
Jantung Alexander berdegup kencang, ketika memandang raut wajah ayahnya yang serius. Dia pun terdiam sambil menundukkan pandangannya. Dirinya sangat khawatir, jika Ayahnya tau bahwa Tiara tinggal serumah dengannya.
Erwin memandang curiga sambil berkata, "Jangan-jangan, kamu menyembunyikan sesuatu dari Ayah."
Sepatah kata tidak keluar dari mulutnya. Jantung Alexander semakin berdegup kencang dan berkeringat dingin. Dari sorot mata putranya, terlihat sebuah kebohongan.
"Jangan-jangan, tanpa sepengetahuan Ayah kamu menonton film porno. Ayo mengaku," ujar Erwin mengunduh putranya sendiri.
Kedua mata Alexander terbuka lebar, dia tidak menyangka Ayahnya berpikiran seperti itu. Dirinya pun bingung, apakah ini disebut keberuntungan atau kesialan.
Apa yang dituduhkan Ayahnya, tidak sepenuhnya salah. Namun ia pun lebih memilih untuk menundukkan pandangannya dan terdiam.
"Iya, Ayah."
Erwin menghembuskan nafas, "Ayah tau, kamu itu sedang mengalami masa pubertas. Tapi kurang-kurangilah menonton film porno. Menonton film porno itu tidak baik untuk kesehatan mental. Apalagi melakukannya sambil beronani, jangan Alex. Bisa-bisa, kualitas ****** mu menurun."
Alexander memandang Ayahnya lalu berkata, "Iya, Ayah. Alexander janji akan menguranginya. Bahkan sekarang pun Ayah, Alexander tidak sering."
Erwin memandang putranya sambil menggelengkan kepala. Dia pun meminum seteguk susu dan meletakkan gelasnya kembali di atas meja.
"Sudah kita lupakan hal itu, sekarang Ayah ingin tau sudah sejauh mana latihan Band kalian?"
"Baru sekali," jawab Alex.
"Di mana?"
"Studio Musik, rencana kami akan berlatih dua Minggu sekali. Sayangnya, kami harus mengeluarkan modal untuk Studio Musik."
Erwin memandang putranya dengan penasaran lalu bertanya, "Kenapa tidak disekolah saja?"
"Soal itu, Alexander kurang tau Ayah. Mungkin karena disekolah, tidak ada tempat khusus untuk latihan Band. Khawatir saat latihan mengganggu kegiatan Ekstrakurikuler yang lain. Selain itu, alat musik dan fasilitas Band tidak terlalu lengkap," jawab Alex.
Erwin berdiri dari tempat duduknya lalu berkata, "Begitu rupanya."
Melihat ayahnya berdiri membuat Alexander penasaran. Lalu dia pun bertanya, "Ayah mau ke mana?"
"Ayah mau telpon seseorang," jawabnya meraih handphone di dalam saku celana sambil berjalan.
Melihat ayahnya berjalan keluar, Alexander berdiri lalu berjalan masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara itu di sebuah rumah tingkat, Pak Louis tidak lain adalah Kepala Sekolah sekaligus Papah Wulan sedang asik memainkan handphonenya.
Di atas meja, terdapat secangkir kopi hangat dan gorengan. Ketika sedang asik, notifikasi panggilan pada handphonenya mulai berbunyi. Beliau pun langsung mengangkatnya.
"Selamat malam, jarang sekali menghubungiku jam segini Bos Pemilik Wijaya Alam Sentosa," ujar Pak Louis kepada kawan lamanya.
Erwin pun tertawa lalu berkata, "Bisa saja kamu. Oh iya, aku sudah bertemu dengan putrimu di bengkel."
"Bagaimana menurutmu tentang putriku?"
"Putrimu cantik dan terlihat cool. Terakhir kali, aku melihatnya saat kunjungan rumahmu bersama Reynal anak pertama mu."
__ADS_1
"Sayangnya, Alexander tidak diajak. Siapa tau, Alex bisa akrab dengan Wulan. Ngomong-ngomong, ada perlu apa menelpon ku?" tanya Louis kepada Erwin.
"Louis, sekolahmu butuh suntikan dana?"
Selesai berbincang, Erwin pun mematikan handphonenya lalu berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Aroma mie goreng mulai tercium, dia melihat tiga mangkuk berisi mie goreng di atas meja tamu.
Alexander berjalan membawa nampan. Di atas nampan, terdapat tiga gelas besar berisi susu dingin.
Alex sambil meletakkan gelas ia pun berkata, "Silahkan Ayah, sekalian dengan Bapak yang diluar."
Erwin duduk sambil berkata, "Beliau itu supir pribadi sekaligus tangan kanan Ayah, namanya Anton. Terakhir kamu bertemu, sewaktu kamu masih menginjak Taman Kanak-kanak," ujarnya lalu menoleh ke belakang dan berkata, "Anton ayo kita makan malam."
Supir itu berdiri sambil berkata, "Baik Tuan."
Mereka bertiga menikmati makan bersama. Alexander mulai bercerita seputar kegiatannya di sekolah. Erwin senang, mendengar banyak sekali hal yang ia tidak lakukan semasa SMP. Seolah Sang Dewa, memberikan kesempatan hidup kepada orang telah mati.
Erwin teringat dua gadis merupakan teman Alex. Dia pemerintah, apakah putra ke duanya menyukai salah satu diantara mereka atau ada seorang gadis lain membuatnya tertarik.
Erwin tersenyum lalu bertanya, "Alex, apakah ada gadis yang kamu suka?"
Alexander terkejut mendengar pertanyaan Ayahnya. Dengan raut wajahnya merah padam ia bertanya, "Kenapa Ayah menanyakan hal itu?! Ini mendadak sekali!"
