Senar Takdir

Senar Takdir
Status


__ADS_3

Sekian lama di perjalanan, akhirnya Alexander dan Tiara tiba di Kawasan Parkiran. Motor Kawasaki K800 melaju masuk ke dalam parkiran. Keberadaan Tiara, menjadi pusat perhatian terutama para siswa.


Gadis berambut emas, sepasang mata ungu dan tubuhnya aduhai turun dari motor Kawasaki K800 yang dikendarai oleh Alex. Alexander terkejut, melihat Ilham baru saja memarkirkan motor Ninja merah tepat disampingnya.


"Halo," sapa Ilham pada mereka berdua.


"Hai," balas Tiara lalu tersenyum kepada Ilham.


"Aku kira, kamu pergi ke sekolah bersama Wulan," kata Ilham kepada Tiara.


"Kebetulan kita satu arah!" balas Alexander memotong pembicaraan.


Di balik raut wajah Ilham yang ramah, hatinya terbakar api cemburu. Dia memandang Alex dengan sorot mata yang mengintimidasi. Aura ancaman yang terpancar keluar dari tubuh Ilham, membuat sinyal pertanda bahaya berbunyi dalam diri Alex.


Alexander merasa, bahwa dirinya dirinya tertangkap basah atas kasus perselingkuhan. Kemudian, Ilham menjulurkan tangannya kepada Alex.


"Maaf pertemuan kita yang sebelumnya, kita belum sempat berkenalan. Perkenalan nama gue Ilham, salam kenal."


"Alexander, salam kenal," balasnya berjabat tangan.


"Baguslah Alex, sekarang kamu punya teman baru," balas Tiara kepada Alex, "Iya."


"Untuk pertandingan antar kelas, kita bertanding di lapangan sepak bola sekolah kita. Soal baju, bebas. Ayo, Tiara. Kita langsung ke sekolah," ujar Ilham lalu mengajak Tiara pergi.


"Ayo! Ayo, Alex!" balasnya lalu mengajak Alex.


"Maaf bro, kamu duluan saja. Aku ada perlu sama Tiara, kamu duluan saja."


"Keperluan apa?" tanya Tiara lalu Ilham menjawab, "Nanti aku kasih tau."


Tiara melirik ke arah Alex. Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dia menjulurkan tangan ke depan, sebagai tanda izin darinya.


Ilham dan Tiara, berjalan berdua menyebrangi jalan lalu masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ilham berjalan menggenggam tangan Tiara. Gadis itu, merasa tidak nyaman dengan tingkah Ilham yang tiba-tiba memegang tangannya.


"Anu... Ilham. Bisa kamu lepaskan tanganku?"


"Ah, maaf Tiara," balas Ilham sambil melepas genggaman tangannya.


"Jadi, ada perlu apa denganku?" tanya Tiara lalu Ilham menjawab, "Kamu bohong."


"Bohong? Soal apa?" kata Tiara balik bertanya, "Katanya, orang tuamu ketat. Tapi aku lihat, dua kali kamu jalan dengan Alex."


"Dua kali? Memangnya kamu lihat aku di mana?"


"Mall Cikini dan Parkiran hari ini."

__ADS_1


Tiara terkejut, mendengar Ilham mengetahui kencan dirinya bersama Alex. Sekarang dia sudah tertangkap basah di Kawasan Parkiran Motor.


"Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana hubungan kalian?"


Pertanyaan Ilham, membuat Tiara teringat perbincangan dengan Alexander pada Minggu kemarin. Waktu itu, mereka berdua duduk di bangku teras depan. Di atas meja, terdapat dua gelas susu hangat. Hujan sedang turun, mereka berdua menikmati waktu hujan bersama.


Kedua tangan Alexander, memainkan irama gitar membuat suasana musim hujan semakin hangat. Dia teringat permintaan Alex kepada Wulan, Tamrin dan dirinya agar tidak memberitahu status percintaan. Tiara penasaran, sampai kapan status percintaan dengannya disembunyikan.


"Suamiku, sayang. Aku ingin bertanya," kata Tiara memulai percakapan.


"Tanya soal apa?"


"Sampai kapan hubungan kita disembunyikan? Kamu tidak senang dengan hubungan kita?"


"Jangan berkata seperti itu. Aku bahagia dengan hubungan kita Tiara. Kamu itu sangat cantik, banyak lelaki di luar sana tergila-gila denganmu. Apa kamu pernah, mendapatkan surat cinta?"


"Iya, aku sering mendapatkannya di dalam tas. Tetapi, aku tebih memilih untuk bersikap seolah tidak tau. Sebab, aku sudah punya kamu, suamiku."


"Nah! Oleh karena itu, aku ingin menyembunyikan status percintaan kita. Selain menghormati mereka, aku ingin menyiapkan mental dan prestasiku agar mereka mengakui diriku sebagai lelaki yang pantas untukmu. Kamu boleh beritahu hubungan kita setelah Ujian Akhir Sekolah."


