
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Mereka berdua, mulai menikmati menu Ayam panggang saos lada hitam bersama-sama.
Kelezatan Alexander rasakan di dalam mulutnya. Dia sambil mengunyah berkata, "Baru pertama kali, aku makan Ayam panggang lada hitam seenak ini!" puji Alex.
Tiara sambil mengunyah pun membalas, "Terima kasih, aku senang mendengarnya."
"Kamu belajar dari siapa?"
Tiara mengambil handphone tergeletak di sampingnya. Sambil menunjuk pada layar ia berkata, "Dari ini!" ujarnya menunjukkan resep makanan di Internet. "Kemarin malam, setelah kamu ajarkan tentang internet. Aku langsung mencari resep untuk menu makan malam kita. Tidak aku sangka, banyak sekali tata cara dan informasi di Internet. Benar-benar praktis! Berbeda saat membaca di Perpustakaan langit yang harus mencari judul dan urutan abjad setiap tempatnya!"
Alex sambil mengunyah makanan pun berkata, "Begitulah internet. Tapi kamu, jangan seratus persen percaya. Siapa tau ada informasi yang menyimpang."
"Begitu rupanya, aku akan hati-hati."
Selesai makan, mereka berdua membawa piring kotor ke dalam dapur. Mereka berdua, bergantian mencuci piring lalu kembali duduk di ruang keluarga.
Tubuh Alex terasa nyeri otot, terutama di bagian kedua kaki. Dia memijat kedua kaki secara bergantian sambil berkata, "Tubuhku sakit sekali, terutama di bagian kaki," keluh Alex.
Tiara mengangkat kedua betis Alex, dia meletakkan di atas paha dan bantal yang telah Tiara siapkan.
Gadis itu mulai memijat kaki Alex secara bergantian sambil berkata, "Wajar, namanya juga olahraga. Terutama orang yang jarang berolahraga sepertimu. Sakit itu hal biasa, apalagi karena olahraga sangat bagus membentuk masa otot."
"Aku iri dengan stamina mereka saat bermain bola. Tapi aku terkejut melihat Wulan, tidak aku sangka Wulan bisa bermain bola."
Tiara menggelengkan kepalanya lalu ia berkata, "Wulan tidak terlalu jago bermain bola."
"Tapi, bagaimana dia bisa menggiring dan menghindari tekel?"
"Wulan itu manusia spesial, dia sudah tau apa yang akan lawannya lakukan terlebih dahulu. Sewaktu latihan, kalau diperhatikan lebih teliti Wulan bergerak menghindarinya terlebih dahulu. Dia juga, berada pada posisi bola yang tidak terpikirkan."
__ADS_1
"Maksudmu, penglihatan masa depan?"
Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sekarang, Alexander tau bahwa Wulan bukan seorang gadis pembual atau cosplayer karakter fiksi sedang memegang kartu.
Gadis itu terus memijat tubuhnya yang pegal dan sakit. Alexander merasa beruntung, mendapatkan perlakuan khusus darinya. Dia teringat perkataan Ilham tentang niatnya yang akan merebut Tiara.
Dirinya tidak bisa membayangkan, jika gadis seperti Tiara bisa berpaling. Semua suasana indah dan kenikmatan yang ia rasakan akan berakhir.
Tiara melihat Alex yang terlihat sedih. Dia penasaran dengan apa yang sedang Alex pikiran. Kemudian dia bertanya, "Sayang, ada apa? Kenapa kamu terlihat sedih?"
"Tidak ada, aku mau tidur," jawabnya lalu tersenyum dan berdiri berjalan masuk ke dalam kamar.
Tiara terdiam, melihat Alexander berjalan masuk meninggal dirinya seorang diri begitu saja. Lampu kamar dimatikan, dia berbaring di atas kasur. Pintu kamar, perlahan mulai terbuka lalu Tiara berjalan masuk ke dalam kamar.
Gadis itu naik ke atas kasur, dia berbaring di samping Alex. Dia melirik ke arah kekasihnya yang masih membuka mata. Tidak biasanya, Alexander masuk ke dalam kamar pada jam delapan malam.
"Alex, apa ada yang kamu pikirkan? Tidak biasanya, kamu masuk ke dalam kamar jam delapan malam."
"Kenapa menanyakan hal itu?" tanya Tiara.
Alexander melirik ke arahnya, "Aku hanya ingin tau sebagai referensi. Sebab, baru pertama kali aku menjalani hubungan asmara ."
