
Tidak terasa waktu sudah tengah malam. Tiara berbaring di atas kasur. Alexander menyentuh tombol saklar lampu kamar. Kemudian dia berbaring di atas kasur tepat di samping Tiara. Gadis itu, merapihkan baju tidur berwarna pink dengan motif bunga yang ia kenakan.
Jantung Alexander berdegup kencang, wajahnya memerah lalu melirik ke arahnya sedang terpejam. Senyumannya yang manis, memancarkan kebahagiaan tidak bisa ia sembunyikan. Kehangatan pelukannya membuat Alexander gelisah.
"Suamiku, belum tidur?" tanya Tiara lalu Alexander menjawab, "Belum."
Ada cerita apa hari ini? Aku perhatikan dua hari ini, kamu sering menyendiri. Sebenarnya ada apa?"
Alexander membalikkan tubuhnya, dia berkata pada Tiara bahwa dirinya mengantuk. Pada akhirnya, Tiara tidak menemukan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Alex.
Suasana malam semakin hening, Alexander mulai berjalan masuk ke dalam Alam Mimpi. Perlahan, kedua matanya terbuka ia terkejut melihat dirinya berada di lorong sekolah. Kedua kakinya mulai melangkah ke depan.
Seluruh siswa, memperhatikannya dengan tatapan seolah merendahkannya membuat Alexander merasa tidak nyaman. Seseorang menendang kakinya hingga terjatuh, Alexander menoleh ke belakang. Rupanya, orang menendangnya adalah Ilham. Dia bersama tiga temannya, memandang rendah dirinya.
"Pagi-pagi sudah malas, cepat bangun pecundang!" hina Ilham.
"Kacung, cepat belikan kami sarapan!" perintah Ilham.
"Lihat guys! Alex mau nangis!" sambung Hana membuat hatinya seperti tertusuk.
"Malah bengong, ayo cepat!" sambung Martin sambil menendang Alexander cukup keras.
Mereka berempat, menarik tangan Alexandre lalu menendangnya hingga terdorong cukup jauh. Setiap langkah kakinya, seluruh siswa memandang rendah dirinya. Berbagai caci maki dan perkataan kasar, membuat perasaannya tercabik-cabik.
Tidak ada satu pun yang peduli, seolah-olah lorong menjadi saksi atas penderitaannya. Sesampainya di kantin, dia melihat Wulan dan Tamrin sedang duduk bangku panjang.
Ia senang melihat dua sahabatnya, tetapi ketika duduk tepat samping mereka berdua. Mereka berdua melirik ke arahnya. Sorot matanya, memandang rendah membuat Alexander terdiam.
"Ngapain lihat-lihat? Jiji gue dilihatin sama elu!" kata Wulan membuat hatinya terasa perih.
"Nyesel kita berdua, gaul sama elu. Udahmah cupu, lemah, sombong mentang-mentanng punya motor mahal. Sok banget jadi pacarnya Tiara. Elu kasih apa sampai Tiara tergila-gila sama elu?!" tanya Tamrin.
"Tamrin, gue yakin pasti Tiara diguna-guna," timpal Wulan.
Alexander tertunduk, air matanya mulai mengalir seiring menahan rasa sakit pada hatinya. Seseorang menyiram kepalanya dengan air, dia menoleh ke belakang. Rupanya itu adalah perbuatan Hadi, mantan pembully ketika semasa SMP.
__ADS_1
"Dinginkan kepalamu itu, Babi!" bentak Hadi.
Seketika semua menjadi gelap, tidak ada apapun selain suara caci maki dari mereka semua. Tubuhnya melayang di dalam kegelapan, ia pun menangis histeris.
"Kenapa, kalian semua jahat padaku?! Bajingan sialan! Selalu saja jadi korban bullying. Sebenarnya apa salahku?!"
Semakin jauh tenggelam di dalam kegelapan, suara tangisnya semakin kencang. Perlahan dia mulai melihat sebuah cahaya, air matanya terus keluar mulai ia rasakan. Di balik cahaya, terdengar suara seseorang yang tidak asing baginya.
Suara begitu lembut dan menyejukkan hati, ketika memanggil namanya berkali-kali. Kedua matanya mulai terbuka, dia melihat raut wajah Tiara begitu khawatir.
"Sayang, bangun sayang! Kamu itu kenapa?" tanya Tiara sembari mengusap air matanya.
Alexander tidak menanggapi perkataan, dia menunduk dan kembali menangis. Tiara memeluknya dengan cukup erat, kepala Alex ia sandarkan di atas dadanya. Perlahan dia mengusap kepala belakang Alex hingga tangisannya mereda.
"Suamiku, sebenarnya ada apa?" tanya Tiara sambil mengusap kepala Alex.
"Sebenarnya, tiga hari yang lalu saat kita berada di Kantin. Wulan dan Tamrin, memperingatiku tentang Ilham. Aku juga memperhatikannya dengan cukup lama, entah mengapa aku merasa kesal melihat kalian berdua dekat."
"Ciee.., cemburu nih ceritanya," timpal Tiara membuat Alexander salah tingkah.
Setiap hari, para preman di sekolah selalu memperlakukannya layaknya kacung. Selain itu, selangkangannya pernah di gesek secara paksa pada tiang sekolah dan ia selalu dipukul sebagai pelampiasan. Paling membuat hatinya terasa sakit yaitu, Ibunya lebih percaya perkataan orang lain dibandingkan anaknya sendiri.
Guru selalu menganggap, bahwa pembullyan sebagai bentuk bercanda membuat pembullyan pada dirinya tidak pernah berakhir. Tidak ada seorang pun yang mau berteman, bahkan peduli terhadapnya selain diri sendiri. Diantara para pembully, Hadi paling ia ingat.
