Senar Takdir

Senar Takdir
Ruang Musik


__ADS_3

Setelah itu, mereka bertiga saling meminta maaf. Tiara mendekat, tangan mereka berempat menjulur ke depan lalu dengan kompak mereka berkata Empat Serangkai sambil mengangkat tangan ke atas.


Kesalahpahaman telah berakhir, Alexander senang bisa melepas belenggu masa lalu di dalam dirinya. Selain itu, dia bisa menjalani hari seperti biasa dengan empat temannya.


Sebagai tanda kembalinya, hubungan harmonis Empat Serangkai. Mereka berempat, membeli menu makan siang di Kantin dan menikmatinya bersama-sama. Kini, Wulan dan Tamrin tau mengenai rasa trauma dimiliki oleh Alex.


Sebisa mungkin mereka berusaha perasaan Alex. Selain itu, berusaha menghindari apapun pemicu trauma dan peluang terjadinya pembullyan.


Selesai makan siang, mereka berempat berjalan menelusuri lingkungan sekolah. Sinar matahari menusuk kulit, beberapa siswa terlihat berlarian sekitar lingkungan sekolah.


Wulan, Tiara dan Tamrin tidak tau kemana mereka melangkah. Mereka bertiga, hanya mengikuti kemana Alexander melangkah.


"Alex, mau ke mana kita?" tanya Tiara.


"Rencananya, gue mau lihat-lihat ekskul di sekolah ini. Dulu semasa SMP, gue belum pernah mengikuti ekskul apapun. Kali ini, gue mau gabung salah satu ekskul," jawab Alex.


"Bagus, Bos! Mengikuti ekstrakulikuler, merupakan langkah awal memperluas jaringan pertemanan sekaligus memasuki Dunia Sosial," puji Tamrin mendengar jawaban Alex.


"Perkataanmu seperti veteran perang saja,"canda Wulan lalu ia bertanya,"Memangnya sewaktu SMP, elu gabung ekskul apa?" tanya Wulan.


"Hmm....., dulu Basket, Badminton, Catur, Drama, menjahit, Panduan Suara dan Sepak Bola," jawab Tamrin.


"Banyaknya!" timpal kompak mereka bertiga.


"He.he.he, hanya dua bulan,"kata Tamrin lalu mereka bertiga membalas,"Hmm..," dengan wajah datar.


Tamrin berkata, bahwa alasannya berpindah ekstrakulikuler karena ia gampang bosan. Terutama, para anggota salah satu ekskul penuh drama dan cenderung serius, walau pada akhirnya ia berakhir tidak mengikuti ekskul apapun.


"Bagaimana denganmu Wulan?" tanya Tiara.


"Hmm..., kalau gue pernah ikut ekskul Taekwondo. Asal kalian tau saja, gue dapat dua mendali perak."


"Wow, keren!" puji Alexander dan Tamrin.


"Pasti, elu masuk jalur prestasi dan sudah bergabung dengan Ekskul Taekwondo di Sekolah ini!" tebak Tamrin dengan begitu heboh.


"Tidak, gue masuk lewat jalur biasa. Lagi pula, gue gak berminat gabung ke Ekskul itu."


"Kenapa?" tanya Tiara lalu Wulan menjawab,"Bosan."


Di balik jawabannya yang singkat, terdapat kebohongan dan mereka bertiga percaya begitu saja.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu, Tiara?" tanya Tamrin.


Tiara terdiam, mendengar peranyaan yang dilontarkan oleh Tamrin. Sebelumnya, dia sama sekali tidak menjalani pendidikan. Sehari-hari, dia menjalani pekerjaannya sebagai Kepala Pelayan di Istana milik Dewi Cinta.


Mengunjungi perpustakaan alam semesta hanya diizinkan dua kali, itu pun atas izin khusus dari Sang Dewi. Kemudian, dia teringat Teater Drama tentang kisah fiksi yang diadakan seratus tahun sekali.


Ia begitu menikmati jalannya Teater, terutama adegan romantis membuatnya merasa iri. Akhirnya, dia pun menemukan jawaban untuk pertanyaan Tamrin.


"Teater Drama, aku pernah mengikuti Ekskul Teater Drama," ujarnya berbohong pada Tamrin.


"Sudahku duga. Dari penampilannya sudah kelihatan," timpal Tamrin.


Alexander dab Wulan telah mengetahui, siapa Tiara yang sebenarnya sempat terdiam. Mereka berdua, bersikap seolah tidak tau dan membenarkan perkataan Tamrin.


Mereka melintasi lapangan basket, Tiara melihat Hana sedang berlatih cheerleader. Namun, latihan mereka tidak cenderung serius dan lebih banyak canda dan tawa. Mungkin saja, mereka sedang berisitahat itulah Empat Serangkai Pikirkan.


Selain itu, Ketua Ekskul Basket yaitu Fahmi sedang sibuk berlatih. Hana dan Fahmi, melirik ke arahnya lalu mereka berdua tersenyum.


"Hei, Tiara!" sahut Hana dari kejauhan.


"Hei!" balas Tiara melambaikan tangan lalu Hana bertanya,"Mau ke mana?"


"Cari ekskul!" jawab Tiara dengan polos.


"Ayo, Tiara! Sini gabung!" sambung seluruh anggota Tim Basket.


Tiara hanya membalas dengan tertawa sambil melambaikan tangan. Sedangkan tiga temannya, membalas dengan buah senyuman. Kini, dia hanya tersenyum simpul berjalan ke depan bersama tiga anggota serangkai.


