
Tiara baru saja tiba di lapangan Sepak Bola. Para anggota Ekskul Sepak Bola, melambai tangan kepadanya. Gadis itu tanpa ragu membalas melambaikan tangan.
Ilham dan Winda melirik ke arah Tiara. Mereka melihat, Tiara membawa satu box berisi minuman isotonik.
"Winda, ada seseorang yang mau gue kenalin sama elu," kata Ilham lalu berdiri dan menghampiri Tiara.
Winda tidak senang mendengarnya, dia terus menatap Tiara dengan tatapan tajam. Ilham memegang box yang dibawa oleh Tiara.
"Biar aku yang bawa. Minuman ini untuk tim kan?" tanya Ilham lalu Tiara membalas, "Iya, ini untuk tim. Sengaja aku membelinya, anggap saja sebagai tanda terima kasih."
"Yuk, kita bagikan!"
Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepala. Mereka berdua, mulai membagikan minuman isotonik kepada mereka semua. Winda, Kartika dan Tantri tidak senang melihatnya. Tiga gadis itu terdiam dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Selesai membagikan minuman, Ilham dan Tiara berjalan menghampiri Winda sedang duduk di atas rumput. Winda tersenyum kepada mereka berdua seolah tidak terjadi apapun.
"Hei, Winda. Kenalin Tiara, gadis yang aku maksud," kata Ilham memperkenalkan Tiara.
"Halo, namaku Tiara. Salam kenal," ujarnya memperkenalkan diri lalu tersenyum.
"Winda," balasnya lalu menggenggam tangan Tiara.
Winda mencengkeram sangat kuat. Sorot matanya menatap tidak suka. Tiara merasakan sakit, namun ia menyembunyikan rasa sakit itu dengan senyuman polosnya.
"Tiara, aku dengar kamu jago main Sepak Bola!" kata Winda lalu Tiara membalas, "Ha.ha.ha! Tidak, aku masih amatir."
"Jangan merendah begitu. Yuk, kita main tendangan penalti!"
"Yuk! Boleh-boleh!"
Mereka berdua berjalan mendekati gawang. Tiara berperan menjadi penjaga gawang, sedangkan Winda berperan sebagai pemain yang mencetak gol.
Tiara melebarkan kedua tangan dan kakinya. Dia tersenyum dan bersiap untuk menangkap bola.
Winda dengan senyum tipis sambil menatap licik. Dalam hati ia berniat untuk mengarahkan tendangannya ke arah wajah Tiara.
"Rasakan ini!" tendang Winda dengan sangat keras.
Tiara tanpa sepengetahuan Winda, mengunakan kekurangan telekinesis pada bola tersebut. Perlahan, kekuatan dan kecepatan laju bola itu mulai berkurang.
Dia pun menangkap bola itu dengan sangat mudah. Kemudian dia tersenyum membuat Winda semakin geram. Winda tidak menyangka, bahwa bola yang ia tendang tidak mengenai wajah Tiara.
Sekali lagi, Winda menendang bola ke arah wajah Tiara. Namun apa yang Winda lakukan sia-sia.
"Hei, sekarang giliran ku untuk menendang," kata Tiara sambil memegang bola di kedua tangannya.
"Bosan. Main saja sendiri!" balas Winda lalu berjalan meninggalkan Tiara seorang diri.
Tiara terdiam melihat Winda berjalan menjauhinya. Dirinya semakin penasaran, mengapa Winda begitu membencinya. Padahal mereka baru dua kali bertemu.
Ekskul Sepak Bola telah berakhir, seluruh anggota Ekskul membubarkan diri. Ilham berjalan seorang diri, mengenakan seragam Ekskul dan sepasang sandal.
Dia melihat Tiara, berjalan seorang diri sambil melihat sebuah buku catatan di kedua tangannya.
"Door!" ujar seseorang dibelakang sambil menepuk punggungnya.
__ADS_1
"Dasar, Winda. Bikin aku kaget saja! Nanti jantung gue copot gimana?"
"Hi.hi.hi! Bodo amat. Kalau copot tinggal pasang," canda Winda.
"Ha.ha.ha! Elu kira Lego apa? Winda, sudah dulu ya. Gue mau ke Tiara dulu!" balasnya lalu berlari mendekati Tiara.
