Senar Takdir

Senar Takdir
Mengejutkan seseorang #Season 2


__ADS_3

Suatu hari di sebuah rumah menengah tidak jauh dari bengkel, Tamrin terbangun dari tidurnya. Dia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mencuci mukanya. Tamrin melihat Bang Herman, paman Tamrin sedang duduk di ruang keluarga menonton acara berita pagi.


Beliau duduk hanya beralaskan tikar. Di atas karpet, terdapat secangkir kopi dan singkong goreng. Selesai mencuci muka, Tamrin pun berjalan kembali ke dalam kamarnya.


Bang Herman, melirik ke arah Tamrin yang sedang berjalan lalu ia berkata, "Mau ke mana?"


Tamrin berhenti berjalan, dia melirik ke arah pamannya lalu berkata, "Kamar."


"Baru aja bangun elu malah tidur lagi."


"Badan Tamrin masih sakit gara-gara main bola kemarin. Terus, badan Tamrin kayaknya mulai anget."


Bang Herman meminum kopinya lalu meletakkannya di atas karpet. Dia pun bertanya, "Kemarin gak tawuran kan?"


"Enggak, Bang. Kemarin itu cuman pertandingan persahabatan antar kelas."


"Ya, sudah. Elu istirahat saja," timpal Bang Herman.


"Siap," jawabnya lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.


Tamrin membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia menarik selimut lalu mulai memejamkan mata. Handphone miliknya berdering, Tamrin pun menutup kedua telinganya.


Semakin dibiarkan, suara dering handphone miliknya semakin keras. Tamrin berjalan setengah sadar, mengambil handphone miliknya di atas meja belajar.


Tamrin mengangkat handphone, "Halo, siapa ya?"


"Ini aku, Wulan. Hari ini elu sibuk?"


"Rencananya gue mau tidur lagi. Memangnya ada apa?" ujar Tamrin balik bertanya.


"Temani aku, kita akan mengejutkan seseorang. Sayangnya kamu mau tidur, padahal seru loh. Pasti elu nyesel, bahkan seribu tahun pun penyesalan tidak akan hilang. Ya, sudah. Sampai ketemu besok di sekolah."


Wulan mengangkat handphone miliknya, dia hendak memutuskan sambungan telepon. Sebelum Wulan menekan layar handphone Tamrin pun berkata, "Tunggu-tunggu! Gue temenin elu!"


Wulan tersenyum, dia kembali menempelkan handphone pada daun telinganya, "Good Tamin. Sekarang kamu mandi, terus kamu siap-siap jemput aku di rumah. Oh, iya. Di jalan, jangan lupa belikan air kelapa murni. Orang yang akan kita temui sedang sakit. Jadi sekalian kita akan menjenguknya."


Panggilan pun berakhir, Tamrin keluar dari kamar sambil membawa selembar handuk. Selesai mandi, dia mengenakan kemeja biru bergaris hitam, kaos Oren dan celana jins coklat. Tidak lupa, anting karet hitam dan sepasang sepatu putih.


Bang Herman terheran-heran, melihat Tamrin terlihat begitu rapi dari biasanya. Beliau pun bertanya, "Mau ke mana Tamrin?"


Tamrin sambil mengikat tali sepatu pun berkata, "Jemput Wulan."


"Cie! Mau kencan sama gebetannya nih, ye! Gue restui hubungan elu sama Wulan!"


Wajah Tamrin memerah, dia melirik ke arah pamannya lalu berkata, "Cuman teman bukan gebetan, Bang!" bantah Tamrin.


Bang Herman tertawa lalu ia berkata, "Tapi, seandainya Wulan mau sama elu gimana?"


"Iya, gak nolak!" ujarnya lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


Setidaknya jawaban itu membuat pamannya terdiam. Setelah mengenakan sepatu, dia pun menaiki motor Vespa Merah miliknya lalu mengenakan helm. Sekian lama di perjalanan, akhirnya Tamrin sampai di depan gerbang rumah Wulan.


