Senar Takdir

Senar Takdir
Seolah runtuh


__ADS_3

Pengumuman ke empat, Ketua OSIS menyebutkan kelas yang belum memiliki perwakilan untuk menjadi anggota OSIS. Kelas 10 IPS F masuk dalam kategori tersebut, Sang Ketus OSIS meminta untuk mendaftarkan perwakilan kelasnya menjadi anggota OSIS. Jika tidak, kelas itu akan mendapatkan sanksi.


Terakhir pada pertengahan bulan Mei, seluruh siswa kelas satu wajib mengikuti kegiatan Pramuka yaitu berkemah. Kegiatan berlangsung selama tiga hari di mulai dari hari Kamis.


Tiara melihat Alexander terlihat sangat lesu dan letih. Kemudian dia bertanya, "Kenapa sayang?" tanya Tiara berbisik kepada Alex.


"Aku hanya membayangkan, betapa lelahnya kegiatan ini di sekolah ini. Cepat atau lambat, kelas kita menjadi petugas upacara. Banyak juga event melelahkan yang harus diikuti. Di tambah lagi, Band kita belum diberi nama dan harus mengikuti lomba," keluh Alexander berbisik kepada Tiara.


Tiara tersenyum lalu berkata, "Jangan begitu, sayang. Jalani saja dan nikmati, kamu harus ingat bahwa masa sekolah tidak balik lagi. Semangat sayang," ujarnya berbisik menyemangati.


Alexander menggenggam kedua tangannya lalu berkata, "Iya, sayang," bisik Alex kepada kekasihnya.


Selesai pemberitahuan informasi, seluruh perwakilan kelas berjalan meninggalkan ruangan. Baru saja keluar dari kelas, Ilham menghadang mereka Alexander dan Tiara.


"Halo Tiara!" sapa Ilham.


Tiara tersenyum lalu membalas, "Hai!"


Mereka bertiga, berjalan bersama menelusuri lorong sekolah. Ilham memegang kedua pundak Tiara lalu sedikit mendorongnya.


Tiara merasa risih perlakuan Ilham lalu bertanya, "Kamu kenapa sih?!"


Ilham sambil mendorongnya menjawab, "Temani aku ke Kantin sebentar."


"Tapi sebentar, ya?! Sebentar lagi, kelas matematika akan di mulai!"


Ilham tertawa lalu berkata, "Siap!"


Tiara berbalik badan lalu berkata, "Ketua, aku izin ke kantin!" ucapnya sambil berjalan mundur.


"Iya!" balas Alex.


Senyuman Alexander perlahan mulai menghilang. Tiara melihat, raut wajah Alexander begitu dingin.


Tiara merasakan rasa sakit di dadanya. Rasa sakit penuh dengan kecemburuan serta amarah yang ia tidak mengerti.


Sementara itu, Alexander melihat Ilham tersenyum penuh kemenangan. Alexander melihat mereka berdua semakin jauh dari pandangannya.


Melihat hal itu, membuat Alexander teringat cerita Sang Putri yang diculik oleh seekor naga. Alexander ibaratkan seorang kesatria, Tiara adalah Sang Putri dan Ilham seekor naga.


Dia mengembuskan napas panjang lalu kembali ke kelas. Alexander masuk ke dalam kelas. Suasana di kelas terlihat ramai.


Alexander menepuk telapak tangannya sambil berkata, "Pengumuman-pengumuman, guys! Semua, mohon perhatiannya!" ucap Alexander dengan suara lantang.


Suasana seketika menjadi sunyi. Pandangan mereka semua, tertuju pada Alex.


Alexander mulai menyampaikan, informasi telah diberikan oleh Sang Ketua OSIS. Selesai menyampaikan pengumuman, dia mengembuskan napas panjang sambil menenangkan diri. Dia teringat, mengenai perwakilan kelas yang harus menjadi anggota OSIS.


"Guys, di sini siapa yang ingin jadi anggota OSIS?!" tanya Alexander.

__ADS_1


Semua saling menunjuk dan menyuruh temannya satu sama lain. Mereka enggan menjadi anggota OSIS. Di antara mereka semua, Nanda terdiam memperhatikannya.


Nanda mengangkat tangannya lalu berkata, "Aku!" ucapnya dengan lantang.


Alexander tersenyum lalu di dalam hati ia berkata, "Selamat!" ucapnya di dalam hati sambil mengelus dada.


Kemudian, Alexander berjalan menghampirinya. Dia mulai menjelaskan, mengenai tata cara menjadi anggota OSIS. Selesai menjelaskan, Alexander berjalan kembali ke tempat duduknya.


Wulan berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan dan duduk di samping Alex.


Wulan mengibaskan rambutnya lalu berkata, "Biar aku tebak, Tiara dan Ilham pergi ke kantin. Dan Bos, dengan polosnya mengizinkannya pergi dengan Ilham. Bos cemburu, tetapi Bos tahan rasa cemburu itu hingga sekarang."


Alexander tersenyum lalu menggelengkan kepala sambil bertepuk tangan. "Hebat gadis ramal, gak perlu menjelaskan situasinya kamu sudah tau."


Wulan tersenyum lalu berkata, "Wulan gitu, loh!" ujarnya dengan nada sombong.


"


Alexander tertawa lalu berkata, "Iya, percaya lah! Wulan, gue pernah bilang bahwa gue tidak ingin membatasi Tiara bergaul dengan siapa pun. Tapi kenapa, setiap kali melihatnya dengan lelaki lain malah membuat batinku tersiksa."


"Begitulah resiko Bos yang harus terima. Bos ingin melihat, Tiara bahagia dan menikmati indahnya masa remaja. Tetapi, resikonya Bos harus terima rasa sakit terutama ketika Tiara berjalan bersama lelaki lain."


