Senar Takdir

Senar Takdir
Pengakuan Cinta


__ADS_3

Empat lelaki itu, menoleh kepada mereka berdua lalu Wulan dan Hana duduk tepat di samping Tiara. Bobi dan Hana, saling beradu kepalan sebagai tanda pertemanan. Rupanya, Bobi merupakan teman Hana semasa SMP. Ikatan pertemanan mereka berdua, terus terjalin hingga sekarang.


"Tiara, sepulang sekolah mau aku antar pulang?" tawar Ilham.


"Tidak perlu, aku pulang sama Wulan."


"Hmm...., sepulang sekolah bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota? Kebetulan, banyak tepat menarik di pusat kota?" tawar Ilham kepada mereka semua.


Hana dan ketiga teman Ilham setuju, sedangkan mereka berdua hanya tersenyum serta tertawa cengengesan. Kemudian, mereka berdua menolak dengan alasan. Wulan beralasan, bahwa hari ini ada acara keluarga yang harus di hadiri. Sedangkan Tiara beralasan, bahwa ia harus pulang cepat agar ayahnya tidak marah.


"Di mana rumahmu? Biar kami antar sekaligus ingin tau tempatmu tinggal. Siapa tau kita bisa main kalau senggang," kata Martin.


Mendengar hal itu, membuat Tiara merasa tidak nyaman lalu ia melirik ke arah sahabatnya. Dia berharap, Wulan dapat menolongnya dan menuntunnya ke jalan keluar dari permasalahan sedang ia hadapi. Lonceng telah berbunyi, seluruh kegiatan belajar telah terhenti.


Seluruh siswa, berlarian keluar dan berjalan dalam berbagai urusan. Alexander dan Tamrin terlihat dari kejauhan, mereka masih mengenakan baju olahraga. Baju mereka berdua, terlihat kotor dan basah oleh keringat.


"Hei, gadis-gadis! Cepat ganti baju dan ambil tas kalian di dalam kelas sebelum kelas dikunci," perintah Alex selaku Ketua Kelas kepada Wulan, Tiara dan Hana.


"Siap Ketua!" balas kompak mereka bertiga.


"Kalau begitu, kami ke kelas dulu," ujar Tiara berpamitan kepada Ilham dan dua temannya.


"Ok, hati-hati. Kapan-kapan kita main ke kelas kalian," balas Ilham.


Mereka semua berjalan kembali ke kelas. Hana tiada henti membicarakan Ilham dan kedua temannya. Ia terus menggoda Tiara agar terpikat olehnya namun Tiara hanya menanggapinya dengan tertawa.


Ilham memiliki paras yang tampan. Selain itu, dia juga merupakan atlet sepak bola terkenal. Dia merupakan seorang putra Wakil Gubenur. Telinga Alex semakin panas mendengarnya. Apalagi ketika ia berkata, bahwa Tiara lebih pantas bersama Ilham.


"Hei, bisa diam tidak?!" gertak Tamrin.


"Kamu kenapa sih?!" timbal Hana.


Wulan menepuk pundaknya, Tamrin pun menoleh ke arahnya lalu dia melihat gadis itu menggelengkan kepala. Sontak, Tamrin pun tersenyum lebar sambil memasang raut wajah konyol.


"Kasihan fansnya nanti!" canda Tamrin.


"Ha.ha.ha! Aku kira apa. Benar juga, kasihan fansnya nanti," timbalnya.


Sesampainya di kelas, mereka semua mengambil tas masing-masing lalu mereka keluar meninggalkan kelas. Dari kejauhan, Bobi terlihat melambaikan tangan kepada Hana. Dia pamit kepada mereka berempat lalu berjalan menghampiri temannya.


Empat serangkai menyebrangi jalan, Tiara membonceng motor Wulan sedangkan Alexander dan Tamrin mengendarai motor masing-masing. Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Kedai Mie Pak Moto. Mereka langsung memesan.


"Ayo ke parkiran, ada yang ingin aku dan Tamrin bicarakan denganmu," bisik Wulan kepada Alex.

