Senar Takdir

Senar Takdir
Irama Merdu


__ADS_3

Wulan berdiri, ia berjalan mendekati sebuah bangku hitam menghadap piano. Mic dan piano sudah menyala, ia pun menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan. Jari-jarinya, mulai memainkan piano sembari wajahnya sedikit mendekat pada Mic.


"Tak pernah terbayang


Akan jadi seperti ini pada akhirnya


Semua waktu yang pernah kita lewati


Bersama nyata hilang dan sirna..."


Lagu berjudul, "Tetap Dalam Jiwa" milik penyanyi terkenal Isyana Sarasvati dibawakan oleh Wulan membuat mereka terdiam. Irama yang dinyanyikan, hampir mendekati penyanyi aslinya. Berbagai nada dan alunan, mulai merasuki jiwa secara perlahan.


Suara nyanyian, terdengar sangat merdu dan sopan di telinga. Jari-jarinya, lihai mengikuti irama yang sedang Wulan nyanyikan. Tamrin dan Alexander terdiam tak berkedip, terpesona oleh nyanyiannya. Tanpa sadar, mereka semua jatuh dalam irama sedang Wulan nyanyikan.


"Bila memang harus berpisah


Aku akan tetap setia


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa.."


Tidak ada suara lain, selain nyanyian dan lantunan piano dibawakan oleh Wulan. Kedua mata Tamrin, terpesona melihat paras Wulan yang indah bagaikan bulan purnama ketika menyanyi di malam sunyi. Tiara ikut bernyanyi dengan intonasi rendah.


Meskipun dia tidak tau, siapa dan bagaimana irama aslinya. Ia ingin terus mengikuti, kemana Wulan menuntun irama musik hingga akhir.


"Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa.."


Irama merdu dinyanyikan oleh Wulan, merasuk ke dalam jiwa para pendengar. Lantunan lagu yang Wulan bawakan, membuat Kak Tigor tersentuh. Baru pertama kali, senior itu benar-benar mendengar dan menikmati irama musik dalam hidupnya.


Biasanya, ketika konser atau pentas musik berlangsung ia alihkan dengan bermain handphone. Kini, dia benar-benar ingin terus mendengarkannya hingga akhir.


"Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa.."


Nyanyian pun telah berakhir, mereka semua terdiam sembari tersenyum melihat Wulan. Mereka semua, bertepuk tangan dengan cukup meriah. Kemudian Wulan tersenyum, ia berjalan dan duduk ditempatnya.

__ADS_1


"Hebat Wulan!" puji Alexander.


"Suaramu terdengar sopan di telinga," puji Tamrin.


"Iya, Wulan. Suaramu terdengar indah!" puji Tiara.


"Sumpah, suaramu itu indah hampir mendekati penyanyi aslinya!" ujar Kak Tigor begitu memuji indahnya nyanyian Wulan.


"Thanks, kalian semua. Suara gue tidak sebagus itu kok, tadi itu gue cuman nyanyi asal. Sekalian gue ingin mengingat kemampuanku bermain piano," timpal Wulan pada mereka semua.


"Nyanyi asal saja sudah bagus, apalagi serius. Keren!" puji Tamrin.


"Thanks," balas Wulan lalu tersenyum.


"Ok, Wulan terima kasih sudah menunjukkan skillnya. Sekarang giliran Tiara, silahkan maju ke depan," ujar Kak Tigor mempersiapkan.


Tiara terdiam, dia melirik ke sana dan kemari. Dia sangat bingung dengan lagu yang harus ia nyanyikan. Dirinya, sama sekali tidak tau lagu apa saja yang ada di Bumi. Tatapan mereka, membuat Tiara merasa grogi dan canggung.


"Ada apa?" tanya Kak Tigor.


"Aku tidak bisa bermain alat musik, Kak. Selain itu, Tiara tidak tau lagu apa yang harus dinyanyikan," Jawab Tiara membuat mereka sempat berpandangan satu sama lain.


"Hah?! Serius? Satu pun lagu tidak ada yang tau?" tanya Kak Tigor.


Tiara menganggukkan kepala, ia pun diminta oleh Kak Tigor untuk kembali ke tempatnya. Kak Tigor menyarankan, agar Tiara menentukan lagu terlebih dahulu lalu menyanyikannya sambil melihat lirik lagu pada layar handphone. Dia pun menerima saran dari Kak Tigor, Tiga anggota Serangkai mulai mendekatinya.


"Saran dariku, lebih baik kamu nyanyikan lagu berjudul 'Jatuh Hati' sepertinya lagu itu cocok denganmu," saran Wulan.


"Jangan-jangan, karena elu masih pemula mending lagu Slank. Judulnya terlalu manis, gampang kok gak terlalu berat liriknya," saran Tamrin.


"Tiara, kamu tau dua irama lagunya?" tanya Alexander lalu Tiara menjawab,"Belum."


