Senar Takdir

Senar Takdir
Upacara Bendera


__ADS_3

Wulan dan Tiara, duduk bersila di atas lantai lalu mengeluarkan seluruh dokumen berada di dalam map coklat. Mereka melihat, terdapat nama Tiara pada anggota keluarga Wulan. Selain itu, terdapat nomer, tempat dan waktu lahir tertera dalam dokumen. Beberapa lembar fotocopy, terlihat di dalam map.


Ketika Wulan menyentuh kertas, dia merasa hangat pada permukaan kertas tersebut. Rasanya, seperti kertas itu seperti baru selesai melakukan fotocopy. Begitu juga dengan foto Tiara mengenakan seragam.


"Dewimu terniat sekali," puji Wulan.


"Iya, sejak dulu Sang Dewi memang selalu perhatian padaku. Terkadang, aku merasa tidak pantas mendapatkan perhatiannya."


"Jangan begitu, mungkin Dewi itu melihat sesuatu spesial pada dirimu. Makanya, dia selalu memberi perhatian lebih kepadamu. Ayo cepat, sebentar lagi aku harus berangkat sekolah."


"Iya."


Mereka berdua, kembali mempersiapkan dokumen untuk diberikan kepada Pak Louis tidak lain adalah Ayahnya Wulan. Setelah mempersiapkan dokumen, Wulan masuk ke dalam kamar mandi dengan selembar handuk. Sementara Tiara, menunggu seorang diri di dalam kamar.


Ketukan pintu mulai terdengar, perlahan pintu kamar terbuka lalu Pak Louis masuk ke dalam kamar. Beliau membawa dua lembar formulir pendaftaran sekolah miliknya. Tiara diminta untuk mengisi formulir tersebut.


Wulan masuk ke dalam kamar, dia melihat temannya sedang sibuk mengisi formulir pendaftara. Dia mulai mengenakan seragam SMP dan perlengkapan MOS lainnya. Topi terbuat dari bola plastik, ikat rambut dari tali rapia, kaos kaki putih dan hitam dan tas kardus sudah dia kenakan.


"Ha.ha.ha.ha! Penampilanmu konyol sekali," kata Tiara melihat penampilannya.


Wajahnya tersipu malu, dia memalingkan wajahnya karena malu memperlihatkan penampilannya begitu memalukan.


"Apa boleh buat!" balasnya dengan wajah memerah.


Setelah itu, giliran Tiara untuk mandi lalu selesai mandi dan mengenakan baju mereka berdua turun ke bawah. Tiara memberikan formulir yang telah di isi kepada Pak Louis. Beliau berkata, bahwa Tiara tidak bisa mengikuti MOS (Masa Orientasi SIswa). Mendengar hal itu, Tiara mersa sedih dan berusaha untuk menerimanya.


Beliau juga berkata, bahwa dia akan masuk di hari pertamanya sekolah setelah Pak Louis selesai dengan urusannya. Mendengar hal itu, Tiara sangat senang lalu dia bertekat membalas kebaikan Wulan beserta keluarganya.


Wulan dan keluarganya pergi meninggalkan Tiara seorang diri di rumah. Selama di rumah, dia membersihkan setiap sudut ruangan dengan sebuah sapu dan peralatan kebersihan telah ia pelajar. Pada pukul sepuluh pagi, Ibu Wulan beserta anak keduanya tiba di rumah. Mereka terkejut, melihat halaman dan dalam ruangan begitu bersih. Mereka berdua, melihat Tiara sedang memotong bawang untuk menyiapkan menu makan siang.


Tidak terasa sore telah tiba, Wulan baru saja tiba di rumah. Sang Ibu menceritakan, apa yang dilakukan Tiara seharian di rumah. Mendengar hal itu, Wulan sangat senang mendengar apa yang dilakukan temannya. Berkat Tiara, pekerjaan Ibunya di rumah menjadi ringan. Menu makan malam yang lezat, membuat Wulan beserta keluarga berada di restoran bintang tiga.

__ADS_1


Tiara bersyukur, pengetahuan dan pengalaman dalam melayani Istana sangat berguna. Kini dia bisa membalas kebaikan Wulan beserta keluarganya. Wulan juga bersyukur, bertemu dengan sosok bidadari seperti Tiara. Begitulah yang dia ingat ketika memandang Tiara sedang menikmati sarapan pagi.


"Cepat, anak-anak. Sebentar lagi, upacara bendera akan dimulai."


"Iya," ucap kompak Wulan dan Tiara.


Selesai sarapan pagi, mereka berdua berjalan keluar rumah. Wulan mengeluarkan motor Beat miliknya di dalam garasi. Satu persatu, mereka berdua menaiki motor lalu melaju meninggalkan rumah. Sinar matahari menjulang tinggi, suasana arus lalulintas cukup padat. Banyak anak sekolah, mengendarai sepeda motor memadati arus lalulintas. Ada juga, beberapa dari mereka terlihat menaiki transportasi umum.


"Padatnya," keluh Tiara duduk di kursi belakang melihat padatnya arus kendaraan.


"Namanya juga ibukota," balas Wulan.


"Sudah tau begini, lebih baik terbang saja dengan selendangku," keluhnya melihat situasi jalan begitu padat merayap.