Alexander semakin murung dan sedih. Dia memegang dadanya sendiri lalu bertanya, "Apakah Tiara tau, apa yang sedang aku rasakan saat ini?"


Wulan tersenyum lalu menjawab, "Di rumah, Bos juga akan tau. Pesanku, Bos harus jujur dengan perasaan cemburu sedang Bos rasakan."


"Hebat, elu bijak juga. Pengalaman asmara elu di luar jam terbang," puji Alexander kepada Wulan.


"Enggak! Enggak!" balas Alexander sambil menggelengkan kepalanya.


Wulan tertawa lalu menepuk pundak Alexander. "Santai Bos. Seumur hidup, gue belum pernah pacaran. Tetapi..," ujarnya lalu mendekat pada telinga Alex, "Soal pengetahuan ranjang, gue ahlinya," canda Wulan berbisik menggoda Alex.


Mendengar hal itu, Alexander menjadi salah tingkah dan gelisah. Dia memiliki tidur di atas meja dan mengabaikannya.


Sementara itu, lima belas menit sebelumnya Tiara dan Ilham berada di kantin. Mereka berdua, baru saja duduk berhadapan di meja kantin. Ilham sedang menikmati nasi goreng.


Sedangkan Tiara menikmati mie goreng dengan raut wajah yang kesal.


Tiara sambil mengunyah makanannya berkata, "Aku kira ada apa, ternyata memintaku menemanimu makan di kantin. Lagian, jam segini baru sarapan."


"Maaf-maaf, habisnya kalau tidak sarapan nanti tidak fokus," ujarnya sambil mengunyah makanan.


"Kenapa tidak minta dua temanmu? Emangnya, kamu gak takut di hukum?"


"Jangan, meminta mereka berdua sangat memalukan. Lagian buat apa takut? Berkali-kali di hukum pun, tidak sampai dikeluarkan dari sekolah. Oh, iya. Kemarin kenapa kamu buka voting?" ujarnya lalu bertanya mengenai voting kemarin.


Tiara sambil makan menjawab, "Aku dan teman-temanku sedang mengadakan observasi."


"Observasi apa?" tanya Ilham.

__ADS_1


"Penikmat aliran musik di Negara Kita. Soalnya, kami butuh itu untuk menentukan nama Band kita," jawab Tiara.


Ilham terkagum-kagum lalu berkata, "Aku baru tau kamu bentuk anggota Band. Keren!" puji Ilham.


"Terima kasih, Ilham. Sayangnya, aku dan teman-temanku, masih belum menentukan nama Band yang cocok."


Ilham meminum segelas air putih lalu meletakkannya di atas meja. "Nama adalah identitas dan jati diri, kamu dan teman-temanmu pikirkan saja diri kalian."


"Caranya?" tanya Tiara.


"Kalian cukup renungkan momen kebersamaan. Setelah itu, gabungkan aliran musik dan tujuan kalian membentuk Band," saran Ilham kepada Tiara.


"Ya, ampun. Sepertinya akan sangat sulit, " keluh Tiara.


"Semangat! Dulu menentukan nama Klub milikku juga begitu. Aku dan teman-temanku sering berdebat. Tapi akhirnya, kami berhasil menamai Klub motor kami dengan nama Dragon Boys!"


"Wah! Klub Motor?!" ujarnya terkagum walau tidak mengerti apa itu Klub Motor.


"Keren kan? Kami para pengguna motor ninja, sering berkeliling kota dan menikmati waktu kebersamaan sesama pengguna motor!"


Tamrin berjalan mendekati mereka berdua lalu berkata, "Klub motor? Maksudmu Gangster?!"


Ilham langsung berdiri menatap Ilham penuh dengan emosi. Lalu dia berkata, "Apa maksud elu?!"


Tamrin tertawa lalu berkata, "Santai kawan, gue cuman bercanda. Tiara, elu ngapain di sini? Sebentar lagi pelajaran matematika dimulai."


"Aku lupa! Tapi tunggu sebentar, aku mau membeli sesuatu," ujarnya lalu berlari menuju warung Kantin.


Ilham berjalan mendekatinya sambil berkata, "Tunggu Tiara, biar aku yang bayar!"


Tiara menerima tawaran Ilham. Dia membeli, dua jus kotak yang masih dingin dan juga cemilan.


"Banyak sekali cemilannya," kata Ilham.


Tiara tertawa lalu berkata, "Bukan buat aku saja. Jus jeruk ini dan kerupuk, tadinya aku belikan untuk Alex."


Mendengar hal itu, dunia seketika menjadi runtuh. Dia tidak menyangka, bahwa jajanan telah ia belikan untuk rival cintanya.


Kedua tangannya mengepal, mendengar nama Alexander semakin membuatnya emosi. Ilham berusaha menjaga emosi demi citranya di mata Tiara.


Ilham memandang Tiara dengan serius lalu bertanya, "Apa arti Alexander bagimu?"


Tiara tersenyum lalu menjawab, "Orang terpenting di dalam hidupku."


Seketika Ilham terdiam kaku, hatinya terasa sakit seperti tertusuk bilah pisau. Kedua matanya tak berkedip karena syok.


Tiara berjalan meninggalkan Ilham sambil berkata, "Aku kembali ke kelas! Kamu juga kembalilah, jangan sampai telat!"


Ilham berjalan kembali ke kelasnya. Kedua tangannya mengepal, dia terbakar api cemburu ketika Tiara berkata bahwa Alexander adalah lelaki terpenting dalam hidupnya.

__ADS_1


Sorot matanya menatap tajam ke depan. Kedua tangannya mengepal sambil berkata, "Bajingan itu!" gumamnya penuh emosi.


__ADS_2