Senar Takdir

Senar Takdir
Bertemu masa lalu


__ADS_3

Hukuman pun telah berakhir, seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing. Alexander dan Tiara, berjalan berdua melintas lorong sekolah. Raut wajah Alex merah padam, karena menjadi pusat perhatian para siswa di sekolah akibat rambutnya terkena rajia.


Rambut tengah terukur lurus tanpa ampun oleh anggota OSIS, membuatnya menutup kepalanya dengan tas. Tiara pun tidak henti-hentinya menahan tawa, melihat cukuran kekasihnya. Di depan, Alexander melihat sebuah topi tergeletak di atas lantai.


Tanpa pikir panjang, Alexander langsung mengambil dan langsung menggunakannya.


Alexander menoleh kepada Tiara lalu berkata, "Ketawa aja, jangan di tahan-tahan."


Tiara tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Maaf, cukuran belah ombakmu bikin aku ketawa. Lagian segala kena rajia. Makanya sempatkan waktu buat cukur,"


Alexander menoleh lalu membalas, "Kamu juga sama, lagian rokmu itu segala pendek. Mau jual paha?" sindir Alexander kepada kekasihnya.


Tiara tersenyum lalu mendekat pada daun telinganya. Kemudian dia berkata, "Tapi kamu suka kan?"


Mendengar hal itu, daun telinga Alex memerah lalu dia menoleh kepada Tiara tanpa berkedip. Senyuman manisnya, membuat Alexander tertunduk malu. Seorang siswa mengenakan topi, berjalan dan menyelip di antara mereka berdua.


Siswa itu dengan sengaja mendorong Alex hingga bahunya membentur tiang lorong. Alexander menoleh pada siswa yang telah mendorongnya. Rupanya, siswa itu tidak lain adalah Ilham. Ilham menoleh kepada Alex, sorot mata memandang rendah dan senyumnya yang jahat membuat Alexander menahan emosi.


"Hai, aku cari kamu loh."


"Hei, kalau jalan itu lihat-lihat!" balas Tiara lalu menunjuk Alex sambil berkata, "Lihat! Alexander sampai terdorong begitu!"


Ilham pun tertawa lalu berkata, "Maaf-maaf! lalu dia menarik dan mengusap bahu Alex sambil berkata, "Kamu gak apa-apa kan bro?"


Alex menepis tangan Ilham lalu berkata, "Gue gak apa-apa, jangan sok peduli sama gue!"


Tiara menoleh kepada Alex, dia sedikit terkejut melihat respon kekasihnya. Kemudian dia berkata, "Jangan begitu Alex, gak baik."


"Iya, maaf-maaf. Gue duluan ke kelas," balasnya sambil mempercepat langkah kaki sambil menahan emosi.


Tiara merasa sakit, namun rasa sakit itu tidak sesakit seperti biasanya. Dia terdiam memandang kekasihnya berjalan seorang diri menuju kelas.


Tiara mulai melangkahkan kakinya sambil berkata, "Alex tunggu!"


Buru-buru, Ilham memegang tangan Tiara. Dia pun berkata, "Sudah biarkan saja, sekarang temani aku ke Kantin yuk!" ajak Ilham.


"Gak bisa Ilham, sebentar lagi pelajaran akan dimulai."


"Tenang, tinggal tiga puluh menit lagi masih ada waktu. Yuk!" ajaknya sedikit memaksa.


"Memangnya, di mana ke dua temanmu?" tanya Tiara.

__ADS_1


Ilham menghembuskan nafas lalu berkata, "Entahlah, mungkin mereka membolos. Tenang, hanya lima belas menit. Yuk ke Kantin!"


Tiara merasa tidak enak dengan permintaan Ilham. Dengan terpaksa, Tiara pun mengikuti keinginannya.


Sementara itu, Alexander berjalan seorang diri menuju kelas. Kemudian, dia melihat seorang siswa berseragam kumal memanggil dirinya.


Selain penampakan agak kumal, siswa itu memiliki rambut agak panjang. Alexander menghampiri siswa tersebut.


"Ada apa?"


"Ikut gue, elu dipanggil."


"Sama siapa?" tanya Alex.


"Udahlah, gak usah banyak tanya. Nanti juga elu tau," jawabnya kepada Alex.


Alexander sangat penasaran, dia pun berjalan mengikuti siswa itu hingga keluar pintu gerbang belakang sekolah. Ketika melangkahkan kakinya meninggalkan sekolah, Alexander merasakan firasat tidak enak. Namun rasa penasaran memaksanya untuk mengikuti siswa tersebut.


Setelah cukup lama ia berjalan, Alexander melihat segerombolan siswa SMA 22 TEGAR SARI duduk di dalam pos ronda pinggir jalan yang tak jauh dari perkebunan kelapa. Mereka tengah asik mengobrol sambil menikmati sebatang rokok.


Alexander terdiam, firasatnya terasa semakin tidak enak. Perlahan dia berjalan mundur, namun seseorang menahan langkahnya dari belakang.


Tanpa berucap, dia pun berjalan menghampiri segerombolan siswa itu. Jantungnya berdegup kencang, dia menahan rasa takut melihat segerombolan anak nakal mulai memandangnya.


