Senar Takdir

Senar Takdir
Memadamkan api cemburu


__ADS_3

Sekian lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di Kawasan Parkir berada di seberang jalan. Tiara membonceng motor matic merah yang dikendarai oleh Wulan.


Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Alexander. Tiara turun di depan gerbang lalu mengembalikan helm yang ia pinjam.


"Terima kasih, Wulan. Ini helmnya," ujarnya sambil memberikan helm kepada Wulan.


Wulan tersenyum lalu mengambil helmnya sambil berkata, "Sama-sama. Apa sih yang enggak buat saudara sendiri."


"Gak masuk dulu?" tawar Tiara kepada Wulan. "Nanti, setelah masalah kalian selesai. Lagi pula, siapa tau kalian mau main basah-basahan di kasur," balas Wulan menggoda sahabatnya.


Wajah Tiara merah padam lalu berkata, "Wulan!"


Wulan menyalakan motornya lalu berkata, "Aku mau pulang, salam buat Bos dan sampai ketemu di sekolah."


Tiara melambaikan tangan kepada Wulan seiring motor yang dikendarainya semakin menjauh. Setelah itu, dia berjalan masuk ke dalam halaman rumah.


Pintu diketuk, namun tidak ada jawaban sama sekali. Perlahan, Tiara menarik gagang pintu lalu ia masuk ke dalam.


Setiap langkah kakinya, suara Play Station semakin jelas terdengar. Dia melihat kekasihnya sedang asyik bermain Play Station. Alexander sudah mengenakan kaos dan celana pendek.


Perlahan dia mendekat lalu duduk di sampingnya. Alexander sedang asik bermain Play Station, tidak menyadari kehadirannya.


Tiara memeluk Alexander dari samping lalu mencium pipinya. "Sayang, aku pulang," ujarnya sambil mempererat pelukannya.


"Selamat datang sayang," balas Alex sambil memainkan Stik Play Station.


Melihat dirinya diabaikan, Tiara menjadi cemberut. Kemudian dia berkata, "Game saja dimainin. Kapan istrinya dimainin?"


Alexander tertawa lalu menjawab, "Kapan-kapan."


Tiara semakin cemberut, dia mencubit pipi Alexander hingga merintih kesakitan. Alexander menoleh kepada Tiara lalu berkata, "Sakit!"


"Biarin! Suruh siapa cuekin istrinya," kata Tiara lalu berdiri dan berkata, "Aku masak dulu."


"Kok hati-hati sih?!"


Alexander menoleh kepada Tiara lalu berkata, "Takutnya pas pergi ke dapur kamu terpeleset atau teriris saat motong bawang. Benar kan?"


"Benar sih," balasnya dengan jengkel.


Tiara berjalan masuk ke dapur. Menu makan siang hari ini, Tiara ingin memasak Kari Ayam Pedas. Dia mulai mempersiapkan bahan dan membuat racikan bumbu spesial.


Setelah semuanya siap, Tiara mulai memasak. Api kompor dalam keadaan stabil. Tiara lihai memainkan wajan dan spatula.


Sesekali, dia mencicipi rasa pada Kari sedang dimasak. Jika ada rasa yang kurang, dia tambahkan bumbu serta rempah-rempah hingga terasa lezat.


Menu makan siang telah siap, aroma mengiurkan membuatnya tak sabar untuk memakannya. Tiara berjalan menghampiri Alexander masih berada di ruang keluarga. Dia berjalan sambil tersenyum karena tak sabar melihat reaksinya.

__ADS_1


"Sayang, makan siang sudah siap. Mainnya ditunda dulu, yuk makan!" ajak Tiara kepada kekasihnya.


Alexander sambil memainkan Stik Play Station berkata, "Iya, sebentar."


Raut wajah Tiara semakin cemberut, baru pertama kali dalam hidupnya dia iri dengan benda mati. Kemudian dengan kesal, dia berjalan ke dapur untuk menunggunya di meja makan.


Dua puluh menit telah berlalu, sampai sekarang Alexander masih asyik bermain Play Station miliknya. Tiara semakin kesal karena terlalu lama menunggu kekasihnya.


Tiara melipat kedua tangannya sambil berkata, "Dasar Cintaku, katanya sebentar tapi sampai sekarang masih belum ke sini juga. Ya, sudah. Aku bawa saja makanannya," gumamnya lalu berdiri mengambil piring dan sendok.


Setelah mengambil nasi dan lauk pauk, Tiara berjalan menghampiri Alexander sedang asik bermain game. Awalnya, Alexander bermain melanjutkan game God Of War. Sekarang dia sedang memiliki game menarik untuk dimainkan.


Tiara mengambil sesendok nasi beserta lauk pauk. Perlahan, dia dekatkan sendok kepada Alexander sambil berkata, "Bilang A!"


Alexander menoleh kepadanya, dia sedikit terkejut melihat sesendok makanan mulai mendekatinya. "Kamu ngapain?"


"Menyuapi mu," jawabnya tetap mengangkat sendok.


Alexander meletakkan Stik Play Station miliknya. Dia pun berkata, "Tidak perlu, aku makan sendiri."


"Gak boleh! Kamu lanjutkan saja, biar aku yang suapi," pintanya kepada Alex.


"Tapi, aku ini bukan anak kecil!" ujarnya dengan sangat malu.


Tiara tertawa lalu berkata, "Iya, kamu bukan anak kecil tapi anak besar. Cepat, buka mulutmu sayang!" ujarnya sedikit memaksa.


Setelah memilih game, Alexander memulai permainan. Seiring dimulainya permainan, Tiara tidak berhenti menyuapinya. Dia juga menikmati tampilan dan animasi di dalam game.


