Senar Takdir

Senar Takdir
Bengkel Rahmat


__ADS_3

Wulan dan Tamrin menaiki motor masing-masing. Tamrin melaju secara perlahan sambil mendorong motor yang dikendarai Wulan dengan satu kaki.


Dia berkata kepada Wulan, bahwa ia akan membawanya ke bengkel. Wulan pun hanya mengiyakannya saja. Kemudian, dia kembali fokus memegang kemudi agar tidak menabrak bahu jalan.Lima belas menit lamanya diperjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah bengkel. Pada bengkel tersebut, terdapat sebuah papan bertuliskan "Bengkel Rahmat".



Mereka berdua, melihat seorang lelaki berusia 40 tahun duduk manis sambil menikmati sebatang rokok dan segelas kopi hitam. Lelaki itu melihat kedatangan Tamrin lalu ia mematikan rokoknya.


"Lama banget, tes kemudinya. Gimana enak tarikannya?"


"Pasti! Siapa dulu, dong. Mekanik handal?! balas Tamrin.


"Ngomong-ngomong, cewek itu siapa? Kenapa dia dibawa ke sini? Elu culik ya?!" canda lelaki itu.


"Ngaco! Mana berani gue culik cewek. Kalau pun iya, Cindy Yuvia yang bakal gue culik!" balas Tamrin.


"Hei, Tamrin. Dia siapa?" tanya Wulan berbisik kepada Tamrin.


Tamrin mulai memperkenalkan lelaki dihadapannya. Beliau bernama Herman, Paman dari Ibu Tamrin. Setiap hari, dia selalu memanggilnya dengan sebutan Bang Herman. Bang Herman, merupakan mekanik sekaligus pemilik bengkel ini.


"Tamrin, siapa gadis ini? Pacar elu? Ciee! Ciee!"


Tamrin tersipu malu, dia menjelaskan bahwa Wulan adalah teman sekelasnya. Bang Herman tidak percaya, dia hanya mengiyakannya saja. Beliau bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Wulan menceritakan semuanya, dimulai dari motornya yang tidak bisa melaju yang padahal mesin dan tangki bensin masih penuh.


Selain itu, dia menceritakan mengenai peristiwa pembegalan dilakukan oleh Geng Motor hingga Tamrin menyelamatkannya. Wulan sengaja, tidak menceritakan sebenarnya agar tidak mencolok karena aksinya menghajar para anggota Geng Motor.


"Wilayah itu memang rawan, neng! Lain kali jangan keluar malam. Mending di rumah tidur," ujar Bang Herman menasehati lalu beliau bertanya, "Memangnya neng, mau ke mana?"


"Beli, Kebab."


"Aduh, neng. Mirip bocah minta permen. Padahal siang juga bisa."


"Sudah-sudah, Bang. Setidaknya Wulan aman sama Tamrin!"


"Iyalah, Mas Pacar pemberani," goda Bang Herman membuat Tamrin  tersipu malu.


Bang Herman pamit, ia pun berjalan masuk ke dalam bengkel. Sekarang tinggal mereka berdua berada di depan bengkel. Wulan melihat-lihat, suasana yang ada di bengkel lalu ia melirik ke arah Tamrin.


Dia terdiam, melihat apa yang dikerjakan oleh Tamrin. Lelaki itu begitu serius mengecek kerusakan pada motor Wulan. Wulan teringat, ketika Ekskul Band ia pamit untuk kerja paruh waktu.


"Tamrin, kamu kerja di sini?" tanya Wulan.

__ADS_1


"Iya, Wulan. Aku kerja di sini," jawabnya lalu dia berbalik dan membentangkan kedua tangannya sambil berkata, "Selamat datang di tempat kerjaku!"


"Hmm.., sekarang jadi masuk akal kenapa kamu selalu ingin cepat pulang. Sejak kapan kamu bekerja di sini?"


"Sejak kelas tiga SMP. Sewaktu SMP, aku pindah sekolah di Kota Ini. Tetapi sebenarnya, bukan ini saja pekerjaanku."


"Memangnya selain kerja di Bengkel, kamu kerja apa?" tanya Wulan lalu Tamrin menjawab, "Ojek Online!" jawaban dengan penuh semangat.


Angin malam mulai berhembus, sedikit motor melaju melintasi bengkel. Tamrin menemukan masalah yang terjadi pada motor milik Wulan.


"Hei, Wulan. Kamu ke bengkel berapa bulan sekali?" tanya Tamrin.


"Setahun sekali."


"Setahun sekali? Gila! Kamu lihat ini!" balas Tamrin sambil menunjuk.



"Belt motormu sampai putus. Oli mesin tinggal setetes! Dengar Wulan, bukan manusia yang butuh perawatan. Motor juga butuh perawatan," ucap Tamrin menasehati.


"Aku kira, isi bensin saja sudah cukup."


"Mana bisa begitu!"


Tamrin mulai menasehati Wulan, tentang pentingnya perawatan motor. Wulan terdiam dan ia hanya mengiyakannya saja. Melihat hal itu, Tamrin menggelengkan kepalanya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki motor Wulan. Saat Tamrin sedang memperbaiki motor Wulan, dia teringat cara bertarung Wulan.


