Senar Takdir

Senar Takdir
Kandidat


__ADS_3

Seluruh barang-barang tergeletak melayang dengan sendirinya. Wulan sedang santai memainkan ponselnya begitu terkejut, melihat barang-barangnya berterbangan. Secara ajaib, barang-barang berantakan melayang dan kembali pada tempatnya. Kamar Wulan bagaikan kapal pecah, kini terlihat sangat rapih.


"Barang-barang Ku," kata Wulan melihat barang-barangnya yang melayang tanpa berkedip.


"Tenang, barang-barang kamu sedang aku rapihkan ke tempat semua. Ngomong-ngomong, tata letak barangmu apakah sudah benar?" tanya Wulan memastikan.


"Iya, padahal aku belum memberitahumu. Tapi tata letak barang di kamarku sudah benar. Hebat, " balas Wulan lalu memujinya.


"Tidak-tidak, aku tidak sehebat itu. Aku hanya melakukan yang biasa aku lakukan di Kayangan," timpal Tiara dengan rendah hati.


"Hmm...., sekarang sudah malam, waktunya untuk tidur. Aku punya satu style pakaian tidur semoga ukurannya cukup," ujarnya beranjak dari kasur lalu berjalan menuju lemari pakaian.


Wulan, mengambil dua style pakaian tidur untuk dikenakan Tiara dan dirinya sendiri. Satu persatu pakaian telah di kenakan, mereka berdua mengenakan pakaian tidur berlengan dan celana pendek.


Hanya saja, warna pakaian mereka berbeda. Wulan mengenakan baju tidur berwarna ungu dan Tiara, mengenakan baju tidur berwarna pink. Dia menarik kasur bawah lalu mereka berdua berbaring di atas kasur.


Tiara memandang langit-langit kamar, dia teringat bola cahaya selalu bersinar dalam kegelapan. Selain itu, dia teringat benda seperti gerobak berjalan sendiri tanpa ditarik oleh kuda. Mengingat hal itu, membuat Tiara terkagum-kagum dengan apa yang ada di Bumi.


"Wulan," panggil Tiara lalu dia membalas,"Iya?"


"Tidak aku sangka, di Bumi banyak sekali kristal yang bersinar setiap malam," ujar gadis itu sambil terkagum-kagum dengan benda bercahaya terpasang di langit-langit kamar.


"Oh, itu bukan kristal tapi bohlam," timbal Wulan.


"Bohlam?"


"Iya. Bohlam merupakan sumber cahaya buatan yang dihasilkan dari arus listrik," ujarnya menjelaskan.


"Arus listrik? Aku tidak mengerti, Wulan."


"Simpelnya, petir versi mini."


Tiara bertanya, mengenai bagaimana caranya manusia memperoleh petir? Mendengar pertanyaannya, Wulan menonaktifkan game pada ponselnya lalu dia menjelaskan mengenai proses terjadinya listrik sebisanya.


Penjelasan Wulan membuatnya mengerti, namun masih banyak hal yang ingin dia ketahui di Bumi. Rasanya, dirinya seperti orang buta berjalan sendirian dalam kegelapan.


"Rupanya, aku masih buta tentang kehidupan di Bumi. Masih banyak hal yang harus aku pelajari di sini," kata Tiara.


"Hmm...., iya kamu benar Tiara. Kalau kamu ada pertanyaan, jangan sungkan untuk bertanya kepadaku," timbalnya kepada Tiara.


"Terima kasih Wulan, kamu memang benar saudaraku. Beruntung sekali aku bertemu denganmu hari ini."


"Santai, jangan terlalu berlebihan."


Setelah itu, Wulan kembali berbaring di atas kasurnya lalu meraih ponsel tergeletak di atas kasur. Tiara kembali menoleh sekitar kamar sembari mencari sesuatu yang menarik.


Dia melihat Wulan, memegang sebuah benda berbentuk persegi panjang di tangannya. Wulan terlihat asik memainkannya hingga mengabaikan keberadaannya. Kemudian, dia melihat sebuah lukisan menempel di dinding.


Dalam lukisan tersebut, terdapat sosok lelaki berotot menggunakan topeng dan hanya mengenakan celana panjang. Lelaki itu terlihat gagah mengangkat seorang pria di kedua tangannya.

