Senar Takdir

Senar Takdir
Pergi Ke Mall


__ADS_3

Mereka semua terdiam, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Alex. Melihat Alexander terbelenggu oleh masa lalu, membuat mereka merasa simpati.


"Dengar, Bos. Setiap orang, memiliki masa lalu yang kelam. Bahkan, orang sepertiku punya. Tapi, kita tidak bisa selamanya terbelenggu oleh masa lalu," kata Wulan.


"Betul kata Wulan. Bos, diam saja?" sambung Tamrin.


"Hmm...,"


"Lawan, Bos. Belajarlah, melawan masa lalu dan bebaskan dirimu sendiri Bos. Jangan sampai, masa lalu menghalangi masa muda," ujar Tamrin.


"Tapi, kenapa harus Sepak Bola?! Sudah aku bilang, aku tidak bisa main bola!" balas Alex sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kalau soal itu, Bos tinggal latihan saja. Setidaknya itu lebih baik, dibandingkan berdiam diri tanpa persiapan. Selama kita bernafas, tidak ada ilmu yang bisa kita tidak pelajari," kata Tiara.


Alexander terdiam, perkataan mereka telah membuat pikirannya terbuka. Tetapi, membayangkan pertandingan Sepak Bola yang akan berlangsung Sabtu depan membuat Alexander merasa tidak percaya diri.


Tidak terasa, mereka semua berada di Kawasan Parkiran Motor yang berada di seberang jalan. Wulan mendekat lalu menepuk pundak Tiara.


"Soal, Bos. Tiara tolong, kamu urus sisanya," bisik Wulan.


"Iya, pasti!"


Wulan menaiki motor matic lalu melaju meninggalkan kawasan parkir. Sedangkan Tiara, berjalan mendekati Alex lalu membonceng di atas motornya. Di waktu yang bersamaan, Ilham dan teman-temannya memasuki kawasan parkir. Dia melihat sekilas, Tiara membonceng pada seorang lelaki.


"Tiara?"


Ilham berlari, namun ia tidak menemukannya selain arus lalulintas yang mulai padam. Seseorang memanggilnya, namun Ilham tidak menanggapinya. Tetapi ia pun berpaling ketika seseorang menepuk pundaknya.


"Elu kenapa tiba-tiba lari? Ada apa Ilham?" tanya Martin berambut wavy taper cut coklat.


"Barusan, elu lihat Tiara?"


"Lihat. Barusan, gue lihat Tiara bonceng di atas motor Kawasaki W800."


"Hmm..., apa kalian berdua tau siapa pemilik motor itu?"


"Menurut rumor yang beredar, motor itu milik salah satu siswa kelas 11 IPS F," ujar Bobi berkulit sawo matang dan bertubuh agak kekar.


Ilham terdiam, raut wajahnya serius sambil melipat kedua tangannya. Dia penasaran, siapa pemilik motor tersebut. Kemudian, mereka semua kembali masuk ke dalam Kawasan Parkiran Motor.


"Aku harus cari tau.."

__ADS_1


Begitulah yang ia katakan, ketika mengingat Tiara membonceng motor tersebut. Dia juga ingin mencari tau, mengenai hubungan Tiara dengan lelaki itu.


Sementara itu, motor Kawasaki W800 yang dikendarai oleh Alex dan ditumpangi oleh Tiara melaju di atas aspal. Kemudian, mereka mulai memasuki Mall Cikini. Sesampainya di parkiran, Alexander dan Tiara turun dari motor.


"Sayang, kemarin aku dan teman-temanku datang ke sini!"


"Oh, Mall Cikini..."


"Kenapa kita ke sini?" tanya Tiara.


"Semalam, setelah mendengar ceritamu aku jadi ingin ke sini. Jujur, baru pertama kali aku datang ke Mall. Semasa kecil, kakakku saja yang diajak oleh kedua orang tuaku. Selain itu, aku ingin berkencan dengan mu," jawab Alexander dengan malu-malu.


Tiara tersenyum, dia mulai mendekat lalu memberikan sebuah ciuman pada pipinya. Dia memeluk tangan kanan Alex dengan cukup erat.


"Ayo, kita masuk!" ajaknya masuk ke dalam.


Mereka berdua, berjalan masuk ke dalam Mall. Setiap Alexander melangkah, Tiara terus memeluk tangan kanannya. Alexander merasa, bahwa Tiara seperti seorang Ibu yang tidak ingin kehilangan anaknya.


Berjalan berdua bergandengan tangan membuat Alexander tersipu malu. Dia melirik kepada kekasihnya. Senyuman yang manis, raut wajahnya yang ceria ketika menunjuk pada hal yang menarik membuat Alexander terpesona.


Perut Alex mulai terasa lapar, dia melihat-lihat restoran menarik untuk ia kunjungi. Kemudian, dia terpikat pada sebuah restoran Restoran Steak berada di hadapannya. Namun ia mengajak Tiara, duduk pada sebuah bangku panjang terlebih dahulu. Tiara melihat, Alexander sibuk dengan handphone dan buku catatan hitam miliknya.


"Kamu lihat apa, sayang?" tanya Tiara.


Dia tidak ingin menunjukkan, riset yang sedang ia lakukan kepada Tiara. Gadis itu semakin penasaran, apa yang sedang dilakukan oleh Alex.


