
Tidak terasa, hari esok pun telah tiba. Suara gadis yang tak asing, membuat Alexander perlahan terbangun.
"Bangun sayang, bangun. Mau sampai kapan kamu tertidur terus?" ucapnya dengan lembut.
Alexander pun menoleh kepada kekasihnya. Dia melihat Tiara mengatakan hal itu kepada kepalanya.
Sontak Alexander pun langsung menarik kedua pipi kekasihnya dengan gemas sambil berkata, "Gak harus bicara di depan kepalaku juga kali.."
Tiara tertawa lalu berkata, "Maaf-maaf, aku kira Mic ternyata manusia tampan," ucapnya sambil merasakan cubitan gemas dari Alex.
Alexander berhenti mencubitnya lalu saling berpandangan. Kemudian gadis itu merangkak dan berdiri di samping kasur.
Tiara menoleh kepada Alex lalu berkata, "Yuk, sarapan. Jangan sampai, kita terlambat lagi ke sekolah."
Tiara pun berjalan keluar kamar, sementara Alexander berjalan dengan raut wajah masih mengantuk pun menyusulnya. Kemudian sambil berjalan ia berkata, "Iya-iya."
Sesampainya di dapur, Alexander di bangku meja makan. Dia melihat Tiara sedang memasukkan sayur dan tahu ke dalam mangkuk.
Aroma khas tahu, sayur dan rempah-rempah bercampur menjadi satu. Perutnya keroncongan tak sabar untuk menikmatinya. Alexander penasaran, bagaimana rasa masakan Tiara hari ini.
Sarapan pun telah siap, ia membawa mangkuk sedang berisi tahu dan sayuran di kedua tangannya. Kemudian tanpa rasa malu, dia pun duduk disamping Alex.
"Kenapa cuman satu mangkuk? Kamu sudah sarapan?"
"Belum, aku sengaja bawa satu mangkuk buat suapin kamu," jawabnya sambil mengaduk-aduk mangkuk dengan sendok.
Wajahnya tersipu malu lalu berkata, "Menyuapiku?!"
"Kenapa kaget begitu? Kamu kan pernah aku suapi," jawabnya membuat Alexander berpaling karena malu.
Tiara mendekatkan sendok pada Alex sambil berkata, "Hei, lihat sini. Bilang A!"
Jantung Alex berdegup kencang, wajahnya merah padam karena malu. Dia merasa diperlakukan anak kecil olehnya.
Alexander menoleh kepada Tiara dengan raut wajah merah padam. Lalu ia berkata, "Sudahlah, biar aku makan sendiri. Aku ini bukan bayi!"
Tiara tersenyum lalu berkata, "Iya, bayi besar. Lihat, rambutmu saja baru tumbuh, Botakku sayang." ucapnya sambil mempermainkan rambut Alex.
__ADS_1
Alexander mengubur wajahnya sendiri dengan kedua tangan di atas meja sambil berkata, "Kembalikan rambutku!" ucapnya dengan raut wajah merah padam.
Tiara tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Percuma, rambutmu tidak akan kembali secepat itu." ucapnya lalu menepuk meja sambil berkata, "Ayo, bangun sayang. Nanti tahunya nanti dingin."
Alexander pun bangun lalu menoleh kepada Tiara sedang memandanginya sambil tersenyum. Sekali lagi Tiara mendekati sendok itu kepada Alex. Malu-malu, ia pun mau disuapi.
Sesendok makanan masuk ke dalam mulutnya. Kelezatan masakan Tiara memang tiada duanya. Namun kali ini, ia merasakan citra rasa yang berbeda dari yang sebelumnya.
Alexander mengunyah makanannya sambil berkata, "Enak, seperti biasanya."
"Terima kasih, Botakku sayang," balasnya membuat Alexander tersipu karena julukan barunya.
"Masakan mu hari ini berbeda dari yang biasanya. Apa nama masakan ini?" tanya Alex sambil mengunyah makanannya.
"Sayur tahu bening, di dalam masakan ku kali ini tidak ditambahkan minyak. Ya, walau air kuahnya tidak bening. Aku kira rasanya kurang nikmat. Tapi syukurlah kalau kamu suka," ujarnya sambil menyuapi Alex.
Alexander mengunyah makanannya kembali bertanya, "Kenapa tidak ditambahkan minyak?"
"Sebab di Negara ini hampir semua jenis masakan menggunakan minyak. Contohnya rendang, telur goreng, martabak dan lain sebagainya. Terlalu banyak minyak tidak sehat. Selain menambah kolesterol, juga menimbulkan berbagai komplikasi penyakit," ucapnya layaknya seorang ahli gizi.
"Alexander mengunyah makanannya sambil berkata, "Kamu benar Tiara."