Alexander tersenyum, kedua tangannya menggenggam erat tangan kekasihnya. Perlahan dia mendekat lalu mencium pipinya membuat Tiara tersipu malu.


Dia meminta kepada Tiara untuk bersama. Tiara menuruti perkataannya. Selesai mengingat hal itu, dia melirik ke arah Ilham sedang menatapnya dengan serius.


"Begitu rupanya, aku kira dia itu pacarmu. Maaf sudah menduga aneh-aneh."


"Tidak masalah. Ngomong-ngomong, ada perlu apa denganku?" tanya Tiara sekali lagi.


"Aku ingin menawarkan mu bergabung di Ekskul Sepak Bola."


"Soal itu, aku sudah bilang bahwa aku tidak...."


Tiara teringat soal pertandingan kelas 10 IPA A melawan 10 IPS F. Dia tau, bahwa Alexander mengalami trauma dengan Sepak Bola. Dirinya ingin sekali mengajari Alex dan membuat kenangan baru bersamanya.


Namun dirinya sama sekali tidak tau soal Sepak Bola. Belajar dari ahlinya, merupakan awal yang sangat bagus.


"Tidak! Bisakah kamu ajari aku main Sepak Bola?" tanya Tiara.


"Sepak Bola?"


"Iya, aku ingin tau dan belajar tentang Sepak Bola."


Ilham sangat senang mendengarnya. Rasanya, ia telah mendapatkan lampu hijau untuk mendekati Tiara.


"Kapan? Selesai istirahat atau sepulang sekolah?"

__ADS_1


"Sepulang sekolah. Tapi kalau kamu sedang main bola dan lihat aku, panggil saja."


"Siap!"


Seseorang memanggil Tiara, mereka berdua menoleh ke belakang. Rupanya, orang itu adalah Wulan berlari mengenakan jaket dan tas selempang.


"Hei, Wulan! Baru datang? Aku kira, elu berangkat bareng Tiara," kata Ilham memulai pembicaraan.


"Inginnya begitu, cuman karena sesuatu terpaksa gue gak boleh bawa motor sampai selesai Ujian Akhir Semester."


"Sekarang, kamu berangkat sendiri?" tanya Tiara lalu Wulan menjawab, "Berangkat bareng Papah," jawabnya sambil menoleh ke belakang.


Tiara dan Ilham ikut menoleh ke belakang. Ilham terkejut karena mengetahui, bahwa Wulan merupakan anak Kepala Sekolah.


Tidak terasa, mereka sudah di pertigaan jalan. Para anggota OSIS mulai berkeliaran. Mereka sambil menyuruh para siswa yang baru datang untuk mempercepat langkahnya.


Tiara, Wulan dan Ilham berpisah lalu berjalan menuju kelas masing-masing. Wulan sambil berjalan membuka tasnya. Dia ingin memastikan, apakah topi miliknya berada di dalam tas.


"Gawat!" teriak begitu terkejut lalu menghentikan langkahnya.


"Ada apa Wulan?!" tanya Tiara begitu cemas.


"Aku lupa bawa, topi!"


Dua anggota OSIS jalan mendekat lalu menyuruh mereka berdua untuk mempercepat langkah menunju kelas. Mereka berdua masuk ke dalam kelas untuk menyimpan tas.


Setelah itu, mereka berlari menuju lapangan upacara. Diam-diam, Wulan menyusup diantara siswa yang mengenakan atribut lengkap.


Sialnya, aksi Wulan diketahui oleh anggota OSIS. Terpaksa, Wulan harus berbaris dengan para siswa yang tidak beratribut lengkap dan juga siswa terlambat. Selain itu, dia harus menahan rasa panasnya sinar matahari.


Upacara telah dimulai. Seseorang menepuk pundaknya dari samping, dia menoleh ke arah samping. Rupanya orang itu adalah Tamrin.


"Hai, gadis ramal," sapa Tamrin.


"Halo tukang montir, hari ini yang menyebalkan bukan?"


"Kamu benar," balas Tamrin dengan raut wajah datar.


"Kenapa kamu terlambat?" tanya Wulan lalu Tamrin menjawab, "Ban motor Vespa gue bocor. Jalanan juga macet, mau tidak mau gue terlambat. Kalau elu?"


"Topi gue ketinggalan, sial benar-benar sial. Kalau Papah tau, penahanan motor gue bisa diperpanjang. Andaikan beda sekolah."


"Papah kamu guru?" tanya Tamrin lalu Wulan menunjuk pada seorang lelaki berdiri di mimbar.


Tamrin terkejut karena mengetahui, bahwa Papah Wulan adalah seorang Kepala Sekolah. Seorang guru pengawas datang mendekat. Guru itu, menegur mereka berdua agar tidak berbincang saat upacara berlangsung. Akhirnya, mereka berdua terdiam dan mengikuti upacara hingga selesai.

__ADS_1


__ADS_2