
Suatu hari di pinggiran Ibukota, Ilham dan dua teman-teman menongkrong pinggir jalan. Tiga motor Ninja parkir pinggir jalan. Di tengah motor tersebut, terdapat sebuah slogan bertuliskan "Dragon Boys".
Tampilan mereka mengenakan kemeja dan fashion masa kini, membuat kelas mereka terlihat mencolok. Beberapa anggota Geng Motor, mulai berdatangan. Martin dan Bobi menyambut kedatangan mereka lalu mulai berbincang-bincang.
Sedangkan Ilham, terdiam memandang beberapa pengendara motor berlalu-lalang. Martin melirik ke arah Ilham, dia berjalan membawa segelas kopi hitam miliknya.
"Woi, Ilham! Melamun saja. Awas kerasukan," kata Martin membuat Ilham tersadar dari lamunannya.
"Sialan, elu Martin! Bikin gue jantungan saja!"
"Gak biasanya, seorang Ilham melamun. Melamun soal Tiara?"
"Iya. Elu yakin, cowok yang jalan sama Tiara itu Alex?"
"Yakin, gue sangat yakin. Elu masih ingat, pacar yang diceritakan oleh Tiara? Gue yakin, cowok yang dimaksud itu adalah Alex."
"Ha.ha.ha! Cowok tampang membosankan itu? Mana mungkin. Siapa tau, dia sepupu atau urusan lain."
"Tapi, kalau seandainya Alex itu pacarnya gimana?" tanya Martin.
"Kalau dia memang pacarnya, aku tinggal merampasnya saja. Kamu lupa? Apa yang gue inginkan, pasti gue akan dapatkan bagaimana pun caranya."
"Siap, gue percaya. Kalau begitu, ayolah kita minum kopi bareng!" ajak Martin.
"Sorry, gue atlet. Kesehatan tubuh dan cairan harus dijaga."
"Pembohong! Ngomong menjaga kesehatan, buktinya sekarang elu itu bergadang," sindir Martin.
"Sekali-kali!" canda Ilham.
Ilham bergabung dengan teman-temannya. Sekelompok geng motor mulai berdatangan, mereka terdiri dari lima kelompok yaitu KTB, Night Speed, Bentrok dan Serigala Hitam. Ilham dan kelompoknya, menoleh pada pada kelompok yang mulai berdatangan.
Selain tiga kelompok Geng Motor, beberapa remaja dan orang-orang pecinta balap jalanan juga berdatangan. Ketua Geng Serigala Hitam, bernama Hadi datang menghampiri kelompok Dragon Boys.
"Hei, Martin! Sudah siap memasang taruhan?!" tanya Hadi.
"Ha.ha.ha! Dengan senang hati, Serigala Domba."
__ADS_1
Aura persaingan antar pembalap jalanan semakin panas. Sebagian anggota dari pada Kelompok Geng Motor, mulai mempersiapkan lintasan.
Sementara itu di waktu yang sama, Wulan melintas di sebuah jalan pinggiran Kota seorang diri. Dia menaiki motor matic merah miliknya. Wulan mengenakan celana jins biru, tas selempang kecil biru, sepatu sandal coklat dan baju t-shirt berwarna coklat. Pada bagian sabuk, terdapat pistol air berisi cairan campuran cabai di dalam sarung pistol.
Malam ini, kebetulan hari pembukaan Kedai Kebab milik Saladin merupakan orang Turki. Wulan seorang diri, menelusuri jalan pinggiran Ibukota.
Entah mengapa, kecepatan laju kendaraannya perlahan semakin berkurang.
Padahal tangki bensin sudah terisi penuh. Mau tidak mau, dia harus menepi ke sisi jalan. Wulan turun dari motor, dia membungkuk dan melihat kondisi motornya.
"Sial! Kenapa dengan motorku?"
Malam Minggu yang sial. Dia mendorong motornya seorang diri di pinggir jalan. Segerombolan pemuda mengendarai motor terlihat dari kejauhan. Mereka membawa senjata tajam dan sebuah bendera Geng Motor yang bertuliskan,"Night Speed."
Motor para Geng itu adalah motor hasil modifikasi. Salah satu dari anggota, melihat Wulan sedang mendorong motor seorang diri.
"Bos, lihat! Ada cewek sendirian!" ujar salah satu anggota.
"Ada rejeki! Sebelum kita ke lintas balap, kita pesta dulu. Kapan lagi dapat yang rapat!" balas Sang Ketua Geng bernama Boni kepada sepuluh anak buahnya.
