
Dua hari kemudian, Alexander telah sembuh dari sakitnya. Aroma nasi goreng seiring suara pentungan piring, membuat Alexander tersadar dari mimpinya.
Perlahan Alexander membuka kedua matanya, dia melihat Tiara duduk bersandar di sampingnya. Dia memegang nasi goreng di kedua tangannya, sesekali memukul-mukul piring dengan sendok sambil berkata, "Bangun sayang, bangun."
Alexander tersenyum, perlahan dia mendekati wajah kekasihnya. Dia menciumnya dengan mesra. Kedua mata mereka terpejam, seiring larut dalam kemesraan.
Puas berciuman, Alexander memandang kekasihnya dengan aneh, "Ada rasa nasi gorengnya."
Tiara tertawa, "Maklum sayang, baru satu suap aku makan. Ayo, bangun dan cepat mandi."
Alexander terbangun dari tidurnya sambil berkata, "Iya, sayang. Iya."
Selesai mandi, Alexander mengenakan baju batik dan celana sekolahnya. Mereka berdua, duduk bersama di ruang keluarga sambil menikmati acara pagi hari.
Alexander membuka handphone, dia melihat brosur lomba naskah novel. Kedua matanya terbuka lebar, melihat tanggal 26 Januari 2019.
Tiara melirik kepada Alex, dia melihat kekasihnya begitu terkejut. Dia bertanya, "Ada apa, sayang?"
"Batas waktu pengiriman naskah novel, terakhir Senin depan," jawab Alex.
"Masih ada waktu enam hari, Semangat sayang!" ujarnya menyemangati.
Alexander tersenyum lalu berkata, "Thanks, My Love."
Tiara begitu bersemangat lalu berkata, "Sayang, izinkan aku membantumu juga!"
"Boleh-boleh, kamu koreksi dan perbaiki tata bila ada typo dan tata bahasa yang ambigu seperti biasa."
"Ok, sayang. Kebetulan banyak typo dan kalimat yang sudah aku perbaiki."
Sebelum berangkat, mereka sempatkan waktu untuk mulai mengerjakan naskah. Alexander menulis dan meneruskan alur cerita, sedangkan Tiara memperbaiki bila ada typo dan kalimat yang kurang tanpa mengubah alur cerita. Di sekolah mereka berdua, terus mengerjakannya bersama-sama bila ada waktu senggang walau ditempat yang terpisah.
Lonceng pertanda istirahat telah berbunyi, seluruh siswa pergi ke kantin dan mulai bermain-main bersama teman sebaya kecuali Alex. Dia duduk ditempatnya seorang diri sambil memainkan handphone. Di atas meja, terdapat minuman dan berbagai cemilan.
Kedua jempolnya, fokus mengetik pada layar handphone. Tidak berselang lama, Tamrin pun berjalan masuk ke dalam kelas.
Tamrin berjalan mendekati Alex lalu duduk menepuk pundaknya sambil berkata, "Hei! Rupanya Bos di sini!" ucapnya dengan suara lantang.
Alexander melirik kepada Tamrin, "Astaga kambing! Bikin kaget saja!"
"Maaf, Bos. Maaf! Lagi apa, Bos? Serius amat sampai gak keluar kelas?" tanya Tamrin sambil menoleh pada layar handphone Alex.
"Nulis naskah buat lomba," jawab Alex sambil mengetik.
"Wih keren, keren! Berapa hadiahnya?!" tanya Tamrin begitu heboh.
"Peringkat satu seratus juta, peringkat dua lima puluh juta, peringkat dua puluh juta, peringkat empat dan lima lima juta."
"Mantap, Bos gue dukung! Memangnya Bos, tulis cerita apa?"
"Time travel, jadi ceritanya tentang seorang pemuda hidup di tahun 2020. Pada zaman itu, sedang terjadi wabah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Mau tidak mau, manusia di tahun 2020 harus memakai masker dan selalu mencuci tangan serta karantina agar tidak menular kepada yang lain. Suatu hari, dia terlempar ke tahun 2500. Di zaman itu, banyak sekali zombie dan monster..."
