yah... uncle ku memang memiliki jiwa yang lembut tapi hanya untuk keluarga dan orang terdekat bagi dirinya, selebihnya tidak. Uncle termasuk salah satu manusia yang tinggi Egonya...aku mendengar tentang sifat uncle Javier dari Daddy ku" ujar Oliver.


" Kau tahu yang berhak menyandang nama keluarga Berhan sebenarnya Uncle Javier, tapi karena uncle pergi dan tak kembali, terpaksa Uncle Anson yang memegang kendali keluarga Berhan"


Anthony tersenyum tipis mendengar ucapan Oliver.


"Kita makan dulu, baru pulang! aku yakin semua orang di Mansion, sudah tidur semua! " ajak Oliver ketika melihat jam tangan menunjukkan waktu jam 23:30.


Anthony hanya mengangguk antusias.


" kebetulan sekali... aku juga lapar" ucapannya pada Oliver.


Setelah acara makan malam yang berlangsung agak lama dari biasanya, Maikel dan Rico pamitan pada anggota keluarga Agam.


"Menginaplah di sini! Apa kau lupa Mansion ini memiliki banyak kamar tamu!" Ucap Ansel menawarkan pada Maikel.


"Maafkan aku... terlalu banyak kenangan di sini" Mata Maikel berkaca-kaca.


"Biar Putraku saja yang menggantikan ku disini" ucapnya lagi.


"Itu masalah lain, Putramu sudah menjadi bagian dari keluarga ini berarti dia putraku juga" sahut Anson.


"Rachel, Papa pulang dulu, ingat istirahat yang banyak!, jangan pikirkan tuan pemaksa mu itu!" Ucap Maikel membelai rambut panjang Rachel.


"Pasti Papa Tahu dari Mommy?" tebak Rachel, tersenyum lebar. pada Papa mertuanya.


Maikel hanya membalas senyuman Rachel, setiap Rachel tersenyum kepada dirinya, Maikel merasa seakan ,Javier. ada di samping Rachel.


"Kakak ipar, aku pulang dulu... jangan rindu kan aku" Rico mengedipkan sebelah matanya.


"Ternyata nyali mu besar juga..." seru Rachel melihat tingkah Rico

__ADS_1


"Mumpung satpam Belum datang" sahut Rico.


"Rachel tertawa kecil, mendengar ucapan Rico"


Setelah mengantar kepergian Papa Mertuanya, bersama Uncle dan Auntynya, Evita mendorong Rachel masuk keruang keluarga.


"Aku mau melihat, Elton di kamarnya" ucap Valeria melangkah ke arah sayap kiri mansion.


"Mengapa anak-anak Belum pulang? ini sudah jam berapa" protes Ansel.


"Hai... mereka semua pria dewasa, bukan anak-anak lagi!" sahut Anson.


"Walaupun mereka semua telah menjadi orang dewasa, aku masih takut terjadi sesuatu kepada mereka" ucap Ansel. menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kakak... seharusnya kau lebih waspada, menjaga kedua Putra mu, mengingat kau, ketua Mafia Eagle eyes!" Racau Ansel.


"Kau tenang saja, mereka berdua aman, aku sudah menyuruh beberapa anak buah ku menjaga Mereka berempat" Jawab Anson.


"Benarkah!" Ansel malah menggoda kakak nya dengan suara mendayu.


"Dustin saat ini berada di Liverpool..."


"Justin saat ini sedang berada di Jin Bo Law"


"Orion sekarang ada Baunce Farringdon"


"Anak buah ku terakhir melihat Oliver berada di London City Airport, mereka kehilangan jejak Oliver" ujar Anson matanya tajam melihat ke arah adiknya.


" Apa kau sudah menjadi lebih tenang?" tanya Anson.


"Kakak jangan menatap ku seperti itu! bisa-bisa aku jatuh cinta padamu" ucap Ansel seenaknya. menggoda Anson.


"Rachel...ayo uncle antar ke dalam kamar mu!"


Rachel berpindah tempat dari kursi roda ke tempat tidur.


"Selamat Malam, Rachel. mimpi yang indah!" Ucap Ansel pada keponakannya.


