
Wulan menaiki motornya, mereka berdua melaju di atas aspal menuju tempat penjual Kebab yang Wulan inginkan. Mereka melaju perlahan menelusuri jalan. Beberapa anak muda, melintasi mereka dengan motor modifikasi. Tamrin mengendarai motor, melaju mendekati Wulan.
"Wulan, yakin mau lanjut? Siapa tau Toko Kebab itu sudah tutup. Di depan jalan sudah ditutup karena ada ajang balap liar."
"Selama belum tengah malam, lanjut terus! Soal di rumah, biar menjadi urusanku."
Perkataannya yang percaya diri, membuat Tamrin menggelengkan kepala. Dia membayangkan, Wulan yang dimarahi oleh kedua orang tuanya di rumah. Di tengah perjalanan, mereka melihat pembatas jalan.
Mereka turun dari motor lalu mendekat pada pembatas jalan. Pembatas jalan berwarna oren, terbuat dari bahan plastik dan memiliki tinggi dua meter.
"Wulan, bantu aku mengangkatnya," pinta Tamrin sambil memegang pembatas jalan.
"Ok," balasnya menyusul membantu Tamrin.
"Woi! Sedang apa kalian!" bentak seseorang pojok kanan sedang terlihat duduk di atas pembatas jalan.
Mereka berdua melirik ke arah lelaki itu. Lelaki tersebut berambut jambul hitam, mengenakan antik hitam pada daun telinga sebelah kiri dan berpakaian khas anak punk. Dia turun dari pembatas jalan lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
"Tamrin?!" sapa lelaki itu.
"Joni!"
"Tamrin, ngapain di sini? Ini siapa pacar atau gebetan elu?" tanya Joni.
"Bukan! Dia temen gue. Kita berdua, mau ke Kedai Kebab Saladin," jawab Tamrin.
"Ah, gak seru! Kirain pacar elu. Kalau elu jadian, gue bisa minta traktiran!"
"Terserah elu, dah!"
Joni bersiul, tiga temannya bertubuh tinggi besar mengangkat portal pembatas jalan lalu mempersilahkan Tamrin dan Wulan untuk lewat. Joni membonceng pada motor yang dikendarai oleh Tamrin, sedangkan Wulan mengemudikan motornya seorang diri.
Mereka bertiga mulai melaju di atas aspal. Tidak terasa, sudah tiga ratus meter telah mereka lewati. Di depan, mereka bertiga melihat banyak sekali kerumunan.
Sesampainya di kerumunan, mereka pun berhenti lalu berjalan sambil menuntun motor di pinggir jalan bersama para pejalan kaki. Tiga bertubuh kekar datang mendekati mereka bertiga. Pertama, pemuda mengenakan topi hitam dan mengenakan kaos tanpa lengan hitam.
Kedua, lelaki bertubuh berambut gondrong. Terakhir, lelaki berkepala plontos, sebuah tato naga di lengan kiri dan sebuah tindik terpasang pada hidung. Melihat keberadaan Tamrin dan Joni, raut wajah mereka yang menyeramkan seketika menjadi ramah.
"Wih, Joni dan Bang Tamrin! Gue kira siapa!" sapa lelaki bertopi hitam.
"Wih, Samsudin! Muka elu segala dibikin serem," balas Tamrin lalu bersalaman.
"Biasa, Bang tuntutan pekerjaan!" balasnya.
__ADS_1
"Supra itu, motor gue?" tanya pemuda berambut gondrong.
"Iya, Bang Teguh. Motor elu sudah beres. Tapi sorry, malam ini gue pinjam dulu."
"Santai, Bang! Santai, sekalian kembalikan tahun depan!" canda Teguh.
"Bang Tamrin, siapa cewek ini? Pacar elu?!" tanya pemuda berkepala plontos bernama Luter.
"Bukan! Bukan! Dia temen sekelas gue namanya Wulan," balas Tamrin.
"Hallo," sapa Wulan.
"Hai!" balas mereka bertiga.
"Tamrin, kalau bukan pacar elu. Bolehlah..," canda Teguh.
"Jangan!" balas Tamrin dengan wajah memerah.
Melihat respon Tamrin, tiga temannya tertawa. Mereka menuntun dan mengawal Wulan dan Tamrin menuju tempat yang aman dari lintasan balap. Teguh berkata, bahwa mereka bisa melintasi jalan aspal setelah pertandingan dimulai.
Mereka semua berdiri di pinggir jalan, menunggu para pembalap bersiap ditempat. Tamrin bertanya, mengenai peserta yang akan mengikuti ajang balapan. Samsudin menjawab, bahwa peserta mengikuti balapan ada empat yaitu KTB, Bentrok, Serigala Hitam dan Dragon Boys.
"Seharusnya ada lima peserta, tapi sampai sekarang Kelompok Night Speed Belum tiba. Jadi kami memutuskan untuk mulai tanpa kedatangan mereka," kata Luter.
"Aku sudah memberikan salam olahraga kepada mereka," jawab Tamrin sambil menepuk kepalan tangan dengan sorot mata yang tajam.
