Senar Takdir

Senar Takdir
Berlatih Sepak Bola


__ADS_3

Tidak terasa badai telah berakhir. Sinar matahari mulai bersinar terang dan langit biru mulai terlihat. Alexander dan Tiara, keluar dari rumah.


Pada kedua tangan Alex terdapat sebuah bola sepak. Mereka berdua, mengenakan baju olahraga yang pernah mereka beli di Mall.


Tiara berjalan lalu ia berkata, "Sayang, aku tidak menyangka kamu tau tentang Sepak Bola. Aku kira kamu benar-benar buta soal Sepak Bola."


Mereka berdiri berhadapan di depan halaman rumah. Alexander menjatuhkan bola lalu menginjaknya dan ia pun berkata, "Waktu sekolah dasar sampai SMP, teman-teman di kelas selalu membicarakan Sepak Bola. Selain itu, aku juga pernah mencari dan sempat membacanya. Sekarang aku tidak begitu peduli. Pemain Sepak Bola sekarang pun aku tidak tau."


"Internet? Teman kelas sering membicarakannya. Sebenarnya apa itu?" tanya Tiara lalu Alexander membalas, "Nanti aku jelaskan."


"Ok, sekarang kita mulai latihannya. Kita mulai dari pemanasan," ujar Tiara memberi arahan.


Tiara mulai memimpin pemanasan. Alexander mengikuti apa yang telah diinstruksikan oleh Tiara dengan baik. Selesai pemanasan, mereka berdua berlari mengelilingi perumahan.


Tiara berada di samping kanan sedangkan Alexander berada sisi kiri. Alexander diminta untuk berlari sambil menggiring bola. Setiap kali bola terlepas dan menggelinding jauh, Tiara dengan sigap langsung berlari lalu langsung mengoper bola itu kepada Alex.


Para penduduk, memperhatikan mereka berdua. Setiap ada penduduk yang menyapa, mereka berdua membalasnya dengan ramah.


Sinar matahari menusuk kulit, keringat mengucur deras dan jantung berdegup kencang. Baru tiga ratus meter, Alexander pun berhenti lalu menepi dan duduk di sebuah Pos Ronda pinggir jalan yang sepi.


Tiara berdiri di samping Alex lalu ia berkata, "Jangan langsung duduk. Atur nafas dulu lalu minum."


Alexander mengatur nafasnya, Tiara memberikan botol plastik berisi air mineral lalu Alexander berkata, "Terima kasih," sambil mengambil botol itu.


Mereka berdua terdiam dan berisitirahat selama sepuluh menit sambil mengatur nafas. Setelah beristirahat, mereka berdua kembali berlari sambil menggiring bola dan mengoper secara bergantian.


Tidak terasa, sudah tiga ratus sepuluh meter mereka berdua berlari. Kedua kaki Alexander terasa sakit, nafasnya ngos-ngosan dan berkeringat. Alexander tanpa sengaja, menginjak bola lalu ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Tiara reflek menangkap Alex lalu ia berkata, "Hampir saja. Ayo, kita istirahat."


Gadis itu, merangkul Alex lalu duduk pada sebuah bangku dekat warung sembako yang sedang tutup. Alexander merasa sakit pada kedua kakinya.

__ADS_1


"Luruskan kakimu," perintah Tiara kepada Alex.


Kedua tangan Tiara masuk ke bawah kaki Alex lalu mengangkat kedua kaki itu dan dipangku atas paha Tiara.


Perlahan, Tiara memijat kedua kaki Alexander secara bergantian. Alexander terdiam menatap ke depan sambil mengatur nafasnya.


Alexander melirik ke arah Tiara, "Maaf Tiara, fisik dan staminaku lemah." katanya dengan terengah-engah.


"Tidak apa-apa, sayang. Wajar untuk orang yang jarang sekali berolahraga. Aku yakin, perlahan kamu akan terbiasa."


Mendengar akan hal itu Alexander regu apakah dirinya dipuji ataukah disindir. Dia pun hanya bisa, "Terima kasih."


"Sayang, tadi itu hebat!"


"Hebat? Apa yang hebat?" tanya Alex lalu dia bergumam di dalam hati, "Maksudnya?"


Sambil memijat kedua kaki Alex Tiara pun menjawab, "Kamu kuat, bisa berlari tiga ratus sepuluh meter!"


Alexander menunduk lalu ia berkata, "Kamu berlebihan. Sepuluh meter itu bukan hal yang hebat."