Sementara itu, Tiara berjalan sambil membaca buku catatannya. Dia serius mempelajari teknik Sepak Bola sekaligus mencari metode latihan yang tepat untuk Alex di rumah. Walau tidak ada lapangan Sepak Bola, halaman rumah masih bisa dimanfaatkan.
"Hei," sapa Ilham sambil menepuk pundaknya.
"Eh, Ilham! Aku kira siapa."
"Winda, ayo ke sini!" ajak Ilham kepada Winda.
"Ah, sorry. Gue langsung pulang!" balasnya kepada Ilham.
Winda berlari melintasi mereka berdua. Sekilas, Tiara melihat sorot matanya penuh dengan kesedihan. Tetapi saat melihat dirinya, seketika berubah menjadi hasrat iri dan dengki.
Langit mulai gelap, gemuruh kilat mulai terdengar dan kilatan cahaya mulai terlihat. Angin berhembus dengan kencang. Ilham menggenggam tangan Tiara.
"Cepat, sebentar lagi hujan turun!" ujarnya sambil menarik tangan Tiara.
"Pelan-pelan!" balasnya sambil memegang buku di tangan kirinya.
Ilham terus menarik tangan Tiara hingga post satpam. Kemudian mereka berhenti melihat suasana di jalan.
"Aku punya dua jas hujan. Biar aku antar kamu pulang," tawar Ilham lalu Tiara membalas, "Tidak usah, Ilham. Ayahku sangat protektif, aku tidak ingin Ayah menyita uang jajanku. Lebih baik, aku naik angkot saja."
"Kamu lihat," tunjuk Ilham pada arus lalulintas yang cukup sunyi, "Tidak ada angkot. Sekali pun ada tapi penuh. Sudahlah, biar aku antar tidak baik menolak kebaikan orang lain."
Kemudian mereka berdua menaiki motor ninja berwarna hitam. Tidak lupa, Ilham memberikan helm terlebih dahulu sebelum berangkat.
Motor Ninja hitam mulai melaju di atas aspal. Tiara duduk menyamping di atas motor yang dikendarai oleh Ilham. Tiba-tiba, dengan sengaja Ilham mengerem motornya hingga Tiara tidak sengaja memeluknya.
"Aduh!"
"Maaf Tiara, ada kucing lewat," ujarnya beralasan lalu ia memegang tangan Tiara berada di perutnya dan berkata, "Pegangan nanti kamu jatuh."
"Iya," balasnya singkat.
Tiara terus menunjukkan jalan menuju daerah tak jauh dari rumah Alex dan dirinya tinggal. Di tengah perjalanan, hujan mulai turun lalu mereka terpaksa berlindung pada sebuah warung pinggir jalan yang sudah tutup.
"Hujannya lebat sekali," kata Ilham sambil menjulurkan tangannya hingga basah oleh air hujan.
"Iya, aku takut yang orang di rumah mencemaskan ku," balas Tiara.
"Soal itu kamu tenang saja. Kamu tinggal jelaskan apa adanya. Aku juga akan bantu menjelaskannya pada Ayahmu. Mungkin dia akan mengerti."
Tiara hanya mengiyakannya saja. Suara gemuruh petir terus terdengar. Kedua tangannya gemetar karena takut. Melihat hal itu, Ilham menggosokkan kedua tangan lalu menggenggam tangan Tiara yang gemetar.
"Gimana rasanya? Apa sudah hangat?" tanya Ilham.
"Iya, hangat," balasnya lalu tersenyum membuat Ilham terpikat.
"Syukurlah, kalau kamu masih kedinginan pegang saja tanganku."
__ADS_1
"Thanks Ilham," balas Tiara.
Kilatan cahaya seiring kerasnya suara guntur, membuat Tiara semakin ketakutan. Dia melepas genggaman tangannya lalu memeluk dirinya sendiri dan mengusap kedua bahunya. Ilham tersenyum sambil memandangi kecantikannya.
Perlahan, pandangnya semakin turun lalu melihat dalaman terbentuk akibat bajunya yang basah. Di saat itu juga, hasrat lelaki telah bangkit sepenuhnya. Ilham pun berpaling menahan gejolak hasrat timbul di dalam dirinya.