"Hei, sayang. Kenapa motornya?" tanya Sang Ketua.
"Bukan urusanmu."
"Jangan begitu, kita ini laki-laki baik," balas salah satu anggota.
"Masa bodo," balasnya lalu kembali mendorong motornya.
"Sok jual mahal, padahal cewek murahan!" bentak salah satu diantara mereka.
"Sudahlah kalian semua. Yuk, mojok. Kalau tidak, kamu tau kan akibatnya?" ancam Boni sambil menepuk-nepuk gagang parang di kedua tangannya.
Mendengar ancaman tersebut, Wulan terdiam dengan sorot matanya yang dingin. Dua anggota Geng berjalan mendekat. Mereka berdua hendak memegang tangan Wulan. Buru-buru, Wulan mengambil pistol air miliknya dia menebak pistol tersebut hingga mengenai wajah Boni.
"******, sialan! Perih mataku!"
__ADS_1
Si Gadis Peramal terdiri, dia berputar lalu menembakkan pistol air pada kedua anak buahnya yang mulai mendekat. Mereka berdua berteriak kesakitan, tanpa ragu Wulan melakukan tendangan berputar hingga menghantam tiga kepala targetnya. Tendangan Wulan yang kuat membuat mereka terhuyung.
Salah satu anggota Geng hendak membacok kepalanya dari belakang. Wulan, melompat lalu menghantam lehernya dengan tendangan. Tendangan Wulan, membuat kepala lawannya menjadi pusing.
Gadis itu langsung berlari lalu membantingnya hingga menghantam aspal. Dari belakang, salah satu anggota berlari mendekati Wulan.
"Kena kau!" ujarnya hendak menangkap Wulan.
Tiba-tiba, seorang lelaki memukul wajahnya dengan sangat keras hingga terpental. Dia mengenakan baju bengkel. Aroma dan wajahnya terdapat noda oli. Lelaki itu tidak lain adalah Tamrin.
"Yo! Gadis Peramal. Butuh bantuan?" sapa Tamrin sambil mengangkat dua jarinya ke atas.
"Hmm...., awal dibelakang mu!"
Spontan, Tamrin menghantam dua lawannya dengan tendangan melompat. Wulan tidak ingin kalah, dia melakukan tendangan ke belakang hingga menghantam rahang lawannya.
Tiga musuh berlari mendekat dengan membawa senjata tajam. Wulan, langsung menembak mereka dengan pistol air. Gadis itu, langsung menghantam mereka dengan pukulan secara bergantian.
Salah satu dari mereka, langsung membalas dengan sebuah tinju. Tamrin langsung menarik Wulan dan berhasil menghindar. Seluruh anggota Geng langsung menyerang mereka berdua sekaligus. Mereka berdua sudah bersiap diposisi.
Satu persatu, anggota Night Speed berhasil dihajar. Tamrin melihat, cara Wulan menghadapi lawan-lawan. Ketika, lawannya melakukan serangan Wulan terlebih dahulu menghindar lalu melakukan serangan balasan.
Seolah-olah, Wulan telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawannya. Meskipun begitu, Tamrin selalu melindunginya dari serangan yang tidak terduga. Setengah jam lamanya mereka bertarung, akhirnya anggota Night Speed berhasil dilumpuhkan.
Pada wajah Tamrin, terdapat beberapa luka memar. Bagian tangan, terdapat luka sayatan dan memar di tangannya. Sedangkan Wulan hanya terdapat sedikit luka memar di kedua tangannya.
Tamrin, mengambil gagang pemotongan dari dalam bagasi motor Supra X 125 yang ia kendarai.
Setelah itu, dia memotong rantai motor, mengikat tangan dan kaki para anggota Night Speed dengan rantai serta tali yang ia temukan. Sedangkan Wulan, menghubungi nomor polisi.
"Kukira jawara, ternyata hanya kelas teri. Malang sekali kalian bertemu kami berdua," kata Tamrin kepada mereka masih terikat. "Ayo, Wulan. Kita tinggalkan saja mereka."
"Tapi, motorku tidak bisa jalan."
"Tidak bisa jalan?! Ok, kamu naik motor. Biar aku yang dorong dari belakang.
__ADS_1
Wulan dan Tamrin menaiki motor masing-masing. Tamrin melaju secara perlahan sambil mendorong motor yang dikendarai Wulan dengan satu kaki. Dia berkata kepada Wulan, bahwa ia akan membawanya ke bengkel.
Wulan pun hanya mengiyakannya saja. Kemudian, dia kembali fokus memegang kemudi agar tidak menabrak bahu jalan.