
Sementara itu, Tiara mengintip Ilham dari kejauhan. Setelah suasananya aman, dia menghilangkan wujudnya dibalik butiran cahaya dan tetesan air hujan. Kemudian dia kembali muncul di halaman rumah tempat Alex dan dirinya tinggal.
Tiara melihat, Alexander baru menaiki motor Kawasaki K800 mengenakan jas hujan. Melihat Tiara berdiri di hadapannya, Alexander turun dari motornya. Gadis itu langsung berlari dan memeluk Alex dengan erat.
"Kenapa lama?" tanya Tiara dibalik pelukannya.
Suara guntur nyaring terdengar, hujan kembali turun dengan deras dan angin berhembus kencang. Kilatan cahaya menghiasi gelapnya langit. Kedua tangan Tiara gemetar, pelukannya semakin erat setiap kali mendengar suara petir.
"Aku takut," kata Tiara kepada Alex.
"Yuk, kita masuk," ajak Alex lalu dia memeluk Tiara sambil menuntunnya masuk ke dalam.
Tiara dibantu Alex, membuka sepatu satu persatu.
Alexander memberikan kain tambahan pada alas sofa miliknya. Kemudian, dia menyuruh Tiara untuk duduk. Setelah itu, Alexander berjalan ke dapur dan kembali membawa handuk dan selimut yang sempat ia ambil di dalam kamar.
Alexander mengelap rambut Tiara menggunakan handuk. Selesai mengelap rambutnya, Tiara mengambil handuk itu dan mengelap tubuhnya. Setelah baju dan tubuhnya cukup kering, Alexander telah melepas jas hujannya duduk disamping Tiara.
Alexander memeluk Tiara dari samping. Tiara membalas pelukannya lalu ia tersenyum.
"Alex, kenapa kamu lama? Aku takut," kata Tiara lalu Alex membalas, "Maaf, aku kira hari ini tidak turun hujan. Tidak aku sangka akan ada badai. Tadinya, aku ingin menerobos hujan untuk menjemput mu. Aku tidak menyangka, kamu berada di halaman rumah kita."
"Sebenarnya, setelah menyelesaikan urusanku di Ekskul Sepak Bola aku ingin langsung pulang. Aku tidak menyangka, Ilham bersikeras mengantarku pulang. Di langit banyak sekali kilat dan suara gemuruh. Mau tidak mau, aku menurutinya."
Alexander terkejut, wajahnya sedikit pucat dan jantungnya berdegup kencang. Jika seandainya Ilham tau bahwa Alex dan Tiara tinggal satu rumah, dia tidak bisa membayangkan kehebohan yang terjadi di sekolah.
"Berarti, Ilham tau rumah kita?!" tanya Alex sambil terkejut.
"Tidak, sayang. Aku meminta Ilham menurunkan ku di depan Gapura Desa Manggis yang ada di seberang jalan."
Alexander merasa lega mendengarnya. Untuk saat ini, setidaknya rahasia mereka berdua masih aman. Tiara berdiri dari tempat duduknya lalu pamit untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Selagi Tiara membersihkan diri, dia pergi ke kamar lalu kembali membawa laptop miliknya. Dia mulai menulis naskah novel berjudul "Lorex 19". Ketika sedang mengetik, dia teringat perkataan Tamrin mengenai lomba untuk menghasilkan uang.
Dia membuka situs internet lalu mencari informasi seputar lomba naskah novel. Sekian lama ia mencari, dia menemukan sebuah brosur di internet mengenai lomba menulis novel. Novel tersebut diadakan oleh Penerbit Tawon Tampan.
Lomba tersebut, mengangkat tema utama yaitu Time Travel. Penulis diperbolehkan menulis adegan dua puluh tahun ke atas dan genre sebebas-bebasnya. Juara pertama mendapatkan hadiah sebesar dua puluh juta.
__ADS_1
"Wah, boleh nih!" ujarnya sambil menunjuk.
Alexander dengan semangat, kembali menulis naskahnya. Di saat yang bersamaan, Tiara baru saja selesai mandi. Dia berjalan masuk ke dalam kamar lalu mengenakan baju.
Tiara mengenakan baju tidur berlengan dan celana pendek. Baju tidur itu berwarna pink dan bermotif bunga melati. Selesai mengenakan baju, dia berjalan keluar kamar lalu melirik ke arah Alex yang sedang menatap layar monitor.
Dia tersenyum lalu berjalan ke dapur dan kembali membawa dua gelas berisi susu jahe. Tiara duduk di samping Alex.
Gadis itu menciumnya membuat Alexander melirik ke arahnya. Kemudian dia memeluk Alexander dari samping.
"Kamu lagi apa sayang?" tanya Tiara lalu Alexander membalas, "Mengetik naskah novel."
"Wah! Aku boleh baca?! Sejak lama aku terus ingin membacanya."
"Tentu," balas Alex lalu memindahkan lembar naskah pada halaman pertama.
Alexander mengajarkan kepada Tiara, cara memindahkan halaman. Gadis itu juga meminta Alexander untuk mengajarinya cara menggunakan komputer. Di Negeri Kayangan, tidak ada laptop atau teknologi buatan manusia selain kekuatan ilahi para Dewa serta penduduk langit.
Selesai mengajarkan Tiara, gadis itu mulai membaca. Sorot matanya, fokus memandang layar laptop sedangkan Alex mulai menikmati segelas susu jahe.