Setiap hari, ia selalu berbuat jahil dan melakukan pemalakan pada dirinya. Kemudian, dia pernah memukul Alex tanpa alasan. Setiap kali dia melapor, Hadi selalu mendapatkan perlindungan dari ayahnya merupakan Kepala Sekolah dan ibunya sendiri.
Oleh karena itu, perbuatan Hadi terhadap dirinya semakin keterlaluan. Di dalam rumah, Alexander sering dijahili oleh kakaknya sendiri. Bukannya mendapat pembelaan, Sang Ibu lebih membela Kakaknya dibandingkan dirinya.
"Aku ingin balas dendam!" ujarnya tertunduk dengan sorot mata tajam.
Aura kebencian pada Alexander dirasakan oleh Tiara. Dia tersenyum lalu memeluk kekasihnya dari samping.
"Dendam di masa lalu, membuatmu terbelenggu. Kamu memenjarakan dirimu sendiri di dalam amarah tidak menentu. Jiwamu ingin tenang, namun kalah oleh rasa malu dan pilu. Lepas dan maafkanlah mereka semua. Dengan begitu, belenggu dan bayangan masa lalu akan terlepas dengan sendirinya. Mulailah membuka lembaran baru," ujarnya dengan tutur kata yang bijak.
"Aku takut jika Wulan dan Tamrin tau masa laluku mereka akan menjauh. Bahkan terburuknya, mereka malah membullyku," timpal Alex dengan bersedih.
__ADS_1
"Tenang, mereka berdua bukan orang seperti itu. Kamu lupa? Kita ini empat serangkai. Kalau itu terjadi aku langsung turun tangan."
"Thanks, Tiara. Jujur, aku masih takut dengan pembullyan," timpalnya dengan bersedih.
"Di mana pun kita berpijak, pembullyan pasti terjadi. Yang kuat akan selalu menindas yang lemah, begitulah realita kehidupan. Kamu cukup fokus, berkembang menjadi lebih baik. Jangan takut, aku yakin kehidupanmu yang sekarang jauh lebih baik. Ingat pesanku, jangan terlalu memikirkan masa lalu dan belajar menjalani kehidupan lebih baik."
Mendengar hal itu, membuat Alexander tersenyum. Begitu juga dengan Tiara, tersenyum memandang kekasihnya dari dekat. Tidak disangka, Alexander mencium keningnya membuat wajah Tiara seketika memerah.
Alexander, mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Jantung Tiara berdegup kencang, dia memeluk Alexander dari belakang. Suasana kamar yang hening, seolah menjadi saksi bisu atas kemesraan mereka berdua.
"Senin sepulang sekolah, tolong kamu ceritakan semuanya pada Wulan dan Tamrin. Kasian mereka, selama dua hari mereka terus mencemaskan mu," ujarnya sambil memeluk Alex dari belakang.
"Iya," balas Alex.
"Jangan takut, ada aku yang selalu ada di sampingmu. Tidak akan aku biarkan, siapa pun menyakiti lelaki yang aku cintai," ujarnya sambil mengelus kepala Alex.
Tiara melepas pelukannya lalu mereka berdua kembali tertidur. Hati Alexander terasa lega sudah menceritakan semuanya pada Tiara. Ia merasa beruntung, telah dipertemukan dengan sosok bidadari seperti Tiara.
Dua hari telah berlalu, sepulang sekolah Alexander, Wulan dan Tamrin duduk berhadapan pada sebuah kursi panjang. Meja putih, menjadi pembatas mereka bertiga. Sedangkan Tiara, melihat mereka bertiga dari jarak cukup jauh.
"Bos, akhir-akhir ini kenapa Bos sering menjauh? Apa ada perkataan kita menyakiti hati Bos?" tanya Wulan.
"Kalau ada perkataan atau tingkah laku kita menyakiti hati Bos, kami minta maaf," sambung Tamrin.
"Kalian berdua tidak salah, aku menghindar karena trauma di masa lalu. Ketika kalian memperingatkan ku, seketika gue teringat masa kelam semasa SD hingga SMP. Dulu dari zaman SD hingga SMP. Aku adalah korban bullying. Makannya, gue selama dua hari lebih banyak menyendiri. Maaf sudah membuat kalian salah paham," timpal Alex pada mereka berdua. Thanks, sudah mengingatkan gue tentang Ilham."
"Sama-sama, Bos. Sekarang kita berdua tau apa yang sedang dipikirkan Bos," balas Wulan.
"Pantas saja, Bos selalu membawa buku kecil di dalam saku celana Bos," sambung Tamrin lalu Alexander membalas,"Betul. Setelah tau masa lalu gue, kalian masih ingin berteman atau kalian akan menceritakan semua kepada yang lain?"
"Tentu saja, tidak! Bos itu temanku. Gue paling benci yang namanya pembullyan! Tidak ada satu pun boleh membully anggota Empat Serangkai!" tegas Tamrin.
"Betul Bos! Kemana pun Bos pergi dan apapun keputusan Bos, kami akan selalu ikuti," sambung Wulan.
Setelah itu, mereka bertiga saling meminta maaf. Tiara mendekat, tangan mereka berempat menjulur ke depan lalu dengan kompak mereka berkata Empat Serangkai sambil mengangkat tangan ke atas.
__ADS_1
Kesalahpahaman telah berakhir, Alexander senang bisa melepas belenggu masa lalu di dalam dirinya. Selain itu, dia bisa menjalani hari seperti biasa dengan empat temannya.