
Alexander dan Tiara melepas pelukan, mereka tersenyum lalu berterima kasih kepada Sang Dewi. Kemudian, Dewi Lena berjalan dan berdiri di samping Tamrin.
"Sekarang Tuan Tamrin, sudah waktunya untuk Gacha. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ujar Sang Dewi.
"Siap! Tidak sabar rasanya mendapatkan jodoh spek bidadari!" ucap Tamrin begitu bersemangat.
"Semoga beruntung," balas Sang Dewi.
Dewi Lena, berdiri di belakang tepat antara papan putar. Sang Dewi menjentikkan jari lalu muncullah sebuah tuas di depan Tamrin.
"Sekarang tarik tuas itu," perintah Sang Dewi.
Tamrin menarik tuas di hadapannya, papan itu langsung berputar. Mereka berempat penasaran, gadis seperti apa yang akan di dapatkan oleh Tamrin.
Wulan tertawa melihat raut wajah Tamrin begitu tidak sabar. Kemudian dia berkata, "Ngarep Spek bidadari malah dapet kerupuk kulit," ledek Wulan.
"Berisik! Lihat nih, bentar lagi gue dapet jodoh Spek Bidadari!"
Alexander berjalan mendekat lalu menepuk pundak sahabatnya. "Terserah elu mau dapat siapa saja. Pokoknya, siapin aja pajak jadiannya."
"Minimal Starbucks," balas Tiara.
"Siap!"
Perlahan, jarum itu mulai berhenti berputar. Mereka terkejut, melihat jarum itu berhenti pada kandidat Siswi SMP. Pada jarum kedua, menunjuk pada tingkatan biasa.
"Asik! Dapat dedek gemes!" ucap Tamrin dengan penuh kegirangan.
Wulan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Astaga Tamrin, gue gak nyangka selera elu bocil SMP."
"Wah! Jangan-jangan elu lolicon, gawat-gawat," ledek Alex.
Wajah Tamrin merah padam lalu berkata, "Gue bukan lolicon woi! SMP itu sudah termasuk remaja, bukan bocil!"
"Tetap saja, siswi SMP itu masih termasuk bocil, Tamrin." Kata Wulan menatap geli pada selera Tamrin.
Sang Dewi tertawa lalu berkata, "Mau putar sekali lagi?" tawar Sang Dewi.
Tamrin dengan nada kesal menjawab, "Tolong satu putaran lagi."
"Baiklah Tuan Tamrin, jangan lupa uang administrasi transaksi sebesar lima ribu," ucap Sang Dewi lalu menjulurkan tangannya.
Tamrin, memberikan selembar lima ribu di dalam dompetnya. Setelah memberikan selembar lima ribu, Sang Dewi kembali ke tempatnya.
Sekali lagi, Tamrin menarik tuas di hadapannya. Jarum kembali berputar, semua terdiam penasaran menunggu hasil yang akan Tamrin dapatkan.
Perlahan jarum itu mulai berhenti, Tamrin sangat senang melihat jarum tersebut menunjuk pada Siswi SMA. Sedangkan jarum satunya menunjuk pada tingkat spesial.
Alexander, Wulan dan Tiara memberi tepuk tangan. Mereka bertiga memberikan selamat kepada Tamrin.
Alexander merangkul Tamrin lalu berkata, "Wah jadi nih, traktir kopi di Starbucks!" serunya kepada Tamrin.
"Selamat Tamrin! Jadi gak sabar minum kopi di sana! Aku gak sabar mencoba Kopi Caramel!" seru Tiara.
__ADS_1
"Gue mau pesan empat!" seru Wulan.
Tamrin menggerakkan tangannya sambil berkata, "Tenang guys, tenang! Gue belikan semuanya. Tapi gue penasaran, siswi SMA itu dari sekolah mana ya?"
Alexander dan Tiara, melirik kepada Sang Dewi masih berdiri di belakang Papan Gacha. Mereka berdua, melihat Dewi Lena tersenyum lebar. Terkadang mereka sempat melihat Dewi itu seperti menahan tawa.
