
Di balik suara keran air, Alexander terus memandangi dirinya sendiri sambil menangis. Semakin lama ia memandang, Alexander semakin teringat penderitaan akibat teror dan pembullyan semasa SD hingga SMP. Dirinya tidak menyangka, bahwa di masa SMA ia kembali merasakannya lagi.
Sambil memandang cermin Alexander berkata, "Kenapa hal terjadi lagi? Dan kenapa harus motorku yang jadi korban? Padahal, motor itu pemberian pertama Ayahku. Kenapa mereka begitu kejam? Kenapa?! Gara-gara pengecut itu, aku harus berkata apa pada Ayahku?!" ucapnya sambil menangis histeris.
Meskipun begitu, dia pun tersadar di mana tempat ia menangis sekarang. Buru-buru, Alexander menghapus air matanya lalu berjalan keluar.
Alexander sedikit terkejut, melihat Tiara berdiri mematung memandangi dirinya. Melihat raut wajah begitu khawatir, Alexander tersenyum.
"Sedang apa kamu berdiri di situ? Mau gantian?" tanya Alex seolah tidak terjadi apapun.
Tiara tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kemudian Alexander pun berkata, "Yuk, kita kembali ke bengkel."
Mereka berdua berjalan menuju bengkel. Sambil berjalan, Tiara terus memandangi Alex penuh khawatir. Di balik sikapnya, Tiara tau bahwa Alexander memendam kesedihan begitu mendalam. Apalagi menyangkut barang berharga miliknya.
Ketika memasuki bengkel Wulan, Tamrin dan Bang Herman tidak lain adalah paman Tamrin terdiam memandang Alex. Di samping motor, Alexander melihat setumpuk pasir di atas kerangka blok mesin.
Tiara duduk di samping Wulan, sedangkan Tamrin dan pamannya sedang berjongkok di samping motor langsung berdiri.
"Namamu Alex kan?" tanya Bang Herman.
"Iya, Pak. Ada apa ya?" ujarnya balik bertanya.
"Jangan panggil Pak, panggil aye Bang Herman. Aye ingin bicara soal perkara motor elu sama Babeh elu."
Alexander dengan kebingungan bertanya, " Babeh?"
"Babeh itu Ayah," jawab Tamrin.
Alexander memandangi motornya yang rusak. Lalu ia bertanya, "Memangnya kenapa dengan motorku?"
Tamrin dan Bang Herman saling berpandangan lalu mereka berdua memandang Alex dengan prihatin.
Kemudian Bang Herman menjawab, "Di dalam tangki oli, banyak sekali pasir. Akibatnya, blok mesin motor elu jebol. Sepertinya, ada orang sengaja memasukkan pasir ke dalam tangki oli."
Hatinya seketika hancur, ketika mendengar motornya menjadi korban kejahatan. Kedua matanya tak berkedip sambil merasakan syok begitu berat. Apalagi, harga motor miliknya tidaklah murah.
"Melihat kerusakannya, mau tidak mau harus turun mesin. Selain membersihkan ruang, mengganti komponen yang rusak. Peralatan di sini kurang lengkap. Tapi tenang, aye punya kenalan pemilik bengkel besar di Kota ini. Yang jelas, total biayanya tidak murah," ujar Bang Herman menjelaskan.
Alexander mengembuskan napas panjang. Dia pun dengan pasrah berkata, "Begitu rupanya."
Alexander terduduk lemas di samping Tiara. Kepalanya menunduk, sorot matanya memandang kosong. Melihat Alex, begitu tertekan Tiara hanya terdiam sambil ikut merasakan apa yang Alexander rasakan.
__ADS_1
"Bos, gak usah sedih begitu Bos. Soal motor, Bos minta saja sama Ayah elu. Ayah Bos kan Bos Sawit, soal kerusakan begini mah kecil," kata Tamrin.
Alexander hanya menoleh tanpa berbicara sepatah kata pun. Kemudian, dia kembali menundukkan kepalanya dengan syok.
Bang Herman sambil menepuk Tamrin berkata, "Tamrin, elu gak boleh ngomong gitu. Sekaya-kayanya orang, mereka punya masalah masing-masing. Pasti, temen elu ini punya alasannya sendiri kenapa ragu ngomong sama Babehnya," tegur Bang Herman kepada keponakannya.
"Maaf Ncang, Bos."
"Aye gak tau, ada masalah apa antara elu sama Babeh elu. Tapi, elu harus bicarakan hal ini dengan Babeh elu," ujar Bang Herman kepada Alex.
Alexander menoleh kepada Tamrin dan Bang Herman. Kemudian dia pun berdiri sambil mengeluarkan handphone miliknya di dalam saku celana. Dia pun berjalan menjauhi mereka sambil mencari tempat yang nyaman untuk menelpon.
Tiara menoleh kepada Alex lalu ia bertanya, "Mau ke mana?"
Dari kejauhan Alexander menjawab, "Menelpon Ayahku!"
