
Di atas meja tiga menu sarapan pagi yaitu tempe goreng, telur goreng dan sayur kangkung. Menu sarapan pagi masih hangat, membuat Alexander semakin tidak sabar untuk menikmatinya. Tiara mengambil piring sudah ia siapkan di atas meja. Dia memberikan satu centong nasi di atas piring lalu memberikannya kepada Alex beserta sendok dan garpu.
Sesendok nasi dan lauk pauk, masuk ke dalam mulutnya. Seketika, kedua matanya terbuka sangat lebar ketika merasakan kelezatan menu sarapan buatan Tiara. Citra rasa gurih, asin dan pedas bercampur menjadi satu. Di tambah, tekstur matang yang sempurna membuat masakan terasa lezat.
"Suamiku sayang, bagaimana rasanya?" tanya Tiara lalu Alexander menjawab,"Lezat!"
Dia terus memakannya hingga tersisa setengah porsi. Seketika, dia teringat mengenai Tiara sudah berada di dalam rumahnya. Padahal, pintu rumah dan kamar dalam keadaan terkunci. Mustahil bagi orang biasa, masuk ke dalam rumah kecuali menghancurkannya dari luar.
"Tunggu dulu! Bagaimana kamu bisa ada di sini? Padahal, aku belum memberitahu rumahku. Dan pintu rumahku sudah terkunci?"
"Aku tau alamat rumahmu dari buku nikah kita," jawab Tiara sambil memunculkan buku nikah berwarna hijau di tangannya.
Buku itu, mengeluarkan cahaya yang terhubung dengan buku nikah milik Alex di dalam kamar. Di dalam buku, terdapat alamat lengkap tempat Alexander tinggal.
"Begitu rupanya, aku baru tau. Terus, bagaimana bisa kamu ada di dalam kamarku?"
"Dengan salah satu kekuatanku, yaitu telekinesis. Aku menggerakkan kunci di dalam rumah dan kamarmu. Maaf sayang, sudah masuk ke dalam rumahmu tanpa izin."
"Kekuatan? Jadi kamu bidadari sungguhan?! Dan kejadian tadi pagi itu sungguhan?! Bukan mimpi?!" tanya Alexander begitu terkejut, ketika mengingat dirinya menindih tubuh Tiara dan berciuman dengannya.
"Aku ini bidadari sungguhan. Kejadian pagi tadi itu sungguhan, suamiku sayang," balasan dengan ekspresi wajah menggoda membuat Alexander merah padam. "Aku tidak menyangka, suamiku begitu ganas menciumku di pagi hari sambil berkata, Tiara sayang, aku ingin tidur seranjang selamanya denganmu sayang!"
"Maaf, aku tidak bermaksud....!"
Melihat Alexander salah tingkah, membuat Tiara menunduk sambil menahan tawa. Kemudian, dia berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
"Kamu, harus di hukum," kata Tiara lalu Alexander bertanya,"Hukuman?"
"Iya, kamu harus di hukum."
"Hukuman apa?" tanya Alexander dengan wajah semakin memerah lalu Tiara menjawab,"Menyuapimu."
"Terserah...."
Mendengar jawaban dari Alex, membuat Tiara tersenyum lalu gadis itu mulai menyuapi sisa makanan di atas piring milik Alex. Baru pertama kali, dia mendapatkan perlakuan spesial dari Tiara. Dulu semasa kecil hingga masa SMP, dia selalu makan seorang diri di dalam kamar.
__ADS_1
Sekarang dia merasakan kembali, apa itu disuapi terutama dengan sosok bidadari seperti Tiara. Namun, dia masih tidak mengerti mengapa Tiara melakukan hal ini? Apakah, semua yang ia lakukan hanyalah akting demi tujuan tertentu?
Namun pada akhirnya, semua itu hanyalah pikiran dan prasangka buruk dirinya sendiri. Kini tersisa satu suap, wajah Alexander mendekat dan mulutnya mulai terbuka lebar menyambut sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya.
Sendok perlahan mulai menjauh, wajah Alexander mengikuti ke mana sendok itu pergi. Tidak disangka, Tiara mencium keningnya membuat Alexander dibuat salah tingkah.
"Balasan untuk tadi pagi," bisik Tiara membuat daun telinga Alex memerah.
Alexander terdiam, mendengar apa yang dikatakan oleh Tiara. Wajahnya merah padam, kedua matanya tak berkedip memandang pujaan hatinya. Tiara mengambil dua piring kotor lalu Alexander menahannya.
"Jangan, biar aku saja," kata Alex lalu Tiara bertanya, "Kenapa?"
"Merepotkan, biar aku saja. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasihku sudah membuatkan sarapan pagi."