"Hebat, kamu sudah terlihat seperti ahli gizi," puji Alexander kepada Tiara.
"Bisa saja kamu, Botakku sayang. Aku hanya menjelaskan apa yang pernah aku baca sebelumnya," balas Tiara membuat Alexander terkagum-kagum dengan kepintarannya.
Setelah itu, Tiara kembali menyuapi kekasihnya. Nuansa romantis dirasakan oleh mereka berdua. Alexander merasa, bahwa dunia milik berdua.
Parasnya yang cantik, bertutur kata lembut dan selalu memanjakan ya setiap saat. Apalagi momen kemarin sore setelah ia mencukur rambutnya.
Tidak terasa, mangkuk berisi sayur bening telah habis. Dia melihat Tiara begitu senang melihatnya.
Alexander tersenyum lalu berkata, "Tiara, terima kasih sudah merawat ku. Padahal, kamu tidak perlu berlebihan memanjakan ku."
Tiara tersenyum lalu berkata, "Tidak perlu berterima kasih. Sudah sewajarnya seorang istri memanjakan suaminya." Kemudian dia mendekati daun telinganya sambil berkata, "Terutama masalah biologis," bisiknya membuat Alexander salah tingkah.
Alexander berpaling dengan raut wajah tersipu lalu berkata, "Ada yang kamu inginkan?"
__ADS_1
Tiara menempelkan ujung jarinya pada dagu sambil berkata, "Keinginan? Sepertinya tidak ada."
"Jangan begitu Tiara, kamu sudah merawat ku. Setidaknya aku ingin memberikan mu hadiah," balas Alexander kepada Tiara.
"Kalau begitu, sekarang gantian kamu suapi aku. Terus, kalau sempat hari ini temani aku belanja."
"Hanya itu?"
Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepala lalu berkata, "Padahal kamu tidak perlu memberiku hadiah dan lainnya. Bisa hidup berdua denganmu adalah anugerah terindah dan itu lebih dari cukup."
Kedua mata Alex tak berkedip, dia terus memandangi Tiara. Perkataannya membuat hati Alexander tersentuh lalu ia pun berdiri sambil tersenyum.
"Aku ambil ambil sarapan," ujarnya sambil berjalan mendekati wajan.
Setelah itu, Alexander mulai menyuapinya. Melihat Tiara tersenyum senang membuat Alexander salah tingkah.
"Nikmatnya, disuapi oleh suami sendiri. Coba setiap hari," ucapnya membuat Alex salah tingkah. Ia menoleh pada sebuah jam dinding yang ada di dapur, "Sekarang sudah setengah tujuh. Padahal, aku ingin lama-lama di sini."
Alexander pun menoleh pada jam dinding. Dia teringat pembullyan telah ia alami kemarin.
Wajahnya menjadi murung dan kurang bersemangat. Tiara mengetahui hal itu, dia terus memperhatikan Alex sejak kemarin.
"Sayang, aku perhatikan sejak kemarin wajahmu terlihat murung. Sebenarnya ada apa? Kamu masih memikirkan anak-anak berengsek itu? Atau apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Tiara begitu khawatir.
Alexander terdiam kaku, jantungnya berdegup kencang sambil memandang ke depan. Kemudian dia menoleh sambil tersenyum.
"Aku masih memikirkan anak-anak dari sekolah lain itu," ucapnya berbohong.
Tiara terdiam mendengar jawaban kekasihnya. Dari caranya bereaksi, tutur katanya ketika menjawab dan senyuman palsunya membuat Tiara semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan.
"Kamu tau sendiri kan, klitih itu tidak mandang waktu dan tempat," ucap Alex melanjutkan perkataannya.
"Aku mengerti, tapi bukan itu kan yang kamu pikirkan?" tanya Tiara dengan serius.
Alexander terus membantahnya, namun semakin banyak ia beralasan kebohongan semakin terlihat. Tiara hanya mengiyakannya saja.
Tiara memandang Alex dengan penuh khawatir lalu berkata, "Aku tidak tau apa yang kamu sembunyikan dariku. Tapi sayang...," ujarnya lalu mencium kening Alex. Setelah itu, Tiara menggenggam kedua tangan Alex sambil berkata, "Kamu harus ingat, bahwa ada aku di sisimu. Jika kamu sudah siap, tolong ceritakan semuanya kepadaku. Aku siap mendengarkan kapan pun."
__ADS_1
Alexander tersenyum mendengar perkataan kekasihnya. Hatinya tersentuh hingga membuatnya hampir berlinang. Dia langsung berpaling walau Tiara sudah menyadarinya.
Setelah itu, Alexander kembali menyuapinya sampai habis. Selesai sarapan, mereka berdua berdiri lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.