Tiara bersandar pada pundak Alex, "Seorang wanita bisa berpaling dengan lelaki lain. Tetapi ada beberapa alasan, salah satunya adalah kecocokan. Sebagian wanita di luar sana, berselingkuh karena masalah kecocokan baik sifat, keuangan, silsilah keluarga dan lain sebagainya. Ada juga karena merasa tidak nyaman. Entah karena lelaki itu membosankan atau masalah ekonomi."
Alexander teringat saat dirinya sempat melihat Tiara bersama Alex. Tiara, terlihat begitu menikmati momen bersama Ilham. Mereka saling bersenda gurau dan bermain bersama layaknya kekasih.
Masih banyak, momen yang ia lihat kebersamaan Tiara bersama Ilham. Rasa hampa dan sakit, bercampur di dalam hatinya. Dia memegang dadanya sendiri, seiring rasa sakit setiap kali mengingatnya.
Tiara merasakan sakit yang sama. Dia memegang dadanya sendiri, ikut merasa apa yang Alexander rasakan. Gadis itu melihat, Alexander memegang dada sama seperti dirinya.
__ADS_1
Rasa takut mulai Alexander rasakan, ketika mengingat perkataan Ilham bahwa dia akan merebut Tiara darinya. Tangan kiri Tiara, menggenggam tangan Alex sedang menyentuh dadanya.
Tiara tersenyum lalu berkata, "Tapi sayang, hati wanita tidak serapuh itu. Saat wanita mencintai seseorang, maka wanita itu tidak akan melepaskannya. Cinta itu tidak seperti menyukai suatu barang, tetapi menyukai dalam ikatan takdir. Ketika rasa cinta itu tumbuh, maka dia siap menerima pasangannya apapun kondisinya.".
Rasa sakit yang Tiara rasakan mulai menghilang. Sekarang dia tau sumber rasa sakit ini berasal. Rasa sakit itu, bersumber dari apa yang dirasakan oleh pasangannya.
Alexander, mengubah posisi tidur menyamping. Dia mengangkat tangan kanan dan kakinya lalu memeluk Tiara.
Alex sembari memeluknya ia pun berkata, "Tiara, aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Tiara membalas pelukannya, "Aku juga mencintaimu, Alex. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Mereka saling berpandangan, kedua mata mereka tak berkedip lalu wajah mereka perlahan saling mendekat. Sepasang kekasih itu, saling berciuman dalam keadaan mata terpejam. Setelah berciuman, mereka saling berpelukan membuat suasana kamar menjadi hangat.
Tidak terasa, hari Sabtu telah tiba. Lonceng pertanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar sudah berbunyi. Seluruh siswa, keluar dari kelas masing-masing.
Cuaca di langit terlihat mendung, meskipun begitu tidak menurunkan semangat siswa 10 IPS F untuk bertanding. Para pemain Sepak Bola kelas 10 IPS F, berjalan terlebih dahulu menuju lapangan Sepak Bola. Ada juga, tiga orang yang sudah sampai terlebih dahulu.
Alexander berjalan seorang diri, dia sengaja memperlambat langkah kakinya. Dia membayangkan hal buruk yang terjadi di lapangan.
Sambil berjalan dia pun berkata, "Semoga setelah sampai, pertandingan sudah berakhir," ujarnya di dalam hati.
Seseorang, menepuk pundaknya membuat Alexander terkejut. Dia pun melirik ke samping kanan, rupanya orang yang telah menepuk pundaknya adalah Wulan.
Wulan berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaket biru Dongker yang ia kenakan, "Jangan melamun Bos, tidak baik untuk kesehatan mental apalagi sebentar lagi Bos bertanding."
"Iya, Wulan. Tidak gue sangka, pertandingan hari ini sumpah gue gugup apalagi lawan kelas kita adalah kelas elit."
"Santai, Bos. Menang kalah itu hal biasa. Meskipun kelas kita kalah, tapi Bos berhasil mendapatkan satu poin kemenangan melawan Ilham. Jangan ragu Bos, Bos cukup keluarkan performa terbaik. Yang terpenting, cobalah untuk terlihat keren di depan Tiara. Gue yakin, Bos bisa melakukannya. Pesanku yang terakhir, apa pun yang terjadi tolong jangan ragukan cinta Tiara. Percayalah padanya, kalau tidak ingin membuat hubungan kalian renggang."
__ADS_1
Alexander tersenyum lalu ia berkata, "Thanks Wulan buat masukannya, gue akan melakukan yang terbaik."
Wulan tersenyum sambil menepuk pundak Alex berkali-kali sebagai isyarat dukungan. Mereka berdua, berjalan bersama menuju lapangan Sepak Bola.