
Ilham berjalan ke tengah lapangan basket. Aura iri dan kecemburuan yang terpancar, perlahan berubah menjadi sosok Ilham yang ramah layaknya manusia bertopeng. Kemudian, dia menghampiri seorang pemain di kelasnya bernama Ruben. Ruben, merupakan seorang keturunan blasteran Indonesia dan Australia.
Ilham berjalan, mendekati Ruben sedang berada di posisi gelandang tengah, "Hei, Ruben. Gue boleh gabung?"
Ruben tersenyum senang lalu ia berkata, "Boleh, elu gantiin gue. Kebetulan gue mau ganti baju."
Ruben berjalan meninggalkan lapangan, sekarang posisi Kapten dipegang oleh Ilham. Sementara itu, Alexander sedang menikmati perayaan kecil karena gol pertamanya. Wajahnya bahagia, seketika menghilang ketika melihat Bos Terakhir memasuki lapangan.
Kemudian Ilham pun berjalan menghampirinya sambil berkata, "Alex, tadi itu keren sekali," puji Ilham.
"Thanks."
"Ke mana Si Bule itu?" tanya Rudi.
"Dia mau baju, jadi untuk babak ke dua aku yang menggantikannya."
Tiara mendekati Alex lalu ia kembali ke tempat duduknya sambil memberi semangat. Alexander berbalik, dia berjalan ke belakang sambil merangkul Tamrin dan Rudi, "Gue punya rencana."
Fajar dan Dandi penasaran, apa yang direncanakan oleh Alex. Mereka semua berkumpul dan membentuk lingkaran kecil sambil merangkul satu sama lain.
"Main santai, biarkan tim lawan mencetak gol sebanyak mungkin."
Mendengar hal itu, mereka semua kecewa lalu membubarkan diri sambil berkata, "Apaan sih!"
Mereka semua, kembali ke posisi masing-masing dan bersiap untuk memulai pertandingan. Pertandingan dimulai dari Rudi yang melakukan operan ke samping. Tamrin dan Dandi, berlari dari dua sisi sayap.
Sayangnya, sebelum Rudi melakukan umpan silang Ilham berhasil merebutnya. Ilham berlari sambil mengiringi bola. Sorot matanya menatap tajam Alexander yang sedang berlari mendekatinya.
Duel merebut dan mempertahankan bola tidak terhindarkan. Keringat mengucur deras deras membasahi baju sekolah.
Alexander tersenyum, dia mundur dua langkah sambil berkata, "Cukup. Setidaknya ada perlawanan," ujarnya di dalam hati.
Ilham tersenyum bangga, dia berlari dan mencetak gol dengan mudahnya. Dia pun berlari sambil mengepalkan tangan.
"Gol!" teriak Ilham.
Seluruh anggota tim, beserta teman satu kelas yang menyaksikannya memeluk Ilham. Dia sempat melirik ke arah Tiara, gadis itu hanya memberi tepuk tangan. Berbeda dengan Alexander ketika mencetak gol.
Tiara berlari lalu memeluk Alex sambil melompat-lompat dengan kegirangan.
Mengingat hal itu, membuat Ilham sedikit murung lalu menatap Alexander dari kejauhan dengan penuh rasa amarah, iri dan dengki. Pertandingan di mulai. Setiap kali Ilham menyerang, Alexander selalu memberikan perlawanan lalu membiarkannya lewat begitu saja.
Berkali-kali, Ilham berhasil mencetak gol. Tetapi bukannya senang, Ilham semakin kesal dengan apa yang dilakukan oleh Alex. Pertandingan selanjutnya, Ilham tidak bermain seperti biasanya. Ilham dengan sengaja membiarkan lawannya memasuki area pertahanan hingga mencetak gol.
Pertandingan tersebut terus berlangsung hingga lonceng berbunyi. Selesai bertanding, Ilham berjalan mendekati Alex yang masih berdiri di posisinya.