"Ya, sudah kamu dengarkan saja dulu. Soal lagu pilihan, nanti kamu tentukan sendiri. Soal irama gitar, tenang aku yang mainkan," kata Alex membuat Tiara tersenyum.


Wulan, mengeluarkan headset dari dalam saku rok sekolah yang ia kenakan. Ia memasangkannya pada handphone miliknya. Sepasang headset, mulai terpasang pada lubang telinga Tiara.


Musik mulai berputar, Tiara terdiam menikmati irama lagu secara bergantian. Suara merdu dari penyanyi solo dan vocalis band terkenal, membuat Tiara tersenyum tanpa sadar. Selesai mendengarkan dua lagu, ia pun melepas headset dari lubang telinganya.


Tiara memutuskan, menyanyikan dua lagu secara bergantian. Kak Tigor, meminta mereka untuk berunding mengenai siapa yang akan membawakan irama alat musik. Setelah berunding cukup lama, akhirnya mereka mencapai keputusan. Tamrin membawakan irama harmonika dan kajon (alat musik berbentuk kubus terbuat dari kayu), Alexander gitar dan Wulan piano.


Alexander, Wulan dan Tamrin duduk tepat dibelakang Tiara sesuai posisi. Irama gitar dan Harmonika dimulai, Tiara mulai tersenyum duduk sambil menatap layar handphone milik Wulan.


"Kuambil gitar dan mulai memainkan


Lagu lama yang biasa kita nyanyikan


Tapi tak sepatah kata yang terucap

__ADS_1


Hanya ingatan yang ada di kepala..."


Di langit masih ada langit, begitulah perumpamaan suara Tiara ketika bernyanyi. Lirik berpadu dengan irama melodi, menciptakan alunan musik yang indah. Kak Tigor terdiam, kedua matanya tak berkedip memandang parasnya ketika bernyanyi.


Seketika, sepintas imajinasi melintas di dalam kepalanya. Ia membayangkan mantan kekasih, ketika acara pergi ke Yogyakarta dalam acara Studi Tour. Nuansa romantis, bersama mantan kekasih membuat luka lama kembali terluka.


"Di malam yang dingin dan gelap sepi


Benakku melayang pada kisah kita


Terlalu manis untuk dilupakan


Kenangan yang indah bersamamu


Tinggallah mimpi..," ujar Tiara bernyanyi membuat Tigor terdiam.


Dia teringat oleh sahabatnya bernama Rudi. Dia merupakan remaja berambut ikal berkacamata. Setiap kali bertemu, dia selalu mengajak Tigor untuk bernyanyi.


Kemampuannya memainkan dua gitar sekaligus dan suaranya yang merdu, membuat Tigor merasa betah ketika menongkrong bersama teman sepermainannya. Namun sayangnya, semua itu hanyalah kenangan.


Tigor hanya bisa melihat namanya terukir di Batu Nisan. Tanpa sadar, kenangan itu membuat air matanya mengalir. Dia tertunduk sambil mengusap air matanya.


"Terlalu manis untuk dilupakan


Walau kita memang tak saling cinta


Tak kan terjadi.."


Nyanyian pun telah berakhir, mereka tersenyum kepada Tigor terlihat sedang tertunduk. Kedua matanya sembab, terlihat habis menangis. Tigor memberi tepuk tangan semeriah mungkin pada mereka berempat.


"Kak, Tigor? Kakak tadi nangis?" tanya Alexander melihat Tigor sempat menangis.


"Oh, enggak. Mata gue kemasukan debu," ujarnya memberikan alasan. "Tiara, bukan parasnya saja cantik tapi suaranya juga indah. Cocok ikut audisi!" puji Tigor.


"Terima kasih kak, Kak Tigor terlalu berlebih-lebihan memuji saya. Masih banyak orang di luar sana lebih bagus dari saya," timpalnya dengan rendah hati.


"Tapi sumpah, suaramu indah banget! Kelasnya udah beda," puji Wulan.


"Iya, betul. Suara berkelas internasional!" sambung Alexander.


"Betul, betul-betul!" sambung Tamrin.


"Thanks kalian semua, Tiara masih banyak belajar," timpalnya pada mereka semua.


Setelah itu, mereka membawakan lagu kedua berjudul,"Jatuh Hati" dibawakan oleh penyanyi terkenal bernama Raisa Andriana. Tiara kembali bernyanyi, suara indahnya berpadu dengan lantunan dan irama alat musik membuat Tigor seperti penonton VVIP. Ia pun merekam mereka semua, sebagai dokumentasi sekaligus menikmati nyanyian Tiara secara berulang-ulang.


Tiga menit lamanya Tiara bernyanyi. Namun bagi Tigor, waktu tersebut terasa sangat sebentar. Selesai menyanyi, mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan Tigor, berjalan keluar untuk mengambil minum dan cemilan untuk mereka nikmati.

__ADS_1


__ADS_2