Senar Takdir

Senar Takdir
Karena Wulan


__ADS_3

Matahari telah terbenam, Tiara duduk di ruang tamu sambil menatap layar laptop milik Alex. Dari arah dapur, Alexander mengenakan kaos dan celana pendek berjalan sambil mengelap rambutnya dengan selembar handuk.


Kemudian, dia duduk di samping Tiara sedang membaca naskah novel pada laptop. Alexander, menggantungkan handuk pada lehernya lalu duduk bersandar sambil mendongak ke atas.


Dia tidak menyangka, bahwa hari ini dirinya telah melakukan persetubuhan di dalam kamar. Apa yang dia alami seolah terasa seperti mimpi.


Tiara melirik kepada Alex, dia tersenyum manis lalu bertanya, "Bagaimana rasanya olahraga ranjang?"


Wajah Alexander merah padam, dia menunduk lalu menjawab, "Mantap," ujarnya malu-malu.


"Lebih nikmat dibandingkan melakukannya sendiri bukan?"


Alexander tidak membalas perkataannya, dia hanya mengangguk dengan raut wajah memerah. Tiara memeluk lengan Alex lalu bersandar pada pundaknya.


"Kalau mau, jangan ragu memintanya langsung kepadaku," ujarnya sambil mempererat pelukannya.


"Males, main sepuluh ronde minta ampun."


Tiara tertawa lalu membalas, "Percayalah yang main sampai jam lima sore."


"Kamu menyesal melakukan hal ini denganku? Gak takut hamil atau apa gitu?" tanya Alexander.


Tiara menggelengkan kepala lalu menjawab, "Buat apa aku menyesal? Justru aku senang melakukannya dengan orang yang aku cintai. Selain itu, hari ini adalah hari aman. Lagi pula, tidak semudah itu untuk hamil kecuali ada kebijakan khusus dari Dewi Cinta. Semua pertanyaan dan keraguanmu, terjawab di dalam buku nikah kita."


"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Ngomong-ngomong, bagaimana kamu tau tempat folder rahasiaku?"


Tiara mulai menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi. Sewaktu Alexander sedang sakit, Wulan dan Tiara memasuki gudang telah Tiara ubah menjadi kamar.


Dia tidak menceritakan mengenai Wulan yang telah mengetahui Alexander tidur seranjang dengannya. Wulan memberikan sebuah ramalan kepada Tiara.


"Setiap manusia, terlahir dengan dua sisi yang berbeda. Jika ingin mengetahui sisi lain dari Bos, kamu akan tau di dalam laptopnya."


Mengingat ramalan Wulan, Tiara semakin penasaran lalu selesai merevisi naskah novel dia mengotak-atik laptop milik Alex. Awalnya, dia hanya menemukan beberapa dokumen tugas semasa SMP. Selain itu, dia menemukan beberapa foto keluarga.


Dia tersenyum, melihat foto Alexander semasa kecil. Terkadang gadis itu tertawa, melihat foto Alexander ketika menangis karena tubuhnya dipenuhi lumpur hitam.



Tiara tertawa lalu bertanya, "Lihat fotomu itu membuatku ketawa. Sebenarnya ada apa? Kenapa tubuhmu waktu itu penuh dengan lumpur?"

__ADS_1


Alexander tertawa lalu menjawab, "Dulu, aku belajar sepeda dengan almarhum Nenekku. Gak sengaja, aku lepas kendali dan akhirnya tercebur saluran air."


"Aku kira, kamu lagi cosplay jadi Venom," canda Tiara.


Alexander tertawa lalu membalas, "Mana ada!"


Cerita berlanjut, sekian lama mengotak-atik Tiara menemukan sebuah folder tidak jauh dari tempat naskah milik Alexander berada. Tiara membukanya, namun tidak ada apapun selain sebuah folder. Lima kali, Tiara terus membuka folder itu hingga akhirnya kedua matanya tidak berkedip ketika melihat puluhan video porno.


Wajahnya merah padam, saat menonton salah satu koleksi filmnya. Tubuhnya terasa panas sekaligus merasa gelisah ketika menonton film tersebut. Tiara melihat sebuah folder yang terdapat tanda titik.


"Aku gak nyangka, suamiku menulis cerita tentangku. Kira-kira, cerita seperti apa ya?" ujarnya ketika melihat dokumen bertuliskan nama dirinya.


Tiara membuka isi dokumen tersebut lalu membacanya. Semakin lama ia membaca, wajahnya memerah dan semakin gelisah. Birahinya semakin meningkat, begitu mengetahui bahwa Alexander menulis cerita panas terutama adegan ranjang Alexander dengan dirinya.


Bukannya berhenti, Tiara terus membacanya sampai akhir walau harus memainkan jari-jarinya. Selesai membaca, dia langsung bersandar dalam keadaan tubuhnya basah. Tiara bertanya-tanya, mengapa Alexander menulis cerita seperti itu lalu sekilas dia pun teringat perkataan Alex.