"Baguslah kalau begitu, kita tidak perlu ragu untuk memulainya," kata Luter.
"Kalian tunggu dan sampai balapan di mulai, sudah waktunya kami bekerja," kata Teguh.
Teguh mengajak dua temannya untuk mulai bekerja. Mereka mempersiapkan jalannya balapan termasuk mengumpulkan uang sebagai taruhan. Suasana arena balap begitu ramai. Selain Kelompok Geng terdapat para pemuda dan gadis malam ikut menonton pertandingan.
Wulan dan Tamrin, melihat sekelompok Geng Dragon Boys. Mereka terkejut melihat Ilham, Bobi dan Martin. Ilham dan Bobi berdiri di samping Martin sedang bersiap dengan motor Ninja hitam miliknya.
"Tamrin Bukankah itu Ilham, Martin dan Bobi?" tanya Wulan sambil menunjuk.
"Iya, itu mereka. Tidak aku sangka, mereka bertiga terlibat balapan liar."
"Hmm... menarik."
Wulan mengambil handphone miliknya di dalam saku celana. Diam-diam, dia memfoto mereka bersama para peserta balap liar lalu mengamati jalannya ajang balap liar.
"Untuk apa kamu foto mereka?" tanya Tamrin berbisik kepada Wulan.
__ADS_1
"Jaga-jaga. Siapa tau butuh," jawab Wulan.
Sementara itu, Ilham mengangkat jarinya ke atas. Mengangkat jari ke atas, merupakan simbol bertambahnya taruhan. Empat pembalap berkumpul, mereka memandang lawan masing-masing dengan tatapan menusuk.
"Aku bosan dengan taruhan uang saja. Malam ini, bagaimana kalau kita tambah taruhan dengan bentuk lain?" tanya Ilham kepada mereka semua.
"Menarik, memang kau ingin bertaruh apa?" tanya Hadi kepada Sang Ketua Dragon Boys.
"Jika kami menang, membayar gadis-gadis malam untuk dinikmati.Setelah itu mentraktir kami minum dan mengambil stiker Geng kalian."
"Dan jika kami menang?" tanya Hadi.
"Kalian bebas minta apapun."
Para Ketua setuju lalu kembali ke posisi masing-masing untuk bersiap-siap memulai balapan. Lintasan balap, yang akan mereka lalui merupakan lintasan lurus. Mereka harus beradu kecepatan, saling menyalip posisi terdepan dan melintasi garis akhir.
Wulan dan Tamrin, merekam dan mendokumentasikan semua kegiatan dalam kamera handphone. Tamrin juga meminta Joni untuk mencaritahu mengenai taruhan tambahan yang mereka sepakati.
Suara motor nyaring terdengar, mereka semua siap untuk memulai balapan. Teguh berdiri di tengah lintasan. Dia bertugas sebagai pemandu jalannya pertandingan.
"Bersedia, siap! Mulai!"
Motor mulai melaju sangat cepat. Para peserta balapan, saling menyalip satu sama lain. Di waktu yang bersamaan, Wulan dan Tamrin yang dikawal oleh Joni serta teman-temannya memandu mereka berdua meninggalkan lintasan balap. Tidak lupa, Tamrin memberitahu Joni agar bersiap-siap jika polisi datang.
Sementara itu, saling senggol antar pembalap tidak terhindarkan. Martin tersenyum, sorot matanya memandang ke depan dengan tatapan tajam. Dia menambah laju kendaraannya hingga mencapai batas maksimal.
Hadi tidak mau kalah. Dia juga menambah laju kendaraan hingga mencapai batas maksimal. Di depan terlihat garis finis, Martin pun berhasil melewati garis tersebut. Akhirnya, Dragon Boys memenangkan taruhan dari ajang balap liar.
Selesai balapan, tiga kelompok Geng Motor menyewa para gadis malam dan sebuah kost satu malam untuk berpesta. Ilham beserta anggota Dragon Boys, menuju lokasi kost kenalan Hadi.
Sesampainya di lokasi, mereka mulai berpesta dengan para gadis dengan ditemani minuman keras. Mereka semua turut menikmati minuman keras, kecuali Ilham. Kelompok Dragon Boys menikmati suasana Malam Minggu.
Sebaliknya dengan Wulan. Dia harus kecewa melihat Stok Kebab milik Saladin telah habis. Rencana Kedai itu akan tutup.
"Tidak!" ucap Wulan begitu kecewa.
"Sabar-sabar, masih ada hari besok."
"Tapi Tamrin! Kedai ini bukannya sore dan belum tentu kebagian," balas Wulan.
"Sudahlah, jangan merengek-rengek kayak bocil. Mumpung ada di sini, lebih baik kita cari menu yang lain. Bagaimana?"
Wulan menganggukkan kepala dengan raut wajah kecewa. Mereka berdua, mulai berjalan sambil melihat-lihat berbagai Kedai Penjual Makanan. Siapa tau, ada makanan menarik yang bisa dinikmati.
__ADS_1