
Alexander berbalik, dia berjalan menjauhi lapangan Sepak Bola. Wulan dan Tamrin, berjalan mengikutinya dari belakang. Mereka berdua memegang pundak Alex lalu berjalan bersama.
"Bos, ayo duduk di sana," kata Wulan sambil menunjuk sebuah kursi panjang dibawah pohon beringin tak jauh dari GOR Sekolah lalu ia berkata, "Ayo kita istirahat di sana."
"Wulan, elu temani Bos kita. Biar aku belikan minuman untuk kalian," kata Tamrin lalu ia berlari menuju kantin.
Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepala. Wulan berjalan memeluk tangan Alex sambil menuntunnya menuju tempat peristirahatan. Dia melihat Alexander terdiam dengan tatapan kosong.
"Tiara, kelihatannya dekat sekali dengan Ilham," kata Alex sambil memandang ke depan.
"Iya, kelihatannya. Tapi, Bos sendiri tidak tau apa yang mereka bicarakan. Sekarang, apa Bos mulai ragu dengan perasaan Tiara?"
Alexander terdiam, dia tidak bisa menjawab apa yang Wulan tanyakan. Perlahan dia melirik ke arah Wulan lalu kembali memandang ke depan.
"Entahlah," jawab Alex.
"Dekat bukan berarti bersama. Seperti halnya air dan minyak. Meskipun mereka bersama, namun mereka tidak bisa bersatu. Namanya juga menjalin percintaan, rasa cemburu itu hal biasa. Tetapi Bos, jangan sampai rasa cemburu menghancurkan hubungan kalian."
"Tetapi, bagaimana caranya menghilangkan rasa sakit gelisah ini?" tanya Alex sambil memegang dadanya.
"Soal itu, tergantung seberapa besar Bos mengenal Tiara," jawab Wulan membuat Alexander terdiam.
Alexander teringat momen pengakuan cinta di Taman Kota tidak jauh dari Taman Hiburan. Waktu itu matahari bersinar terang, untungnya ada pohon dan angin sejuk mendinginkan suasana. Setelah menyatakan perasaannya kepada Tiara, mereka berciuman lalu saling memandang satu sama lain sambil berpegangan tangan.
"Sayang, sejak pertama kali kita bertemu aku juga telah jatuh cinta padamu. Beribu-ribu lelaki tampan yang pernah aku temui. Bagiku kamulah yang paling tampan. Aku bersyukur, Dewi Cinta mempertemukan kita. Kamu memang bukan lelaki sempurna, tetapi kekuranganmu itu menjadi kelebihan bagiku. Lagi pula, kita ini sepasang suami istri. Aku pasti akan terus merawat dan selalu berada di sampingmu, suamiku. Tolong jaga aku," ujarnya kepada Alex.
Kemudian, Alexander teringat momen saat berada di Cafe bersama Empat Serangkai Selesai jadian. Alexander mentraktir Wulan, Tiara dan Tamrin sebagai perayaan atas jadiannya Alexander dengan Tiara.Alexander meminta, mereka untuk merahasiakan hubungan percintaannya.
Dia takut, jika orang lain tau maka dirinya tidak bisa menjalani kehidupan SMA dengan bebas. Tetapi, dia takut hal itu membuat Tiara bisa berpaling pada lelaki lain.
"Jangan khawatir sayang. Aku bukanlah gadis yang mudah terpikat. Hatiku hanya milikmu seorang. Tidak akan aku biarkan lelaki mana pun merampasnya," balas Tiara lalu tersenyum membuat Alexander tersipu malu.
Terakhir, ketika Alexander terbangun karena bermimpi buruk masa lalu. Alexander menceritakan masa lalu yang kelam. Tiara tersenyum lalu menghiburnya.
__ADS_1
"Jangan takut, ada aku yang selalu ada di sampingmu. Tidak akan aku biarkan, siapa pun menyakiti lelaki yang aku cintai," ujarnya sambil mengelus kepala Alex.
Di saat Alexander sedang melamun, Tamrin pun datang membawa tiga minuman kaleng bersoda. Dia memberikan salah satu minuman itu kepada Wulan. Wulan dan Tamrin, melihat Alexander meninggikan kepalanya lalu ia tersenyum.
"Bodoh sekali, aku ini," kata Alex lalu Wulan dan Tamrin dengan kompak berkata, "Memang!"
"Hei!"
Mereka tertawa bersama, berkat hal itu Alexander kembali tersenyum. Kemudian Alexander melirik kepada mereka berdua.
"Ya, ampun. Kamu benar Wulan, tidak ada yang lebih mengenal Tiara dibandingkan siapa pun selain aku. Kenapa harus khawatir? "
"Betul itu Bos! Ini ambil," kata Tamrin sambil memberikan minuman kaleng bersoda lalu ia berkata, "Guys, ayo berulang!"
"Bersulang!" ucap kompak mereka bertiga sambil membenturkan minuman kaleng telah terbuka.