Tiara mendekat lalu gadis itu mencium pipi Alexander membuat wajah Alexander kembali memerah.
"Suamiku baik sekali. Aku tidak merasa kerepotan, sudah sewajarnya seorang istri melakukan hal ini," kata Tiara.
Tiara berjalan ke dapur meninggalkan Alexander sedang terdiam dengan wajah tersipu malu. Pada akhirnya, sebuah ciuman membuat Alexander tidak berkutik. Kemudian, dia berjalan menuju dapur lalu melihat apa yang dilakukan Tiara.
"Aku tidak menyangka, dapur milikmu lengkap sekali dibandingkan dapur milik seseorang tempatku tinggal."
"Iya, pertama memakan sarapan buatanmu setiap hari. Lalu yang kedua?"
"Tinggal selamanya, di sini."
Alexander terkejut, mendengar syarat kedua yang Tiara ajukan. Dia tidak tau, bagaimana cara mengungkapkan perasaannya. Seolah-olah, rasa dan ekspresi dalam diri tercampur.
"Kalau kamu tidak mau, tidak masalah suamiku. Sepulang sekolah, aku akan kembali menumpang di rumah orang itu," kata Tiara sambil membersihkan wastafel.
"Tidak, kamu tinggal saja di sini. Kebetulan aku tinggal sendiri. Kamu tidak perlu menumpang, apalagi dengan orang yang belum tentu kamu kenal. Anggap saja rumah sendiri."
"Rumah kita," balas Tiara membuat Alexander salah tingkah.
"Terserah! Aku mau mandi!" timpal Alex tersipu malu.
__ADS_1
Dia berjalan masuk ke dalam kamar lalu keluar, membawa selembar handuk putih. Pintu kamar mandi terbuka, Alex tidak berkedip melihat suasana kamar mandi begitu bersih. Aroma harum kamar mandi, membuat kegiatan mandi terasa nyaman.
Selain kamar mandi, dia juga teringat melihat bagian rumah terlihat sangat bersih. Tidak hanya itu, pakaian kotor di dalam keranjang dapur sudah tidak ada.
Setelah mandi, Alexander keluar dengan selembar handuk lalu ia melihat Tiara sedang membaca buku ensiklopedia anak.
Dia terlihat serius, membaca buku di kedua tangannya lalu Alexander pun masuk ke dalam kamarnya.
"Hei, bisakah kamu keluar?" pinta Alex lalu Tiara bertanya,"Kenapa?"
"Tentu saja karena memalukan!"
"Ha.ha.ha! Tidak perlu malu begitu, kita ini suami istri. Tapi baiklah, aku akan keluar."
Tiara berjalan keluar dengan membawa sebuah buku di kedua tangannya. Alexander mengembuskan nafas panjang, melihat Tiara keluar dari kamar. Dia tidak mengerti, melihat tingkah Tiara begitu santai tanpa rasa malu. Sebab menurut informasi yang ia baca di internet, wanita merasa malu ketika melihat tubuh telanjang lelaki. Namun sepertinya, semua itu tidak berlaku untuk Tiara.
Selesai mengenakan baju sekolah, dia berjalan ke dua lalu duduk di sampingnya. Alexander penasaran, jam berapa Tiara melakukan seluruh pekerjaan.
"Hei, sebenarnya kamu bangun jam berapa?" tanya Alex.
"Jam setengah empat pagi."
"Ha?! Pagi sekali," timbalnya agak terkejut.
"Habisnya baju dan piring harus di cuci, baju harus disetrika dan sarapan harus dimasak. Kalau bangun jam enam, mana sempat aku melakukannya. Setengah delapan, kita harus ke sekolah."
"Thanks, Tiara. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku. Tapi aku, tidak melakukan apapun."
Tiara pun tersenyum, dia memeluk lengan kanannya lalu bersandar pada bahunya.
"Kamu lelaki yang baik. Aku puas, hanya melihat wajahmu yang bahagia," balas gadis itu membuat Alexander tersentuh.
"Hah," Alex pun berhembus sambil tertunduk lesu lalu ia berkata,"Kalau begini terus, aku akan menjadi lelaki yang tidak berguna."
Tiara melirik ke arahnya, gadis itu tersenyum manis kepadanya lalu perlahan wajahnya mulai mendekat. Dia pun mencium pipinya, membuat Alex langsung melirik dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Apa salahnya menjadi tidak berguna? Setiap orang, memiliki sifat yang tidak berguna. Bahkan, bidadari sepertiku punya. Lagi pula suamiku, aku melakukan semua ini karena keinginanku sendiri," balasnya sambil melepas pelukannya pada lengannya.
"Thanks," balasnya menunduk lalu tersenyum.