Senar Takdir

Senar Takdir
Jemputan


__ADS_3

Setelah itu, mereka berdua kembali mengelilingi Museum. Tiara senang, menikmati suasana yang ada di dalam Museum. Berkat datang ke Museum ini, banyak sejarah tentang dunia olahraga di Negeri ini yang telah dipelajari.


Selesai melihat-lihat seisi Museum, mereka berdua pergi ke taman Kota Batavia tidak jauh dari Museum. Ilham melihat sebuah Kedai Penjual Wafel Ice Cream.


Ilham menunjuk kedai tersebut sambil berkata, "Yuk, kita ke sana!" ajak Ilham.


Tiara tersenyum lalu membalas, "Yuk!" dengan nada begitu semangat.


Sesampainya di kedai, Ilham membeli dua Wafel Ice Cream. Selesai memesan, mereka berdua bangku taman tepat samping lampu taman. Mereka berdua mulai menikmati Wafel Ice Cream bersama-sama.


Ilham sambil mengunyah makanan bertanya, "Bagaimana rasanya?"


Tiara sambil mengunyah makanannya pun membalas, "This is nice! Manis, dingin dan gurih!"


"Selesai berkunjung ke Museum, biasanya gue dan Winda sering beli Wafel di sini. Rasanya nikmat, apalagi makan di taman indah seperti ini."


"Kamu benar Ilham," balas Tiara.


"Tiara, thanks sudah menemaniku ke sini. Kapan-kapan kita ke sini lagi," ujarnya berterima kasih lalu mengajak Tiara.


"Boleh-boleh!" balasnya begitu semangat.


Tidak terasa hari semakin senja, lampu-lampu di taman mulai menyala. Mereka berdua sempat berfoto di tempat menarik. Diam-diam, Tiara mengirim lokasi tempat dirinya berada kepada Wulan.


Tidak berselang lama, Wulan pun membalas pesannya. Pada pesan tersebut tertulis, bahwa dia akan segera datang menjemputnya.


Puas berfoto, Ilham dan Tiara kembali duduk di sebuah bangku taman. Tiara melihat raut wajah Ilham begitu murung.


Tiara tersenyum lalu bertanya, "Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat murung sekali?"


"Masih ingat, janjiku membawa nama Negeri ini menuju piala Asia? Sepertinya, aku ingin menariknya kembali."


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Tim Sepak Bola di Negeri ini tidak sekuat Negeri Tetangga. Seandainya di Masa Depan, Tim Sepak Bola di Negeri ini kalah sama saja aku tidak menempati janji."


"Dengar Ilham, sebagai manusia kamu tidak boleh menarik janjimu sendiri. Janji memang harus ditepati, tetapi ada kalanya janji itu tidak harus ditepati dengan hasil. Kamu cukup menempati janji itu dengan kerja keras. Tapi aku yakin, kamu bisa melakukannya sebab kamu sangat menyukai sepak bola. Benar bukan?"


Ilham tersenyum lalu berkata, "Thanks Tiara, gue janji akan mengusahakannya! Aku mohon, sampai kapan pun dukung aku."


"Pasti, aku pasti dukung kamu! Sudah sewajarnya teman itu saling mendukung!" balas Tiara begitu bersemangat.


Ilham kembali murung, ketika mendengar kata teman dari orang yang ia sukai. Tanpa sepengetahuan Tiara, dia mengepalkan tangan lalu berjanji bahwa dirinya akan berjuang mendapatkan hatinya.

__ADS_1


Sekilas dia teringat oleh Alex, membayangkan wajahnya membuat Ilham sangat kesal. Apalagi mengingat perkataan Alex, bahwa dia tidak akan pernah menyerahkan Tiara. Di sisi lain dia penasaran, sebenarnya ada hubungan apa diantara Alex dan Tiara.


Ilham dengan raut wajah serius lalu berkata, "Tiara boleh aku bertanya?"


"Soal apa?"


"Sebenarnya, ada hubungan apa diantara kamu dan Alex?" tanya Ilham begitu serius.


Belum sempat menjawab, seseorang menepuk pundak mereka berdua. Lalu mereka berdua menoleh ke belakang. Rupanya orang itu adalah Wulan, gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka berdua.


Wulan duduk di samping Tiara sambil berkata, "Aku kira siapa, ternyata kalian berdua. Sedang apa kalian di sini?" tanya Wulan kepada mereka berdua.


"Kami sehabis dari Museum Olahraga, sekalian mampir ke sini untuk bersantai. Sendirinya, sedang apa di sini?" jawab Ilham lalu bertanya.


"Mencari Wafel! Kudengar, ada Wafel enak di sekitar sini jadi aku ke sini! Kalian tau di mana?" jawabnya begitu di semangat.


"Ilham, Wulan ini pecinta kuliner. Setiap ada kuliner menarik dan enak, dia pasti langsung mencarinya," kata Tiara kepada Ilham.


Ilham tertawa lalu berkata, "Gue baru tau. Seharusnya tadi aku ajak elu juga ke Restoran Jepang."


