Senar Takdir

Senar Takdir
Dua kamar


__ADS_3

Wulan dan Tiara, berjalan masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan. Sedangkan Tamrin dan Alex tidur di kamar Alexander. Tamrin tidur di kasur bawah, sedangkan Alexander tidur di kasur atas.


Tamrin duduk bersandar pada dinding lalu melihat sekeliling kamar Alex. Dinding berwarna abu-abu, tidak ada poster menempel selain jam dinding. Suasana kamar yang sunyi, udara yang sejuk membuat Tamrin merasa nyaman.


"Bos, kamarmu rapih sekali. Bos yang rapikan sendiri?"


Alexander masih terbaring pun menjawab, "Tiara yang rapihkan. Mana mungkin aku membersihkannya serapi ini."


"Rapihkan kamarmu sendiri lah, jangan terus mengandalkan Tiara. Bos gak kasihan?"


"Inginnya begitu, tapi anak itu selalu bilang biar aku saja. Terus dia juga bilang, sudah menjadi kewajiban seorang istri mengerjakan pekerjaan rumah," jawab Alex.


Tamrin terdiam, dia membayangkan perkataan Tiara dengan nuansa romantis. Membayangkannya hal itu membuat Tamrin menjadi iri.


Tamrin menoleh kepada Alex lalu berkata, "Sial, gue iri Bos! Kapan Bos mengajakku ke Stan itu? Gue juga ingin punya istri Kelas bidadari kayak Tiara, Bos!" ujarnya sambil menggoncangkan tubuh Alex.


Alexander sedang digoyahkan tubuhnya berkata, "Stop woi, stop! Nanti kita ke sana!"


"Kapan Bos?!" tanya Tamrin begitu bersemangat.


Alexander menoleh kepada Tamrin lalu menjawab, "Kapan-kapan!"


Tamrin membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil berkata, "Ah, Bos payah!"


Tamrin memandang langit kamar, sekilas dia teringat Ilham dan Club Motor Dragon Boys. Sudah saatnya, Alexander tau sisi gelap rival cintanya.


"Bos, gue ada berita besar," kata Tamrin memulai perbincangan.


Alexander mengusap lalu bertanya, "Berita apa?" katanya dengan nada mengantuk.


"Soal Ilham," jawab Tamrin.


Alexander terbangun dari tidurnya, dia menoleh kepada dengan raut wajah serius. "Kenapa Ilham?"


"Tenang Bos, tenang. Gue bakal kasih tau, asalkan Bos mengantarku ke tempat Stan Gacha Jodoh," ujarnya mengajukan syarat.


Alexander menghembuskan nafas lalu berkata, "Iyalah, terserah."


Tamrin memberikan handphone miliknya, "Bos lihat saja sendiri. Kalau tidak salah ada fotonya juga."


Kedua mata Alexander tidak berkedip, melihat Ilham berkerumun dengan anggota Club Motor bernama Dragon Boys. Dia terlibat balapan liar, bersama dua sahabatnya yaitu Bobi dan Martin dalam sebuah taruhan.


Kedua tangannya mengepal seprai, ketika Ilham berserta komplotannya membawa gadis malam ke dalam sebuah kontrakan. Tamrin menjelaskan, bahwa sebelum bertanding Dragon Boys mengadakan perjanjian taruhan dengan pihak lawan.


Taruhan itu meliputi uang, motor dan bahkan pacar setiap member sebagai taruhan. Selesai memenangkan taruhan, para pemenang akan mendapatkan hadiah disepakati.

__ADS_1


Alexander mengepalkan kedua tangannya sambil berkata, "Ilham bajingan!" ucapnya dengan penuh emosi.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan Bos?"


"Tidak ada," jawab Alex.


Mendengar hal itu Tamrin menjadi kesal, dia duduk tegak dan menoleh kepada Alex terdiam menunduk. Kemudian dia berkata, "Bos, pikun kah? Ilham itu berengsek! Dia sudah membullymu dan bahkan menginjak kakimu! Apa Bos biarkan saja, Tiara didekati orang bermuka dua seperti itu?!"


Alexander menoleh kepada Tamrin lalu membalas, "Gue tau Tamrin! Gue gak ingin, merusak pertemanan Tiara dengannya. Biarkan Tiara melihat kebejatan Ilham dengan mata kepalanya sendiri.


Tamrin membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil berkata, "Gue tau Bos akan ngomong seperti itu."


"Tau? Tau dari Wulan?"


"Tepat sekali!"


Alexander tertawa lalu berkata, "Sumpah gue gak kaget. Pasti dia tau, kita sedang membicarakan hal ini sekarang."


"Gadis yang menakutkan. Siapa pun yang jadi pacarnya, kalau ia ingin selingkuh pasti Wulan tau lebih dulu," kata Tamrin.


Alexander tertawa lalu berkata, "Membayangkannya saja membuatku ingin terus tertawa!"


Sementara itu di kamar yang lain, Tiara berbaring atas kasur. Dia melirik Wulan, sedang memejamkan kedua matanya.


Wulan membuka kedua matanya sambil berkata, "Gak bisa tidur? Pasti berat rasanya, tidak tidur di pangkuan suami."


"Begitu rupanya, memangnya apa yang kamu lakukan setelah Bos tidur?"