__ADS_1
Alexander, terus menceritakan novel karyanya secara singkat. Tamrin terdiam, mendengar apa yang Alexander ceritakan sambil menikmati cemilan. Asiknya Alexander bercerita, membuatnya tak sadar bahwa Wulan duduk dan ikut mendengarkan cerita.
Lima menit lamanya Alexander bercerita. Selesai bercerita, dia meminum air mineral di dalam botol atas meja.
"Begitulah cerita ringkasnya," kata Alex.
Wulan memotong pembicaraan berkata, "Cerita yang menarik, Bos. Gue jadi penasaran akhir ceritanya. Apakah masa depan bisa dirubah atau tidak," puji Wulan pada karya Alex.
"Pokoknya Bos semangat, nanti kalau menang jangan lupa traktir kami," kata Tamrin.
Wulan sambil menunjuk berkata, "Wajib itu!"
"Iya-iya, santai. Nanti gue traktir," balas Alex pada mereka berdua.
Di waktu yang bersamaan, Tiara sedang berjalan kembali ke kelas. Kepalanya menunduk, sorot matanya memandang layar handphone miliknya. Tiara berjalan melintasi lorong sekolah tak jauh dari lapangan basket.
Di lapangan basket, Ilham sedang bermain futsal bersama temannya yang berbeda kelas. Dia melihat Tiara berjalan seorang diri.
Ilham tersenyum usil, dia menendang bola itu kepada Tiara. "Tiara, awas!" ucapnya lantang setelah menendang bola.
Bola melambung tinggi, Tiara menoleh pada bola yang mendekatinya. Dia melompat lalu menyundul bola itu hingga bola kembali kepada Ilham. Melihat hal itu, seluruh siswa yang bermain futsal bertepuk tangan.
Ilham keluar dari permainan, dia berlari mendekati Tiara. Dia berhenti lalu berdiri di samping Tiara sedang sibuk memainkan handphonenya.
"Tiara, kamu sudah makan?"
Tiara memasukan handphone ke dalam saku roknya. Dia menoleh kepada Ilham lalu bertanya, "Sudah, kamu mau ke kantin?"
"Yuk!" balasnya lalu tersenyum.
Sesampainya di kantin, mereka berdua duduk berhadapan. Suasana kantin cukup ramai, namun banyak kursi yang masih belum terisi. Ilham perhatikan, sejak tadi Tiara terus memainkan handphonenya.
Ilham penasaran, apa yang sedang Tiara lakukan dengan handphonenya. Dia pun bertanya, "Sejak tadi aku perhatikan, kamu terus main handphone. Sebenarnya kamu lagi apa?"
Tiara tersenyum lalu dengan bersemangat ia berkata, "Revisi naskah novel," ujarnya sambil menunjukkan layar handphone pada Ilham.
"Aku gak nyangka kamu itu penulis," puji Ilham kepada Tiara.
Tiara dengan raut wajah ragu-ragu berkata, "Iya."
Ilham berdiri dari tempat duduknya, "Aku mau pesan makanan dulu. Kamu mau pesan apa?"
"Mie goreng, satu," balasnya memesan.
Ilham berjalan menuju sebuah warung untuk memesan. Suasana cukup ramai, membuat Ilham terpaksa untuk mengantri. Sekian lama mengantri, akhirnya Ilham pun bisa memesan makanan.
Setelah itu dia memesan lalu kembali duduk di tempatnya. Ilham penasaran, karya apa yang sedang ditulis oleh Tiara. Dia bertanya, "Memangnya kamu tulis cerita apa?"
Tiara menoleh kepada Ilham, "Cerita tentang Time Travel! Berawal seorang pemuda hidup di tahun 2020. Pada zaman itu, sedang terjadi wabah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Mau tidak mau, manusia di tahun 2020 harus memakai masker dan selalu mencuci tangan serta karantina agar tidak menular kepada yang lain. Suatu hari, dia terlempar ke tahun 2500. Di zaman itu, banyak sekali zombie dan monster..."
Tiara terus menceritakan seluruh kisah yang dia baca secara. Cara Tiara bercerita terdengar seperti penulis aslinya. Padahal Tiara tau, bahwa Alexander penulis sebenarnya.
