
Alexander mulai bercerita mengenai pencarian minatnya dalam mengikuti Ekskul. Dia sudah menghampiri setiap Ekskul, namun karena terlalu gugup dan kesialan dia alami membuat Alexander tidak menemukan titik terangnya. Ketika perjalanan menelusuri lorong sekolah, dia melihat pintu ruang musik terbuka.
Dia pun berjalan masuk ke dalam ruang musik. Kemudian, dia mulai memainkan dua gitar telah tersedia sekaligus. Lama Alexander memainkannya, dia pun turut menikmatinya.
Beberapa hari kemudian, Alexander pun kembali ke ruang musik itu. Kali ini, dia mengajak teman-temannya. Mereka melihat lihainya Alexander dalam memainkan gitar.
Tidak disangka, Kak Tigor merupakan anggota OSIS sekaligus Ketua Ekstrakurikuler melihat semuanya. Dia memberikan dua pilihan, pertama keluar atau bergabung ke dalam Ekskul Band. Karena sudah terlanjur, mau tidak mau mereka bergabung ke dalam Ekskul Band.
"Menurut Ayah, sebenarnya kamu itu bergabung bukan karena terpaksa. Tapi bergabung karena takdir. Mungkin para Dewa sudah menunjukkan jalan padamu. Siapa tau di masa depan, Band kamu dan teman-temanmu menjadi terkenal," ujar Erwin kepada putra ke duanya.
"Amin," balas singkat.
"Terus, apa nama Band kalian?"
Alexander tersenyum lalu menjawab, "Band Serangkai."
"Nama yang menarik, Ayah suka. Ayah jadi ingin melihat penampilan Band kalian," puji Sang Ayah membuat Alexander sangat senang.
Alexander mulai memakan sepotong daging. Sambil mengunyah ia pun berkata, "Terima kasih, Ayah. Rencananya, Band kami akan ikut lomba."
"Kapan? Di mana?!" tanya Sang Ayah begitu antusias.
Alexander meminum Jus Jeruk kesukaannya lalu menjawab, "Tanggal 30 April di Kota Bungaran. Lokasi dan Informasi lengkapnya, Alex lupa."
Erwin langsung meraih handphone miliknya di dalam saku jas. Dia langsung memasukan Tanggal 30 April sebagai agenda utamanya.
Baginya, jarang sekali melihat penampilan putra ke duanya. Saking berantusias Sang Ayah, notifikasi pesan di tempat kerjanya ia abaikan.
Alexander terheran-heran lalu bertanya, "Sedang apa, Ayah? Panggilan kerja?"
"Bukan, Ayah menulis agenda untuk Tanggal 30 April. Ayah berjanji, bahwa ayah pasti akan menonton konsermu. Ayah akan kabari Ibu dan Kakakmu," jawabnya dengan penuh rasa bangga.
Dia teringat kenangan semasa kecil. Dulu semasa TK, Alexander berjalan seorang diri menuju sekolahnya. Tidak ada satu pun anggota keluarga yang menemani.
Terkadang, dia ditemani oleh seorang pembantu berusia empat puluh tahun bernama Mirna. Waktu itu, dia memenangkan peringkat pertama juara lomba menyanyi. Sayangnya, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang hadir.
Ibunya lebih memilih, berkumpul dengan temannya dibandingkan melihatnya memegang piala. Sedangkan Ayahnya, terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Berbeda sekali ketika Kakaknya menjuarai lomba Matematika dan Bahasa Inggris. Mereka semua hadir menyaksikan Kakaknya menerima piala dan penghargaan. Ayah dan Ibunya terus hadir setiap kali Kakaknya menenangkan lomba atau acara tertentu.
Mereka terus mendukung, menemani dan memenuhi apa yang kakaknya inginkan. Sedangkan Alexander, ketika menginginkan sesuatu Sang Ibu selalu menolak dan penuh pertimbangan.
Mengingat hal itu, dia lebih memilih menghabiskan makanannya dengan perasaan kecewa. Sang Ayah melihat reaksi putra ke duanya, membuat dirinya sangat bersalah.
