Senar Takdir

Senar Takdir
Drama kecil gerbang sekolah


__ADS_3

Tidak terasa Sabtu telah tiba, Alexander berjalan dari dapur sambil menjinjing sepatunya. Semalam, Alexander dan Tiara bersama-sama mengerjakan naskah novel membuatnya masih mengantuk.


Alexander berhenti melangkah, kedua matanya terbuka lebar dan tak berkedip melihat Tiara. Gadis itu duduk bersandar, kedua telapak kaki berada di atas sofa dan pahanya terbuka lebar.


Dia terpesona melihat selembar kain merah jambu dibalik roknya. Tiara tersenyum genit lalu menguap dan bertanya, "Ngantuk, kenapa kamu melihatku seperti itu?"


Sang Burung telah bangkit, wajah Alexander merah padam lalu menunjuk sambil berkata, "Kamu sengaja ya?! Pakai celanamu!"


Tiara menguap lalu berkata, "Kamu ngelantur ya? Aku sudah pakai celana pendek, sayang. Lihat-lihat," ujarnya lalu menggosok-gosokkan kain merah jambu dengan sengaja.


Entah apa yang terjadi hari ini dengan Tiara. Akibat perbuatannya, Sang Burung semakin kuat dan ganas membuat birahi Sang Pemilik semakin memuncak. Sekali lagi, Alexander meminta Tiara untuk memakai celana. Tiara pun tertawa lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan mengiyakannya.


Alexander melihat daun pintu kamar sambil berkata, "Dasar Tiara, dia lupa atau sengaja?"


Tidak berselang lama, Tiara pun keluar dari kamar lalu mereka berdua keluar sambil menjinjing sepatu. Selesai memakai sepatu, Alexander berdiri lalu melirik ke arah jam tangannya.


Rupanya, waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan. Tinggal setengah jam lagi, gerbang sekolah akan di tutup. Dia melirik kepada Tiara sedang memakai sepatu.


Insting laki-lakinya tidak bisa membohongi, ketika melihat celah terbuka diantara kedua pahanya.


"Hanya memastikan," gumamnya sambil mengintip dibalik roknya.


Tiara menyadari hal itu, dia tersenyum genit lalu menjilati mulut bawah dengan ujung lidahnya. Dengan sengaja, Tiara melebarkan kedua pahanya membuat Alexander terkejut. Kedua matanya tak berkedip, raut wajahnya memerah sekaligus merasa lega ketika Tiara mengenakan celana pendek hitam.


Alexander menghembuskan nafas panjang. Dia mengusap dadanya sendiri sambil berkata, "Syukurlah," ucapnya di dalam hati.


Tiara tertawa lalu berkata, "Segitunya kamu ingin melihatnya. Tenang sayang, belum ganti masih merah jambu," goda Tiara membuat Alexander semakin gelisah dan salah tingkah.


Sekilas ingatan Merah jambu, membuat Sang Burung kembali bangkit. Mengingat merah jambu, membuat hasrat ingin mencium lain itu semakin kuat. Betapa terkejutnya Alex, melihat Tiara berdiri dihadapannya.


Alexander terkejut lalu bertanya, "Apa?!"


Tiara tersenyum genit, dia menjilati bibir bawahnya dengan ujung lidahnya lalu berkata, "Melakukan rutinitas kita, sayang."


"Rutinitas apa?"


Tiara mendekati daun telinga Alex lalu berbisik, "Ciuman pagi."

__ADS_1


Wajahnya semakin merah, dia terdiam dan mundur sebanyak dua langkah. Dia memalingkan wajahnya karena malu dan situasinya tidak pas.


"Gak mau?" tanya Tiara.


"Bukannya begitu, situasinya lagi tidak pas!" jawabnya dengan raut wajah memerah.


"Cepat sayang, nanti kita kesiangan."


Alexander terdiam, Tiara tersenyum lalu berjalan mendekat. Wajah mereka saling berpandangan, perlahan mereka saling mendekat lalu berciuman. Tiara merasakan sesuatu yang keras, bukannya menjaga jarak dia sengaja mempererat pelukannya.


Alexander memegang kedua pundaknya, dia mendorong Tiara lalu berkata, "Aku mau ke kamar mandi!" ujarnya malu-malu.


Dia melepas sepatu lalu berlari masuk ke kamar mandi. Setelah sepuluh menit, dia pun keluar dari rumah lalu memakai sepatunya kembali.


Tiara menahan tawa lalu bertanya, "Kenapa buru-buru ke kamar mandi? Sakit perut?"


Alexander tidak menjawab, dia terlalu malu untuk menjawab jujur. Selesai mengenakan sepatu, Alexander berdiri lalu Tiara berjalan mendekatinya.


Gadis itu memasang wajah mesum lalu mendekat pada daun telinganya. Dia pun berbisik, "Keras, mau ku buat lemas?"


