Senar Takdir

Senar Takdir
Susu madu


__ADS_3

Hukuman telah berakhir, Alexander dan yang lainnya masuk ke dalam Ruang Bina Konseling. Beliau, meletakkan satu dus berisi air mineral dalam kemasan.


"Ayo, diminum dulu...," ujarnya kepada kelima muridnya.


Mereka berlima, langsung mengambil masing-masing satu gelas air mineral. Kemudian, mereka meminumnya sampai habis.


"Bapak sudah cek handphone kalian semua. Semuanya aman kecuali kamu, Budi. Kamu mau jadi bandar?!" tanya Pak Dirman.


"Tidak Pak," jawab Budi.


"Koleksimu sudah Bapak hapus, kalau sampai ketahuan lagi orang tuamu saya panggil. Mengerti?!"


"Mengerti Pak," jawab Budi.


"Hukuman hari ini, hanya sebatas hukuman karena membolos. Soal merokok, bapak sengaja tidak menambahkan daftar hukuman. Kalau sampai ketahuan lagi, siap-siap kalian bapak suruh telanjang dada dan berguling di lapangan basket. Paham?"


"Paham," jawab mereka semua.


Setelah dibanjiri nasehat, mereka semua keluar dari Ruang Bina Konseling. Sebagai pengganti absen yang hilang, mereka diminta untuk menulis kalimat "minta maaf" satu lembar penuh kertas foto polio.


Perempatan jalan mereka berpisah, Alexander pergi ke kelas sedangkan Tamrin dan yang lainnya pergi ke kantin. Alexander memasuki kelas, dia melihat Tiara sedang berbincang dengan beberapa siswi di kelas.


Sedangkan Wulan, sibuk bermain handphone di tempat duduknya. Alexander dengan wajah lesu mulai duduk di tempatnya.


"Bagaimana rasanya berjemur di tengah lapangan basket, Bos Berandal." Kata Wulan memulai pembicaraan sambil memainkan handphonenya.


Alexander mengembuskan nafas panjang lalu berkata, "Serasa cosplay jadi jemuran, sekarang di suruh tulis kalimat minta maaf di kertas foto polio sampai penuh."


"Semangat Bos," balas Wulan menyemangati sambil menepuk pundak Alex.


Alexander tidak menjawab, wajahnya menempel pada meja dibalik kedua tangan. Tidak berselang lama, Tiara pun datang lalu duduk di sampingnya.


"Kamu pergi ke mana? Aku khawatir," tanya Tiara.


Alexander terbangun, dia duduk bersandar lalu memandang ke arahnya, "Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku, Tamrin, Fajar, Dandi dan Budi pergi ke Rental PS3. Sialnya, kami bertemu dengan Pak Dirman. Tidak aku sangka, beliau main di Rental itu juga."


Wulan dan Tiara pun tertawa, mereka berkata bahwa Alexander sedang bernasip sial. Andaikan Alexander menunggu sebentar, mungkin dia tidak akan dihukum selama itu.


Wulan tersenyum lalu bertanya, "Selain bermain Play Station 3, apa yang kalian lakukan jangan-jangan kamu merokok?"


"Mana mungkin gue merokok. Menghirup asapnya saja bikin gue mual," bantah Alex.


Wulan mematikan handphone lalu memasukkannya ke dalam saku rok. Dia pun bertanya kembali, "Selain main Play Station 3 kalian ngapain?"


Alexander terdiam, raut wajahnya memerah mengingat dirinya bersama empat temannya menonton film porno. Dia teringat, adegan panas dalam film tersebut terutama kain merah jambu membuatnya teringat kejadian tadi pagi.


Tiara tersenyum lalu berkata, "Mencurigakan. Jangan-jangan kalian minum alkohol," kata Tiara menuding Alex. Gadis itu mendekat lalu mengendus sambil berkata, "Tapi aku tidak mencium bau alkohol."