"Ilham, terima kasih sudah mengajariku Sepak Bola. Maaf sudah menggangu waktumu," kata Tiara.
"Tidak, santai saja. Apa sih yang enggak buat kamu," balas Ilham.
"Ha.ha.ha! Bisa saja kamu. Oh iya, Winda itu temanmu?"
"Iya, dia temanku dari SMP. Tidak aku sangka, kita bisa satu kelas," jawab Ilham.
Ilham mulai menceritakan, awal pertemuan dan kehidupan semasa SMP bersama Winda. Ilham, pertama kali bertemu dengan Winda di belakang sekolah. Waktu itu, mereka berdua sama-sama ingin membolos sekolah.
Mereka saling tolong dalam memanjat pagar. Setelah itu, mereka berdua mulai berkenalan lalu mengajak Winda, bergabung dalam kelompoknya yang mayoritas anak laki-laki.
Mereka berdua, sering bermain bersama dan berbagi cerita. Ketika Ilham menginjak kelas dua, ia melihat brosur seleksi Tim Sepak Bola Nasional Junior. Dirinya merasa tidak percaya diri.
Winda terus memberikan semangat kepada Ilham. Berkata dukungan Winda akhirnya ia bisa mengikuti seleksi dan resmi menjadi Tim Nasional Sepak Bola.
"Semuanya berkat Winda. Dia benar sahabat yang baik. Selain itu, dia sangat berguna jika seandainya butuh sesuatu. Gue bersyukur bisa kenal dengan dia."
"Begitu rupanya, beruntung kamu punya sahabat seperti dia. Kamu jangan pernah kecewakan dia."
"Pasti, Tiara. Pasti," balasnya.
Hujan mulai reda, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Ilham sangat bahagia, bisa berdua dengan orang yang ia sukai. Taktik tidak menggunakan jas hujan yang direncanakan oleh Ilham benar-benar berhasil.
Ilham yakin, bahwa dirinya mulai menyentuh hatinya. Sekarang, dia harus mencari tempat tinggalnya dan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya. Sekian lama di perjalanan, Tiara menyuruh Ilham berhenti pada sebuah gapura yang bertuliskan, "Desa Manggis."
Padahal, Kawasan Tempat tinggal yang sebenarnya berada di seberang jalan yaitu gapura yang bertuliskan, "Perumahan Bunga Indah." Melihat tempat Tiara turun, membuat Ilham terheran-heran.
"Kenapa turun di sini? Padahal kita belum sampai rumahmu?" tanya Ilham.
"Maaf Ilham, ternyata aku masih takut dengan Ayahku. Terima kasih sudah mengantarku," jawab Tiara lalu berbalik dan berjalan menuju gapura Desa Manggis.
"Tiara, ada hal yang ingin aku tanyakan!" kata Ilham lalu Tiara membalikkan badannya, "Boleh, mau tanya soal apa?"
"Sebenarnya, kamu sudah pacar apa belum?"
Tiara terdiam, dia tidak bisa memberitahu hubungan percintaannya dengan Alex. Suara gemuruh kembali terdengar. Mereka berdua menoleh ke atas langit.
"Sudah, ya. Aku mau buru-buru ke rumah."
"Hati-hati," balas Ilham.
Tiara tersenyum manis kepada Ilham, dia berlari menuju Gapura Desa Manggis. Ilham terdiam duduk di atas motor. Dia ingin melihat ke mana Tiara akan pergi.
Sesekali, Tiara berhenti lalu melambaikan tangan kepada Ilham. Tiara memasuki jalan yang bertuliskan, "Gang Semut."
Ilham tersenyum melihat Tiara masuk kepada Gang itu. Dia mengira, Gang itu merupakan jalan menuju rumah Tiara. Kemudian dia menaiki motornya lalu melaju di atas aspal.
Sementara itu, Tiara mengintip Ilham dari kejauhan. Setelah suasananya aman, dia menghilangkan wujudnya dibalik butiran cahaya dan tetesan air hujan. Kemudian dia kembali muncul di halaman rumah tempat Alex dan dirinya tinggal.
__ADS_1