
Di depan kelas 10 IPA A, Ilham sedang duduk bersama Martin dan Bobi. Ilham terdiam, mendengarnya pembicaraan dua temannya. Dia teringat, momen saat berada pinggir jalan menuju Desa Manggis.
Martin berdiri dari tempat duduknya, "Guys, gue jenuh di sini. Yuk, jalan-jalan mumpung jam pelajaran kosong," ajak Martin kepada tiga temannya.
"Gas! Siapa tau ketemu Tiara dan Wulan," ujar Bobi sambil berdiri dari tempat duduknya.
Mereka bertiga berjalan bersama menikmati suasana sekolah. Bobi dan Martin terus berbincang mengenai kegiatan di sekolah. Martin melirik ke arah Ilham, sejak awal dia memperhatikan Ilham terus terdiam.
Dia penasaran apa yang sedang dipikirkan olehnya. Kemudian Martin pun bertanya, "Elu kenapa? Gue perhatiin elu diam terus."
Ilham tersadar dari lamunannya, dia melirik ke arah Martin lalu berkata, "Alex!"
"Ketua Murid kelas 10 IPS F itu? Kenapa dia?!" tanya Bobi.
Ilham mulai bercerita, mengenai kejadian setelah pertandingan Sepak Bola antar kelas. Setelah mengganti baju, Ilham mencari keberadaan Tiara. Dia berencana untuk mengantar Tiara pulang ke rumahnya.
Sekian lama mencari akhirnya dia berhasil menemukan Tiara. Ilham melihat, Alexander dan Tiara menyebrang jalan dengan bergandengan tangan menuju tempat parkir. Dia pun menyebrang menyusul mereka berdua menuju parkiran.
Sesampainya di Parkiran, dia pun mendekati Tiara lalu merayu agar dirinya mau membonceng dengannya. Tetapi, Tiara menolak dengan beralasan, Ayahnya akan marah jika tidak pulang cepat.
Namun anehnya, dia membonceng dengan Alex padahal dia sempat bilang bahwa Ayahnya sangat tegas. Ilham pun berinisiatif, mengikuti Alexander dan Tiara dari belakang.
Siapa tau, dia bisa menemukan di mana Tiara tinggal. Dengan begitu, dia bisa menjemputnya dan memulai hubungan lebih dekat sehingga rival cintanya tidak ada kesempatan.
Ilham terus mengikutinya walau hujan kembali turun dengan deras. Mereka berdua berlindung pada sebuah Pos Kamling pinggir jalan. Dia berinisiatif untuk ikut berteduh, sekaligus mencari kesempatan untuk berduaan dan merayu Tiara agar membonceng dengannya.
Sesampainya di Pos Kamling, Ilham dan Tiara pun berbincang bersama. Ilham senang, bisa berbincang berdua dengan orang yang ia sukai dan dia lebih senang melihat rivalnya terdiam layaknya obat nyamuk. Hujan mulai reda, mereka bertiga keluar dari Pos Ronda. Sekali lagi, Ilham mencoba untuk merayu Tiara agar membonceng dengannya.
Tiara berdiri di samping motor Alex, "Ilham, kalau begitu aku pulang dulu."
"Tiara, kenapa tidak denganku saja? Kamu bilang, Ayahmu galak?"
Alexander melirik ke arah Ilham dengan sorot mata yang tajam. Dia berkata, "Tenang, gue tau di mana Tiara harus turun. Kebetulan, rumah kami gak terlalu jauh," ujarnya memotong pembicaraan.
Jiwa Geng Motor mulai merasuki tubuh Martin dan Bobi. Mereka berdua sangat geram, mendengar cerita dari Ilham.
Bobi mulai mengepalkan kedua tangannya sambil berkata, "Sombong sekali!"
"Dia gak tau siapa kita!" sambung Martin.
"Sebelum pertandingan antar kelas, gue sempat menggertaknya kalian tau apa yang dia bilang? Mendengarnya saja membuatku muak. Jangan mimpi, apa pun caranya tidak akan gue biarkan satu pun lelaki merebutnya dariku."
Martin, selaku Ketua Gang Dragon Boys sekaligus sahabat Ilham semakin geram. Kedua tangannya mengepal sambil berkata, "Kalau ada kesempatan, kita bullying dia sekaligus peringatan keras."