"Ayo, kita makan ke sana," ajak Alex sambil menunjuk pada Restoran Steak.


Mereka berdua, berjalan masuk ke dalam Restoran lalu duduk di meja makan samping kaca. Seorang pelayan datang mendekat lalu Alexander memesan makanan. Selesai memesan, pelayan itu pergi ke meja staf untuk memberikan daftar pesanan.


"Baru pertama kali, aku datang ke Restoran ini," kata Tiara.


"Menu makanan di sini, berbeda dengan Restoran tempat aku dan teman-temanku mampir sebelumnya. Semuanya daging."


"Iya, sesekali kita makan makanan Sultan," balas Alex.


"Sultan? Maksudmu pemimpin suatu wilayah dengan sistem kerajaan? Semua Sultan makan Steak?"


"Tidak, semua. Maksud Sultan di sini, orang yang memiliki pendapatan finansial di atas rata-rata atau kita bisa menyebutnya orang kaya."


"Sayang, kamu yakin makan di tempat mahal seperti ini?" tanya Tiara merasa ragu kepada Alex.

__ADS_1


"Sesekali tidak masalah. Lagi pula, aku sengaja makan di sini untuk kencan kita," balasnya membuat Tiara tersipu malu.


Tiara teringat, ketika dirinya terbangun pada jam dua pagi. Dia melihat, Alexander sibuk dengan memandang layar handphone dan buku catatan hitam di meja belajar. Kemudian, dia menyuruh Alexander untuk kembali tidur.


"Sayang, kamu sudah mempersiapkan semua ini untuk kencan kita?"


"Iya, Tiara. Aku sudah melakukan riset jam dua pagi. Baru pertama kali, aku pergi ke Mall. Aku tidak ingin, kencan kita menjadi membosankan."


Tiara tersenyum, ketika mengetahui bahwa Alexander telah mempersiapkan semuanya. Kedua tangannya, menggenggam tangan Alex.


"Terima kasih, suamiku sudah mempersiapkan semuanya untuk kencan kita."


"Sama-sama."


"Aku memperhatikan, kamu membaca buku warna hitam yang sering kamu bawa. Sebenarnya buku apa itu?"


Alexander, mengeluarkan buku catatan hitam miliknya di dalam tas. Dia menjelaskan, bahwa di dalam buku itu berisi panduan dalam menghadapi perilaku dan situasi yang berhubungan dengan konflik sosial. Selain dua hal itu, dia mencatat hal-hal yang dirinya tidak ketahui.


Alexander tidak ingin, dirinya kembali menjadi korban pembullyan. Sebisa mungkin, ia berusaha untuk menghindar. Di dalam buku itu, dirinya baru menulis poin-poin penting dalam menjalani percintaan.


"Buku yang menarik, boleh aku membacanya? Aku juga ingin tau, dua sisi sifat manusia dari buku ini."


"Boleh. Tapi aku mohon, tolong jangan beritahu atau cerita hal ini pada siapa pun termasuk empat serangkai. Soalnya, ini sangat memalukan."


"Iya, sayang," balas Tiara sambil memeluk buku di kedua tangannya.


Tiara mulai membaca, buku catatan yang dipinjamkan oleh Alexander. Sorot matanya, memandang serius setiap kalimat yang ada di dalam buku. Alexander mengeluarkan handphone miliknya di dalam saku celana. Diam-diam, dia memfoto Tiara sedang serius membaca.


"Cantiknya," puji Alex di dalam hati ketika memandang foto Tiara.


Tidak berselang lama, seorang pelayan pun datang. Pelayan itu meletakkan pesanan di atas meja. Tiara berhenti membaca lalu meletakkan buku itu di atas meja.


Mereka berdua, mulai menikmati hidangan makan siang bersama-sama. Seiring berjalannya makan siang, mereka saling melempar candaan. Tanpa Tiara sadari, pesona kecantikannya menarik perhatian semua orang.


Apalagi, mereka berdua masih mengenakan baju sekolah dan makan berdua di tempat mewah. Dalam hati, mereka bertanya mengenai status hubungan mereka berdua. Namun, ketika sudah mengetahui jawabannya mereka pun tidak percaya.


Selesai makan, Tiara kembali melanjutkan membaca buku. Sedangkan Alex, izin untuk pergi ke kamar mandi dan meminta Tiara untuk menunggu. Alexander berjalan meninggalkan Tiara seorang diri di restoran.


Sesampainya di kamar mandi, ia pun masuk ke dalam lalu keluar kembali dan berjalan cepat. Langkah kakinya terhenti, ketika ia melihat toko aksesoris di sampingnya. Dia berjalan masuk ke dalam toko tersebut.


Di dalam toko, banyak sekali berbagai aksesoris dan kebutuhan lainnya. Dia mencari barang yang menarik untuk diberikan kepada Tiara. Sebuah pita rambut berwarna merah, telah menarik perhatiannya.

__ADS_1


Alexander mengambil pita itu lalu memberikannya kepada kasir. Selesai membayar, ia berjalan keluar toko lalu berhenti sambil memandang pita rambut merah dikedua tangannya.


Alexander tersenyum lalu ia berkata, "Semoga dia suka."


__ADS_2