Belum sempat menelepon, Wulan keluar dari rumah dengan pakaian rapih. Kemudian Wulan berjalan dan keluar dari gerbang.


"Sudah beli air kelapa?" tanya Wulan.


Tamrin sambil menepuk keningnya berkata, "Astaga lupa!"


Wulan menggelengkan kepala lalu ia berkata, "Sudah kuduga. Kebetulan, ada tukang jual es kelapa tidak jauh dari sini. Sebelum ke tempat orang itu, antar aku ke sana."


Tamrin sambil menyalakan motor pun berkata, "Siap, Madam."


Mereka berdua, menaiki motor dan melaju menuju toko penjual Es kelapa tidak jauh dari rumah Wulan. Sesampainya di lokasi, Wulan membeli satu Es kelapa dan satu plastik air kelapa hijau murni.


Wulan minum es kelapa, dia melihat Tamrin terdiam melihat beberapa buah kelapa di sampingnya. Kemudian dia menyodorkan plastik berisi es kelapa telah ia minum, "Ini minum, jangan dihabiskan aku masih mau."


Tamrin mengambil plastik itu, "Thanks," ujarnya berterima kasih lalu meminumnya.


Setelah meminumnya, Tamrin mengembalikan plastik berisi es kelapa kepada Wulan. Wulan kembali meminumnya lalu berkata, "Santai sekali, padahal sedotan ini bekas mulutku. Secara tidak langsung, kita ciuman."


Tamrin tertawa, "Ciuman tidak langsung? Konyol sekali. Kalau begitu, selama ini aku sudah berciuman dengan ratusan teman. Gue hanya berpikir, berbagi dan menerima pemberian teman. Bukannya budaya negara kita seperti itu?"


Wulan menganggukkan kepala lalu ia berkata, "Benar juga, tapi kenapa temanku semasa SMP bilang bahwa meminum bekas lawan jenis itu ciuman tidak langsung?"


"Temanmu itu, terlalu banyak nonton film. Kalau memang itu benar, berarti kamu secara tidak langsung berciuman dengan Bapakmu sendiri."


Wulan tertawa lalu ia membalas, "Memang."


Mendengar hal itu, Wulan pun terdiam menatap Tamrin dengan tersipu malu. Tamrin yang sedang tertawa terdiam, melihat wajah Wulan yang tersipu malu. Mereka pun saling memalingkan wajah dengan wajah memerah.


Tamrin melirik ke arah Wulan, "Sorry Gadis Ransel, tadi itu cuman bercanda. Sesekali gombal anak orang, sumpah gak ada maksud apa-apa!"


Wulan melirik ke arah Tamrin, "Iya, Kang Gombal gue ngerti. Ayo, kita pergi sekarang."


Mereka berdua naik motor, Tamrin menambah laju kendaraan motor Vespa miliknya. Di perjalanan, Wulan menunjukkan arah dengan Peta GPS di pada handphone miliknya. Jantung mereka berdegup kencang, wajah mereka merah merona setiap mengingat hal itu.


Sekian lama di perjalanan, mereka memasuki Gapura Perumahan Bunga Indah. Kemudian mereka berbelok ke Jl. Mekar Jati. Mereka berhenti di depan gerbang berwarna hitam. Di balik pagar, mereka melihat sebuah rumah elit satu lantai.



Wulan mengangkat handphonenya lalu menghubungi seseorang, "Halo, kami sudah sampai."


"Ok, Wulan nanti aku ke sana."


Pintu terbuka, Tamrin sedikit terkejut melihat Tiara keluar dari tempat itu. Gadis itu membuka pintu gerbang lalu mempersilahkan mereka untuk masuk. Motor Vespa Merah yang dikendarai oleh Tamrin perlahan masuk ke dalam. Wulan dan Tamrin turun dari motor, mereka semua masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tamu.


Tiara berdiri, "Aku ke dapur dulu," ujarnya lalu berjalan ke dapur.


Tamrin mendekat daun telinga Wulan, "Wulan, orang yang kamu maksud itu Tiara?" tanya Tamrin berbisik kepada Wulan.