Ilham dan Bobi tertawa, mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Martin. Tidak terasa, waktu pulang pun telah tiba. Ilham beserta teman-temannya, berjalan menuju gerbang sekolah.
Ketika hendak melintasi gerbang sekolah, Alexander dengan santainya melintasi mereka bertiga. Buru-buru, mereka menangkap dan merangkul Alex secara paksa lalu menyeretnya kembali masuk ke sekolah menuju belakang gudang sekolah.
__ADS_1
Alexander begitu terkejut bertanya, "Ada apa ini? Mau apa kalian?!"
Martin yang merangkulnya berkata, "Sudah jangan banyak bacot, nanti elu juga tau."
Sesampainya di belakang gudang, Martin mendorong Alex hingga terjatuh di samping saluran air. Suasana belakang gudang begitu sepi, tidak ada apapun selain pagar dan dinding yang menjadi saksi bisu. Bobi dan Martin, berada disamping kanan dan kiri sedangkan Ilham berada di tengah.
Alexander terdiam, raut wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya mulai gemetar. Ilham tersenyum jahat, melihat Alexander terlihat begitu ketakutan dan terintimidasi.
Ilham mencengkeram kerah bajunya lalu menatap wajahnya dengan penuh intimidasi. Dia menampar berkali-kali wajah Alex, "Mana muka sombong elu itu?! Kenapa jadi ciut?"
Martin tertawa terbahak-bahak, ketika melihat kedua mata Alex mulai berlinang. Lalu dia pun berkata, "Mau nangis dia!"
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Bobi mengambil dompet Alex lalu mengambil seluruh isi uang di dalam dompetnya.
"Wah ada tiga ratus ribu," ujar Bobi sambil mengibaskan uang di tangannya.
Martin mengambil uang tersebut lalu berkata, "Wah mantap, sepulang sekolah kita langsung ke Starbucks!" sambung Martin begitu girang.
Alexander terdiam, seketika dia kembali teringat luka lama ketika masa SMP. Dulu semasa SMP, dia menjadi korban bullying yang dilakukan oleh preman sekolah bermana Hadi. Dia sudah lelah ditindas oleh Hadi.
Setelah pembagian rapot, Hadi dan gerombolannya menyeret Alex menuju saung bambu belakang sekolah.
"Wih, kita dapat tangkapan babi di sini!" ujar anak buah Hadi, bernama Yono.
"Lihat bos! Dia habis pup di kelas," tunjuk Santo anak buah Hadi sekaligus siswa satu kelas dengannya.
"Ha.ha.ha!"
Mereka semua menertawakannya. Alex hanya bisa terdiam dengan sorot matanya yang kosong. Tiga anak buahnya, memegang tangan dan kakinya lalu merampas dompet Alex secara paksa.
"Tolong jangan! Uang itu untuk ongkos pulang," kata Alex mengharapkan belas kasih.
Bukannya simpati, Hadi menjepit pipi dengan kedua jarinya sendiri lalu menyentuh hidungnya berkali-kali hingga memerah. Kemudian dia langsung menghantam pipi Alex dengan sangat keras.
Pipi kanan Alex mengalami luka memar, air matanya mulai menetes seiring rasa sakit karena ulah mereka. Hadi dan teman-temannya sangat senang mendapatkan tiga ratus ribu dari dompet Alex. Melihat Alex terdiam, Hadi berjalan mendekatinya lalu memegang kedua pipi Alex sekali lagi.
"Hallo, apa ada otak di sini?!" tanya Hadi sambil mengetuk keningnya dengan keras.
Alex hanya terdiam, dia hanya melihat kegelapan tak berujung. Kemudian Hadi merampas tasnya, dia mengambil sertifikat Ujian Sekolah. Mereka tertawa terbahak-bahak, melihat hasil Ujian milik Alex.
"Matematika tidak bisa, Bahasa Indonesia dan Inggris tidak bisa. Olahraga apalagi!" ujar Yono dengan lantang.
"Ha.ha.ha!" mereka semua tertawa.
"Hohik-hohik!" ujar mereka semua menghina Alex dengan mengeluarkan suara seperti babi.
Alex terdiam, mendengar mereka terus menghina dirinya tiada henti. Kedua tangannya mengepal, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Hadi berjalan mendekat, dia memandang Alex dengan sangat hina.