__ADS_1


Alexander menganggukkan kepala lalu menitipkan tas mereka bertiga kepada Tiara. Mereka bertiga, pamit ke tempat parkir dengan beralasan bahwa ada hal yang ingin dibeli dan meminta Tiara untuk menunggu tempat agar kursi tidak diambil oleh pelanggan yang lain.


Sesampainya di parkiran, Alexander berdiri menghadap mereka berdua. Wajah mereka tampak serius, seperti ada hal penting yang ingin mereka bicarakan.


"Aku sudah tau semuanya," kata Tamrin.


"Soal apa?"


"Hubunganmu dengan Tiara. Wulan sudah menceritakan semuanya kepadaku, Bos. Rupanya kalian belum berpacaran. Benar bukan?"


"Hmm...."


"Bos, sudah tau situasinya bukan? Jika Bos tidak cepat-cepat, Tiara bisa berpaling," kata Wulan.


"Tiara di rebut, nanti nangis," ledek Tamrin kepada Alex sejak tadi terdiam.


"Aku tidak yakin Tamrin. Aku ini cuman lelaki biasa banyak kekurangan," balas Alex kepada mereka berdua.


"Dengar Mr. Pesimis! Tiara sangat menyukaimu! Soal mengenal, lambat laun kalian juga akan saling mengenal!" kata Wulan kepada Alex sedang pesimis.


"Benar, Bos. Sekarang, Bos tinggal memilih apakah Bos merelakan Tiara bersama yang lain atau mendapatkannya sekarang juga. Dua pilihan itu, Bos yang tentukan," sambung Tamrin membenarkan perkataan Wulan.


"Setelah makan, kami bantu memberikan ruang privasi untuk kalian berdua. Selanjutnya, silahkan minta maaf dan nyatakan perasaanmu saat itu juga Bos."


"Bos tinggal siapkan saja pajak jadiannya," kata Tamrin sambil cengengesan.


"Hmm...."


"Sebentar sekali!" sindir Tiara kepada mereka bertiga.


"Ha.ha.ha! Maaf, di luar banyak yang antri," balas Tamrin.


Mereka bertiga, mulai menikmati menu makan siang. Citra rasa rempah-rempah, bercampur menjadi satu menciptakan kelezatan memanjakan lidah. Apalagi ada tiga warna mie di atas meja yaitu hijau, kuning dan ungu. Warna tersebut berasal dari pewarna alami seperti bayam, ubi ungu dan lain sebagainya.


Canda dan tawa mereka bertiga membuat Alexander tersenyum. Dulu semasa sekolah dasar hingga menengah pertama, Alex belum pernah makan bersama teman-temannya. Setiap sepulang sekolah, ia langsung kembali pulang ke rumah. Bahkan, makan di luar bersama keluarga ia belum pernah.


Suasana hangat yang ia rasakan membuat hati Alexander tersentuh. Air mata hampir terjatuh mengenai meja. Beruntung, dia langsung mengusap air matanya sebelum mereka bertiga sadar. Selesai makan, Alexander dan Tamrin membayar semuanya. Lalu, mereka semua berjalan menuju parkiran.


"Bos, aku ada urusan. Bisakah Bos, mengantar Tiara pulang?" pinta Wulan.


"Bisa, tapi aku belum tau rumahnya."


"Tidak usah, kamu pesankan aku ojek online seperti biasa," balas Tiara kepada Wulan.

__ADS_1


"Tidak boleh! Biar Bos saja mengantarmu pulang, kalian berdua jalan-jalan saja. Nanti aku share lokasinya ke nomer telpon Bos," timpal Wulan.


"Ya, sudah. Gue pulang dulu guys," kata Tamrin berpamitan pada mereka bertiga.


"Hati-hati," balas mereka bertiga.


Alexander dan Tiara menaiki motor, mereka berdua melaju meninggalkan parkiran. Tiara tersipu malu, ia terus tersenyum senang ketika dirinya berduaan dengan Alex. Sekian lama dia menunggu, akhirnya dia bisa berdua dengan Sang Pujaan hati.


