
Lonceng pulang telah berbunyi, siswa berjalan pulang ke rumah masing-masing. Sebagian siswa, berada di kelas untuk mengikuti ekstrakurikuler.
Ada juga berlatih untuk persiapan Upacara Bendera Senin hari. Alexander, Tiara dan kedua sahabatnya berjalan menyebrangi jalan.
"Nanti malam, jadi belajar gitar?" tanya Alex kepada mereka bertiga.
"Jadi dong!" ucap kompak mereka bertiga.
"Kapan lagi belajar gitar sama masternya. Iya, enggak Wulan?" kata Tamrin.
"Betul, betul-betul! Gue gak sabar main PS5 lagi!"
"Pikiranmu hanya game saja. Padahal, hari Senin kita ada Ulangan Harian," sindir Tiara kepada sahabatnya.
"Tenang, kan ada kamu," balas Wulan.
"Gak boleh! Belajar dong!"
Alexander tertawa lalu berkata, "Kalau aku contek, boleh?"
Tiara tersenyum lalu berkata, "Kalau suamiku, bolehlah tapi jangan banyak-banyak."
Wulan bersorak lalu berkata, "Dasar pilih kasih!"
Tamrin tertawa lalu berkata, "Sudahlah Wulan, mending ikut cara tradisional saja buat dapat jawaban."
Alexander menoleh kepada Tamrin lalu bertanya, "Memangnya, cara tradisional seperti apa Tamrin?"
"Hitung kancing!"
Mereka bertiga tertawa bersama begitu mendengar jawaban Tamrin. Setelah itu, mereka berjalan menuju motor masing-masing. Alexander dan Tiara mulai menaiki motor Kawasaki Hitam W800.
Kunci starter mulai berputar, tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan kecil. Motor itu mulai mengeluarkan asap. Sontak, Alexander dan Tiara langsung turun dari motor.
Alexander dengan sangat panik bertanya, "Kenapa motor gue!"
Beberapa siswa mulai mengerumuni motor Alexander terus mengeluarkan asap. Mereka bertanya-tanya kepada Alex, mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada motornya. Namun Alexander tidak tau, mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada motornya.
Tidak berselang lama, Wulan dan Tamrin berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.
"Bos, kenapa motor elu?!" tanya Tamrin begitu cemas.
"Gak tau!" jawabnya begitu panik.
Tamrin melihat blok mesin yang berlubang dan mengeluarkan asap. Dia pun berkata, "Tenang Bos, gue telpon bengkel dulu."
Tamrin berjalan menjauhi kerumunan untuk menghubungi seseorang di Bengkel tempatnya bekerja. Sementara Alexander, terdiam menatap kosong motor miliknya.
Motornya terus mengeluarkan asap, membuat dunia seolah-olah menjadi runtuh. Hanya ada dirinya dan motor pemberian ayahnya.
"Aku harus bilang apa kepada ayahku?" ucapnya terdiam sambil memandang motor miliknya.
Padahal, motor itu merupakan pemberian ayahnya. Selama berada di rumah, dia tidak pernah mendapat apa yang ia inginkan. Semua perhatian terutama Sang Ibu, hanya tertuju kepada kakaknya.
Membayangkan ekspresi ayahnya bersedih dan kecewa, membuat Alexander semakin bersedih. Di balik raut wajahnya yang datar, Tiara tau bahwa Alexander memendam kesedihan dan kebencian begitu mendalam. Tidak berselang lama, kedua penjaga parkiran menghampiri kerumunan.
"Ada apa ini?" tanya salah satu penjaga menggunakan topi terbalik.
Salah satu siswa menoleh kepada dua penjaga tersebut. Dia pun menjawab, "Motor milik dia meledak, terus mengeluarkan asap," jawabnya sambil menunjuk Alex.
__ADS_1
Kedua penjaga parkiran itu, berlari mengambil ember berisi air lalu menyiram pada bagian mesin mulai terbakar. Asap berhenti keluar, api sempat menjalar keluar mulai padam.
Salah satu penjaga parkiran berambut panjang, menemukan sejumput pasir di bawah motor. Penjaga itu melihat, pasir keluar dari blok mesin siring tetesan air dan bensin.
"Wah! Kayaknya ada temen kamu yang iseng masukin pasir ke dalam blok mesin," ucapnya kepada Alexander sejak tadi terdiam.
