Senar Takdir

Senar Takdir
Tameng gadis buruk rupa


__ADS_3

Tiara dan Tamrin, berjalan menelusuri lorong sekolah menuju kelas. Gadis itu teringat perkataan Tamrin yang menyinggung Ilham. Dia penasaran, mengapa Tamrin mengatakan hal itu.


"Tamrin," kata Tiara memulai perbincangan.


"Iya?"


"Kenapa, kamu berkata seperti itu kepada Ilham?" tanya Tiara.


Tamrin ingin sekali, memberitahu sisi gelap Ilham terutama pembullyan dilakukannya terhadap Alexander. Namun dia teringat pesan Wulan supaya Tamrin merahasiakannya.


Tamrin tersenyum lalu berkata, "Bercanda Tiara, bercanda!"


"Tetap saja kamu salah, Tamrin. Sama saja kamu menuduh Ilham komplotan Gangster," ujarnya menasehati.


Tamrin hanya mengiyakannya saja, padahal dia punya bukti kuat mengenai sisi gelap Ilham namun dia lebih memilih bungkam. Tiara teringat Alexander sering memantaunya dari kejauhan. Dia merasakan rasa sakit, ketika raut wajah kekasihnya menatap dingin. Rasa sakit penuh rasa kecemburuan begitu dalam.


"Tamrin, ada yang ingin aku bicarakan," kata Tiara kembali memulai perbincangan.


"Biar aku tebak, pasti soal Bos!"


Tiara tertawa lalu berkata, "Seratus buat Tamrin! Jangan-jangan, kamu jago meramal kayak Wulan nih!"


Tamrin tertawa lalu membalas, "Mana ada! Sumpah gue asal tebak saja. Tapi soal ke kantin, gue disuruh Wulan buat nyusul elu."


"Sudah aku duga," balas Tiara.


"Jadi, ada apa dengan Bos?" tanya Tamrin.


Tiara mulai bercerita, bahwa dirinya baru menyadari Alexander tiga kali memantaunya dari kejauhan. Pertama, ketika dirinya berada bersama Ilham di Kantin, kedua berada di lapangan basket, ketiga lapangan sepak bola.


Dia melihat raut wajah Alexander terdiam memegang dadanya sendiri. Di saat bersamaan, Tiara merasakan sakit di dadanya. Rasa sakit penuh dengan kecemburuan.


Sekarang dia melihat jelas, raut wajahnya yang dingin dan sorot mata yang tajam. Namun kali ini, tidak hanya kecemburuan yang ia rasakan melainkan kebencian.


Mengingat hal itu, Tiara menjadi merasa bersalah. Dia mengembuskan napas panjang lalu bertanya, "Tamrin, apa selama ini suamiku memendam rasa cemburu?"


Tamrin sambil menunjuk menjawab, "Nah! itu kamu tau!"


Tiara menoleh kepada Tamrin lalu bertanya kembali, "Tapi kenapa? Kenapa dia terus memendamnya?! Aku tidak bisa membayangkan, rasa sakit selama ini suamiku rasakan."


Tamrin tersenyum lalu menepuk pundak Tiara sambil berkata, "Elu tanya saja sendiri.Yuk! Kita harus cepat kembali ke kelas."


Tiara mengiyakan perkataan Tamrin, mereka berdua mempercepat langkah kembali menuju kelas. Setiap langkah kakinya, Tiara termenung memikirkan Alexander.


Sesampainya di kelas, mereka melihat Guru Matematika baru saja tiba di kelas. Mereka berdua kembali ke tempat duduk masing-masing lalu pelajaran pun di mulai.


Empat jam telah berlalu, kegiatan belajar mengajar telah berakhir. Alexander berjalan terlebih dahulu keluar kelas. Ketika Tiara akan menyusulnya, Ilham langsung menghadangnya.


"Halo Tiara," sapa Ilham.

__ADS_1


Tiara tersenyum lalu menepuk Ilham sambil berkata, "Hai! Dasar, bikin aku terkejut saja!"


Ilham tertawa lalu berkata, "Habisnya, senang lihat kama terkejut."


Tiara tertawa lalu berkata, "Bisa-bisa aku jantungan," canda Tiara.


"Tenang, aku yang tanggung jawab!" balas Ilham dengan nada bercanda.


Tiara melihat Alexander berdiri menoleh kepada dirinya. Raut wajahnya terlihat sedih, dia pun berbalik dan kembali berjalan seorang diri. Sekali lagi, dadanya terasa sakit sekaligus kebencian.


"Kamu sibuk hari ini?" tanya Ilham.


Tiara menunduk, ujung jarinya menempel pada dagu. Dia pun menjawab, "Tidak terlalu, memangnya ada apa?"


"Bagaimana kalau kita ke Taman Hiburan? Di sana, banyak sekali wahana menarik. Tapi sebelum itu, kita ke Mall dulu sekalian menunggu waktu sore," ujarnya mengajak Tiara.


Ingin sekali Tiara menolak, namun tidak enak rasanya  menolak tawaran Ilham. Apalagi, Ilham mengajaknya dengan begitu tulus. Tidak berselang lama, Wulan berjalan keluar dari dalam kelas.


Wulan menepuk pundak Tiara lalu berkata, "Halo, kalian berdua!" sapa Wulan kepada Tiara dan Ilham.


"Astaga Wulan! Tadi Ilham, sekarang kamu juga ikut-ikutan! Hobi sekali kalian mengejutkanku!" ujar Tiara kepada Wulan dengan nada kesal.


Ilham dan Wulan tertawa seolah satu frekuensi. Kemudian Wulan berkata, "Jadi mengantarkanku ke tempat Kosmetik pernah aku tunjukkan waktu itu?"


