Senar Takdir

Senar Takdir
Ilustrasi


__ADS_3

Selesai makan, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menikmati Kawasan Perumahan. Alexander dan Tiara, berjalan bergandengan tangan menikmati waktu senja. Mereka berdua, membeli beraneka jajanan menarik untuk mereka nikmati di perjalanan.


Setiap kali berhenti pada sebuah tepat yang menarik, mereka sempatkan berfoto bersama. Alexander dan Tiara, menunjukkan kemesraan pada beberapa foto yang mereka ambil. Momen kemesraan itu terus berlangsung hingga matahari terbenam.


Setelah puas berkencan, mereka berjalan kembali pulang. Sambil berjalan, sepasang kekasih itu terus bergandengan tangan.


Beberapa warga sekitar yang melintas, diam-diam memandang iri mereka berdua. Sepanjang perjalanan pulang, mereka terus berbincang mengenai alur cerita novel buatan Alex hingga sampai rumah.


Pintu rumah mulai terbuka mereka berdua berjalan masuk ke dalam. Tiara berjalan masuk sambil berkomentar seputar alur cerita novel Lorex 19 telah ia baca.


"Roki benar-benar pemimpin yang jenius! Kota Dolten sebelumnya kota kecil, sekarang menjadi kota besar yang subur dan militer yang kuat!" puji Tiara pada karakter fiksi di dalam novel.


"Semua itu, berkat Profesor Xenom telah menciptakan Genix. Dengan mesin waktu itu, dia berkali-kali pergi ke masa lalu untuk mengambil teknologi dan dimodifikasi oleh Profesor Xenom," balas Alex.


Tiara dan Alex pun duduk lalu gadis itu berkata, "Roki juga, memanfaatkan status Jenderal besar membuat Pasukan Pembebasan membangun Kota Dolten! Tapi, aku benci dengan Westerling Si Walikota Horizon sudah mengubah orang tidak bersalah menjadi monster."


"Orang seperti itu nanti juga binasa."


Tiara melirik kepada Alex, "Andaikan ada cover atau ilustrasi, mungkin aku bisa membayangkan seperti apa Roki itu."


Alexander tersenyum lalu berkata, "Tenang sayang, soal itu aku punya."


"Serius?! Mana? Aku ingin lihat!"


Alexander, berjalan masuk ke dalam kamar lalu kembali membawa laptop miliknya. Dia meletakkan laptop itu di atas meja tamu. Kemudian dia mulai menunjukkan, cover yang akan dia gunakan untuk novelnya.



Kedua mata Tiara berbinar-binar, melihat ilustrasi ketampanan Roki dan keimutan Angela. Dia pun berkata, "Roki, ganteng banget! Pantas saja, Angela mengidolakan sosok Roki. Angela juga imut, bikin gemas!" ujarnya begitu terkagum dengan ilustrasi dua karakter fiksi.


"Masih banyak ilustrasi lainnya. Sayangnya dalam lomba, tidak disertakan gambar. Padahal aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari," timpal Alex.


"Mana, sayang?! Aku mau lihat!"


Alexander, menunjukkan beberapa ilustrasi karakter fiksi di dalam novelnya. Tiara tidak berhenti terkagum-kagum dengan ilustrasi karakter di dalam novel.


"Aciel dan istri Roki, Linda dari ras, Elf! Profesor Xenom tampan sekali, Mona juga cantik! Jhon Si Cybong Mayor Sistina terlihat seperti aku, cuman beda warna matanya saja!" ujarnya terkagum-kagum pada ilustrasi karakter fiksi lalu dia menoleh kepada Alex dan bertanya, "Kamu gambar sendiri?"


Alexander menggelengkan kepalanya, "Aku menyewa jasa illustrator."


"Illustrator?"


"Seniman pembuat gambar ilustrasi. Harganya bervariasi, mulai dari seratus ribu sampai ratusan juta. Tapi, banyak konsumen mengeluh harganya terlalu mahal. Menurutmu, harga mereka itu kemahalan atau tidak?" ujar Alex balik bertanya.


"Menurutku, itu harga yang pantas. Apalagi membuat satu karakter sangat sulit. Sebenarnya, harga para ilustraror itu tidak mahal tetapi maaf, dompet mereka saja yang tipis. Kalau aku bilang miskin nanti ada yang ngamuk-ngamuk," jawab Tiara.

__ADS_1


Alexander menutup tampilan gambarnya sambil berkata, "Apalagi, manusia sekarang itu ingin murahan tapi kualitas tinggi termasuk gue," ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak.


Tiara mencubit pipi Alex sambil berkata, "Dasar, kamu sama saja!"


Alexander membuka dokumen naskah novel miliknya sambil berkata, "Sudah waktunya menyelesaikan naskah. Pokoknya, harus selesai sebelum deadline!"


Tiara memeluk tangan kekasihnya lalu berkata, "Nanti saja, sayang. Sekarang waktunya kita belajar.


"Tapi, aku harus kejar deadline," bantah Alex.


"Lomba itu penting, tapi belajar jauh lebih penting. Tenang sayang, hanya lima belas menit," balas Tiara.


Alexander menghembuskan nafas panjang, dia menoleh kepada Tiara lalu berkata, "Ya, sudah."