Meskipun dirinya berusaha untuk tidak cemburu, tetapi hati kecilnya tidak bisa berbohong. Tiara memegang dadanya, ia merasakan rasa sakit yang penuh kesedihan.
"Lagi?"
Alexander perlahan mendekat lalu mencium Tiara dari samping lalu mencium pipinya. Dia pernah membaca, bahwa jika ingin menghilangkan rasa sakit akibat cemburu maka cara satu-satunya yaitu memeluk pasangannya.
Metode itu berhasil, rasa sakit telah menghilang dan berganti menjadi rasa hangat. Alexander melihat layar laptop miliknya. Dia terkejut, melihat Tiara sudah membaca lima puluh halaman.
"Tiara, kamu serius baca lima puluh lembar?"
"Iya, sayang. Jujur cerita kamu seru banget. Berawal dari tahun 2020, ketika dunia sedang terkena wabah virus Lorex 19. Roki Helberm, Mahasiswa Pertanian terlempar ke tahun 2500 oleh benda misterius berbentuk tangan. Tubuhnya bermutasi karena disuntik oleh tiga serum hitam dari tangan besi itu. Terus, cerita terdapat adegan dikejar monster buat aku deg-degan! Tetapi disitulah awal pertemuan Angela, gadis berambut pink dan mata hijau. Membayangkannya pasti gadis itu imut banget!" serunya menceritakan awal kisah novel buatannya.
"Aku terharu mendengarnya. Baru pertama kali, ada orang begitu tertarik dengan karyaku. Mungkin hanya kamu saja," balas Alex.
"Selain aku, siapa lagi yang pernah membaca karyamu?" tanya Tiara lalu Alexander menjawab," Tidak ada."
"Seharusnya, kamu publikasikan saja," saran Tiara.
__ADS_1
"Memang ada yang baca? Minat baca di Negeri ini rendah. Mereka saja langsung terprovokasi hanya karena judul."
"Jangan begitu, sayang. Kamu hanya melihat dunia ini dari satu sisi. Mungkin minat baca di Negeri ini kurang, tetapi siapa tau mereka menunggu sebuah karya menarik seperti karyamu. Tugasmu sebagai penulis, cukup melanjutkan cerita hingga tamat."
Alexander tersenyum, dia menjadi semangat untuk meneruskan tulisannya hingga tamat. Dia semakin yakin untuk mengikuti lomba. Semua ia lakukan, demi mendapatkan hadiah peringkat pertama.
Tiara melanjutkan cerita Lorex 19, dimulai dari meninggalkan kota, memasuki rumah seorang psikopat dan memasuki Kota Dolten. Dia juga memberitahu, beberapa kesalahan dalam pengetikan. Berkat Tiara, karya Alex menjadi lebih baik.
Ketika Tiara sedang bercerita, Alexander teringat Tiara menemui Ilham dan anggota Ekskul Sepak Bola. Dia penasaran, apa tujuannya mendekati Ilham dan Ekskul Sepak Bola.
"Sayang," sapa Alex lalu Tiara membalas, "Iya, suamiku?"
"Sebenarnya, apa tujuanmu mendekati Ilham dan Ekskul Sepak Bola?"
"Aku ingin, mereka mengajariku Sepak Bola sekaligus observasi dan riset."
"Observasi dan riset untuk apa?"
"Mencari metode yang bagus untuk melatih Sepak Bola. Sebab, aku tau kamu tidak bisa bermain bola. Jadi aku pikir, kalau aku bisa pasti aku bisa mengajarimu."
Hati Alexander tersentuh, dia hampir meneteskan air mata. Ternyata selama ini, dia menemui Ilham dan belajar Sepak Bola demi dirinya.
Alexander merasa bersalah karena merasa cemburu dan menyangka Tiara berpaling pada lelaki lain. Pada akhirnya, dia tidak bisa membendung air matanya lalu ia menangis. Tiara melirik kepada Alex, dia melihat kekasihnya menangis.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Tiara lalu memeluknya dari samping.
"Terima kasih. Terima kasih sudah melakukan semua ini untukku. Maaf, Sayang. Diam-diam aku menguntit. Aku juga minta maaf karena sudah curiga. Jujur, aku takut kamu berpaling dan memilih bersama Ilham," ujarnya sambil mengusap air mata.
Tiara tersenyum, perlahan dia mendekati wajah Alex lalu menciumnya. Mereka saling berciuman sambil berlinang air kata. Setelah itu mereka saling berpandangan.
"Sayang, hanya kamu lelaki yang aku cintai. Kamu ingat apa yang aku katakan setelah kamu terbangun dari mimpi buruk? Aku bukanlah gadis yang mudah terpikat. Hatiku hanya milikmu seorang. Tidak akan aku biarkan lelaki mana pun merampasnya," kata Tiara.
Alexander memandang wajah Tiara, perlahan wajah merah saling berdekatan. Mereka saling berpandangan tanpa berkedip. Kemudian dia memeluknya dengan erat.
"Aku juga cinta kepadamu, Tiara. Terima kasih, sudah melakukan segalanya untukku. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menjaga dan menjadi lelaki terbaik untukmu. Maaf sudah meragukan cintamu. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah meragukan lagi."
"Tidak perlu menjadi yang terbaik, sayang. Menjadi lelaki apa adanya membuatku bahagia. Tolong jaga aku," balas Tiara membuat Alex mempererat pelukannya.
__ADS_1