Senar Takdir

Senar Takdir
Rapat Kelas


__ADS_3

Lonceng telah berbunyi, waktu pertanda istirahat telah berakhir. Seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Ilham, berserta dua temannya pamit kembali ke kelas. Begitu juga dengan Hana, Wulan dan Tiara.


Ketiga gadis itu, berjalan menelusuri lorong sekolah sedangkan Alexander dan Tamrin berjalan mengikuti mereka dari belakang. Tiga siswi kelas terlihat melintas, Hana pun berjalan mendekat dan bergabung bersama mereka.


Alexander dan Tamrin, mempercepat langkah kaki mereka mendekati dua serangkai. Tiba-tiba Tiara tertunduk lemas, ia berjalan sambil sedikit membungkuk membuat tiga serangkai lainnya bertanya-tanya.


"Kenapa?" tanya Tamrin.


"Baru pertama kali, aku merasa lelah saat berkumpul. Biasanya tidak begini," jawab Tiara kepada Tamrin.


"Hmm...., itu berarti kamu tidak nyaman. Aku juga pernah mengalaminya, berkumpul bersama orang-orang tidak sejalan dan sok akrab dan menyebalkan. Makanya sejak tadi aku tidak banyak bicara," kata Wulan.


"Soal itu, aku juga mengalaminya setiap hari," sambung Alex.


"Sekarang juga?!" tanya Tiara berjalan tegak dan menoleh padanya.


"Tidak, malahan aku merasa nyaman berkumpul seperti ini," jawab Alexander lalu tersenyum membuat mereka bertiga ikut tersenyum.


"Tentu saja, Bos. Kita ini Empat Serangkai!" seru Tamrin lalu Wulan berkata,"Betul itu!"


Mereka berdua, membuat Alexander tersentuh lalu ia tersenyum tanpa sadar. Kemudian, mereka berempat berjalan masuk ke dalam kelas. Terlihat, para siswa sedang duduk berbincang dengan teman satu sama lain.


Ada juga, beberapa siswa berlari keluar dan masuk ke dalam kelas. Hana terlihat duduk di pojok kiri bersama para siswi lainnya. Dia terlihat asik berbincang, seputar idol asal Negeri Ginseng.


Dia sempat mengajak Tiara untuk bergabung, namun dia menolak dan lebih memilih untuk berbincang dengan Alex, Wulan dan Tamrin. Empat Serangkai, duduk berhadapan di bangku pojok kanan.


"Sepulang sekolah, ada rencana Bos?" tanya Wulan.


"Rencana, gue akan berkeliling sekolah sekaligus mencari informasi seputar Ekskul. Habisnya, sampai sekarang gue belum menentukan Ekskul mana yang akan gue ikuti."


"Kalau begitu, gue ikut Bos!" timpal Tamrin lalu Wulan ikut membalas,"Ikut!"

__ADS_1


"Aku juga ikut!" balas Tiara.


"Tapi Bos, sebelum itu kita bahas dulu jadwal piket dan anggaran kebersihan kelas kita," kata Tamrin.


"Hmm..., benar juga," timpal Alex.


Alexander teringat oleh Nanda, dia melirik ke samping kanan. Ia melihat, gadis berkepang dua duduk seorang diri di tempatnya. Tidak ada satu pun siswi, mengajaknya berbicara.


Gadis itu, terlihat menyibukkan diri dengan Handphone di tangannya. Wulan dan Tiara, memperhatikan gadis itu sejak pelajaran pertama. Setiap hari, dia selalu melakukan apapun seorang diri.


"Nanda!" panggil Tiara lalu Nanda menoleh ke belakang sambil berkata,"Iya?"


"Ayo ke sini, kita rapat!" ajak Tiara.


Nanda beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan mendekati mereka berempat. Kedua tangannya berada di atas meja, mereka bertiga baru sadar akan kondisi kulitnya budukan atau gudig.


Wajahnya yang berjerawat, mengenakan kacamata ditambah kondisi kulitnya membuat tangan Alexander tanpa sadar mulai menjauh. Begitu juga dengan Tamrin dan Wulan, namun tidak dengan Tiara. Bidadari itu tersenyum manis, kepada Nanda seolah tidak melihat hal yang aneh padanya.


"Hei, Fajar! Mainlah di luar. Nanti kena kaca, anak kelas kita yang ganti," tegur Alexander kepada Fajar.


"Santai! Mainnya juga pelan-pelan ini. Lagi pula, lapangan di pakai sama anak kelas tiga," timpalnya membuat Alexander menggelengkan kepala.