"Hei, Tiara. Mereka sangat ingin kamu bergabung dengan Ekskul Basket. Kenapa kamu tidak gabung saja?" tanya Wulan.


"Hmm...., tadinya aku sempat kepikiran buat gabung. Tapi, sudah aku putuskan untuk tidak gabung," jawab Tiara lalu Wulan bertanya kembali,"Kenapa?"


"Habisnya, anak-anak basket itu tidak mengajak kalian. Namaku saja diagung-agungkan, teman-temanku malah disampingkan. Tidak menghargai," jawabnya lalu ia menoleh pada Alexander dan berkata,"Lagi pula, aku sudah bergabung dengan Empat Serangkai."


"Ha.ha.ha, bisa saja kamu. Kamu kira, Empat Serangkai Ekstrakulikuler? Kita saja sampai sekarang masih bingung mencari ekskul yang kita minati," timpal Alex.


"Tenang, Bos. Nanti juga ketemu," kata Tamrin sambil menepuk pundak Alex sebanyak tiga kali.


Empat serangkai mulai mengunjungi Ekstrakulikuler satu persatu. Di antara mereka berempat, Tiara mendapatkan sambutan paling hangat. Parasnya yang cantik, santun dalam berbicara dan senyumannya memikat hati semua orang membuatnya semakin terkenal.


Beberapa pengurus, mulai bertingkah seperti penjual profesional mencoba memikat hati konsumen. Namun rayuan tersebut, tidak membuat Empat Serangkai tidak terpikat. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, setelah mengunjungi lima ekstrakulikuler mereka berjalan menelusuri lorong sekolah.

__ADS_1


Samping kanan dan kiri, terdapat taman bunga dan perkebunan tanaman herbal. Beberapa siswa kelas sebelas, terlihat bermain basket di taman. Ada juga, pasangan kekasih duduk di lantai sambil menikmati suasana taman.


"Pusing aku, bukannya dapat pencerahan malah tambah bingung," keluh Wulan.


"Iya, kamu benar Wulan. Ekskul di Sekolah ini menarik, terutama Ekskul Drama. Ketuanya saja sampai mendapatkan tawaran peran utama," ujar Tiara, mengingat tawaran dari Ketua Ekskul Drama berkulit putih dab berpostur agak gemuk.


"Jelas, kamu itu good looking. Coba kalau Nanda, pasti lain cerita," timpal Tamrin.


"Good Looking? Maksudmu, terlihat bagus?" kata Tiara balik bertanya.


"Bukan itu maksudnya, Good Looking itu sebutan untuk kaum cantik, tampan atau daya tarik lebih," jawab Alex.


"Hmm... begitu rupanya, aku mengerti. Tapi, itu tidak benar! Siapa tau, peran tersebut memang cocok untukku," timpal Tiara pada Alex dan Tamrin.


"Kurasa tidak begitu, banyak anggota Eskul Drama memiliki kandidat lebih cocok. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan nanti cantiknya hilang," kata Wulan lalu Tiara membalas,"Iya yang lebih cantik."


Suasana lorong sekolah, tidak terlalu ramai hanya ada beberapa petugas kebersihan sedang melakukan pekerjaanya. Mereka berempat, mulai melintasi ruang musik. Pintu ruang musik tersebut terbuka lebar, Alexander menghentikan langkahnya.


Alat-alat musik di dalam, membuatnya terhipnotis untuk masuk ke dalam. Wulan, Tiara dan Tamrin menghentikan langkahnya lalu mereka berputar arah.


Mereka berempat, melihat Alexander diam mematung melihat apa yang ada di dalam ruang musik. Kemudian, mereka berempat berjalan mendekatinya. Pandangan Alex, terlihat fokus pada sebuah gitar arkustik tergeletak di atas meja.


"Mau mencoba memainkannya, Bos?" tanya Wulan.


"Tidak, aku tidak bisa main gitar," jawab Alex.


"Pembohong, padahal kamu bisa main dua gitar sekaligus," sambung Tiara membuat Alexander sedikit terkejut.


"Bagaimana kamu tau?" tanya Alexander lalu Wulan menjawab,"Maaf Bos, aku dan Tiara diam-diam mengikuti Bos sampai di sini."


Mendengar hal itu, Alexander sangat senang sekaligus malu. Biasanya, dia bermain gitar untuk menutupi rasa sunyi dan canggung dalam dirinya. Namun tidak disangka, kemampuannya diketahui oleh orang lain.


"Eh! Bos bisa main dua gitar sekaligus?! Kenapa kalian berdua tidak mengajakku menguntit Bos?!" ujar Tamrin begitu heboh lalu Wulan membalas,"Suruh siapa pulang duluan?"


"Hmm...."


"Oh, kamu kerja part time?" tanya Alex lalu Tamrin menjawab,"Iya, Bos."


Mereka memandangi alat-alat musik di dalam ruang musik. Di dalam ruangan tersebut, selain musik tradisional juga terdapat alat musik modern. Salah satunya adalah piano elektrik sudah terpasang sebuah microphone.


"Guys, yuk masuk ke dalam," ajak Wulan.

__ADS_1


"Hei, tidak boleh. Kata Kak Tigor, selain anak Ekskul Musik dilarang masuk," larang Tiara.


"Alah, kaku amat. Kamu lupa? Kita ini tinggal di Negeri Wkwkland. Larangan berarti adalah perintah. Ya sudah, gue masuk ke dalam!" ujar Tamrin lalu berjalan masuk ke dalam terlebih dahulu.


__ADS_2