Tiara tersenyum lalu sambil memijat ia pun membalas, "Jangan berkata seperti itu, sayang. Sepuluh meter itu adalah pencapaian. Kamu harus bangga. Berarti kamu sudah selangkah maju ke depan."


Alexander melirik kepada kekasihnya. Dia tersenyum dan berkata, "Thanks."


Setelah beristirahat, mereka berdua kembali berlari sambil menggiring bola. Mereka menjaga jarak dan melangkah satu irama. Setiap langkah kaki Alex, Tiara terus menyemangatinya. Ketulusan Tiara dalam mendukung Alex, membuat Alexander tersentuh. Parasnya yang cantik ketika tersenyum dan memberikan sorak dukungan, membuat Alexander semakin terpikat.


Aura semangat serta senyumannya, membuat Alexander tidak merasakan sakit pada kedua kakinya. Dia merasa, bahwa waktu seketika terhenti. Tidak ada yang ia pikirkan selain gadis di sampingnya.


Kemampuan jarak tempuh Alex dalam berlari perlahan terus bertambah. Alexander terus berlari hingga akhirnya dia berhasil mengelilingi Kawasan Perumahan sebanyak dua keliling.


Sesampainya di rumah mereka duduk di atas lantai teras depan rumah sambil mengatur napas. Kedua kaki mereka berdua lurus ke depan. Tiara berjalan masuk ke dalam rumah lalu kembali membawa sapu tangan.

__ADS_1


Gadis itu mengelap keringatnya, "Sayang, kamu berhasil berlari dua putaran. Suamiku memang hebat!" puji Tiara.


Alexander tersipu malu lalu ia memalingkan wajahnya dan berkata, "Biasa saja."


"Setidaknya, staminamu kuat tiga puluh menit."


"Tiara, menurutmu apakah tim kelas kita bisa menang?"


"Entahlah, semua tergantung situasi di lapangan. Tapi kamu jangan khawatir, Ilham bilang pertandingan ini hanyalah pertandingan persahabatan."


Alexander menghembuskan nafas. Dia mengangkat kepalanya lalu melirik ke depan, "Aku tidak peduli kelas kita menang atau tidak. Setidaknya, aku tidak memalukan saat dilapangkan. Jujur aku takut, setelah pertandingan mungkin siswa di kelas atau dari kelas lain membullyku."


Alexander terdiam membayangkan dirinya kembali diganggu serta direndahkan seperti masa SMP. Mengingat hal itu, membuat kedua tangan Alexander gemetar dan ketakutan.


Tiara tersenyum, dia menggeser tempat duduk lalu menggenggam kedua tangan Alex, "Jangan takut, apapun yang terjadi di lapangan kamu sudah melakukan yang terbaik. Mereka tidak ada hak untuk menunggumu. Jika itu benar terjadi, aku akan selalu melindungi mu. Mungkin, aku juga akan terang-terangan memberitahu mereka bahwa kamu itu pacarku."


"Kamu tidak takut, jika mereka ikut mengganggu dan mungkin mereka tidak ingin berteman denganmu?"


Tiara menghembuskan nafas, dia mengelap keringat pada wajah Alex sambil berkata, "Takut? Aku tidak peduli mau mereka menjauhiku. Aku tidak butuh banyak teman. Dua atau tiga teman yang tulus, bagiku sudah cukup. Selain itu, selama kamu berada di sampingku itu sudah cukup."


Alexander tersenyum lalu berkata, "Terima kasih. Aku beruntung memiliki kamu di sampingku. Tidak akan aku biarkan orang lain mengganggumu."


Lima belas menit telah berlalu. Alexander dan Tiara kembali berdiri berhadapan di halaman rumah. Tiara mulai melatih Alexander sundulan.


Gadis itu melempar bola lalu Alex langsung menyundulnya. Alexander terdiam sambil mengamati bola yang mendekat. Latihan itu terus berlangsung selama setengah jam lamanya.


Selanjutnya, Tiara melatih Alex operan bola. Mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua meter. Tiara dan Alex, berlari ke samping sambil mengoper bola.


Latihan tersebut, berlangsung hingga tengah hari. Selesai berlatih, mereka kembali duduk di atas lantai teras rumah sambil meluruskan kaki. Perlahan, trauma di masa lalu berganti dengan kenangan baru bersama Tiara.


Alexander bersyukur memiliki Tiara. Tiara berjalan masuk ke dalam rumah untuk membuat menu makan siang. Alexander terdiam sambil memandang langit biru. Di dalam hati dia berdoa semoga kebahagiaan ini terus berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2