__ADS_1
"Jadi penasaran jalan ceritanya. Boleh aku baca?"
"Boleh, yuk baca sama-sama!"
Mereka berdua, mulai membaca dari halaman pertama. Ilham pindah tempat duduk, sekarang dia duduk berdampingan. Perlahan, Ilham menggeser tempat duduknya hingga duduk berdempetan.
Sambil menyelam menyelam minum air, itulah yang sedang Ilham lakukan saat ini. Membaca berdua, duduk berdempetan serta berdiskusi seputar naskah membuatnya merasa lebih dekat dengan Tiara.
Tidak berselang lama, pesanan mereka berdua telah tiba. Mereka berdua menikmati makanan sambil membaca naskah bersama-sama. Berkat Ilham, Tiara mendapatkan inovasi baru untuk naskah.
Lonceng telah berbunyi, jam istirahat telah berakhir. Mereka berdua, berdiri dari tempat duduk lalu berjalan meninggalkan kantin. Kemudian, mereka berdua berhenti di perempatan jalan lorong sekolah.
"Gue gak sangka, naskah buatanmu itu seru. Jadi penasaran petualangan Roki, Profesor Xenom dan Angela selanjutnya," puji Ilham kepada Tiara.
Tiara tersenyum lalu berkata, "Terima kasih. Kapan-kapan kita baca bareng!"
"Tiap hari juga gak apa-apa," gombal Ilham.
Tiara tertawa lalu berkata, "Bisa aja kamu!" balasnya dengan nada ceria.
Mereka berdua berpisah, berjalan menuju kelas masing-masing. Tiara berjalan memasuki kamar mandi lalu membuka pintu toliet dan masuk ke dalam.
Di saat bersamaan Winda, Kartika dan Tantri keluar dari toilet. Sisi jahat Winda memuncak melihat Tiara keluar dari toilet. Ketiga gadis itu menghalangi Tiara keluar.
Kartika sambil melipat kedua tangannya berkata, "Lihat guys, ada wanita penggoda!"
"Jijik gue, lihat rambutnya mirip tokai ngambang di kali. Gue lihat, elu duduk berdua dengan Ilham. Gatel banget sih, sama om-om masih kurang puas?" sambung Kartika.
Tiara tersenyum ramah pada mereka bertiga lalu berkata, "Permisi, aku mau keluar."
Tantri dan Kartika tertawa, "Permisi? Elu kira embah mu? Ha?!"
"Kalian kenapa sih? Aku ini salah apa sama kalian?!" tanya Tiara kepada mereka berdua.
Winda keluar dari toilet, dia membawa gayung berisi air. Kemudian dia menyiram Tiara sambil berkata, "Ngomong nih, sama air toilet!"
Tiara terdiam, dia sangat terkejut mendapatkan perlakukan dari Winda. Kemudian Winda mendekat, dia menjambak rambut Tiara hingga kesakitan.
Winda menjambak rambutnya lalu menariknya sambil berkata, "Dasar ******, om-om tidak puas sekarang dekati Ilham. Apa coba maksudnya elu bermesraan berdua di kantin, hah?!" maki Winda.
"Memangnya salah duduk berdua? Ilham itu mencoba membantuku! Kamu ini kenapa?!"
Kartika tersenyum jahat lalu berkata, "Percuma, manusia IQ jongkok kayak dia mana ngerti?!"
"Kebanyakan main ranjang, otaknya mulai eror!" sambung Tantri.
Winda melihat pita rambut merah yang Tiara kenakan. Gadis itu hendak menyentuh pita rambut tersebut.
Tiara melirik kepada Winda dengan sorot mata yang tajam lalu berkata, "Berani kau sentuh pita rambutku, kau akan akibatnya!" ancamnya nada mengintimidasi.
Winda tersenyum jahat, sorot matanya menatap tajam lalu menarik rambut Tiara. Mereka saling berpandangan lalu Winda berkata, "Elu pikir gue takut?!"
__ADS_1
Kedua gadis itu saling menatap tajam dan penuh intimidasi. Kamar mandi sekolah, menjadi saksi bisu pembullyan sedang dialami sosok bidadari seperti Tiara.