
Lonceng telah berbunyi, kegiatan belajar mengajar telah berakhir. Alexander mengajak tiga anggota serangkai menuju Restoran Jepang tempat di mana Tiara makan bersama Ilham.
Dia penasaran, seperti apa restoran yang pernah Tiara kunjungi. Sesampainya di restoran, mereka semua masuk ke dalam lalu duduk di meja pelanggan terdapat kursi merah.
Alexander, Tamrin dan Wulan sangat senang datang ke restoran Jepang. Lukisan dan dekorasi khas Negeri Sakura membuka mereka terkagum-kagum.
Tiara tersenyum lalu berkata, "Aku dan Ilham datang ke restoran ini. Bagaimana?"
"Nice place! Baru pertama kali gue ke sini," puji Wulan.
"Tumben Bos ngajak kita ke sini, ada apa nih?!" tanya Tamrin.
Kedua mata Wulan berbinar-binar sambil berkata, "Jangan-jangan, Bos traktir kami makan karena kedatangan PS5?!"
"Wih! Bos punya PS5?! Kenapa gak bilang?!" saru Tamrin.
Alexander menggelengkan kepala lalu menjawab, "Gue cuman ngajak kalian bukan traktir."
Seketika, wajah Wulan dan Tamrin menjadi datar. Mereka berdua berdiri lalu Wulan berkata, "Yuk, Tamrin. Kita pulang," ujarnya dengan nada kesal.
"Yuk! Kebetulan, isi dompet gue dimakan rayap," balasnya sambil berjalan meninggalkan meja.
Buru-buru Alexander berlari dan memegang kedua tangan mereka sambil berkata, "Tunggu! Gue traktir!"
Mereka berdua berbalik lalu Tamrin pun berkata, "Nah gitu dong!"
"Sering-seringlah traktir kami biar berkah," sambung Wulan.
Melihat tingkah mereka bertiga, membuat Tiara tertawa lalu mengajak mereka kembali ke tempat duduk. Tidak berselang lama, seorang pelayan mengenakan baju kimono datang.
Pelayan itu meletakkan buku menu di atas meja makan. Mereka semua, melihat-lihat daftar yang ada di menu. Kemudian, pelayan itu menulis pesanan mereka satu persatu.
Selesai menuliskan pesanan, pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan. Tiara teringat dengan Nanda.
Selama ini, diam-diam Tiara terus memperhatikannya. Setiap hari, tidak ada satu siswi pun berbincang dengannya. Raut wajahnya, penuh dengan kesedihan dan rasa sakit.
Kesedihannya semakin terlihat, ketika melihat tingkah laku tiga serangkai seolah memandang rendah dirinya. Padahal, mereka tidak bermaksud merendahkannya tetapi menjaga jarak agar tidak tertular. Tiara juga merasa bersalah karena membuat Nanda salah paham.
Tiara melipat kedua tangannya lalu dengan raut wajah murung berkata, "Aku terus kepikiran soal Nanda."
"Sama," balas Alex.
__ADS_1
"Sama, rasanya gue benar-benar merasa seperti orang jahat. Sumpah gue hanya takut, penyakit kulitnya menular itu saja," kata Wulan.
"Gue juga berpikiran yang sama. Kalian semua tau sendiri, penyakit scarbies itu menular," kata Tamrin kepada mereka semua.
Tiara menghembuskan nafas panjang, kedua tangannya yang terlipat kembali terbuka sambil berkata, "Dengar anak-anak. Jangan pernah melihat seseorang dari penampilannya saja. Kita ini pelajar, jangan asal menyimpulkan sebelum memastikannya sendiri. Memangnya, kalian sudah tanya Nanda mengenai penyakitnya?"
"Belum...," ucap kompak mereka bertiga.
"Ya, sudah. Pokoknya, Senin kita coba untuk minta maaf," kata Alex kepada mereka semua.
Mereka bertiga, tanpa ragu mengiyakan perkataannya. Dua orang pelayan mengenakan baju kimono datang membawa nampan. Di atas nampan, terdapat menu pesanan mereka semua.
Satu persatu makanan dan minuman diletakkan atas meja. Mereka semua mulai menikmati menu pesanan. Selesai menikmati hidangan, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Dua hari kemudian, Alexander dan Tiara baru saja tiba di kelas. Raut wajah mereka masih mengantuk, kedua kantong mata hitam seperti mata panda.
Mereka melihat Wulan sedang bermain handphonenya. Sedangkan Tamrin, asik berbincang dengan Fajar dan Dandi. Alexander dan Tiara duduk di tempatnya lalu Wulan menoleh kepada mereka berdua.
"Selamat pagi Bos dan Nyonya Bos," sapa Wulan.
"Jangan panggil Nyonya Bos!" balas Tiara.
"Iya-iya. Ngomong-ngomong, kenapa kantong mata kalian? Kalian berdua habis bergadang?" tanya Wulan.
Alexander menghembuskan nafas lalu berkata, "Biasa kejar deadline."