"Hei, Wulan. Sewaktu SD atau SMP, apa kamu sering terlibat perkelahian jalanan?" tanya Tamrin lalu Wulan menjawab, "Tidak."


"Bohong. Mana mungkin ada cewek yang bisa menghajar lima cowok sekaligus."


"Tamrin. Kamu pernah menonton film melihat masa depan?" tanya Wulan lalu Tamrin menjawab, "Gue tau."


Wulan menceritakan, bahwa dirinya memiliki kemampuan melihat masa depan. Dia melihat, apa yang akan dilakukan lawannya dalam waktu lima menit yang akan datang.


Mendengar hal itu, Tamrin sempat tidak percaya tetapi mengingat cara Wulan bertarung akhirnya dia percaya. Kemudian, Wulan bercerita mengenai kemampuan meramal yang dia miliki. Dia mengaku, bahwa dirinya bisa meramal yang akan menimpa seseorang walau tidak pasti kapan waktu terjadi.


"Hebat! Kamu gadis peramal sungguhan!" puji Tamrin.


"Biasa saja, masa depan tidak bisa bisa diprediksi. Semua kuasa Sang Pencipta."


Tamrin terdiam, dia kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki motor Wulan. Di dalam hati, Wulan berkata bahwa selain melihat masa depan. Dia juga bisa melihat latar dan masa lalu secara akurat.


Waktu telah berlalu begitu cepat, akhirnya Tamrin menyelesaikan pekerjaannya. Dia berjalan ke dalam bengkel lalu mencuci tangan dan mengambil dua gelas air beserta cemilan. Setelah itu dia berjalan keluar membawa nampan.

__ADS_1


"Ayo, dimakan dulu," kata Tamrin sambil meletakkan nampan di atas kursi.


Mereka berdua menikmati cemilan bersama. Wulan teringat Tamrin selalu memanggilnya dengan sebutan "Bos". Dirinya penasaran, mengapa Tamrin memanggilnya seperti itu.


"Tamrin, ada yang ingin gue tanyakan."


"Apa itu?" tanya Tamrin lalu Wulan balik bertanya ,"Kenapa kamu manggil Alex dengan sebutan Bos?"


"Karena Alexander itu orang yang menarik."


"Menarik? Apa maksudmu?"


Tamrin menceritakan maksud dari perkataannya. Ketika pertama kali bertemu dengan Alex pada Masa Orientasi Siswa, ia melihat Alex memperhatikan sekitar dengan sorot mata yang tajam.


Alexander selalu memperhatikan buku catatan hitam, sebelum melakukan sesuatu. Tanpa sepengetahuan Alex, Tamrin melihat isi dari buku catatan miliknya.


"Kamu masih ingat, Alex pernah bercerita bahwa dia merupakan korban bullying. Dari situlah, gue menyimpulkan bahwa Alexander tipe lelaki yang suka mengamati dan menganalisa situasi. Selain itu, remaja seperti kita suka membuat kelompok. Menurut gue, Alex cocok mendapatkan posisi ketua"


"Hmm..., aku juga berpikiran hal yang sama. Tapi ada satu hal yang tidak kamu tau, membuat Alexander pantas mendapat julukan Bos," balas Wulan.


"Apa itu, Wulan? Jangan bikin gue penasaran."


"Nanti juga kamu tau."


Tamrin semakin penasaran kepada Alex, mengenai hal yang membuatnya pantas mendapat julukan Bos. Selesai menikmati cemilan, Tamrin meminta biaya tagihan atas perbaikan motornya. Wulan mulai mengambil uang di dalam dompet. Di saat yang bersamaan, Bang Herman pun keluar dari bengkel.


"Tamrin, orang kesusahan elu malah minta bayaran. Neng! Tidak usah, neng! Buat Neng Wulan gratis!"


"Hmm..., kalau begitu terima kasih."


"Tamrin! Antar gebetan elu pulang ke rumah! Bengkel biar Abang yang tutup."


"Iya, Bang. Iya!"


"Tidak usah, Wulan masih penasaran soal Kebab itu."


"Ya, sudah. Biar Tamrin yang temani, sekalian antar kamu pulang," balas Tamrin.


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya lelaki sejati!"


"Iya, bang. Iya," balasnya sambil menaiki motor Supra X 125 sempat ia gunakan.


Wulan menaiki motornya, mereka berdua melaju di atas aspal menuju tempat penjual Kebab yang Wulan inginkan. Mereka melaju perlahan menelusuri jalan. Beberapa anak muda, melintasi mereka dengan motor modifikasi. Tamrin mengendarai motor, melaju mendekati Wulan.

__ADS_1


"Wulan, yakin mau lanjut? Siapa tau Toko Kebab itu sudah tutup. Di depan jalan sudah ditutup karena ada ajang balap liar."


"Selama belum tengah malam, lanjut terus! Soal di rumah, biar menjadi urusanku."


__ADS_2