Wajah Alexander langsung merah padam, dia menaiki motornya. Sambil mengenakan helm dia berkata, "Cepat naik, nanti terlambat!"


Setelah itu Tiara duduk dibelakang sambil mengenakan helm. Motor yang dikendarai oleh Alex, perlahan mulai melaju di atas aspal. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh empat lima, tinggal lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup.


Sialnya, terjadi kemacetan parah yang diakibatkan oleh kecelakaan lalulintas. Alexander berjuang, menyalip setiap celah kendaraan. Walau pada akhirnya dia pun terjebak diantara kendaraan roda empat.


"Gawat, kalau begini terus kita bisa terlambat. Sayang, bisa kamu gunakan kemampuan teleportasi milikmu?"


"Terlalu beresiko, apalagi jam padat seperti ini. Jika menggunakannya aku takut ketahuan. Menggunakan kemampuan penghapus ingatan pun juga percuma jika ada saksi," jawab Tiara.


Mau tidak mau, mereka berdua pasrah dengan keadaan. Perlahan arus lalulintas kembali lancar, Alexander menambah laju kendaraannya. Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua berhasil sampai di parkiran.


Setelah memarkirkan motor, Alexander dan Tiara berlari menyebrangi jalan. Mereka melihat, satpam sekolah mulai menutup gerbang. Di balik gerbang, dua OSIS berdiri sambil memegang buku catatan.


Diantara kedua OSIS itu, ada Bang Tigor sedang berjaga. Alexander tersenyum, dia langsung mendorong Tiara hingga tepat waktu melewati gerbang.


"Kenapa?!"

__ADS_1


Alexander tersenyum lalu berkata, "Supaya kamu gak dihukum. Ayo, masuk sebentar lagi pelajaran di mulai."


Tiara bersedih melihat pengorbanan kecil dilakukan oleh Alex. Dia menjulurkan kedua tangannya melalui sela gerbang lalu menggenggam kedua tangan Alex. Kemudian dia berkata, "Kalau kamu gak masuk, aku juga gak masuk!"


Tingkah Tiara, menjadi pusat perhatian Satpam dan petugas OSIS yang berjaga membuat Alexander malu. Dia menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Tenang nanti aku juga masuk. Ayo, cepat masuk Kelas," ujarnya melepas genggamannya sambil menahan malu.


Bang Tigor dan seorang anggota OSIS memegang pundak Tiara. Lalu mereka berkata, "Dengerin tuh, ayo cepat masuk."


Terpaksa Tiara mundur beberapa langkah, sambil melihat Alex sedang tersenyum dibalik gerbang sekolah. Seseorang menyahutnya dari kejauhan. Alexander menoleh ke samping kiri.


Rupanya, orang yang menyahutnya dari kejauhan adalah Fajar. Dia memanggil Alex sambil melambaikan tangan.


Alexander tersenyum kepada Tiara sedang bersedih melihat dirinya dibalik gerbang. Kemudian dia menempelkan kedua jari pada pelipis lalu mengibaskan ke atas sambil berkata, "Adios!" ucapnya lalu berlari menghampiri Fajar.


"Woi! Mau ke mana?!" tanya Satpam sekolah dari balik pagar.


Terpaksa Tiara berjalan menuju kelas, sedangkan Bang Tigor menggelengkan kepala sambil menulis nama Alex pada daftar siswa terlambat.


Fajar dan Alex masuk ke dalam Gang lalu berjalan mengunjungi suatu tempat.


"Kemana kita?" tanya Alex.


"Tempat tongkrongan," jawab Fajar.


Dari kejauhan, Alexander melihat Budi dan Dandi duduk di depan sebuah rental PS (Play Station). Mereka berdua, sedang menikmati sebatang rokok. Asap keluar dari mulut mereka, membuat Alexander teringat dengan Hadi dan komplotannya semasa SMP.


Komplotan Hadi selalu bolos di pelajaran tertentu untuk menghisap rokok. Mengingat hal itu, Alexander memandang mereka berdua tidak jauh berbeda dengan Hadi membuatnya merasa takut.


Budi dan Dandi memanggil mereka berdua sambil melambaikan tangan. Fajar membalas lambaian tangan mereka, kecuali Alex sedang tertunduk cemas dan takut.


Seseorang menepuk pundak, membuat Alexander terkejut. Dia menoleh ke samping, rupanya orang itu adalah Tamrin.


Tamrin langsung merangkulnya sambil berkata, "Hei, Bos! Tumben terlambat."


"Biasa kejar deadline," balas Alex.


"Yuk, kita samperin mereka!" ajak Tamrin.

__ADS_1


Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepala. Mereka bertiga, berlari menghampiri Dandi dan Budi sedang duduk pada sebuah bangku panjang sambil menghisap rokok.


__ADS_2