"Sabar, sebentar lagi sampai. Memangnya kita terbang pakai apa? Dan kamu, memangnya kamu tau alamat sekolah kita?"


"Tidak tau."


"Kalau begitu sabar, sebentar lagi sampai. Lama-lama kamu juga terbiasa dengan situasi seperti ini," timpal Wulan sambil mengemudikan kendaraannya.


Mereka berdua berjalan memasuki gerbang sekolah. Tanpa Tiara sadari, kencantikannya telah menarik perhatian para anggota OSIS. Kedua mata para penghuni sekolah, tidak berkedip ketika memandang parasnya yang indah. Diam-diam, mereka saling bertanya mengenai sosoknya.


Mereka mengira, Tiara merupakan seorang selebgram dan ada juga menyangka bahwa ia merupakan seorang aktris. Seluruh siswa telah berbaris di lapangan basket. Para komite kedisiplinan, memeriksa atribut dan menuntun para siswa untuk berbaris rapih. Guru-guru, terlihat santai berjalan memasuki barisan.


"Kalian berdua, cepat baris!" perintah salah satu anggota komite kedisiplinan.


"Iya, kak!" balas kompak mereka berdua.


Mereka berdua, meletakkan tas milik mereka bersama para siswa lain di lorong. Kemudian mereka berlari, mencari barisan kelas sambil memakai topi. Berkat bantuan anggota OSIS, akhirnya mereka berdua berhasil menemukan barisan kelas 10 IPS F.


Aroma tubuh Tiara yang harum, parasnya yang cantik dan senyuman manisnya menjadi pusat perhatian. Namun dibalik senyumannya, dia merasa risih oleh orang-orang menatapnya. Wulan berdiri di belakangnya, menyadari hal itu lalu dia memegang pundaknya.

__ADS_1


"Abaikan saja," ujarnya membuat Tiara sedikit tenang.


Para anggota OSIS, terlihat sibuk mengatur barisan. Beberapa siswa, terlihat baru masuk ke dalam barisan. Di antara barisan, ada satu barisan khusus untuk siswa tidak memakai atribut lengkap. Mereka semua berbaris di bawah trik sinar matahari. Beruntung, barisan kelas 10 IPS F berada tepat di bawah pohon cukup rindang.


Upacara di mulai, seluruh siswa berdiri tegak mengikuti jalannya upacara bendera. Seluruh petugas upacara dan tim kesehatan sibuk menjalankan tugasnya. Tiara terdiam, menikmati jalannya upacara bendera. Dia ingin tau arti di balik bendera bagi penduduk Bumi. Setelah pengibaran bendera, giliran Kepala Sekolah memberikan pidato.


Seluruh siswa, berada barisan tengah hingga belakang mulai berbincang dengan suara rendah. Mereka tidak ingin menarik perhatian anggota Komite Kedisiplinan.


"Wulan."


"Iya?"


"Kenapa penduduk Bumi, hormat kepada bendera?" tanya Tiara.


"Hmm....., dibalik kibarnya bendera terdapat tetesan darah dan keringat para pejuang di Negeri Ini. Kami selalu memberi hormat setiap upacara dan hari penting, sebagai tanda penghormatan serta cinta tanah air. Ya, kira-kira begitu," jawab Wulan.


"Begitu rupanya, aku mengerti. Ngomong-ngomong, di mana suamiku?" tanya Tiara berbisik kepada Wulan.


"Entahlah, mungkin ada barisan paling belakang atau masuk ke dalam barisan siswa terkena rajia."


"Hah, padahal aku ingin melihat suamiku."


"Sabar, nanti di kelas kamu juga bertemu dengannya," timbal Wulan.


Tidak terasa, upacara telah berakhir. Seluruh siswa kembali ke kelasnya masing-masing. Sementara Wulan dan Tiara, berjalan mengambil tas berada di lorong. Ketika ia sedang duduk bersipuh mengambil tasnya, dia memandang seorang lelaki tampan berambut coklat. Sepasang mata merah, kulitnya yang putih dan rambutnya yang coklat.


"Suamiku," gumamnya di dalam hati.


Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Jantung Tiara berdegup kencang, bibirnya gemetar dan memandang parasnya tanpa berkedip. Alexander terus memandang parasnya yang cantik jelita. Sorot matanya, memandang dari ujung rambut hingga kedua lututnya naik dan turun secara berulang.


Tiara tersenyum lebar, kedua tangannya menutup celah yang ada di balik roknya sambil memalingkan wajahnya. Melihat responnya, wajah Alexander menjadi merah padam. Gadis itu memandangnya dengan sorot mata yang tajam dengan wajah cemberut. Setelah itu, dia pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Wulan menepuk pundaknya, dia sempat mendengar Wulan menertawakannya.

__ADS_1


"Bos-bos," ucapnya sambil menepuk pundaknya sebanyak dua kali.


Setelah itu, Wulan pergi begitu saja meninggalkan Alex sedang terdiam penuh tanda tanya. Lalu, dia pun berjalan menelusuri lorong seorang diri menuju kelas. Kehidupan Alexander di masa SMA akan segera dimulai.


__ADS_2