__ADS_1


Wulan menggelengkan kepala, "Nanti juga kamu tau."


Tidak berselang lama, Tiara kembali membawa sebuah nampan di kedua tangannya. Di atas nampan, terdapat dua mangkok berisi Cream Soup Jagung dan dua gelas teh tawar hangat.


Tiara meletakkan bubur dan gelas teh hangat di atas meja sambil berkata, "Silahkan dimakan dulu. Kalian pasti belum sarapan."


Wulan dan Tamrin, mengambil mangkuk sambil berkata, "Terima kasih."


Sesendok Cream Soup Jagung masuk ke dalam mulut mulut mereka berdua. Seketika, mata Wulan dan Tamrin terbuka lebar. Citra rasa rempah-rempah berpadu dengan daging ayam dan tingkat matang yang pas.


Tamrin sambil mengunyah makanan berkata, "Enak, baru pertama kali makan Cream Soup seenak ini. Gue kasih sepuluh bintang!"


"Setuju," sambung Wulan sambil mengunyah makanan.


Tiara berdiri dari tempat duduknya, "Aku tinggal ke kamar sebentar. Ada orang yang ingin aku kejutan," ujarnya lalu ia tertawa kecil.


Tamrin penasaran, siapa orang yang Wulan dan Tiara maksud. Dia pun bertanya kepada Wulan namun ia meletakkan mangkuk di atas meja dan tersenyum.


Sementara itu di dalam kamar, Alexander terkena demam dan terbaring lemah di atas kasur. Sebuah kain basah menempel pada keningnya. Kepalanya pening karena terlalu lama berbaring di atas kasur.


Pintu kamar mulai terbuka seiring terbukanya kedua mata Alex. Dia melihat Tiara, berjalan mendekatinya yang sedang terbaring lemah di atas kasur.


Tiara mengambil kain basah di atas keningnya. Kemudian, dia pun meletakkan kain tersebut pada sebuah baskom kecil berisi air.


Tiara memegang kening dan wajahnya. Dia menggenggam tangan kanannya sambil berkata, "Masih panas, ayo kita keluar sebentar. Tidak baik berbaring seharian di atas kasur. Sesekali duduk di depan sambil menghirup udara segar."


"Iya, sayang. Maaf sudah merepotkan."


"Sudah sewajibnya, tugas seorang istri merawat suami yang sakit."


Tiara membantu Alex berdiri lalu merangkulnya berjalan keluar kamar. Alexander duduk bersandar di atas sofa.


Kedua matanya masih terpejam, perlahan dia membuka kedua matanya, "Wulan?! Tamrin?!" ujarnya sangat terkejut.


"Halo Bos," sapa mereka berdua sambil melambaikan tangan.


"Kenapa kalian bisa di sini?!" tanya Alex begitu terkejut.


Wulan menunjukkan peta GPS pada layar handphone miliknya sambil berkata, "Tiara, aku minta Tiara untuk share lokasi."


"Bos, gue gak nyangka. Selama ini elu dan Tiara tinggal satu atap," ujar Tamrin membuat wajah Alex semakin memerah.


Alexander duduk tegak sambil berkata, "Gue bisa jelaskan! Aduk-aduh!" ujarnya lalu memegang kepalanya yang terasa pening.


Tiara memegang kedua bahu Alex, dia pun berkata, "Yuk, masuk kamar. Biar aku yang jelaskan kepada mereka. Sisanya nanti aku ceritakan setelah mereka pulang."


Alexander menganggukkan kepala, Tiara membantu Alex berdiri lalu menuntunnya hingga berbaring di atas kasur. Wulan dan Tamrin ikut masuk ke dalam kamar.


Mereka meletakkan kantong plastik berisi air Kelapa murni. Setelah itu, Tiara kembali mengompresnya dengan kain basah.

__ADS_1


Sebelum keluar kamar Wulan dan Tamrin berkata kepada Alex, "Bos, semoga cepat sembuh."


__ADS_2