Erwin sambil memandang putranya berkata, "Kali ini, Ayah janji pasti datang," ucapnya di dalam hati.
__ADS_1
Selesai makan, Alexander pun diantar pulang oleh ayahnya. Di perjalanan, Alexander terdiam memandangi suasa jalan di balik kaca mobil.
Matahari mulai terbenam, seluruh lampu rumah dan jalan mulai menyala. Erwin melihat jam tangan yang ia kenakan.
Rupanya, waktu sudah menunjukkan jam enam sore. Sehabis mengantar Alex, rencananya ia akan langsung pulang ke vila. Namun, melihat jarak menuju Hotel tempat tinggalnya berada di Kota sebelah membuatnya berencana untuk menginap di Rumah Alex.
"Alex, rencananya setelah mengantarmu pulang Ayah ingin kembali pulang ke hotel. Sayangnya, hari sudah mulai gelap dan seluruh karyawan perusahaan sudah jam pulang. Boleh Ayah menginap semalam?"
Alexander menoleh kepada Ayahnya lalu menjawab, "Boleh. Ayah tidak perlu meminta izin, kapan pun boleh."
Erwin tersenyum lalu berkata, "Terima kasih, Alex. Ayah jadi penasaran, bagaimana suasana rumah nenekmu setelah ditempati oleh kamu."
Kedua matanya terbuka lebar, dia syok begitu teringat Tiara tinggal serumah dengannya. Jantungnya berdegup kencang, ia pun berkeringat dingin hingga sampai di rumahnya.
Sesampainya di rumah Erwin, putra keduanya Alexander dan Anton merupakan seorang supir pribadi turun di depan gerbang. Alexander mulai membukakan pintu gerbang rumahnya lalu mobil dikendarai oleh supir itu masuk ke dalam halaman rumah.
Ketika Erwin hendak memegang gagang pintu Alexander memegang tangannya. Lalu Alex berkata, "Jangan masuk, Ayah."
"Kenapa? Kenapa Ayah tidak boleh masuk?"
"Rumah Alex berantakan, Alex mau bersih-bersih dulu sebentar."
Buru-buru, Alexander membuka pintu dan langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa sepengetahuan Ayahnya, Alexander mengunci pintu rumah secara perlahan.
"Tunggu sebentar, Ayah. Alex mau bersihkan rumah dulu!"
Mau tidak mau, Erwin dan Supir pribadinya menunggu di teras depan. Sementara itu, beberapa menit sebelumnya setelah mengunci pintu Alexander pergi menuju halaman belakang rumah. Dia teringat baju dan pakaian dalam milik Tiara.
Betapa terkejutnya Alex, melihat Tiara sudah berada di halaman belakang. Mereka saling berpandangan dan sama-sama terkejut.
Tiara sambil mengelus dada berkata, "Sayang! Bikin kaget saja!"
"Sama, aku juga kaget tau. Aku kira kamu hantu!"
Tiara menjadi sangat cemberut, dia teringat kembali momen Alexander meninggalkannya sendirian di taman karena suatu kesalahpahaman. Lalu dia pun berkata, "Terus kamu bakal tinggalin aku sewaktu di Taman?"
Alexander tertawa lalu berkata, "Enggak sayang. Kamu lucu juga kalau lagi cemberut," ucapnya sambil memainkan pipi kekasihnya.
Tiara melepas kedua tangan Alex lalu mengusap pipinya sambil bertanya, "Udah, ih! Ngomong-ngomong, di mana Ayah?"
Alexander sambil menunjuk ke belakang dengan jempol sambil berkata, "Ayahku dan supirnya ada di teras depan."
"Kalau begitu, kita harus cepat. Gawat kalau sampai Ayahmu tau keberadaan ku di sini!"
"Kamu benar!"