__ADS_1


"Lukisan yang bagus, siapa pria itu? Apakah pria itu seorang pahlawan?" tanya Tiara dengan polosnya.


"Bukan itu bukan lukisan tapi poster. Pria itu bukan pahlawan tapi pemain gulat terkenal, Rey Mysterio."


"Oh, sepertinya kamu mengaguminya."


"Tentu saja! Rey Mysterio itu sangat keren dan kuat! Apalagi cara dia membanting lawan-lawannya!" serunya sembari meletakkan ponselnya.


Wulan berdiri di atas kasur, dia berlari dan berputar seolah sedang melakukan teknik dari Sang Idola. Tiara yang polos, terdiam menikmati setiap gerakan yang dilakukan olehnya.


Dia mengaku, sewaktu kecil pernah mempraktekannya kepada sepupu lelaki hingga cedera. Dalam lubuk hatinya, dia hanya bisa berkomentar tentang brutalnya dia semasa kecil.


"Ngomong-ngomong, benda apa yang selalu berada di tanganmu?" tanya Tiara.


"Ini namanya, ponsel. Alat sering manusia gunakan untuk berkomunikasi. Selain berkomunikasi, alat ini bisa mengambil gambar dan melakukan permainan," jelasnya kepada Tiara lalu dia beranjak dari kasurnya. Dia mendekat sembari memegang ponselnya,"Tiara, ayo senyum!" serunya.


Sinar lensa pada ponselnya, membuat Tiara sangat terkejut lalu Wulan menunjukkan layar ponsel kepadanya. Dia melihat lukisannya bersama Wulan selesai secara instan. Tiara tiada henti, memegang ponsel dan memandangnya dengan terkagum-kagum.


"Hebat! Lukisannya langsung jadi!" serunya terkagum-kagum.


"Itulah salah satu kehebatan ponsel. Masih banyak lagi kehebatan lainnya, waktu senggang aku pasti akan memberitahu sekaligus mengajarimu bila kamu mau."


"Wah! Aku jadi tidak sabar!" timbalnya bersemangat.


Kemudian, Tiara melirik pada tumpukkan buku di atas meja belajar. Gadis itu, berjalan mendekat lalu mengambil sebuah buku pengetahuan umum. Selembar demi selembar, dia buka satu persatu. Sayangnya, tidak ada satu huruf pun yang ia mengerti. Wulan berjalan mendekat, dia melihat temannya begitu antusias membaca buku.


"Mau aku ajari?"


"Mau-mau!" jawabnya begitu senang.


"Baiklah, kamu tunggu di sini."


Dia berjalan menuruni tangga dan berjalan menuju gudang yang berada, tepat samping dapur. Pintu gudang terbuka, suasana gudang gelap gulita dan berdebu lalu ia menyalakan lampu gudang.


Wulan mengambil beberapa buku, tentang cara membaca dan menulis milik adiknya semasa kecil. Setelah itu pintu gudang kembali tertutup.


"Wulan, kamu sedang apa barusan?" tanya seorang yang tak asing di belakangnya.


Wulan berbalik, dia melihat seorang lelaki bertubuh agak gemuk dan berkumis tipis tidak lain adalah Pak Louis, Papah Kandungnya. Beliau terlihat sedang membuat segelas susu hangat untuk dia nikmat.


"Wulan, mengambil buku tentang baca dan tulis," jawab Wulan.


"Untuk apa?"


"Mengenang masa lalu," jawabnya dengan raut wajah datar.


"Hmm..., begitu rupanya. Ngomong-ngomong, Papah sudah liat ruangan untuk kegiatan MOS besok. Jika sempat, papah minta kamu kenalan dengan anak bernama Alexander. Dia putra ke dua dari teman Papah."


"Iya Pah, Wulan kenalan kalau sempat."

__ADS_1


"Foto Alexander, sudah papah kirimkan ke ponselmu," ujar beliau kepada putrinya.


"Iya."


Wulan pamit masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan meninggalkan Sang Papah seorang diri di dapur. Pintu kamar mulai terbuka, Wulan masuk ke dalam kamar. Dia melihat, Tiara membuka buku pelajaran semasa SMP.


"Wulan, lama sekali apa ada masalah di bawah?"