Alexander mulai melakukan pengaturan suara dan subtitle. Selanjutnya dia mulai memasuki misi pertamanya. Sebelum memulai misi, dia memilih pesawat terlebih dahulu. Di antara pesawat tempur, Alexander memilih pesawat A10 Thunderbolt.



Tiara terkagum-kagum lalu berkata, "A10 Thunderbolt, pilihan yang bagus sayang. Kenapa kamu pilih pesawat itu?"


"Karena persenjataannya banyak. Selain itu, aku juga suka bentuknya," jawab Alexander sambil memainkan Stiknya.


"Setelah misi pertama, boleh aku main? Aku penasaran ingin mencoba berbagai jenis pesawat, terutama A10 Thunderbolt!"


Alexander sambil memainkan Stik Play Station membalas, "Boleh-boleh."


Misi pertama dimulai, Alexander mulai berkonsentrasi menuntaskan misi di dalam game. Tiara terdiam menikmati jalannya permainan. Meskipun begitu, Tiara tetap menyuapinya.


Tiara teringat, momen ketika berdua dengan Ilham saat berada di kantin, lapangan basket dan sepak bola. Dia juga teringat, ketika Alexander terdiam memperhatikannya dari kejauhan.


Rasa sakit karena api cemburu, membuatnya terus terpikirkan. Apalagi, perkataan Tamrin yang memberitahu bahwa Alexander memendam rasa cemburu.


Tiara berhenti menyuapinya. Mulut Alexander masih terbuka lebar, menunggu sesuap makanan masuk ke dalam mulutnya. Tetapi, Tiara tidak menyuapinya sama sekali.

__ADS_1


Kemudian dia menoleh kepada Tiara lalu bertanya, "Ada apa? Kenapa berhenti?"


"Aku tau semuanya," jawab Tiara dengan raut wajah sangat serius.


"Tau? Soal apa?"


"Soal membuntuti ku. Pertama ketika berada di Kantin, kamu ditemani oleh Tamrin datang ke kantin duduk menguping pembicaraanku dengan Ilham, Wulan serta yang lainnya. Kedua saat berada di lapangan basket, ketiga saat berada di lapangan sepak bola. Terakhir sepulang sekolah, saat aku berbincang dengan Ilham di depan sekolah," ujarnya membeberkan fakta.


Alexander terdiam, dia meletakkan stiknya hingga misi pada permainan berakhir gagal. Dia tertunduk dengan raut wajahnya yang datar.


Kemudian dia tersenyum lalu menoleh kepada kekasihnya. "Kata siapa? Waktu itu, aku langsung pulang. Buat apa aku membuntuti mu?!" ujarnya mengelak.


"Cintaku, terlihat sekali kamu berbohong."


Alexander kembali terdiam lalu memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa mengelak, ketika perkataan kekasihnya.


"Waktu itu, aku merasakan sakit pada dadaku. Rasa sakit penuh dengan rasa kecemburuan. Pada saat yang bersamaan, aku melihatmu diam memandang dingin. Kamu selalu bertingkah, seolah tidak terjadi apapun," ujarnya kepada Alexander masih terdiam kaku. Kemudian Tiara mendekat pada daun telinganya lalu berbisik, "Jangan-jangan, kamu cemburu."


Alexander langsung menoleh kepada Tiara dengan wajah memerah. Melihat raut wajahnya memerah, membuat Tiara tersenyum lebar sambil menahan tawa.


"Cie, ada yang cemburu nih," goda Tiara kekasihnya.


Alexander berpaling dengan tersipu malu lalu berkata, "Enggak! Siapa juga yang cemburu!"


Kedua tangan Tiara terbuka lebar, dia langsung memeluk kekasihnya dari samping. Alexander terkejut lalu melirik ke arahnya. Dia melihat, raut wajah kekasihnya bersedih.


"Sayang, kenapa kamu tidak cerita?! Kenapa kamu selalu memendam rasa cemburu mu itu?! Kenapa kamu tidak tarik tanganku ketika cemburu?!"


Alexander memegang kedua bahu kekasihnya. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa berkedip.


Alexander mulai memeluk erat kekasihnya sambil berkata, "Karena aku ingin kamu bahagia."


Tiara mempererat pelukannya, "Buat apa bahagia, kalau orang yang aku cintai tersakiti. Aku gak mau!" ujarnya mulai menangis.


"Aku hanya ingin, kamu bahagia memiliki banyak teman. Jangan sampai, masa kelamku di masa SD hingga SMP terjadi padamu," balas Alex ikut menangis.


"Aku gak peduli! Bagiku kamu, Tamrin dan Wulan lebih dari cukup! kalau kamu kembali merasa cemburu, tolong tarik tanganku!" ujarnya mempererat pelukan sambil berlinang air mata.


Alexander memandang kekasihnya. Dia mengusap air matanya sambil berkata, "Iya, sayang. Jika itu terjadi, aku akan mencobanya. Kamu nangis lagi," balas Alexander lalu tersenyum manis kepada kekasihnya.


Tiara ikut tersenyum lalu berkata, "Iya sayang," ucapnya sambil mengusap air matanya.


Mereka saling berpandangan, kedua matanya tak berkedip satu sama lain. Perlahan wajah mereka saling mendekat lalu mereka pun berciuman dengan mesra. Puas berciuman, mereka saling berpandangan lalu tersenyum.


"Aku mencintaimu suamiku. Maaf sudah membuatmu cemburu," kata Tiara.


"Aku juga mencintaimu, Tiara. Terima kasih telah hadir dalam hidupku," balasnya sambil membelai rambut kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2