__ADS_1
Ilham memegang pundak Alex, "Kau sengaja ya?" bisik Ilham lalu dia berjalan menghampiri Tiara.
Alexander terdiam, dia melihat Ilham yang berlari mendekati Tiara dengan wajah datarnya.
Sementara itu, Tiara melihat Ilham yang berkeringat, mengeluarkan kotak tisu kecil di dalam saku rok, "Ini ambilah," kata Tiara sambil menyodorkan tisu miliknya.
"Thanks, Tiara. Hari ini benar-benar panas," ujarnya lalu mengambil lima lembar tisu. Setelah itu, dia mengelap keringatnya sendiri lalu membuat bekas tisu ke dalam tong sampah, "Tiara, aku kembali ke kelas."
Ilham berlari kembali ke kelas. Tiara sambil melambaikan tangan berkata, "Hati-hati, sampai ketemu nanti!"
Tiara berbalik badan, dia berjalan menyusul Alex dari belakang. Di waktu yang bersamaan, Alexander berjalan bersama teman-teman.
Tamrin teringat pertandingan melawan kelas 10 IPA A. Alexander dengan sengaja membiarkan Ilham mencetak gol. Dirinya penasaran, mengapa Alexander melakukan hal itu.
"Bos, soal pertandingan tadi kamu sengaja ya?" tanya Tamrin.
Fajar pun juga teringat pertandingan sebelumnya. Dia pun bertanya karena penasaran, "Iya, Tamrin bener. Gue lihat sendiri elu memberikan perlawanan terus sengaja membiarkannya lewat. Gue penasaran sebenarnya kenapa elu ngelakuin hal itu?"
"Alasannya ada dua, pertama gue gak mau membagikan informasi penting untuk pertandingan kita yang sebenarnya di hari Sabtu. Kedua tidak ada hadiah, jadi gue malas bermain serius."
Rudi mendengarnya hal itu menganggukkan kepala sambil melipat kedua tangan. Dia pun tertawa dan berkata, "Alex, gue suka pemikiran elu. Pantas Tamrin sering memanggil elu, Bos. Mulai sekarang, gue juga manggil elu Bos!"
"Gue juga!" sambung Fajar.
Alexander terdiam, wajahnya merah padam lalu ia berkata, "Apaan sih!"
Tamrin melirik ke belakang, dia tersenyum lebar lalu memegang kedua pundak Alex, "Bos, lihat!" ucapnya lalu memutar badan Alex.
"Cieee..! Cieee..!"
Wajah Alexander semakin merah, mendengar sorakan dari teman temannya. Kemudian, Tamrin merangkul teman-temannya lalu dengan sengaja meninggalkan Alex dengan berlari agar memberi waktu berdua dengan Tiara.
Alexander berhenti berjalan, dia berbalik badan menunggu kekasihnya. Dia dengan malu-malu menyapa, "Hai."
"Hai," balas Tiara.
Mereka berdua berjalan bersama, menelusuri jalan lorong sekolah. Tiara melihat keringat Alex yang masih mengucur membasahi wajahnya.
Gadis itu memegang tangan Alex, "Ayo kita duduk sebentar," ajak Tiara.
Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka berdua, duduk di sebuah bangku di pinggir jalan lorong menuju kelas.
Tiara mulai mengelap keringat kekasihnya. Dia tersenyum lalu berkata, "Cuaca hari ini sangat panas. Keringatmu keluar banyak sekali," ujarnya memulai perbincangan.
"Iya, namanya juga musim panas. Tiara maaf, aku tidak menang."
__ADS_1
Tiara sambil mengelap keringat Alex pun berkata, "Tidak apa-apa, aku bangga sama kamu, sayang. Kamu sudah melakukan yang terbaik."
Kemudian Tiara mengepalkan tisu dan membuangnya ke tong sampah. Alexander tersenyum lalu berkata, "Tiara, terima kasih sudah melatihku. Setidaknya, traumaku tidak muncul saat bertanding."