"Tidak, tadi aku bertemu dengan Papahku. Dia memintaku untuk berkenalan dengan anak temannya papahku. Mau lihat?" tawar Wulan.


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan."


Wulan menjulurkan tangannya untuk mengambil ponsel miliknya di balik bantal. Dia menunjukkan foto lelaki mengenakan seragam SMP pada Tiara. Melihat sosok lelaki tersebut, membuat Tiara tidak berkedip. Wajahnya tersipu malu, kedua matanya tak berkedip memandang sosok di balik layar ponselnya.


"Suamiku," ucapnya membuat Wulan sedang tertunduk kini menoleh kepadanya.


"Hah? Suamimu? Apa maksudnya? Kamu kenal dia?"


"Iya, kami baru saja berkenalan."


"Kamu baru berkenalan, mengapa kamu memanggilnya suami? Aku benar-benar bingung, sebenarnya apa yang terjadi?!"


Mereka berdua duduk di atas kasur. Tiara mulai bercerita, mengenai apa yang sebenarnya terjadi sehingga dirinya memanggil Alex dengan sebutan suami.


Seminggu yang lalu, Dewi Cinta mulai mengumpulkan para jiwa calon kandidat untuk dijodohkan. Para kandidat, berkumpul di Dunia telah diciptakan oleh Sang Dewi.


Sebuah Dunia khusus untuk berkumpulnya para calon kandidat terpilih untuk dijodohkan secara langsung oleh Sang Dewi. Bagi para manusia terpilih, mereka semua berkumpul dalam wujud roh.


Namun bagi mereka, rasanya seperti berada di alam mimpi. Hanya saja, ingatan mereka tentang hari itu tidak akan pernah lupa. Sang Dewi berkata, bahwa dirinya akan menjodohkan mereka dengan manusia melalui sebuah permainan jarum putar.


Awalnya, mereka semua protes sebab keputusan Sang Dewi dianggap mempermainkan perasaan mereka semua. Namun Sang Dewi berkata, bahwa permainan jarum putar bukanlah semacam jarum putar biasa. Jarum itu berputar, sesuai tingkat kecocokan sesuai dengan pasangannya.


Setelah jodoh sudah ditentukan, Sang Dewi memberikan buku nikah pada para kandidat yang akan dijodohkan. Ketika dua buku nikah saling bertemu, mereka akan resmi menjalin sebuah ikatan pernikahan.


Buku itu bisa kembali jika kedua pasangan merasa tidak cocok. Jika buku itu dikembalikan, mereka berdua resmi bercerai dan ingatan mereka tentang pasangan sebelumnya menghilang.


Alasan Sang Dewi melakukan hal itu karena banyak sekali wanita sulit mendapatkan pasangan atas dasar cinta. Beberapa bidadari dan hantu merasa iri pada manusia dan ingin mempunyai pasangan. Selain itu, alasan utama Sang Dewi melakukan perjodohan karena terjadi penyimpangan penyuka sesama jenis.


Oleh karena itu, Sang Dewi dibantu para asistennya memutuskan untuk mencarikannya secara langsung melalui permainan jarum putar. Walau ada harga yang harus di bayar, terutama bidadari seperti Tiara yaitu keabadian.


Kemunculan Tiara di taman kota waktu itu, tidak lain adalah mengikuti perintah Sang Dewi untuk bertemu dengan jodohnya. Dia sama sekali tidak tau, siapa jodohnya.


Tetapi, ketika dia pertama kali bertemu dengan Alex dia merasakan sebuah ikatan batin yang kuat. Ikatan begitu hangat untuk diraih dan dimiliki hingga akhir hayat.


"Kami sempat berjalan bersama, tapi entah mengapa dia menjadi takut dan lari meninggalkanku. Aku sempat mengejarnya, tapi sayangnya aku kehilangan jejaknya. Padahal buku kami sempat bersinar, hingga membuatku berpikir bahwa aku telah menemukan belahan jiwaku," kata Tiara bersedih mengingat pertemuannya dengan Alex.


"Hmm..., Alex pergi bukan meninggalkanmu tanpa alasan. Sepertinya, ini hanya kesalahpahaman," timbal Wulan pada Tiara sedang bersedih.


"Semoga kamu benar," balasnya lalu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2