"Begitu rupanya," kata Wulan sambil memasukkan handphone miliknya ke dalam saku rok. Kemudian dia melirik kepada Nanda sedang membaca buku lalu pun bertanya, "Ngomong-ngomong, kapan kita minta maaf kepada Nanda?"
Tiara menguap lalu menjawab, "Sekarang, tapi kita gak bisa menemuinya sekaligus."
"Kenapa?" tanya Alex.
"Aku khawatir, Nanda berpikiran buruk tentang kita. Jadi, kita harus mendekatinya secara terpisah. Dengan begitu, kita bisa menunjukkan ketulusan kita kepada Nanda."
"Kamu benar," balas Alex.
Tiara berdiri dari tempat duduknya lalu berkata, "Aku pergi ke tempat nanda."
"Good luck," balas Wulan.
Tiara berjalan mendekati Nanda sedang belajar. Sedangkan Alexander, berjalan dan duduk bergabung dengan Tamrin serta yang lainnya.
Tiara berdiri di samping meja Nanda lalu berkata, "Pagi Nanda!" sapa Tiara.
__ADS_1
Nanda menutup bukunya lalu melirik kepada Tiara. Dengan raut wajah dingin dia pun berkata, "Ada apa?"
Gadis itu tersenyum lalu duduk di samping Nanda. Dia pun berkata, "Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu."
"Kalau tidak ada keperluan, menyingkir lah. Jangan ganggu aku belajar," balas Nanda sambil kembali membuka bukunya.
"Rajinnya! Pantas saja nilaimu tinggi di kelas," puji Tiara kepada Nanda begitu rajin.
"Kamu meledek ya?"
Tiara menggelengkan kepala lalu berkata, "Justru aku memujimu."
"Terserah..."
"Soal kemarin, aku minta maaf. Barang kali, ada perkataanku menyakiti hatimu," kata Tiara dengan bersungguh-sungguh.
Nanda tidak membalas, gadis itu lebih memilih mengabaikannya dan kembali membuka bukunya.
Nanda kembali belajar, setiap kali ada kesalahan atau hal yang tidak mengerti Tiara selalu memberitahunya. Namun, Nanda terus mengabaikannya.
Senyuman yang manis, cara Tiara menjelaskan materi yang Nanda tidak mengerti membuat Nanda semakin geram. Gadis itu merasa, bahwa Tiara secara tidak langsung memamerkan kemampuannya.
Nanda pun teringat, kenangan semasa Sekolah Dasar hingga SMP. Pertama kali masuk sekolah dasar, seluruh teman sekelas menjauhinya.
Sejak lahir, Nanda memiliki kelainan dan sensitif pada kulitnya. Kondisi kulitnya yang memprihatinkan, membuatnya dijuluki sebagai Gadis Buduk. Ayah dan ibunya, ingin sekali melakukan operasi dan perawatan pada kulitnya.
Namun kondisi keluarganya yang miskin, membuat Nanda menahan rasa malu dan sakit hingga sekarang. Tidak ada satu pun teman yang mau berbincang dengannya. Mereka merasa jijik melihat kondisi kulitnya.
Oleh karena hal itu, Nanda berjuang keras demi mendapatkan peringkat terbaik di sekolahnya. Beasiswa ia dapatkan, prestasi yang gemilang juga dia dapatkan. Namun tidak ada satu pun orang yang mengakuinya.
Semenjak saat itu, ketika mengikuti seleksi masuk SMA dia lebih memilih mengerjakan soal tes dengan tidak bersungguh-sungguh. Berbeda sekali Tiara, gadis itu memiliki paras yang sangat cantik. Selain cantik, dia memiliki kecerdasan membuat Nanda menjulukinya ensiklopedia berjalan.
"Kenapa? Kenapa dia punya segalanya?Kenapa dia mendekatiku? Aku ini Gadis Buduk. Jangan-jangan, dia ingin merendahkanku?!" gumamnya di dalam hati penuh dengan rasa iri sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tiara sedang mengajarinya terhenti, dia merasakan aura kedengkian begitu mendalam. Kemudian dia tersenyum lalu bertanya, "Kamu kenapa Nanda?"
"Cukup, gue udah muak sama elu! Sebenarnya elu mau apa?!" tanya Nanda dengan nada meninggi.
Beberapa siswi di depannya melirik ke belakang. Mereka penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara Nanda dan Tiara. Kemudian, mereka teralihkan dengan Alexander tiba-tiba saja berdiri sambil menepuk meja.
Alexander menepuk dadanya sebanyak tiga kali. "Kenalin suaminya Tiara!" ucapnya dengan penuh percaya diri lalu menjulurkan tangannya kepada Fajar.
"Ciee!"
__ADS_1
"Enggak! Gue bercanda! Kalian salah paham!" kata Alexander kepada seluruh teman kelas.
Semua orang bersorak kepada Alex. Wajah Alexander dan Tiara merah padam menahan malu. Kedua tangan Alex dan Tiara, langsung menutup wajah masing-masing. Tiara penasaran, sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi sehingga Alexander mengatakan hal itu.