Berat hati, Alexander mematikan laptopnya lalu belajar bersama di ruang tengah. Mereka berdua masuk ke dalam kamar lalu duduk berdampingan di depan meja belajar. Buku-buku tersedia di atas meja, mereka mulai belajar bersama.


Kepala Alexander terasa seperti terbakar, ketika mempelajari pelajaran Matematika, Akutansi dan Bahasa Inggris. Beruntung, Tiara membantu Alex dalam belajar walau harus ekstra sabar dalam mengajarinya. Suara jam dinding jelas terdengar, Alexander menoleh melihat jam dinding.


Rupanya, sudah sepuluh menit mereka berdua belajar. Namun waktu tersebut terasa seperti satu jam.


Tiara melihat Alex melirik ke arah jam dinding. Kedua tangan mencubit pipi Alex sambil berkata, "Ayo, belajar sayang. Menulis saja bisa berjam-jam, masa belajar saja tidak bisa?" sindir Tiara kepada kekasihnya.


"Iya, sayang," balas Alex.


Tiara berbaring di atas kasur, dia hendak memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba, handphone miliknya mulai berdering lalu dia meraih handphone itu di samping bantal tidurnya.


Rupanya, orang yang menghubunginya adalah Ilham. Tiara berjalan keluar, meninggal Alexander seorang diri di dalam kamar.


Tiara mengangkat handphonenya lalu menjawab panggilan, "Halo."


"Hei, lagi apa? Apa aku mengganggumu?" tanya Ilham.


"Enggak, kok. Aku baru saja naik ke atas kasur. Ada apa?"


"Sepulang sekolah, kamu ada rencana?" tanya Ilham.


"Rencana, besok aku mau langsung pulang. Memangnya kenapa?" kata Tiara balik bertanya.


"Mau temani aku?" tawar Ilham.


"Kemana?"


"Di Kota ini, ada Restoran Jepang baru buka. Kita makan di sana, sekalian aku bantu kamu revisi naskah novel buatanmu," jawab Ilham.


Tiara menghembuskan nafas lalu berkata, "Gimana, ya? Aku lagi gak mood."

__ADS_1


"Ayolah Tiara, aku jamin makanan di sana enak. Memangnya kamu pernah ke restoran Jepang?"


"Belum.."


"Nah! Makanya, kalau bisa kamu ikut. Soal bayaran, kamu gak usah khawatir. Biar aku yang bayar!" rayu Ilham kepada Tiara.


"Ya, sudah. Aku mau izin dulu sama Ayahku."


Perbincangan pun telah berakhir, mereka berdua mematikan telpon. Tiara berjalan masuk ke dalam kamar lalu duduk disamping Alex sedang mengetik naskah.


Alexander sambil mengetik pun bertanya, "Siapa yang telpon?"


"Ilham," jawab Tiara.


Mendengar hal itu, Alexander berhenti mengetik lalu bertanya kembali, "Ada apa dia telpon malam begini?"


"Ilham, mengajakku makan di Restoran Jepang. Katanya, dia mau membayar ku makan. Tapi aku ragu...."


"Ragu kenapa?" tanya Alex.


Tiara memeluk Alex dari samping lalu berkata, "Aku khawatir, para penjahat itu menyerang mu lagi. Lagi pula, aku sudah berjanji terus pulang bareng kamu."


Alexander membalas pelukannya lalu berkata, "Jangan khawatir, kamu pergi saja sama Ilham ke restoran itu. Jarang-jarang dapat tawaran seperti itu apalagi dibayar. Tenang, aku baik-baik saja. Tidak mungkin penjahat-penjahat itu menyerang dua kali. Bersenang-senanglah," ujarnya sambil membelai rambutnya.


Tiara mencium pipi Alex, dia mempererat pelukannya sambil berkata, "Terima kasih, sayang. Setelah tau tempatnya, nanti kita berdua pergi ke sana. Besok, sebisa mungkin aku ajak Wulan."


Setelah itu, Tiara kembali berbaring di atas ranjang lalu dia pun tertidur. Sedangkan Alexander, melanjutkan pekerjaannya mengetik naskah.


Tidak terasa waktu sudah tengah malam. Tiara terbangun dari tidurnya, dia melihat Alexander masih sibuk mengerjakan naskahnya.


Gadis itu berjalan lalu berdiri di samping Alex. Setelah itu dia berkata, "Sudah tengah malam, ayo tidur sayang."


"Iya, sayang sebentar."


"Jangan terlalu lama bergadang, gak baik untuk kesehatan sayang."


Alexander hanya mengiyakan perkataannya. Meskipun diperingati dia tetap mengerjakannya. Kemudian, Tiara kembali ke atas ranjang lalu tertidur.


Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi, Tiara pun terbangun dari tidurnya. Dia melihat, Alexander tertidur di atas meja belajar dalam keadaan laptop masih menyala.


Tiara menggelengkan kepala lalu berjalan mendekati Alex. Dia menyimpan hasil kerja Alex lalu mematikan laptop.


Tiara menggendong Alexander layaknya Sang Putri lalu berkata, "Waktunya tidur."


Setelah itu, Tiara membaringkan Alexander di atas ranjang disusul olehnya. Tiara tertidur sambil memeluk kekasihnya agar tetap terjaga.

__ADS_1


__ADS_2