__ADS_1
Buru-buru, mereka berdua membereskan dan mengamankan barang milik Tiara agar tidak diketahui oleh Ayah Alex secara tergesa-gesa. Di waktu yang bersamaan, Erwin beserta supirnya duduk di teras depan. Mereka berdua mendengar suara cukup ramai di dalam rumah.
"Segitunya, padahal rumahnya yang berantakan pun aku tidak marah," ujar Erwin.
"Mohon maaf Tuan, mungkin Tuan Muda ingin memberikan kejutan dan pelayanan terbaik kepada Tuan. Apalagi Tuan jarang-jarang berkunjung ke rumah Tuan Muda," timpal Supir pribadinya.
Erwin tersenyum lalu berkata, "Mungkin kamu benar, Anton. Semenjak kepindahannya ke sini, Putra ke dua ku benar-benar berkembang."
Senyumannya pun memudar, ketika mendengar suara gadis di dalam rumah. Sontak dia mengintip melalui jendela rumah. Sayangnya, gorden rumah menghalangi pandangan sehingga Erwin tidak bisa melihat suara di dalam dari luar.
"Anton, apa kamu dengar suara gadis di dalam rumah?" tanya Erwin berusaha mengintip.
"Iya, aku juga mendengarnya Tuan," balasnya ikut mengintip karena penasaran.
Mereka berdua diselimuti rasa penasaran. Kemudian, mereka berdua berdiri dari tempat duduknya. Rencana, mereka berdua ingin memasuki rumah dari pintu belakang.
Belum sempat mereka berjalan, pintu rumah pun mulai terbuka. Mereka melihat, seragam yang dikenakan oleh Alex kotor dan basah oleh keringat.
Alexander dengan nafas ngos-ngosan pun berkata, "Silahkan masuk."
Di atas meja tamu, terdapat tiga gelas besar berisi susu. Mereka semua duduk lalu Alexander mempersilahkan Ayah dan Supir Pribadinya untuk minum.
Seteguk susu masuk ke dalam kerongkongan mereka berdua. Kedua mata Erwin beserta supirnya terbuka lebar.
Kesegaran susu sapi, bercampur dengan madu dan suhu yang sejuk menciptakan sensasi belum pernah mereka rasakan. Puluhan susu pernah mereka rasakan tidak ada apa-apanya dengan susu telah mereka minum.
"Baru pertama kali, Ayah minum susu senikmat ini. Apa ini susu impor? Kamu beli di mana?" tanya Erwin begitu penasaran.
"Benar Tuan Muda, susu ini sangat enak sekali. Tenggorokan serta tubuh saya terasa segar," sambung Sang Supir memuji susu telah ia minum.
"Alex tidak tau ayah, susu ini pemberian teman."
Erwin kembali meminum susu itu hingga setengah gelas. Sedangkan Supir privasinya, pamit duduk di luar untuk menghisap sebatang rokok.
Puas meminum susu, beliau meletakkan gelas itu di atas meja. Alexander melihat, Ayahnya memandang sekitar rumah.
"Ayah kira, suasana di dalam rumah mu seperti kapal pecah. Tidak disangka, begitu Ayah masuk suasa rumah begitu bersih. Bahkan di halaman rumah pun tidak terlihat rumput liar. Kamu benar-benar berubah, Ayah bangga sama kamu. Pantas saja kamu buru-buru masuk ke dalam," puji Erwin kepada putranya.
Alexander tersenyum lalu berkata, "Terima kasih, Ayah. Habisnya, jarang-jarang Ayah berkunjung ke mari."
"Memang seharusnya begitu, apalagi menjamu tamu. Ngomong-ngomong, Ayah mendengar suara gadis di dalam rumahmu," ujarnya lalu memandang putranya dengan raut wajah serius.
Jantung Alexander berdegup kencang, ketika memandang raut wajah ayahnya yang serius. Dia pun terdiam sambil menundukkan pandangannya. Dirinya sangat khawatir, jika Ayahnya tau bahwa Tiara tinggal serumah dengannya.
Erwin memandang curiga sambil berkata, "Jangan-jangan, kamu menyembunyikan sesuatu dari Ayah."
__ADS_1