"Selamat malam juga uncle" Rachel langsung menutup matanya, karena efek obat Rachel mulai bekerja.


Sejenak Ansel mengamati lekuk wajah Rachel. bibirnya hanya membentuk garis lurus.


"Selamat malam Nona, Agatha...aku merindukan mu" Ansel mengecup sekilas kening Rachel, yang sudah terlelap di alam mimpinya. Ansel menyelimuti Rachel sampai dadanya,


Ansel lalu berjalan menuju Kamar Elias, di sana sudah ada Anson yang sedang merapikan selimut Daddy nya


"Apa Rache,l sudah tidur?"tanya Anson


"Ya... ternyata obat yang di berikan Dokter Alana, cepat sekali bekerja, sampai di atas tempat tidurnya, Rachel langsung tertidur" jawab Ansel menghampiri tempat tidur Elias.


"Selamat malam, Daddy. Mimpi yang indah" ucap Anson mengecup kening Elias.


Suara dengkuran halus Elias terdengar di telinga mereka berdua.


"Semoga keadaan Daddy cepat pulih, agar bisa menemui, Rachel" ucap Ansel.


"Ayo kita keluar! biarkan Daddy istirahat!" Ajak Anson pada adiknya.


Waktu berlalu, Mata Anthony memandang takjub, ke sebuah bangunan besar yang sekarang berada di hadapannya. Mansion ini lebih besar dari pada Mansion milik Papanya.

__ADS_1


"Ayo masuk..." Ajak Oliver.


Suasana di dalam Mansion sangat sepi... Oliver tahu para penghuninya sudah pada tertidur lelap, tapi kali ini dugaan Oliver meleset.


Ketika mereka berdua sedang berdiri di ruang tengah Mansion keluarga Agam. tiba-tiba lampu yang tadinya gelap, menjadi terang benderang.


Anthony menyipitkan matanya, agar mampu beradaptasi Dengan cahaya. agar tidak silau.


"Selain malam, Uncle... Daddy" Oliver menyapa mereka berdua.


Mata Anthony tak berkedip, menatap kedua pria yang usianya sama dengan Papanya. Mereka memiliki wajah yang sama, kemiripan mereka 95% di mata Anthony.


"Siapa dia Oliver? mengapa kau membawa seorang tamu malam-malam begini!" Anson menatap lekat wajah Anthony.


Anthony jadi salah tingkah di tatap seperti itu.


Matanya tajam sekali, seperti seekor elang yang sedang mengamati mangsanya, Anthony.


"Aku minta maaf, bila kehadiran ku di sini mengganggu kenyamanan keluarga ini..." ucap Anthony .tak terlihat di wajahnya rasa takut pada wajah Anthony..


Anson tersenyum tipis mendengar ucapan Anthony.


"Sepertinya aku tak asing dengan wajah nya" gumam Ansel memperhatikan Anthony.


"Pria ini berani sekali, tak terlihat rasa takut pada wajahnya" batin Anson.


"Daddy.."


"Uncle..."


"Pria ini... suaminya Rachel...aku baru menjemputnya di Bandara" Ucap Oliver seketika.


Ansel dan Anson saling beradu pandang.


"Benarkah?" seru Ansel. mendekati Anthony.


Ansel mengamati wajah Anthony, dengan seksama.


"Kakak...Apa kau ingat Wajah nya?" tanya Ansel.


Anson tersenyum tipis mendengar ucapan Adiknya.


" Pantas saja...Dia memiliki ekspresi wajah seperti itu, Sama seperti manusia Batu, sewaktu muda" sahut Anson.


"Selamat datang di keluarga Agam" Ansel memeluk Anthony.


Anthony sempat diam tak bergeming, ketika Ansel memeluk tubuhnya,


"Terima Uncle..."


"Panggil aku Ansel... Uncle Ansel" ucap Ansel menepuk pundak Anthony.


Anson hanya tersenyum lebar pada Anthony.


TBC


Jangan lupa untuk kasih jempolnya yah, guys


.

__ADS_1


Typo bertebaran.


"


__ADS_2