Alexander hanya terdiam, mendengar apa yang penjaga itu katakan. Sedangkan Tiara mengepalkan kedua tangannya, dia sangat kesal mendengar apa yang penjaga itu katakan.
"Sebelum kejadian, apa ada orang yang mencurigakan?" tanya Tiara dengan sangat serius.
"Sejak awal, kami biasa berjaga di depan. Tidak ada yang mencurigakan," Jawab seorang penjaga parkiran
"Enteng sekali anda berbicara seperti itu. Sejak awal aku perhatikan, kerja kalian hanya main handphone saja! Hujan turun pun, kalian tidak peduli. Masih mending diberikan kardus. Sekarang sudah jatuh korban akibat kesalahan kalian! Giliran minta bayaran saja kalian paling cepat! Mana tanggung jawab kalian?!" maki Tiara kepada kedua penjaga itu.
"Gak usah, marah-marah begitu neng! Namanya juga musibah," balas penjaga itu.
"Anda sebut kelalaian sebagai musibah?!"
"Terus, kalau Neng marah-marah begitu motor rusak bisa kembali lagi? Yang punya motornya aja diam, kenapa Neng yang marah?" ucap seorang penjaga parkiran berambut gondrong.
"Kalian!" balas Tiara begitu geram.
Wulan dan Alexander memegang pundak Tiara. Mereka berdua pun berkata, "Sudah Tiara, sudah."
"Sudahlah Tiara, malu dilihat orang," ucap Wulan kepada sahabatnya.
Alexander mengusap kedua air matanya lalu berkata, "Benar kata penjaga itu, marah tidak akan bisa mengembalikan motorku seperti semula."
Tiara pun terdiam, dia pun berpaling dan berjalan menjauhi kerumunan. Dirinya tidak kuasa, melihat Alexander menyembunyikan kesedihan dan rasa sakit dibalik senyuman.
Tiara sambil berjalan mengepalkan tangannya. Dalam hati dengan penuh emosi berkata, "Kurang ngajar! Siapa pengecut yang berani merusak motor suamiku?!"
Seorang lelaki, mengenakan seragam bengkel masuk ke dalam parkiran. Dia menghampiri Tamrin sedang berdiri memandangi kerumunan.
Lelaki itu menepuk pundak Tamrin, "Hei Tamrin!"
Tamrin pun terkejut lalu menoleh ke belakang. "Ncang Herman, Tamrin kaget tau!"
"Ah, elu Tamrin! Masih muda udah kagetan. Mana motor yang mau diangkut?"
Tamrin menunjuk pada kerumunan sambil berkata, "Itu Ncang, Kawasaki W800."
"Wih, motor Sultan!" puji Bang Herman lalu ia kembali berkata, "Yuk, Tamrin. Bantu Ncang angkut ke atas bak."
"Siap Ncang!"
Tamrin, Bang Herman tidak lain adalah pamannya mulai mendorong dan menaikan motor Kawasaki W800 milik Alex ke atas bak. Alexander hanya terdiam, ketika melihat motornya yang rusak diikat di atas bak mobil. Sorot matanya menatap kosong, ia syok dengan apa yang terjadi pada motornya.
Setelah motor itu terikat, mobil itu melaju meninggalkan kawasan parkir.
Suara klakson mulai terdengar, Alexander menoleh ke samping. Rupanya, suara klakson itu berasal dari motor Vespa Merah yang dikendarai oleh Tamrin. Di samping Tamrin, dia melihat Tiara terdiam membonceng atas motor matic putih yang dikendarai oleh Wulan.
"Bos, cepat naik!" seru Tamrin kepada sahabatnya terdiam tanpa ekspresi.
Alexander naik ke atas motor Vespa yang dikendarai oleh Tamrin. Motor yang dikendarai oleh Tamrin dan Wulan, perlahan mulai melaju di atas aspal.
Sekian lama di perjalanan, mereka semua sampai di depan sebuah bengkel bertuliskan "Bengkel Rahmat". Mereka melihat, motor Kawasaki W800 baru saja turun dari mobil. Motor Kawasaki milik Alex, menjadi perhatian orang-orang di bengkel. Alexander, Tiara dan kedua sahabatnya berjalan menghampiri motor tersebut.