"Dasar, Seksi Keamanan geblek. Mainnya ditunda dulu, ayo sini ikut rapat," pinta Alexander pada Fajar.


Fajar mengoper bola pada temannya, permainan sepak bola pun berakhir. Dia berjalan, mendekati Ketua Kelas dan yang lainnya sudah berkumpul lalu mengambil sebuah kursi. Ia melihat ke arah Nanda, melihat kondisi kulit dan penampilannya membuat Fajar menjauh dan duduk di samping Tamrin.


Tiara melihat, Nanda sempat tertunduk dengan raut wajah sangat sedih. Dia menganggap, bahwa tidak sekali Nanda mendapatkan perlakuan seperti itu. Petinggi kelas telah berkumpul, rapat mengenai jadwal piket dimulai.


Alexander bertanya, mengenai kondisi alat kebersihan di kelas. Nanda menjawab, bahwa kondisi peralatan kebersihan sangat memprihatinkan. Hanya terdapat satu sapu itu pun dalam kondisi patah.


Kaca berlubang, spidol dan penghapus entah di mana. Gadis berkacamata  menyarankan, membuat anggaran untuk membeli peralatan kebersihan. Selain itu, dia menyarankan agar menerapkan sistem denda sebagai hukuman untuk efek jera sekaligus menambah uang kas.

__ADS_1


Caranya berbicara, terlihat seperti seorang berintelektual tinggi. Alexander merasa, bahwa dirinya berhadapan dengan seorang perwakilan suatu organisasi. Sejak hari pertama selain Tiara, Nanda terlihat aktif menjawab pertanyaan dari Sang Guru.


Tetapi penampilan, terutama kondisi kulitnya membuat siapa pun ingin menyingkir. Selesai rapat, Fajar dan Nanda kembali ke aktivitasnya masing-masing sementara


Empat Serangkai tetap di tempatnya. Alexander dan Tamrin, melihat Nanda berjalan keluar dari kelas. Buru-buru, Wulan mengeluarkan semprotan antiseptik kecil dari dalam saku rok sekolah.


Dia menyemprotkan pada meja dan kursi, tempat Nanda duduk. Selain itu, Alexander dan Tamrin buru-buru menukar meja secara random. Mereka berdua, berusaha melakukan secara perlahan agar tidak menarik perhatian siswa di kelas.


"Kenapa dengan sikap kalian!? Kasian Nanda!" kata Tiara pada tiga temannya.


"Penyakit kulitnya, kami takut tertular," jawab Tamrin.


"Kita gak tau penyakit kulit apa sedang Nanda alami. Kalau Scabies bisa gawat," sambung Alexander sembari merinding mengingat penyakit kulit pernah ia lihat di internet.


"Setidaknya, jaga sikap kalian hingga selesai rapat, bagaimana kalau siswa lain lihat? Kasihan Nanda. Dia pasti dikucilkan."


Mendengar hal itu, mereka bertiga terdiam membayangkan Nanda semakin dijauhi oleh siswa di kelas. Mereka bertiga, merasa bersalah atas respon terhadap Nanda. Meskipun begitu, mereka tidak bisa menutupi rasa jijik serta waspada dalam diri mereka.


"Ya, ampun. Aku merasa seperti orang jahat," kata Wulan lalu Tiara membalas,"Sudah tidak apa-apa, aku tidak menyalahkan kalian. Apa yang kalian lakukan, semua itu bagian dari pencegahan. Tidak ada maksud menghina atau merendahkan Nanda. Benar bukan?"


"Iya," balas mereka bertiga.


"Ada kalanya, kita harus belajar untuk bersabar, menahan diri dan menjaga perasaan orang lain. Apalagi kalian berdua sempat menukar meja. Bagaimana kalau dua siswa kelas kita tertular? Kasian mereka."


"Maaf," timpal Alexander dan Tamrin menyesal atas perbuatan mereka berdua menukar meja.


"Sudah tidak apa-apa, jadikan pembelajaran. Mencegah itu sangat baik, tapi kalian harus ingat bahwa turunnya sebuah penyakit merupakan kehendak dari Sang Pencipta," timpalnya lalu tersenyum.


Senyumannya membuat mereka bertiga ikut tersenyum. Nasehat telah ia berikan, membuat mereka sadar. Seluruh siswa masuk ke dalam kelas.


Tidak berselang lama, Guru Sejarah memasuki kelas lalu Wulan dan Tiara kembali duduk ke tempat masing-masing. Alexander dan ketiga temannya, melupakan sejenak tentang perlakuan mereka terhadap Nanda.

__ADS_1


__ADS_2