Senar Takdir

Senar Takdir
Paket Tiara


__ADS_3

Mendengar hal itu, Wulan tersenyum lalu menepuk pundak temannya sebanyak tiga kali. Tiara melihat Wulan, membawa empat buku terlihat sudah usang. Dia penasaran, mengenai buku berada di kedua tangannya dan ia pun bertanya mengenai buku tersebut.


"Buku ini adalah buku tentang cara menulis dan membaca. Aku akan mengajarimu tentang cara menulis. Sebagai permulaan, aku akan memperkenalkan 26 huruf abjad," ujarnya menjawab pertanyaan temannya.


Wulan mulai memperkenalkan, dua puluh enam huruf abjad dimulai dari huruf A sampai Z. Setelah itu, dia memperkenalkan angka dan tanda baca. Dua jam lamanya, dia memperkenalkan dan mengajari Tiara cara membaca dan menulis. Kedua kelopak mata terasa berat, dia terus menguap sela dia mengajar. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan ia sudah mencapai batasnya.


"Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Sudah waktunya, bagi kita untuk tidur," kata Wulan sambil menutup buku paketnya.


"Baik, guru."


"Tidak perlu panggil aku guru, cukup panggil namaku saya," timbal Wulan sembari menguap.


"Ok, Wulan," balas Tiara.


Mereka berdua berbaring di atas kasur masing-masing. Wulan merangkak dari kasur lalu mematikan lampu kamar. Keesokan harinya, suara alarm ponsel berbunyi. Tiara mulai terbangun dari tidurnya, dia melirik ke segala arah mencari asal suara tersebut. Kemudian dia mendekati Wulan sedang tertidur. Dia menepuk betisnya hingga Wulan terbangun.


"Bangun Wulan, aku mendengar suara aneh!"


"Hmm...., itu bukan suara aneh tapi alarm ponselku."


"Alarm?"


"Iya, suara yang berasal dari ponsel. Biasanya berbunyi, pada waktu yang sudah ditentukan."


Tidak berselang lama, suara ketukan pintu kamar mulai terdengar. Mereka berdua, berjalan keluar dari kamar lalu Tiara duduk bersama Wulan dan keluarganya. Di atas meja, terdapat tiga menu utama yaitu nasi goreng, telur goreng dan mie. Tiara terdiam, melihat menu makanan berada di atas meja. Dia hanya tersenyum manis memandang keluarga Wulan.


"Ayo, Tiara. Silahkan ambil," pinta Ibu Wulan kepadanya.


"Iya," jawabnya lalu mengambil piring dan sendok.


Mereka semua, mulai menikmati sarapan pagi. Sejak tadi, adik laki-laki dan kedua orang tua Wulan terus memperhatikan dirinya. Tiara merasa malu, sekaligus canggung di hadapan mereka semua. Wulan menyadari hal itu, dia berhenti mengunyah dan meletakkan sendoknya.


"Papah, mamah jangan melihat Tiara seperti itu," kata Wulan.


"Habisnya, mamah tidak menyangka kamu punya teman secantik ini," puji Sang Ibu kepada Tiara.


"Tidak, Ibu berlebihan. Justru Wulan paling cantik," timbalnya kepada Ibu Wulan.


"Ngomong-ngomong, kamu sekolah di mana?" tanya Ayah Wulan.


"Anu..."


Kepala Tiara terasa pening, dia mengangkat lengan bawahnya. Kedua telapak tangannya bersinar lalu sinar itu mengenai kedua adik dan kedua orang tua Wulan.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Wulan terkejut melihat keluarganya terdiam tanpa berkedip.


"Maaf Wulan, aku hanya reflek melakukannya. Identitasku sebagai bidadari, tidak boleh diketahui sembarang orang."


"Hmm....., aku mengerti. Tapi, apa yang terjadi pada keluargaku?"


"Tenang, mereka baik-baik saja. Aku hanya menggunakan kesaktian ku untuk mencuci pikiran mereka. Maaf Wulan, bolehkah aku mencuci otak mereka dan menganggap ku sementara sebagai adikmu? Aku berjanji hanya sebentar. Setelah aku bertemu dengan suamiku dan tempat yang layak, pasti akan aku kembalikan mereka seperti sebelumnya."


"Hmm...., silahkan."


Sinar pada telapak tangan Tiara mulai menghilang, keluarga Tiara kembali seperti sebelumnya. Mereka semua, kembali menikmati sarapan pagi bersama. Wulan dan Tiara, mengambil piring kotor dan meletakkannya di wastafel. Mereka berdua, mencuci piring satu persatu hingga bersih.


"Kalian berdua, cepatlah. Hari ini ada MOS bukan?" kata Sang Ayah.


"Iya, Papah. Tapi Tiara tidak bisa ikut."


"Hah?! Kenapa Tiara? Masa Orientasi Siswa itu momen paling dinanti."


"Tiara belum daftar sekolah," jawab Wulan membuat Sang Ayah menepuk jidatnya.


