
Lonceng istirahat telah berbunyi. Seluruh siswa di kelas berjalan keluar. Hana berjalan menuju kantin, dia melihat Ilham dan dua temannya yang mengenakan baju olahraga duduk sambil menikmati makanan.
Hana membeli minuman dan cemilan lalu duduk di samping Martin," Hai, guys!" sapa Hana kepada mereka semua.
Mereka bertiga melirik ke arah Hana, "Halo, Hana," balas mereka dengan kompak.
"Di mana Tiara?" tanya Ilham.
Hana membuka botol minuman soda miliknya, "Tiara masih di kelas, kenapa kamu tidak chatting saja?"
"Aku tidak punya nomer handphonenya."
Hana mengeluarkan handphone miliknya di dalam saku rok. Dia mengirim nomer handphone Tiara kepada Ilham. Notifikasi pesan pada handphone Ilham berbunyi.
Ilham mengambil handphone miliknya di dalam saku celana. Kedua matanya, fokus memandang layar handphone. Kemudian dia tersenyum sambil menyimpan nomer sambil berterima kasih.
Hana melipat kedua tangannya, "Tapi sayang sekali Ilham. Tiara sudah punya pacar."
Ilham tertawa lalu ia berkata, "Pacar? Memangnya kenapa? Kalau punya tinggal tikung saja!" ujarnya dengan nada bercanda.
Sementara itu di dalam kelas, dia duduk bersama Wulan sambil menikmati Seblak dan minuman telah mereka beli. Tiara tersenyum menatap layar handphone.
Wulan menyadari hal itu, dia melirik kepada layar handphonenya. Wulan melihat berbagai koleksi foto Alex yang Tiara ambil secara diam-diam, "Cie stalker."
Kedua tangan Tiara menutup layar handphonenya sambil tersipu malu, "Biarin!" ujarnya lalu menjulurkan lidahnya.
Notifikasi pesan pada handphone Tiara mulai bergetar, ia langsung membukanya. Dia melihat sebuah nomer tidak dikenal menanyakan keberadaannya.
"Ini siapa?" tanya Tiara dengan membalas pesan.
"Ini aku Ilham. Aku, Martin, Bobi dan Hana ada di kantin. Ayo, ke sini!" ajak Ilham dalam pesannya.
"Maaf Ilham, aku malas ke kantin. Jam segini pasti penuh sesak."
"Ya sudah, aku ke kelasmu sekarang. Ada hal yang ingin aku omongin sama kamu."
"Jangan ke kelas. Tunggu aku di jalan lorong samping lapangan basket."
Wulan juga melihat pesannya terdiam, namun di dalam hatinya berkata, "Cowok yang berambisi."
__ADS_1
Tiara mengajak Wulan untuk menemaninya menemui Ilham. Tetapi Wulan menolaknya, dia beralasan untuk menyelesaikan event game. Wulan berjanji, jika sempat dirinya akan menyusul.
Tiara berjalan seorang diri menuju tempat yang telah dijanjikan. Suasana sekolah cukup ramai, para siswa berlalu-lalang melintasi koridor. Dia melihat anak kelas 10 IPA A sedang bermain futsal.
Sepasang sepatu menjadi tiang pengganti. Sorak para penonton membuat suasana sekitar lapangan basket semakin ramai. Ada juga beberapa siswa bermain voli.
Ilham telah sampai di tempat yang telah dijanjikan terlebih dahulu. Pada kedua tangannya memegang dua buah susu kotak. Dia melihat Tiara berjalan seorang diri, "Tiara!" panggil Ilham sambil melambaikan tangan.
Tiara tersenyum hingga giginya terlihat sambil membalas melambaikan tangan. Gadis itu berlari mendekati Ilham lalu mereka duduk di samping jalan lorong pinggir lapangan basket.
Ilham memegang tangan Tiara lalu meletakkan susu kotak di atas tangannya sambil berkata, "Buat kamu."
Tiara menggenggam susu kotak itu lalu memasukkan sedotan, "Terima kasih, aku minum ya?"
"Silahkan," balasannya.
Mereka berdua menikmati susu kotak bersama-sama. Perlahan, Ilham menggeser tempat duduknya hingga berdempetan. Ilham tersenyum senang duduk berdekatan dengan orang yang ia sukai.
Ilham teringat saat Tiara berkunjung ke Ekskul Sepak Bola. Dia ingin tau, apakah ia tertarik atau tidak. Lalu Ilham bertanya, "Tiara, kamu sudah berkunjung ke Ekskul Sepak Bola. Kamu juga belajar banyak hal di sana. Sekarang kamu tertarik?"
Tiara menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tertarik. Sekarang aku sudah bergabung ke dalam Ekskul Band."
"Tidak, aku belum bisa main alat musik. Baru sekali pertemuan itu pun hanya disuruh menyanyi."
"Aku jadi penasaran ingin dengar suara kamu."
Tiara tertawa lalu melirik ke arahnya, "Jangan, kalau aku nyanyi bisa-bisa kaca sekolah kita langsung pecah," canda Tiara.
"Jangan merendah begitu, suara kamu merdu kok!" puji Ilham.
"Bagaimana kamu tau kalau suaraku merdu?"
"Dari cicak. Mereka cerita bahwa suara kamu itu merdu," jawab Ilham membuat Tiara tertawa.
Ilham terus melempar candaan dan guyonan membuat Tiara tertawa. Tiara berhenti tertawa ketikan melihat Alexander, Tamrin, Dandi, Fajar dan Rudi.