"Semenjak kecil, Ibuku selalu pilih kasih kepadaku. Dia lebih sayang dan memanjakan kakakku. Kakakku selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Berbeda sekali denganku yang penuh pertimbangan. Di sekolah, aku selalu menjadi korban bullying. Setidaknya menulis, hanya untuk melampiaskan keinginanku yang tidak tercapai. Itulah alasan mengapa aku menulis."


Mengingat hal itu, Tiara tersenyum lalu menjilati pangkal bawah bibirnya dan memasang raut wajah mesum. Tiara bertekad untuk mewujudkan keinginan kekasihnya. Dari situlah, dia terus menggoda Alex hingga salah tingkah.


"Sampai memainkan jari segala, ternyata kamu mesum, juga" kata Alexander dengan wajah merah.


"Mau aku ambilkan kaca?" sindir Tiara tersipu malu.


Tiara tertawa lalu berkata, "Tanpa kaca pun seharusnya kamu sudah tau."


"Kenapa? Emangnya bisa?"


"Bisa dong. Sebab, jodoh itu cerminan diri kita sendiri," jawab Tiara.


Alexander memalingkan wajahnya dengan tersipu malu. Melihat tingkahnya membuat Tiara tertawa sambil menutup mulutnya.


"Aku diminta ulang untuk menemaninya belanja. Tiba-tiba saja dia memintaku untuk pulang. Dia bilang terjadi sesuatu denganmu. Tidak aku sangka ternyata kamu...."


Wajah Alexander merah padam, "Udah neng udah!" katanya dengan sangat malu.


Tiara tertawa lalu berkata, "Secara tidak langsung, kita masuk di dalam rencana Wulan. Jangan-jangan, memang kita masuk dalam rencananya?"


Alexander menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Gadis itu benar-benar menakutkan."

__ADS_1


"Setuju-setuju! Tapi berkat Wulan, rutinitas kita jadi bertambah," kata Tiara lalu mendekat pada daun telinganya, "Kamu tau maksudku bukan?"


Alexander menunduk tersipu malu lalu berkata, "Seandainya Wulan datang diwaktu bersamaan dengan paket PS5 milikku, aku gak kaget."


"Ngomong-ngomong, saat di kelas kenapa kamu bilang ke teman-temanmu bahwa kamu itu suamiku?" tanya Tiara.


Seketika wajahnya merah padam, malu-malu ia mulai Alexander bercerita bahwa waktu itu teman-teman memuji kecantikan Tiara. Dia tidak menceritakannya secara mendetail, berikut kegiatan menonton bersama.


Selesai memuji Fajar menjulurkan tangan lalu berkata, "Kenalin pacarnya Tiara," canda Fajar kepada Alexander dan tiga temannya.


"Asik!"


Alexander tidak mau kalah, dia berdiri dari tempat duduknya lalu menepuk dada sebanyak tiga kali. "Kenalin, suaminya Tiara!"


"Cieee!" ucap kompak seluruh penghuni di kelas.


Alexander sangat malu, dia tidak menyangka bahwa apa yang ia ucapkan terdengar seluruh kelas. Mengingat hal itu, wajah Tiara ikut tersipu malu. Dia mencium pipi Alex lalu memeluk dan bersandar pada pundaknya.


"Katanya hubungan kita dirahasiakan. Tapi kamu malah mengungkapnya," kata Tiara.


"Itu tidak benar, sayang. Waktu itu aku hanya bercanda," balas Alex.


"Jujur saja, waktu itu aku sangat senang. Aku jadi tidak sabar menunggu momen saat hubungan kita diakui dan diketahui semua orang."


Alexander mencium keningnya lalu berkata, "Sabar cepat atau lambat, momen itu pasti akan datang."


Bel rumah telah berbunyi, mereka berdua menoleh ke luar. Seorang Kurir berdiri di balik pagar rumah. Mereka berdua berjalan keluar menemui Kurir sedang memegang sebuah kardus besar.


"Atas nama Alexander Wirawan?" tanya Kurir.


"Iya," jawab Alex dengan singkat.


Kurir itu memberikan catatan penerimaan barang. "Silahkan ditanda tangan," pinta Kurir sambil menunjuk pada kertas.


Alexander menandatangani kertas tersebut lalu menerima paket dari pengantar paket. Kemudian pengantar paket itu pergi. Tidak berselang lama, Alexander mendengar suara motor tak asing di telinga mereka.


"Sudah aku duga," ucap mereka berdua melihat kedatangan Wulan mengendarai motor matic miliknya. Dia membawa ransel hitam di belakang punggungnya.


Motor yang dikendarai Wulan berhenti. Wulan mengangkat tangannya lalu berkata, "Hello Guys!"

__ADS_1


Alexander dan Tiara melambaikan tangan sambil berkata, "Hello."


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Wulan turun dari motornya lalu mengambil paket dus di kedua tangannya. Sambil berjalan masuk ke dalam rumah dia berkata, "Yes, PS5! Saatnya eksekusi!" ucapnya tidak sabar.


__ADS_2