Wajahnya semakin merah, dia masukkan kepalanya sendiri ke dalam ransel di atas meja. Melihat tingkah Alex, membuat Tiara semakin penasaran. Namun adegan panas dari film serta kejadian tadi pagi terus berputar dalam ingatannya.

__ADS_1


"Merah jambu...." gumamnya membuat Tiara terkejut.


"Merah jambu apa maksudnya? Jangan bilang, tingkah aneh kamu hari ini masih ada hubungannya soal tadi pagi," kata Tiara menggoda Alex.


"Aku mau tidur!" ucapnya menahan malu.


Tiara tersenyum lalu memandang kekasihnya dengan genit. Melihat mereka berdua, wajah Wulan memerah lalu kembali memainkan handphonenya.


Tidak berselang lama, Tamrin pun datang membawa batagor dan dua lembar kertas foto polio. Kemudian dia berjalan mendekati Alex lalu duduk berhadapan sambil berkata, "Bangun Bos, bukannya pergi bareng ke Kantin malah tidur di mari. Gue beliin Batagor porsi jumbo, bangunlah Bos!"


Kepala Alexander keluar dari tas, dia duduk bersandar lalu memandang Tamrin dengan wajah memerah. Tamrin terheran-heran dengan apa yang sedang dialami oleh sahabatnya.


"Kenapa wajah Bos merah begitu?" tanya Tamrin.


Alexander mengambil Batagor itu tergeletak di atas meja sambil berkata, "Enggak mungkin karena cuaca panas."


Tiara tersenyum lalu dia memasukkan tangan kanannya ke dalam ransel. Perlahan munculah butiran cahaya di dalam tas. Butiran tersebut, perlahan membentuk sebuah botol minuman 600 ml terbuat dari kayu.



Kemudian dia meletakkan botol itu di atas meja sambil berkata, "Soal minum, aku sudah mempersiapkannya." ujarnya lalu mengeluarkan gelas kayu di dalam tas.


"Apa itu?" tanya Alex.


Tiara menuangkan susu ke dalam gelas satu persatu sambil berkata, "Susu dari surga."


"Serius!?" tanya mereka bertiga.


Mereka merasakan suhu sejuk pada permukaan gelas. Bagaikan seekor lebah, mereka mencium aroma sari pati bunga ketika menghirup aroma susu di dalam gelas tersebut.


Kedua mata Alexander, Wulan dan Tamrin terbuka lebar ketika susu itu masuk ke dalam tenggorokan mereka. Susu murni, bercampur dengan sari pati madu serta suhu sejuk membuat susu terasa nikmat.


Seluruh syaraf pada menjadi rileks, energi terkuras kembali terisi membuat mereka merasa terlahir kembali. Mereka bertiga terus meminumnya hingga tetes terakhir.


Tamrin meletakkan gelas di atas meja sambil berkata, "Gila! Baru pertama kali, gue minum susu senikmat ini!" puji Tamrin.


"Rasa madu, manis dan juga rasa asing baru gue rasakan bercampur menjadi satu. Apalagi susu ini sejuk, benar-benar nikmat," sambung Wulan sambil meletakkan gelasnya di atas meja.


Alexander meletakkan gelas di atas meja, "Entah mengapa, seluruh tubuh gue terasa rileks dan segar seperti seolah terlahir kembali! Apalagi sambil ditemani batagor, benar-benar nikmat!"


"Tambah lagi!" ucap kompak Alexander, Wulan dan Tamrin.


Tiara, kembali menuangkan susu ke dalam gelas mereka bertiga sambil berkata, "Tenang anak-anak, stok masih banyak."


Sementara itu pojok kiri, Nanda duduk terdiam melihat mereka berempat. Melihat persahabatan begitu kental, membuat hati Nanda tersentuh.


Dia ingin sekali, berbincang dan menjalani pertemanan dengan mereka. Perlahan dia mencoba kembali berdiri, tetapi melihat kondisi kulitnya membuat Nanda kembali duduk.


Kemudian, dia kembali menghadap ke depan lalu membuka buku pelajarannya. Sesekali, dia menggoyangkan kaca matanya sambil melihat mereka berempat.