Setelah itu, mereka bertiga berjalan bersama-sama. Dengan tiga minuman kaleng yang mereka beli, menambah kenikmatan suasana di siang hari itu.
Berkat kedua sahabatnya, Alexander menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Semua rasa cemburu dan pikiran negatif itu seolah terlepas, melayang tinggi ke atas langit.
Selain mengamati, Tiara diajarkan cara berlatih menambah kemampuan bermain sepak bola oleh Ilham dan anggota Ekskul Sepak Bola lainnya. Terkadang, Tiara diberikan kesempatan untuk ikut berlatih Sepak Bola. Sinar matahari bersinar terang, keringat mengucur membasahi baju. Walau Tiara terkena sinar matahari, kulitnya tetap putih mulus seperti biasanya. Melihat Tiara berkeringat, dia selalu tersenyum membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
Tidak terasa sore pun telah tiba, seluruh anggota Ekskul Sepak Bola beristirahat di depan bangku cadangan. Tiara duduk di bangku cadangan letaknya cukup jauh. Dia melihat para anak ekskul Sepak Bola melakukan pengarahan sebelum pulang. Gadis itu berdiri dari tempat duduknya lalu berlari menuju kantin.
Ketika berjalan di lorong sekolah, dia dihadang oleh dua tiga siswi SMA. Pertama siswi berambut hitam panjang, berkulit putih dan memegang sebuah dus berisi gelas plastik air mineral bernama Winda. Kedua, gadis berambut kepang dua coklat berparas cantik bernama Kartika.
Terakhir, gadis berambut hitam kemerahan dengan kulit eksotis bernama Tantri. Tiara tersenyum ramah lalu berjalan mendekati mereka berdua.
"Hei, suruh siapa kamu lewat?!" tanya Tantri.
"Ada apa, ya?" tanya Tiara.
"Aku lihat, kamu terus mendekati Ilham. Berlagak seperti Putri Istana, membuat Ilham seperti boneka mainan sesuka hati. Benar-benar membuatku muak," balas Winda.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti maksud kalian," timpal Tiara.
"Apa tujuanmu sebenarnya mendekati Ilham?" tanya Kartika.
"Tujuan? Aku tidak punya tujuan apapun. Kami hanya berteman!"
"Mau ke mana kau sekarang? Membeli minuman untuk Ilham?" tanya Winda.
"Iya! Aku ingin, membelikan Ilham minuman sebagai tanda terima kasihku telah mengajariku Sepak Bola," jawab Tiara.
"Dasar rubah licik! Apapun dilakukan untuk mendapatkan mangsanya! Muak aku mendengarnya! Terserah kamu ingin melakukan apa. Awas saja kamu dekati Ilham!" gertak Winda.
Tiara terdiam, dia terus menatap mata Winda yang penuh dengan kebencian. Winda berjalan lalu menabrakkan bahu Tiara dengan sengaja. Kedua temannya berjalan menyusul melewati Tiara sambil menatap jijik.
Tiara memandang mereka dari kejauhan. Di dalam hati, Tiara bertanya-tanya tentang siapa mereka dan mengapa mereka sangat membenci dirinya. Kemudian dia kembali berlari menuju kantin.
Sementara itu, Winda dan kedua temannya telah tiba di lapangan Sepak Bola. Para Ekskul Sepak Bola telah selesai rapat harian.
"Hei, Winda! Buat tim?!" tanya Ilham lalu Winda menjawab,"Iya. Bisa bantu aku?"
"Tentu!"
Ilham berjalan menghampiri mereka bertiga lalu bersama-sama membagikan minuman. Seluruh anggota Ekskul Sepak Bola, langsung meminum air mineral pemberian mereka berempat hingga habis. Kemudian, Ilham dan Winda duduk di atas lapangan yang hanya beralaskan rumput.
"Bagaimana dengan latihanmu hari ini?" tanya Winda lalu Ilham menjawab, "Sangat melelahkan. Oh iya, kamu lihat gadis berambut emas duduk di bangku cadangan?"
"Tidak, memangnya kenapa dengan gadis itu?" tanya Winda.
Ilham bercerita, bahwa gadis itu adalah Tiara dari kelas 10 IPS F. Dia ingin, merayu Tiara agar bergabung dengan Ekskul Sepak Bola. Sebab menurutnya, Tiara lebih berguna menjadi asisten pelatih saat pertandingan.
"Kenapa harus Tiara? Memangnya aku, Kartika dan Tantri tidak cukup?" tanya Winda sambil menahan emosi.
"Tidak, justru kalian bertiga sangat membantu. Tetapi kalau ada Tiara, pasti pekerjaan kalian semakin mudah. Asal kalian tau, Tiara itu pintar. Sekali ajar, dia langsung paham dan bahkan teknik dribel pun dia bisa," ujarnya lalu memuji Tiara.
__ADS_1
"Wah! Gue jadi penasaran ingin bertemu dengannya," balasnya dengan raut wajah penasaran dan ingin bertemu.
Tanpa Ilham ketahui, Winda menggenggam rumput lalu mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.