Alexander berdiri menghadap sebuah pohon mangga tak jauh dari bengkel. Dia menekan layar handphone dengan ibu jarinya.
Kemudian, ia tempelkan layar handphone pada daun telinganya sambil menunggu jawaban panggilan telepon dari Ayahnya. Sedangkan Tiara, tanpa sepengetahuan Alex berjalan menyusul dan berdiri dibelakangnya.
Sementara itu, di dalam Kantor Direktur Erwin sibuk memainkan laptopnya. Handphone di dalam saku celananya mulai berdering. Buru-buru beliau mengambilnya.
Beliau memandangi layar handphonenya lalu berkata, "Alex? Ada apa ya?" ujarnya lalu menjawab panggilan.
"Selamat sore. Bagaimana kabarmu, Alex?"
"Baik, Ayah."
"Ngomong-ngomong, ada apa Alex? Tidak biasanya, putra ke dua Ayah menelpon duluan."
Alexander terduduk lalu ia berkata, "Motor.. ayah...," ucapnya ragu-ragu.
"Kenapa dengan motor kamu?"
Alexander terdiam, dia bingung apa yang harus dikatakan pada motornya. Sementara itu, Erwin menunggu jawaban dari putra keduanya. Namun, insting seorang Ayah memberitahu bahwa telah terjadi sesuatu pada putranya.
"Alex, sekarang kamu di mana?"
"Di Bengkel," jawab Alexander kepada Ayahnya.
"Tolong kamu Sherlock, Ayah akan segera ke sana," pinta Erwin kepada putranya.
__ADS_1
Perbincangan pun telah berakhir, Alexander langsung mengirimkan lokasinya saat ini kepada Ayahnya. Setelah itu, Alexander membalikkan badan dan menatap ke depan dengan wajah pasrahnya.
Tiara memeluk tangan kanan kekasihnya. Lalu dia pun bertanya, "Bagaimana sayang? Apa yang Ayah katakan?"
Alex sedikit terkejut lalu ia balik bertanya, "Ayah? Dia itu Ayahku bukan ayahmu."
Tiara tertawa lalu berkata, "Memang, tapi kamu lupa? Status kita saat ini suami istri, berarti Ayahmu adalah Ayahku juga. Alias, ayah mertua."
Mendengar hal itu, Alexander memalingkan wajahnya dengan tersipu malu sambil berkata, "Apaan sih! Padahal status kita belum resmi secara tertulis."
"Dasar, masih saja berpikiran seperti itu. Meskipun tidak tertulis di Bumi, tetap saja status kita itu sudah tertulis di langit sebagai suami istri."
Alexander mencubit pipi Tiara sambil berkata, "Iya bawel, iya!"
Cubitan Alex yang begitu gemas, membuat Tiara sedikit merintih kesakitan. Kemudian dia menarik tangan Alex sambil berkata, "Sakit tau!"
Alexander tertawa lalu berkata, "Maaf-maaf."
"Jadi, apa yang Ayahmu katakan?" tanya Tiara.
"Rencananya, Ayahku ingin datang ke bengkel. Padahal, motor itu pemberian pertama Ayahku. Aku takut, Ayahku kecewa melihat motorku yang rusak berat," jawabnya dengan nada lemas.
Tiara tersenyum lalu mempererat pelukannya sambil berkata, "Jangan berpikiran seperti itu. Aku yakin, Ayahmu pasti mengerti."
Alexander mengembuskan napas panjang. Lalu dia pun berkata, "Semoga saja."
Dari kejauhan, Tiara melihat Tamrin dan Bang Herman sedang melakukan pekerjaannya membersihkan blok mesin dari pasir. Sedangkan Wulan, memperhatikan dirinya dan Alex dari kejauhan.
"Yuk, kita kembali ke bengkel!" ajak Tiara.
"Yuk," balas Alex.
Mereka berdua, berjalan kembali ke bengkel lalu kembali duduk di tempat semula. Alexander terdiam memandangi motornya yang rusak berat. Di dalam hati, dia pun bertanya-tanya mengenai siapa yang tega merusak motornya.
Wulan pun berdiri dari tempat duduknya. Dia pun menyentuh motor milik Alex. Seketika di dalam pikirannya, dia melihat adegan dilakukan oleh pelaku pengerusakan motor Alex.
Setelah mengetahui siapa pelakunya, Wulan menarik tangannya. Wulan terdiam memandangi motor Alex sambil menggelengkan kepala.
Tamrin melihat tingkah aneh Wulan lalu ia bertanya, "Kenapa Wulan?"
"Tidak, gue hanya mengagumi motor milik Bos," jawabnya berbohong.
__ADS_1
Setelah itu, Wulan pun duduk kembali. Melihat keberadaan Tiara di sampingnya, belum saatnya Wulan memberitahu kepada Alex mengenai siapa pelaku dibalik pengerusakan motor milik Alex.