__ADS_1
"Tamrin, cepat elu ganti baju terus bantu gue periksa ini motor," perintah Bang Herman kepada ponakannya.
"Siap, Ncang!"
Buru-buru, Tamrin berjalan menuju sebuah rumah yang tak jauh dari bengkel. Sedangkan Bang Herman, mengambil nampan berisi cemilan dan minuman di dalam bengkel.
Bang Herman meletakkan cemilan dan minuman di atas meja. Kemudian dia berkata, "Silahkan dimakan, maaf cuman ada ini."
"Terima kasih," jawab Wulan dan Tiara lalu mengambil cemilan di atas meja kecil.
Bang Herman menoleh kepada Wulan lalu berkata, "Eh, ada Neng Wulan! Gimana soal kebabnya? Dapet?"
Wulan menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "Kedainya tutup."
Tiara mendekat pada daun telinga lalu bertanya. "Wulan, kamu kenal?" bisiknya kepada Wulan.
"Iya, aku pernah ke sini dua minggu yang lalu. Malam-malam motorku mogok, beruntung ketemu Tamrin. Terus dia membawaku ke sini."
Tidak berselang Tamrin pun datang mengenakan baju bengkelnya. Mereka semua menoleh kepada Tamrin baru saja datang.
Tiara tersenyum lalu bertanya, "Tamrin, kamu kerja di sini?"
"Iya dong! Anak montir, nih! Anak montir!" balasnya membanggakan diri.
Bang Herman menepuk pundak keponakannya sambil berkata, "Sadar Tamrin, level elu sama Neng ini kalah jauh. Udahlah, mending elu sama Neng Wulan."
Wajah Tamrin merah padam lalu berkata, "Apaan sih, Ncang!"
Wulan dan Tiara tertawa melihat Tamrin begitu salah tingkah. Kemudian ,Wulan tersenyum sambil mengibaskan rambutnya lalu berkata, "Hei, Tamrin. Memangnya, kamu gak mau sama aku?"
Mendapat serangan tiba-tiba, membuat Tamrin semakin salah tingkah lalu ia menoleh kepada pamannya. Dengan wajah memerah, dia menoleh kepada pamannya . Lalu dia pun berkata, "Ncang, jadi gak benerin motornya?!"
Tiara mendekat pada daun telinga sahabatnya lalu berbisik, "Cie, berani sekali. Kamu suka sama Tamrin?"
Wulan tertawa kecil lalu membalas, "Jangan salah paham Tiara, aku hanya iseng.Tapi, seru juga menggoda Tamrin," bisiknya kepada Tiara.
Tiara tertawa lalu berkata, "Baru pertama kali, aku lihat Tamrin salah tingkah seperti itu."
Tamrin menoleh ke belakang lalu berkata, "Ngapain bisik-bisik begitu? Ngomongin gue ya? Ngefans ya, kalian?"
"Ih! Apa sih, Tamrin!" balas kompak mereka berdua.
Bang Herman menoleh ke belakang, dia melihat Alexander sejak tadi terdiam. Raut wajahnya yang datar, sorot matanya menatap kosong motor miliknya.
"Hei, Elu! Dari tadi aye perhatiin diam terus, Awas kerasukan," ujarnya menyadarkan Alexander sedang melamun.
Alexander tersenyum lalu menjawab, "Iya. Ngomong-ngomong, ada kamar mandi di sini?"
Bang Herman sambil menunjuk pada toilet samping bengkel menjawab, "Di sana."
Alexander berjalan menuju toilet dengan raut wajahnya kembali datar. Tamrin, Wulan dan Tiara terdiam memandangi Alex dengan penuh empati.
Mereka tau, bahwa Alexander sedang memendam kesedihan begitu mendalam. Saking sedihnya, Alexander tidak kuasa meneteskan air matanya.
Pintu perlahan terbuka, Alexander masuk ke dalam toilet. Alexander berdiri mematung memandangi dirinya pada sebuah cermin wastafel.
Sekuat-kuatnya ia bertahan, pada akhirnya dia pun menangis. Kesedihan begitu besar, dia limpahan pada air mata mulai membasahi pipinya.
Sebisa mungkin, dia menahan suara tangisannya agar tidak terdengar ke luar. Setidaknya, suara air keran menyamarkan suara tangisannya mulai keluar.
__ADS_1