"Belajar, banyak hal menarik yang ingin aku pelajari di Bumi. Siapa tau, pengetahuan yang aku miliki bisa membantu Alex," balas Tiara.


"Percayalah yang selalu dapat nilai tinggi di kelas," puji Wulan kepada Tiara.


Tiara tertawa lalu membalas, "Tidak Wulan, mungkin di luar kelas kita ada yang lebih pintar dariku."


"Benarkah? Aku ragu," kata Wulan lalu ia mulai duduk bersandar. Dia pun bertanya, "Ngomong-ngomong, ke mana agenda kita besok?"


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Lingkungan perumahan ini bagus, banyak taman dan tempat menarik."


"Boleh juga, aku akan beritahu Alex dan Tamrin di Grup!" ucap Wulan begitu bersemangat.


Wulan memberitahu Alexander dan Tamrin, mengenai rencana jalan-jalan besok. Alexander dan Tamrin setuju dengan rencana tersebut lalu mereka sepakat akan jalan-jalan mengelilingi perumahan pada jam tujuh pagi.


Kemudian, Wulan dan Tiara meletakkan handphone di samping dan bersiap untuk tidur.


Di saat yang bersamaan, Alexander hendak memejamkan mata. Suara musik dari handphone Tamrin mulai terdengar, dia langsung melirik ke bawah.

__ADS_1


Kedua mata Tamrin masih terbuka, dia melihat Alexander memperhatikan dirinya. Kemudian dia pun berkata, "Maaf Bos, gue gak bisa tidur kalau tidak dengar musik."


"Gue ada headset, mau?" tawar Alexander kepada Tamrin.


"Boleh-boleh!"


Alexander berjalan menuju meja belajar mengambil headset miliknya. Kemudian, dia pinjaman headset miliknya kepada Tamrin. Setelah menerima headset, Tamrin langsung memasangkan headset itu kepada handphonenya.


Alexander kembali berbaring di atas kasur, perlahan dia mulai memejamkan kedua matanya. Baru saja menutup mata, Tamrin memanggilnya membuat Alexander terpaksa membuka matanya kembali.


"Ada apa?" tanya Alex menoleh kepada Tamrin.


"Gue masih kepikiran, soal aroma pandan beberapa jam yang lalu," kata Tamrin menatap curiga.


Wajah Alexander merah padam lalu bertanya, "Memangnya kenapa?"


"Jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan hantu!" ujarnya menduga adanya kegiatan supranatural.


Mendengar hal itu, Alexander bernafas lega lalu dia kembali berbaring di atas kasur sambil berkata, "Mungkin, bisa jadi."


Perlahan Alexander kembali memejamkan kedua matanya. Namun sekali lagi dan lagi, Tamrin selalu memanggilnya untuk mengajak berbincang. Rasa ngantuk begitu berat, serta Tamrin yang ingin terus berbincang membuat Alexander sulit untuk tidur.


Kesulitan tidur juga dirasakan oleh Tiara. Wulan mendengkur dan tubuhnya bergerak ke sana dan kemari ketika tidur membuat Tiara kesulitan untuk tidur. Terkadang, kaki Wulan mengenai wajahnya membuat Tiara tidak bisa tertidur. Hingga akhirnya, Tiara telah mencapai batas kesabarannya.


"Ah! Gak bisa tidur!"


Tiara terbangun dari tidurnya, gadis itu mengambil tali rafia di dalam lemari dapur. Kemudian, dia kembali masuk ke dalam kamarnya lalu mengikat kedua tangan dan kaki.


Tiara menahan tawa lalu berkata, "Caramu tidur tidak pernah berubah. Maaf Wulan, sesekali iseng ah," ucapan sambil mengikat tangan dan kaki Wulan.


Selesai mengikat, Tiara kembali berbaring di atas kasur lalu tertidur sambil tersenyum. Ikatan Tiara membuat Wulan sulit bergerak. Gadis itu berguling bolak-balik dalam keadaan mata tertutup.


Bruk!


Wulan pun terbangun dari tidurnya ketika ia terjatuh dari kasur. Mendengar suara jatuh, membuat Tiara menahan tawa dalam keadaan mata terpejam.


"Kenapa tangan dan kaki gue terikat?" tanya Wulan sambil melihat tangan dan kakinya yang terikat.


Beruntung, Wulan masih bisa melepaskan ikatan yang mengikat tangan dan kakinya. Setelah melepas ikatan, Wulan mendengar suara Tiara tertawa. Dia merangkak mendekati Tiara sedang tertidur.


Wulan mengambil bantal di sampingnya. "Ih, Tiara jahat! Masa tangan sama kaki gue diikat!" ucapnya sambil memukul Tiara dengan bantal berkali-kali.


Tiara tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Maaf Wulan, maaf! Habisnya kamu gak mau diam."


Perseteruan tersebut berakhir dengan adu bantal. Puas bermain bantal, mereka pun kelelahan lalu berbaring untuk tidur. Akibat perbuatan Tiara tidak terduga, membuat Wulan menjadi waspada dan menjaga cara tidurnya.

__ADS_1


Baik kubu laki-laki mau pun perempuan tidur jam dua pagi. Mereka semua pada akhirnya bangun pada jam setengah sepuluh pagi.


__ADS_2