Seorang siswa bertubuh kekar, berkulit sawo matang dan agak tinggi tersenyum jahat kepadanya. Dia pun mematikan rokok miliknya di dalam asbak.


"Alexander, anak SMP 4 Kubung babunya Hadi," ucap siswa itu membuat Alexander syok.


Alexander dengan sangat syok berkata, "Bagaimana dia tau?" ucapnya dalam hati.


"Bos, elu kenal dia?" tanya salah satu temannya.


Siswa itu tertawa lalu berkata, "Tentu saja gue tau. Dia itu babunya Ketua Geng Serigala Hitam. Asal kalian tau, Alex ini suka dengan aroma kentut!" hinanya kepada Alex.


Mendengar hal itu, dia kembali teringat dengan kehidupannya semasa SMP. Dulu semasa SMP, dia adalah seorang babu Ketua Geng di sekolahnya bernama Hadi.


Hadi dan Alex pernah satu kelas yang sama. Awalnya, Alex hanya ingin berkenalan dengannya. Namun dengan angkuhnya, Hadi menepis lengannya dan berkata bahwa anak lugu tidak pantas dengannya.


Mereka sempat berkelahi, namun Hadi merupakan anak Kepala Sekolah mendapatkan pembelaan. Sedangkan Alexander malah mendapatkan kecaman terutama ibunya sendiri.


Semenjak saat itu, Hadis semakin leluasa menghina dan merendahkan Alex. Setiap buang angin, Hadi kumpulkan gas kentut itu pada genggaman tangan lalu mengusap pada muka Alex.

__ADS_1


Seorang siswa mengepakkan tangan yang terdapat gas kentut. Tanpa ragu, dia mengusap pada wajah Alex. Namun Alexander hanya terdiam tanpa memberi perlawanan berarti.


"Iya, Bos benar. Dia suka aroma kentut!" hina siswa itu.


Semua preman sekolah itu tertawa, sedangkan Alexander terdiam sambil menundukkan kepala.


Siswa berkulit sawo matang dan berbadan kekar mendekat. Dia mengambil topi Alex lalu berkata, "Sekolah itu tidak boleh pakai topi!"


"Cukuran apa itu?! Hahaha!"


Siswa berkulit sawo matang memegang dagu Alex. Kemudian dia paksa agar Alex memandang wajahnya.


"Fisik elu agak berubah rupanya. Elu ingat siapa gue?! Gue ini Beno, anak kelas tiga kepercayaan Hadi? Masih ingat tidak?!" ucapnya lalu mengetuk dahinya sambil berkata, "Halo-halo, apa ada otak di sini? Sepertinya tidak ada! Pantas saja babi seperti elu gak ingat!"


Salah satu temannya, mengolesi kepala Alex yang terkena cukuran dengan kotoran kucing. Tanpa rasa bersalah dia berkata, "Gue kasih krim khusus biar kepala babinya tidak kepanasan!"


"Bau-bau!"


"Setidaknya, bukan bau kacung Hadi kayak elu!" hina Alex kepada Beno.


Beno langsung menampar wajahnya dengan keras. Tamparan Beno, membuat Alexander terhuyung lalu berlinang air mata.


Berapa temannya merekam kejadian tersebut sambil menertawakannya. Alexander hanya bisa tertunduk menangis.


"Kenapa hal ini terjadi?! Apa salah gue?!"


Beno tertawa lalu membalas, "Karena elu terlahir ke dunia ini! Suruh siapa kamu terlahir sebagai Babu Idiot! Selain babu, elu pantas jadi samsak tinju! Ayo, kita main lempar tas!"


Dua orang siswa merebut tas Alex lalu melempar tas itu kepada siswa preman yang lain. Alexander berlari untuk merebut tasnya kembali. Sesekali, dia dilempari tanah dan diludahi oleh mereka.


Melihat Alexander sengsara dan tersakiti merupakan hiburan bagi Beno dan kawan-kawannya. Kemudian Beno melipat kedua tangannya lalu berkata, "Terus kejar tas sampahmu itu! Sok-sokan dekat sama Tiara, babi seperti elu gak pantas! Kalau tau seberapa lemahnya diri elu, pasti langsung diputusin! Boro-boro lindungi cewek, lindungi sendiri pun tak bisa!" maki Beno lalu tertawa.


Alexander pun hanya berlari mengejar tasnya sambil menangis. Dia berharap, penderitaan yang ia rasakan segera berakhir.


Namun penderitaan itu terus berlanjut. Teman-teman Beno, menggantungkan tasnya di atas pohon beserta topi yang sempat ia kenakan. Selain itu, Beno terus menceritakan aib dan kelemahan Alex semasa SMP.


Hati dan fisik Alex terasa remuk, namun ia tidak berdaya sama sekali. Dia pun berusaha memanjat untuk mengambil kembali tasnya.


"Mampus, ambil saja tasmu sendiri!" maki Beno.


Setelah itu, Beno dan teman-temannya tertawa sambil berjalan meninggalkan Alexander seorang diri. Alexander hanya bisa menangis dan berjuang mengambil tasnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2