Kedua tangannya menjulur ke depan lalu memeluk Alex dengan cukup erat. Kepalanya, mulai bersandar pada punggungnya membuat Alexander salah tingkah. Tetapi dia penasaran, ke mana Alexander membawanya pergi.


"Mau ke mana kita?" tanya Tiara.


"Taman Kota."


Sekian lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di kawasan parkiran. Mereka berdua berjalan beriringan menuju Taman Kota berada pinggir sungai. Sinar matahari bersinar terang, perlahan sinar matahari tertutup oleh awan. Awan itu seolah-olah menjadi payung alami melindungi mereka berdua dari sinar matahari.


Mereka berjalan menelusuri taman lalu duduk, pada sebuah bangku tepat dibawah pohon yang rindang. Angin sejuk mulai berhembus, tangannya seolah tertarik untuk menempel pada lengan Tiara. Gadis itu menoleh ke arahnya, mereka berdua tersipu malu.


Lambat laun, akhirnya kedua bahu mereka saling menempel dan kedua tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.


"Kamu masih ingat, tempat pertama kali kita bertemu?"


"Aku masih ingat, bahkan aku terus mengingatnya hingga sekarang," balasnya dengan intonasi lembut.


Suasana cukup sepi, beberapa orang terlihat berjalan melintasi taman. Kini, sudah saatnya bagi Alexander untuk mengungkapkan rasa yang ada di dalam hatinya.


"Tiara," panggil Alex lalu ia membalas, "Iya?"


"Ada yang ingin aku katakan."


"Apa itu?" tanya Tiara.


"Sewaktu pertama kali kita bertemu, aku telah jatuh cinta kepadamu. Maaf, waktu itu aku meninggalkanmu sendirian. Awalnya aku kira, kamu itu hantu," ujarnya meminta maaf.


"Ha.ha.ha! Tenang suamiku, wajar saja kamu lari dariku sebab mana ada gadis mengenakan samping dan baju dayang saat gelap," balasnya membuat Alex tersenyum.


"Maaf Tiara, aku ini hanya lelaki cengeng dan membosankan. Nilai Akademi buruk, parasku tidak setampan Lee Min Ho, jumlah temanku hanya sedikit dan aku hanyalah anak rumah yang kesepian. Sebaiknya, kamu lebih baik bersama Ilham atau anak populer lain."


Tiara tersenyum manis kepadanya, perlahan wajahnya mulai mendekati Alexander sedang tertunduk lemas. Dia memegang dagunya lalu menariknya hingga saling berpandangan. Betapa terkejutnya Alex, ketika Tiara menciumnya.


Bibir mereka saling bersentuhan, dia melihat mata Tiara terpejam. Kedua tangannya yang gemetar sempat terhenti lalu ia memeluknya. Alexander merasa, bahwa perasaan serta jiwanya terhubung oleh ciuman. Kehangatan tubuhnya mulai ia rasakan seiring dengan kebahagiaan yang dia rasakan. Setelah berciuman, mereka berdua saling berpandangan.


"Sayang, sejak pertama kali kita bertemu aku juga telah jatuh cinta padamu. Beribu-ribu lelaki tampan yang pernah aku temui, bagiku kamulah paling tampan. Aku bersyukur, Dewi Cinta mempertemukan kita. Kamu memang bukan lelaki sempurna, tetapi kekuranganmu itu menjadi kelebihan bagiku. Lagi pula, kita ini sepasang suami istri. Aku pasti akan terus merawat dan selalu berada di sampingmu, suamiku. Tolong jaga aku," balasnya membuat Alexander tersentuh dan menangis.

__ADS_1


"Terima kasih, aku pasti akan menjagamu!" balasnya sambil memeluknya dengan erat.


Alexander melepas pelukan, mereka kembali saling berpandangan. Tiara mengusap air matanya lalu mengecup pipinya membuat Alexander tersenyum. Kemudian dia memeluk tangan kiri Alexander dengan cukup erat.


__ADS_2