__ADS_1


Tiara menyadari hal itu, dia tersenyum manis kepada Nanda. "Hei, Nanda!" panggil Tiara.


Nanda menoleh kepadanya, gadis itu melihat Tiara melambaikan tangan memanggilnya ke mari. Senyuman Tiara membuat Nanda ikut tersenyum. Dia berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri mereka.


Tiara menarik sebuah kursi tidak terpakai sebagai tempat Nanda untuk duduk. Gadis itu mempersilahkan, Nanda untuk duduk dan bergabung dengan mereka.


Tiara, mengambil gelas kayu baru di dalam tas. Kemudian menuangkan susu ke dalam gelas.


"Ayo Nanda diminum!" kata Tiara.


Kedua mata Nanda terbuka lebar, jiwanya seolah terbang ke angkasa ketika seteguk susu mengalir ke dalam tenggorokannya. Baru pertama kali, Nanda merasakan susu ternikmat di dalam hidupnya. Biasanya, dia hanya menikmati susu sachet dua ribu rupiah.


Nanda, meletakkan gelas itu di atas meja lalu berkata, "Baru pertama kali, aku merasakan susu terenak. Ada campuran madu di dalamnya. Ini susu impor ya?" puji Nanda.


"Bukan, susu ini berasal dari tempat yang kamu tidak tau," jawab Tiara.


"Boleh aku minta lagi?" tanya Nanda.


"Tentu!" balas Tiara sambil mengangkat botol kayu miliknya.


Nanda begitu menikmati susu madu pemberian Tiara. Selesai meminumnya, Nanda meletakkan gelas itu di atas meja.


Gadis itu melihat, mereka semua terdiam memperhatikannya. Dia melihat, Alexander menggaruk-garuk tangannya sendiri.


Sorot mata Alex, Wulan dan Tamrin seolah memandang rendah dirinya. Tiara mengetahui hal itu, dia mengisyaratkan kepada mereka untuk menjaga sikap. Kemudian dia melirik senyuman Tiara yang manis.Namun senyuman itu, membuat Nanda semakin berpikiran buruk. Di dalam hatinya Nanda berkata, "Mereka sama saja."


Nanda berdiri sambil memegang gelasnya. Mereka terheran-heran, melihat Nanda tiba-tiba saja berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Tiara.


Nanda dengan wajah dingin menjawab, "Ketempat dudukku. Lebih baik belajar dari pada ngobrol tidak bermanfaat. Terima kasih susunya, soal gelas biar gue yang cuci."


Setelah itu, Nanda pergi menuju kamar mandi sambil membawa gelas kayu di tangannya. Selesai mencuci gelas, Nanda kembalikan gelas kepada Tiara tanpa sepatah kata pun.


Tiara menoleh kepada mereka bertiga, "Kenapa dengan kalian? Bukannya sudah aku katakan agar menjaga sikap?"


Alexander, Tamrin dan Wulan terdiam sambil menundukkan kepala. Tiara menggelengkan kepala lalu berkata, "Sesekali coba kalian bayangkan, jika seandainya kalian adalah Nanda. Bagaimana rasanya, jika kalian mendapat reaksi dan respon seperti itu?"


"Maaf," ucap mereka semua kepada Tiara.


Tiara menghembuskan nafas panjang. Dia pun berkata, "Seharusnya kalian minta maaf kepada Nanda. Aku tau, kalian takut tertular oleh penyakit kulitnya bukan? Pokoknya gimana pun caranya, kita harus minta maaf."


"Ya, ampun. Urusan dan pekerjaan kita jadi bertambah," kata Wulan.


"Urusan dan pekerjaan apa?" tanya Tamrin.


"Membentuk nama band kita, tugas sekolah...." jawab Wulan lalu mendekat pada kepada Tiara dan berbisik, "Winda dan kawan-kawan."


"Terakhir deadline naskah," jawab Alex.

__ADS_1


Mereka semua menjadi murung, mengetahui banyak hal yang harus dikerjakan.


__ADS_2