Tiara kebingungan, dia tidak pernah menerima ajakan Wulan sama sekali. Kemudian Tiara melihat Wulan menggerakkan alisnya. Sekarang dia mengerti, apa maksud dari ajakan Wulan.


"Sorry Ilham, bukannya gue menolak tapi ini masalah wanita. Lagian, cowok kayak elu mana ngerti soal kosmetik."


Ilham tertawa lalu berkata, "Gini-gini, gue juga tau banyak soal kosmetik. Gue juga pakai beberapa kosmetik dan produk kecantikan khusus lelaki."


"Iya, gue percaya," balas Wulan.


Hana keluar dari dalam kelas, dia melihat Ilham dan kedua temannya berkumpul. Gadis itu berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Hai, guys! Sedang apa kalian berkumpul di sini?!" tanya Hana.


"Gue sedang mengajak mereka berdua ke Taman Hiburan. Tapi mereka punya acara sendiri," jawab Ilham.


Hana menoleh kepada Wulan dan Tiara lalu bertanya, "Serius? Memang kalian ke mana?"


"Tempat Kosmetik," jawab Tiara dengan polosnya.


"Kalian jahat! Kenapa aku gak di ajak?! Padahal aku juga ingin lihat-lihat, siapa tau produk kecantikan kita cocok. Aku ikut ya?!" ujar Hana lalu meminta Wulan dan Tiara mengizinkannya ikut.


Kehadiran Hana, benar-benar diluar perhitungan. Wulan dan Tiara berpikir keras untuk mencari alasan menolak Hana untuk ikut.


Tidak berselang lama, Nanda berjalan keluar dari kelas. Dia telah selesai menjalankan tugas piketnya. Kehadiran Nanda, membuat Wulan terpikirkan sebuah ide.


"Nanda!" panggil Wulan.

__ADS_1


Nanda menoleh kepada Wulan, dia terdiam memandangi mereka semua. Wulan pun memanggil lalu Nanda, berjalan menghampiri mereka.


Nanda dengan raut wajahnya yang datar bertanya, "Ada apa?"


"Kita berencana untuk pergi ke Tempat Kosmetik.Mau ikut?" tawar Wulan.


Nanda tersenyum lalu berkata, "Boleh. Kebetulan, hari ini aku senggang."


Di luar dugaan, Nanda menerima tawaran Wulan. Ilham pamit kepada mereka berempat, dia berkata bahwa dirinya akan mengajak mereka kembali di lain waktu. Kemudian, mereka berempat mulai berjalan menelusuri lorong.


Setiap kali Nanda mendekat, Hana selalu menjaga jarak. Sesekali, Hana menggaruk tubuhnya sambil memandang jijik. Namun dia tetap menahannya, demi menjaga citra di depan Wulan dan Tiara.


Semakin lama, Hana telah mencapai batasnya. Dia tersenyum kepada mereka bertiga lalu berkata, "Maaf guys, aku baru ingat ada acara di rumah. Sampai jumpa besok!" ujarnya pamit sambil berjalan mundur.


"Hati-hati!" balas Wulan dan Tiara sambil melambaikan tangan.


"Yuk!" ajak Tiara kepada mereka berdua.


Nanda memandang mereka dengan serius lalu berkata, "Kalian tidak perlu berakting lagi, Hana sudah sangat jauh dari sini. Aku tidak tau apa rencana kalian sebenarnya. Tetapi, rencana kalian menolak Ilham dan Hana telah berhasil."


Tiara dan Wulan terdiam, mereka berdua merasa bersalah karena telah memanfaatkan Nanda. Kedua tangan Nanda mengepal, dia memandang mereka berdua dengan penuh kebencian.


"Menggunakan gadis buruk rupa sepertiku sebagai tameng. Kalian berdua ternyata licik juga," kata Nanda.


Wulan merasa sangat bersalah lalu berkata, "Terima kasih Nanda sudah membantu kami. Tapi, bukannya kami bermaksud...."


"Berisik! Masa Bodo! Apapun alasan kalian, aku tidak peduli! Untuk kedepannya, jangan libatkan aku lagi!" geramnya kepada mereka berdua.


Nanda pun berjalan begitu saja, meninggalkan mereka berdua. Wulan dan Tiara terdiam memandangi Nanda dengan penuh rasa bersalah. Niat awal ingin dekat dengan Nanda, namun nyatanya semakin menjauh.


Beruntung, suasana lorong dan koridor sekolah cukup sepi. Jika seandainya suasana ramai, mungkin kejadian ini akan menjadi topik hangat.


Bisa-bisa, mereka semua beropini macam-macam. Dan pada akhirnya, Nanda pasti akan terkena imbasnya. Wulan dan Tiara kembali berjalan sambil termenung mengingat perkataan Nanda.


"Aku semakin merasa bersalah kepada Nanda," kata Tiara kepada sahabatnya.


Wulan berjalan dengan raut wajah bersalah. Dia menoleh kepada sahabatnya lalu berkata, "Aku juga merasakan yang sama. Terpaksa aku melakukannya, jika tidak rencana kita pasti gagal."


"Jujur, aku tidak berniat menolak mereka berdua. Aku ingin sekali ikut dan mengizinkan Hana untuk ikut."


Wulan tersenyum lalu menepuk pundaknya. "Sudahlah, ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan bukan? Sekarang cepat pulang dan temui Bos di rumah."


Tiara memeluk Wulan dari samping lalu berkata, "Terima kasih, Wulan. Kamu benar-benar sahabat sejati ku."


"Kamu lupa? Kita ini saudara," balas Wulan sambil membalas pelukannya.


Tiara sangat senang lalu berkata, "Kamu benar Wulan."


Tanpa mereka sadari, Winda menguping pembicaraan mereka berdua. Dia tersenyum penuh kemenangan sambil berjalan menjauhi mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2