__ADS_1
"Tok! Tok! Tok! Apa ada otak di sini?!" hina Alex sambil mengetuk keningnya dengan sangat keras.
"Di dalam kepalaku tidak ada otak, tapi hanya ada manusia kotoran bernama Hadi," balasnya membuat Hadi terpancing emosi.
"Apa kamu bilang?!"
"Apa kamu tuli? Aku bilang Hadi Si Manusia Kotoran!" balas Alex.
Amarah Hadi sudah mencapai puncak, akhirnya dia bersama teman-temanya memukuli Alex hingga babak belur. Alexander kembali tersadar ketika Bobi mulai mengetuk keningnya.
Bobi sambil mengetuk kening Alex berkata, "Apa ada otak di sini?!"
Ilham menamparnya dengan sangat keras lalu berkata, "Orang ditanya itu jawab! Mana wajah sombong elu! Elu pernah bilang, jangan mimpi, apa pun caranya tidak akan gue biarkan satu pun lelaki merebutnya dariku. Emangnya elu siapa? Pacar? Teman dekat?! Jangan sombong kau! Tiara itu milik gue, camkan itu baik-baik!"
Alexandre mulai berlinang air mata, dia memandang Ilham dengan penuh kebencian. Kedua tangannya mengepal, dia mulai teringat perbincangan dirinya dengan Tamrin kemarin setelah pelajaran kedua berakhir. Mereka berdua duduk di lantai depan kelas.
"Bos, elu bilang pernah jadi korban bullying?" tanya Tamrin.
"Iya, kenapa emangnya?"
"Maaf Bos, bukannya gue mendoakan dan sebagainya. Jika suatu saat nanti Bos dibully atau ditindas seseorang, ingat jangan takut."
Alexander menghembuskan nafas panjang lalu berkata, "Tapi Tamrin, gue gak bisa berkelahi. Waktu kelulusan saja gue kalah duel lawan Hadi dan teman-temannya."
"Itu karena dikeroyok, coba kalau satu lawan satu belum tentu mereka menang. Lagi pula, berkelahi bukan hanya soal teknik tapi keberanian. Pokoknya Bos jangan takut, lawan saja bila Bos ditindas," kata Tamrin.
Alexander tersenyum lalu berterima kasih kepada Tamrin. Mengingat hal itu, membuat rasa ragu dalam diri Alex menghilang. Dia tersenyum tipis, walau kedua tangannya masih gemetar.
Ilham pun mendekat lalu menampar wajah Alex berkali-kali sambil berkata, "Makanya, jadi orang itu jangan belagu. Elu gak tau siapa kita? Kita ini Dragon Boys."
Alexander semakin geram, dia langsung memukul wajahnya dengan sangat keras.
"Dragon Boys? Maksud kalian Grup Boyband?" balas Alex sambil mengibas tangan kanannya.
Ilham semakin geram, dia mengepalkan tinjunya lalu memukul Alex. Martin dan Bobi itu memukul, tiba-tiba seseorang memukul wajah Martin hingga tersungkur. Bobi dan Ilham melirik pada orang itu. Rupanya orang itu adalah Tamrin.
Tamrin sambil merenggangkan jari-jarinya berkata, "Berani sekali, kalian bertiga melukai Bos gue. Padahal baru satu bulan, kalian malah menampakkan jati diri. Setidaknya tunggu setengah tahun." Dia melirik kepada Alex lalu berkata, "Pukulan yang bagus Bos, Ilham bajingan itu memang harus dihajar!"
Bobi mendaratkan sebuah pukulan sambil berkata, "Bajingan!"
Tamrin tersenyum, dia menggoyangkan telunjuk di depan mereka bertiga. Kemudian dia menarik Bobi dan memukul pipinya. Martin langsung memukul pipi Tamrin dengan sangat keras hingga terdorong beberapa langkah.
Tamrin tertawa mengibaskan kedua tangannya. "Nice punch!"
Mereka semua, berkelahi dibelakang gudang sekolah. Ilham dan Alex saling melupakan kebencian dan amarah.
"Hei, kalian! Stop!" ucap seseorang dengan lantang.
__ADS_1
Baku hantam pun terhenti, mereka semua melirik kepada seorang siswa mengenakan almamater OSIS. Rupanya siswa itu adalah Ruben, dia berjalan mendekati mereka semua.