Wulan dengan raut wajah datar berkata, "Telat! Padahal waktu itu aku ada di depan kelas."


"Maaf-maaf, bagaimana kalau gue traktir Wafer Ice Cream sebagai permintaan maaf?" tawar Ilham.


Mereka bertiga, berjalan menuju Kedai Wafel Ice Cream tidak jauh dari taman. Sesampainya di Kedai, Wulan terkagum-kagum melihat Wafel di dalam menu. Gadis itu bingung dalam menentukan menu yang harus dia pilih.


"Pilih yang mana? Elu bebas pilih satu menu apapun," tanya Ilham.


Wulan melirik kepada Ilham lalu bertanya, "Serius?"


Ilham menganggukkan kepala lalu Wulan menunjuk sambil berkata, "Kalau begitu gue pilih ini!" ujarnya menunjuk pada menu Wafel Ice Cream Spesial.


Tiara menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Gak tanggung-tanggung."


Sekian lama menunggu, akhirnya Wulan mendapatkan pesanan. Ilham dan Tiara tidak berkedip, melihat menu Wafel Jumbo dengan Ice Cream dan berbagai toping.


Mereka duduk di atas bangku panjang tak jauh dari kedai. Ilham dan Tiara memperhatikan Wulan sedang makan.


Wulan sambil mengunyah makanannya berkata, "Sepertinya aku tidak perlu makan malam."


"Jelas, Wafel milikmu porsi jumbo," timpal Tiara.


"Ngomong-ngomong, kamu jadi menginap di rumahku?" tanya Wulan.

__ADS_1


Tiara kebingungan mendengar pertanyaan Wulan, padahal sebelumnya dia tidak mengajaknya menginap. Wulan menganggukkan kepala, Tiara pun mengerti apa maksudnya.


"Jadi, kebetulan Papahku mengizinkannya. Sebelum itu, aku beli Wafel dulu untu Papahku di rumah," balas Tiara.


"Soal itu, biar aku yang bayar sekalian aku belikan untuk Ibumu di rumah," kata Ilham.


"Serius? Terima kasih!"


Ilham, membelikan tiga Wafel Ice Cream lalu memberikannya kepada Tiara. Setelah itu, Wulan dan Tiara pun pamit kepada Ilham. Kedua gadis itu, berjalan menuju Kawasan Parkir.


Mereka berdua, menaiki motor matic merah lalu melaju meninggalkan kawasan parkir. Wulan melirik pada spion, dia melihat Tiara sedang memegang Wafel miliknya di dalam plastik.


"Tiara, kamu gak takut Ice Cream meleleh?" tanya Wulan.


"Kita teleportasi saja ke rumah Alex. Tolong kamu cari tempat yang sepi," balas Tiara.


Wulan menambah laju kendaraannya sambil mencari tempat yang sepi untuk melakukan teleportasi. Sekian lama di perjalanan, Wulan berbelok memasuki sebuah Gang sepi lalu motor itu berhenti melaju. Tiara berkonsentrasi, sekali jentik mereka melihat butiran cahaya menyinari sekeliling mereka.


Dalam sekejap, mereka langsung berada di halaman rumah Alex. Mereka melihat, Alexander sedang mengelap motornya terkejut.


Wulan dan Tiara melambaikan tangan. Kemudian Wulan berkata, "Halo Bos."


Alexander sambil menunjuk sambil bertanya, "Bukannya kamu pergi ke restoran bareng Ilham? Kenapa pulang bareng Wulan?"


"Aku sengaja, mengubungi Wulan untuk menjemput ku sekalian sebagai kamuflase," jawab Tiara.


"Begitu rupanya, ayo Wulan silahkan masuk," ujarnya menyambut Wulan.


Mereka berdua, berjalan masuk ke dalam rumah disusul oleh Alex. Wulan duduk di ruang tamu, dia mulai mengeluarkan handphone miliknya. Sedangkan Tiara pergi ke dapur.


Wulan melihat, sinyal WiFi milik Alex tertangkap pada handphonenya. Dia berkata, "Bos, aku baru tau kalau rumahmu ada WiFi."


Alexander membalas, "Sebenarnya sudah lama, gue memilikinya."


"Sewaktu Bos sakit, Bos sengaja tidak bilang punya WiFi, ya? Dasar pelit."


"Suruh siapa gak nanya," balas Alex.


Wulan memberikan handphone miliknya. Alexander langsung memasukkan password WiFi rumahnya. Setelah itu, dia memberikan kembali handphone milik Wulan.


Wulan tidak menyangka, bahwa sinyal WiFi milik Alex sangat bagus. Buru-buru, dia membuka aplikasi game mobile sambil berkata, "Sinyal idaman, fiks jadi tempat nongkrong. Bos, mohon kerjasamanya kalau sewaktu-waktu aku menumpang di sini."


Alexander mengembuskan napas panjang, di berbalik badan sambil berkata, "Terserah."

__ADS_1


__ADS_2