Rudi merupakan teman satu kelas, dia memiliki postur tubuh agak tinggi. Kulit sawo matang serta rambutnya yang pendek.
Fajar menghampiri salah satu siswa kelas 10 IPA A untuk menantang futsal. Setelah itu, Alexander berserta empat temannya membentuk formasi dan membuat patokan tiang gawang dari sepasang batu bata. Kedua tangan Alex gemetar, dia tidak menyangka bahwa pertandingan melawan kelas 10 IPA A akan berlangsung cepat.
__ADS_1
Tamrin menyadari rasa gugup yang dirasakan oleh Alex. Dia berjalan mendekati Alex lalu menepuk pundaknya, "Santai saja Bos, pertandingan ini hanya pertandingan biasa. Bermain sebisanya, anggap saja pertandingan ini adalah pemanasan sebelum hari Sabtu."
Tamrin menepuk pundak Alex, dia berbisik memberitahu bahwa ada Tiara sedang duduk menyaksikannya. Alexander sontak melirik ke sana kemari mencari keberadaan Tiara. Dia tersenyum melihat Tiara sedang duduk memperhatikannya.
Kedua tangan Tiara mengepalkan, dia mengayunkan setengah ke depan, "Semangat," ujarnya dengan suara pelan.
Alexander membalasnya dengan tersenyum sambil menggunakan kepalanya. Senyuman itu, seketika hilang ketika mengetahui bahwa Ilham duduk berdekatan dengan kekasihnya. Rasa sakit dan hampa kembali Alexander rasakan.
Begitu juga dengan Tiara merasakan hal yang sama. Gadis itu memegang dadanya sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengenai penyebab dari rasa sakit yang ia rasakan. Tamrin, kembali ke posisinya berada di sisi kanan depan. Sedangkan Alexander melirik ke depan dan berkonsentrasi dalam menjalankan perannya sebagai bek atau pendukung pertahanan.
Pertandingan dimulai dari tim lawan yang melakukan operan ke belakang. Perebutan bola di lini tengah tidak terhindarkan. Namun, pergerakan tim lawan yang gesit membuat penjagaan lini tengah terlepas.
Sekarang tinggal Alexander dan kiper yang menjadi pertahanan terakhir. Dua striker berlari masuk ke area pertahanan. Sorot mata Alexander menatap tajam, dia berkonsentrasi sambil berlari.
Tidak disangka, pertama kali dalam hidupnya ia berhasil melakukan tekel. Buru-buru Alexander menggiring bola ke depan, "Rudi!" ujarnya dengan lantang lalu melakukan umpan silang.
Fajar berlari memasuki area pertahanan dari sayap kanan. Kemudian dia melakukan umpan silang kepada Dandi. Sayangnya, sebelum bola itu menyentuh kaki tim lawan berhasil merebutnya.
Sekali lagi, terjadi duel sengit antara Alexander melawan seorang penyerang. Sekilas dia teringat momen saat berlatih Sepak Bola bersama Tiara. Berkali-kali, dia mencoba merebut bola dari kaki Tiara namun selalu gagal.
Selesai berlatih, Tiara berdiri sambil menginjak bola Sepak dengan kaki kirinya. Dia berkata, "Tidak ada trik khusus dalam merebut bola. Ketika berhadapan dengan lawan, kamu hanya perlu percaya diri, berkonsentrasi dan kerahkan semua kemampuanmu. Aku yakin kamu pasti bisa!"
Alexander tersenyum, sorot mata menatap tajam lawannya. Kedua kakinya terus berlari, sorot matanya berkosentrasi melakukan analisa pada lawannya semakin mendekat. Dia langsung melakukan tekel lalu berlari mengiringi bola. Tiga temannya melambaikan tangan, meminta Alexander untuk mengoper. Namun Alexander terus menggiring bola dan mengabaikan tiga temannya.
Latihan yang diberikan oleh Tiara telah membuahkan hasil. Alexander berhasil memasuki lini pertahanan lawan. Satu persatu tim penjaga berhasil dia lewati.
Sekarang tinggal pertahanan terakhir yaitu Sang Penjaga Gawang. Duel mulai terjadi, penjaga gawang berlari untuk menghadang serangan Alex.
Alexander tersenyum dan menatap lawannya dengan penuh percaya diri. Dia mengocek bola dengan lincahnya lalu memutar dan melakukan tendangan.
"Gol!!"
Empat teman-teman bersorak, menyambut gol pertama Alexander di babak pertama. Mereka berempat, memeluk Alex sambil melompat-lompat. Alexander terdiam, dia tidak percaya bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya ia berhasil mencetak gol.
Tiara sedikit berlinang air mata, dia sangat bangga melihat Alexander berhasil mencetak gol.
Gadis itu berlari ke tengah lapangan basket. Tidak disangka, Tiara memeluk Alex dengan sangat erat sambil melompat-lompat, "Alex kamu berhasil!"
Wajah Alexander merah padam sambil melirik ke sana dan kemari. Dia tidak menyangka, bahwa Tiara memeluknya di depan semua orang. Alexander tersenyum, dia memeluk Tiara dengan satu tangan, "Thanks, Tiara. Berkat kamu, aku bisa melakukannya."
__ADS_1
Melihat hal itu, Ilham menjadi sangat kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya lalu memukul lantai dengan sangat keras, "Bajingan itu!" gumamnya menatap Alex dengan sorot mata yang tajam.