Tingkah aneh Sang Dewi, membuat mereka berdua sangat penasaran. Kemudian Dewi Lena menghampiri Tamrin.
"Selamat Tuan Tamrin, anda mendapatkan jodoh seorang siswi SMA tingkat spesial!"
Tamrin sangat senang lalu bertanya, "Terima kasih Dewi, sekarang apakah saya boleh menerima bukunya? Saya ingin bertemu calon pendamping hidup saya."
Dewi Lena menggoyangkan jaringan, "Tidak bisa."
Tamrin terkejut lalu bertanya, "Kenapa?!"
"Buku nikahmu itu, sekarang ada di pasanganmu. Biarkan dia yang mengantarkannya sendiri untukmu."
Tamrin kecewa mendengarnya, padahal dia ingin sekali bertemu dengan calon pujaan hatinya. Apalagi, calon pujaan hatinya mendapatkan tingkat spesial membuatnya semakin murung.
Dewi Lena tersenyum, dia memegang pundak Tamrin. "Jangan murung begitu Tuan Tamrin. Sebagai permintaan maaf, aku akan memberikan satu petunjuk tentang calon pujaan hatimu."
Tamrin tertunduk murung, langsung menoleh kepada Sang Dewi dengan penuh rasa penasaran. Dia pun berkata, "Cepat katakan, siapa tau saya langsung menemukannya!" ujarnya dengan nada tidak sabaran.
Sang Dewi tersenyum sambil tertawa lalu berkata, "Gadis itu satu sekolah denganmu."
"Serius?!"
"Setidaknya, berikan satu petunjuk lagi. Aku ingin bertemu dengannya, Dewi. Bisa-bisa, masa sekolahku sampai lulus terus menjomblo tanpa warna cinta," kata Tamrin.
Wulan tertawa lalu berkata, "Puitis sekali Tamrin."
Wajahnya merah padam, "Berisik! Elu coba satu putaran, gue pengen lihat jodoh elu kayak gimana!" ucapnya sangat malu.
"Buat apa dicari? Nanti jodoh gue datang sendiri," balas Wulan.
Dewi Lena tertawa lalu berkata, "Sudahlah kalian berdua. Maaf Tuan Tamrin, aku tidak bisa memberitahu mu. Tenang saja Tuan Tamrin, aku jamin status jomblo mu hilang paling lama sebelum kelas tiga. Seperti kata Wulan, buat apa ditunggu? Jodoh datang sendiri."
Tiara berjalan mendekati Tamrin, dia menepuk pundaknya. "Dengar Tamrin, gadis itu butuh waktu lama untuk menyadari perasaannya sendiri. Kalau kamu bersikeras mencarinya, aku yakin kamu tidak akan pernah menemukannya."
Alexander menepuk pundaknya lalu berkata, "Betul kata Tiara. Tapi tenang, gue bakal bantu elu sebisanya."
"Selama ada Starbucks, gue juga pasti akan bantu," kata Wulan.
Tamrin tersenyum lalu berkata, "Thanks guys!" ucapnya kepada tiga sahabatnya.
Setelah itu, mereka semua kembali ke tempat duduk. Tamrin teringat, tulisan papan Gacha Jodoh ujarnya telah ia mainkan. Pada papan tersebut tertulis kandidat Hantu dan siluman.
"Dewi, saya ingin bertanya," kata Tamrin memulai pembicaraan.
"Soal apa?"
"Aku lihat di papan itu, tertulis kandidat Siluman dan hantu. Pernahkah ada orang yang mendapatkannya?" tanya Tamrin begitu penasaran.
__ADS_1
"Ada," jawab Sang Dewi.
Mereka semua terkejut lalu bertanya, "Siapa orang itu? Hantu dan siluman seperti apa?!"
"Seminggu yang lalu, ada seorang lelaki mencurigakan datang ke mari. Dari gerak-geriknya, niat awal datang untuk mencuri. Terus, aku tawarkan permainan Gacha Jodoh milikku dan dua tertarik. Tidak aku sangka, dia mendapat Ratu Siluman ular."