"Tiara! Satu hari ada 24 Jam, selama ini kamu ngapain saja?! Contoh kakakmu, walau dia hanya berdiam diri di kamar tapi dia bisa memanfaatkan waktu dengan baik."


"Maaf, Papah. Tiara salah," timbalnya sambil menunduk.


"Ya, sudah. Karena ini darurat, cepat kamu siapkan dokumennya. Kebetulan, Papah masih punya satu formulir pendaftaran tersisa. Kamu isi dan berikan kepada papah. Tapi sayangnya, kamu tidak bisa ikut kegiatan MOS."


Setelah itu Tiara dan Wulan berjalan ke dalam kamar. Mereka berdua duduk bersandar di atas kasur.


"Sekolah itu apa ya?" tanya Tiara dengan polosnya.


"Ya, ampun. Kukira kamu ngomong begitu karena sudah tau. Sekolah itu, merupakan tempat bagi anak-anak dan remaja sepertiku untuk belajar," jawab Wulan.


"Memangnya, di sekolah kamu belajar apa?"


"Banyak hal."


"Wah, menarik! Apa aku bisa bertemu, suamiku?"


"Selama kalian satu sekolah, kemungkinan untuk bertemu sangat besar."


"Kalau begitu, ayo kita ke sekolah sekarang!" timbalnya sambil menarik tangan Wulan ke luar kamar.


"Hei, tenanglah! Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Kamu harus daftar dulu," balas Wulan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Hah, begitu rupanya," timbalnya lalu berjalan menunduk kembali masuk ke dalam kamar.


Tiara berbaring di atas kasur, dia memandang langit-langit dengan wajah murung. Wulan terdiam memandang temannya sambil menggelengkan kepala. Dia meraih ponselnya berada di atas kasur. Kemudian ia mulai memainkan game Mobile Legend sambil berbaring di atas kasur.


"Tiara, jangan murung seperti itu. Mending kamu siapkan Kartu Keluarga, Nomer Induk Siswa dan lainnya."


"Tapi, aku tidak punya."


Wulan terdiam, dagunya bersandar pada kedua jarinya. Dia berpikir keras, bagaimana caranya membuat dokumen dan alasan kepada Sang Ayah. Suara ketukan kaca mulai terdengar namun mereka berdua mengabaikannya. Semakin lama, suara ketukan jendela kamar semakin keras terdengar. Padahal, kamar Wulan berada di lantai dua. Tidak mungkin ada manusia bisa mengetuk jendela kecuali memiliki tinggi 100 m.


"Paket Olimpus!" sahut seseorang di balik kaca.


Suara itu terdengar tidak asing bagi Tiara. Mereka berdua, berjalan mendekati jendela kamar. Hordeng mulai terbuka, mereka berdua melihat sosok gadis cantik berambut hijau dan bermata biru. Kulitnya yang putih bagaikan salju, tubuhnya aduhai menunggangi pegasus. Baju zirah berwarna emas, membuat sosoknya terlihat cantik dan gagah.


"Mira! Ada apa kamu ke sini?" tanya Tiara.


"Hallo, Tiara. Paket untukmu, ambilah."


Tiara mengambil sebuah map berwarna coklat dari Mira. Dia membuka isi map tersebut. Di dalam map, terdapat berbagai macam dokumen penting seperti Kartu Keluarga, Nomer Induk Siswa, Akte kelahiran dan lain sebagainya. Wulan melihat semuanya hanya terdiam sambil berkedip. Baru pertama kali, dia melihat sosok wanita menunggangi pegasus.


"Dokumen itu bisa berubah sesuai kebutuhanmu," kata Mira.


"Wah! Terima kasih, tidak aku sangka Dewi Cinta sampai melakukan hal ini untukku."


"Tentu saja, dia sangat mengkhawatirkan mu seharian. Hei, namamu Wulan bukan?"


"Iya," jawabnya tanpa berkedip.


"Perkenalkan namaku, Mira. Aku ini adalah teman Tiara, sekaligus mantan bawahannya. Salam kenal!"


"Salam kenal," balasnya lalu tersenyum.


"Kamu tidak apa-apa, terbang seperti itu? Kamu tidak takut, ada manusia yang melihatmu?" tanya Wulan.


"Tenang saja, tidak ada seorang pun manusia melihat wujudku. Mereka hanya melihatku sebagai pantulan sinar matahari."


"Begitu rupanya."


"Hei, Wulan. Sekarang kamu itu adalah saudaranya, tolong jaga Tiara untukku," pinta Mira.


"Tentu."


"Sudahlah Mira, aku malu!"

__ADS_1


"Ha.ha.ha! Habisnya, kamu tidak akan kembali ke Negeri Olimpus. Setidaknya, aku ingin mengatakannya untuk terakhir kalinya," balasnya membuat Tiara tersenyum sedih.


Setelah itu, pegasus yang Mira tunggangi mulai mengepakkan sayap dan terbang ke langit. Tiara melihat teman sekaligus mantan bawahannya untuk terakhir kalinya. Dia sangat bersedih, melihat ia berpisah dengan teman terdekatnya di Negeri Olimpus.


__ADS_2