Tiara memeluk tangan kiri Alex, "Sama-sama, sudah sewajibnya seorang istri membantu suaminya."
Alexander menunduk, wajahnya memerah dan ia berkata, "Andaikan kita masih di rumah, aku pasti langsung memeluk dan menciummu berkali-kali," ujarnya malu-malu.
Gadis itu tersenyum lalu mencium pipi Alex. Alexander memegang pipinya dengan wajah tersipu. Tiara berdiri lalu melirik Alex dan ia berkata, "Nanti di rumah, sayang. Ayo, kita ke kelas," ajak Tiara.
Alexander berdiri, dia berjalan menyusul Tiara. Mereka berdua berjalan bersama lalu memasuki kelas.
"Cieee..!"
Suara sorak teman-teman ketika memasuki kelas. Mereka semua membahas aksi Tiara yang memeluk Alex di tengah lapangan basket. Wajah mereka berdua merah padam.
Alexander dan Tiara, berjalan ke tempat duduknya berada di pojok kiri. Kelapa mereka berdua, masuk ke dalam tas yang berada di atas meja.
Perlahan suasana mulai mereda, penghuni kelas mulai mendekati mereka berdua. Mereka bertanya-tanya, mengenai kedekatan mereka berdua. Tiara menjelaskan, bahwa Alexander adalah teman masa kecil.
Gadis itu berkata, bahwa berpelukan dengan teman semasa kecil merupakan hal yang wajar. Mereka tidak bisa menerima alasan seperti itu, apalagi beberapa siswi melihat Tiara dan Alex duduk berdua di sebuah bangku lorong menuju kelas. Para siswi itu melihat Tiara mengelap keringat Alex.
Mereka menduga-duga, bahwa hubungan Alex dan Tiara tidak sebatas teman masa kecil. Alexander tetap menyembunyikan wajahnya di dalam tas.
Sedangkan Tiara, terus memberikan penjelasan dengan wajah memerah. Suasana kelas yang ramai berakhir ketika Guru memasuki kelas. Mereka semua kembali duduk di tempat masing-masing.
Gosip itu, menyebar cepat hingga sampai ke kelas 10 IPA A. Kedua tangan Ilham mengepal, kepalanya berbaring di atas meja sambil menahan emosi. Winda datang mendekat, dia duduk di samping Ilham.
Ilham duduk tegak, dia melirik ke arah Winda baru saja duduk.
"Ilham, gue lihat pertandingan elu di lapangan basket. Elu hebat bisa bantai kelas 10 IPS F itu. Gue yakin, pertandingan hari Sabtu akan sangat mudah," puji Winda.
"Entahlah, Win. Gue gak merasa menang," balas Ilham.
"Kenapa?" tanya Winda.
Ilham menatap Winda dengan penuh emosi, "Bajingan Alex itu, dia sengaja membiarkanku lewat. Pasti dia meremehkan ku!"
Winda menghembuskan nafas sambil melipat kedua tangannya. Dia pun berkata, "Alex ini cerdik juga. Dia sengaja membiarkanmu lewat demi menjaga informasi. Tapi, apa kamu kesal karena Alex atau karena Tiara memeluknya di lapangan basket?"
Ilham mengembuskan napas, dia membaringkan kepalanya ke samping lalu berkata, "Sudahlah, gue mau tidur."
"Ya, sudah. Tapi, soal hari ini jangan kamu pikirkan. Semangat Ilham, jangan sampai masalah ini mengganggu latihanmu di Akademi," ujarnya lalu pergi meninggalkannya seorang diri.
Meskipun begitu, Ilham tetap tidak bisa menyembunyikan emosinya. Semenjak pertandingan di lapangan basket, Ilham selalu teringat oleh Alex dan menganggapnya sebagai rival sekaligus musuh dalam mendapatkan gadis yang ia sukai.
__ADS_1