Mendengar hal itu, mereka bertiga menjadi merinding. Dewi itu bercerita, bahwa sosok Ratu Siluman ular memiliki tubuh manusia dan kaki seperti seekor ular.
"Selanjutnya, seorang remaja datang ke Stan dua hari yang lalu. Remaja itu seumuran dengan kalian. Dia bermain satu putaran, tidak aku sangka remaja itu mendapat jodoh yaitu Sundel Bolong."
Alexander merinding ketakutan lalu bertanya, "Sekarang gimana kabarnya? Apa sudah bertemu dengan hantu itu?"
Dewi Lena menggelengkan kepala lalu menjawab, "Mereka sampai sekarang belum saling bertemu."
"Kenapa?!" tanya Tamrin begitu penasaran.
"Pertama, remaja itu masih menganggap Program Gacha Jodoh milikku sebuah gurauan. Kedua, gadis Sundel Bolong masih terikat pada sebuah Desa Mati dipinggir hutan."
Membayangkan sosok Sundel Bolong, membuat mereka bergidik ngerti. Beruntung, mereka berada di luar jangkauan. Sehingga, bertemu dengan pasangan tidak biasa sangat mustahil.
Kemudian, Dewi Lena memberikan masing-masing satu botol kayu berisi susu dari surga seperti yang Tiara miliki.Sang Dewi berkata, bahwa susu di dalam botol itu sebanyak danau.
Suhu botol yang sejuk membuat Alexander, Wulan dan Tiara menjadi tidak sabar untuk meminumnya. Dewi Lena berpesan, apapun yang terjadi jangan sampai susu itu tumpah terus-menerus.
Jika dibiarkan, satu desa akan tenggelam dengan air susu. Kemudian, mereka berpamitan dan saling berjabat tangan dengan Sang Dewi secara bergantian. Kini giliran Tamrin untuk bersalaman. Dewi Lena, melihat raut wajah Tamrin masih murung.
"Jangan terlalu dipikirkan Tamrin, cepat atau lambat kalian akan bersatu," ujar Sang Dewi kepada Tamrin.
Tamrin tersenyum lalu berkata, "Terima kasih Dewi."
Dewi Lena menjulurkan tangannya lalu berkata, "Terima kasih sudah mencoba dua putaran."
"Sama-sama, Dewi," balasnya sambil berjabat tangan.
Dewi Lena memanggil Alexander dan Tiara. Mereka berdua diajak masuk ke dalam Stan.
"Gusti, ada apa anda memanggil kami?" tanya Tiara sambil membungkuk merapatkan kedua telapak tangannya.
Dewi Lena menjentikkan jarinya lalu munculah dua kartu nama berwarna emas. Sang Dewi memberikan kartu itu kepada Alex sambil berkata, "Ambilah, jika ingin bertemu denganku untuk berkonsultasi bawalah kartu itu. Kartu itu akan menuntun ke tempat aku berada. Dan tolong, berikan satunya kepada Tamrin."
Alexander menerima kartu itu sambil berkata, "Baik Dewi."
Di telapak tangan Sang Dewi, munculah botol kecil berisi tablet. Dia memberikan kepada Alex, "Ambilah obat ini."
"Obat apa ini?" tanya Alexander.
Dewi Lena dengan raut wajah mesum berkata, "Obat..."
Belum sempat melanjutkan perkataannya Alexander dan Tiara membalas, "Baik, aku mengerti!" ujar mereka berdua dengan wajah memerah.
Dewi Lena tertawa lalu mendekat pada daun telinga. "Sekali kamu bermain dengan bidadari, kamu tidak akan puas dengan gadis lain," bisikan membuat waja Alexander semakin memerah.
Setelah itu, mereka semua berjalan meninggalkan Stan. Dari kejauhan, mereka melihat Stan itu menghilang diantara butiran cahaya. Sebelum Stan itu benar-benar hilang, Sang Dewi Cinta melambaikan tangan sambil tersenyum kepada mereka.
__ADS_1