Erwin tertawa lalu berkata, "Habisnya, jarang sekali kamu berteman dengan gadis. Sekarang kamu berteman dengan gadis, Ayah melihatnya saja terkejut."
Alexander menunduk lalu menjawab, "Ada sih..."
Malu-malu Alexander pun menjawab, "Alex belum siap memberitahunya. Lagi pula baru juga satu bulan lebih."
Beliau langsung duduk bersandar sambil berkata, "Ah, gak seru. Bikin orang tua kamu ini penasaran saja," ucapnya dengan nada kecewa.
"Maaf..," balasnya kepada ayahnya.
Erwin tertawa lalu menepuk pundak anaknya sambil berkata, "Tidak perlu meminta maaf, santai saja. Kalau kamu memang mantap dan yakin, tolong kasih tau ayah. Setidaknya, Ayah tau gadis seperti apa yang kamu sukai."
Alexander pun hanya mengiyakan perkataan ayahnya. Selesai makan, Alexander mencuci piring. Erwin berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil melihat-lihat.
Suasana kamar mandi yang bersih dan aroma harum. Tidak ada lumut yang terlihat serta air di dalam bak bersih hingga air terlihat bening.
Waktu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Alexander dan Ayahnya berada di kamar, sedangkan Supir tidur di dalam kamar telah disiapkan.
Alexander tidur di kasur bawah, sedangkan ayahnya tidur di kasur atas. Mereka berdua, bersama-sama terlelap tidur sambil menikmati suara hujan di luar rumah.
Tidak terasa pagi pun telah tiba. Alexander terbangun dari tidurnya. Kedua matanya masih terasa lengket.
Dia berjalan menuju kamar mandi seorang diri. Pintu rumah sudah tidak terkunci, dia melihat supir pribadi ayahnya duduk menikmati sebatang rokok di teras depan.
Aroma nasi goreng mulai tercium, dia terkejut melihat Tiara mengenakan baju tidur berwarna pink meletakkan tiga piring terdapat nasi goreng.
Tiara tersenyum manis lalu berkata, "Selamat pagi My Husband," sapa Tiara dengan intonasi rendah."
__ADS_1
Alexander sambil mengusap kedua matanya berkata, "Tiara, aku kira siapa. Kamu ini, segala pakai My Husband. Ngomong-ngomong, nasi goreng ini kamu yang masak?"
"Iya, sayang. Aku membuat sarapan pagi untuk keluarganya Wulan, sekalian membuat sarapan untuk kamu, Ayah mu dan Supir pribadinya. Soal bahan memasak, aku beli sendiri dengan uang kita walau keluarga Wulan melarangnya," jawabnya.
"Wah, sampai dibuatkan nasi goreng segala," balas Alex.
"Tentu saja, sebab di rumah kita ada tamu. Menjamu tamu itu penting, apalagi orang tua sendiri."
"Terima kasih, Tiara."
Tiara tersenyum lalu membalas, "Sama-sama sayang. Aku mau kembali ke kamar Wulan."
Tiara mundur beberapa langkah, perlahan butiran cahaya menyelimuti tubuhnya lalu ia menghilang dibalik butiran cahaya. Alexander pun mencuci muka lalu selesai mencuci muka ia berjalan kembali menuju kamarnya. Belum sempat memegang gagang pintu kamarnya, pintu terbuka. Erwin tidak lain adalah Ayahnya, berjalan keluar dari kamar.
Erwin sambil mengendus pun berkata, "Aroma nasi goreng. Kamu masak?"
"Iya, Ayah. Ayo Ayah, kita sarapan pagi dulu."
Erwin dan putra ke duanya, menikmati sarapan pagi bersama di meja makan. Sedangkan Supir, menikmati sarapan pagi di teras depan.
Dirinya tidak menyangka, bahwa masakan putra ke duanya sangat lezat. Erwin langsung memuji masakannya. Padahal, tanpa beliau ketahui bahwa masakan sedang nikmati adalah buatan Tiara.
Selesai sarapan, Erwin beserta sarapannya bersiap untuk kembali ke Hotel. Jas sudah beliau kenakan, mobil hitam miliknya telah bersih dan siap untuk melaju. Supir pribadinya, sudah bersiap di dalam kursi kemudi.
Selesai mengenakan sepatu, beliau berdiri memandang putra ke duanya. Dia teringat kerusakan yang terjadi pada motor putranya. Tidak hanya itu, beliau juga teringat laporan orang kepercayaannya mengenai pembullyan dan perlakuan buruk di rumah terutama istrinya pilih kasih.
"Kalau begitu, Ayah pulang ke Hotel. Soal perlombaan itu, Ayah pasti akan datang."
Alexander mencium tangan ayahnya lalu berkata, "Hati-hati di jalan ayah."
Erwin terdiam memandang putra ke duanya dengan perasaan cemas. Dia pun berkata, "Ayah masih tidak mengerti, kamu itu anak yang baik. Tapi kenapa, orang di luar dan di dalam selalu berbuat jahat kepadamu?"
Mendengar hal itu, Alexander hanya terdiam menunduk sambil meratapi nasibnya. Dia tidak tau apa yang harus ia katakan kepada ayahnya.
"Setidaknya, kamu banyak berubah semenjak tinggal di sini. Biasanya kamu hanya berdiam diri di kamar. Jarang sekali ayah lihat, kamu bermain atau membawa temanmu ke rumah. Sekarang kamu punya teman, pesan Ayah tolong jaga kepercayaan mereka."
Alexander menatap ayahnya sambil tersenyum. Lalu ia berkata, "Pasti Ayah , Alex tidak akan kecewakan mereka."
Erwin mengusap kepala anaknya sambil berkata, "Nah, begitu dong anak Ayah!" ucapnya dengan senang lalu berkata, "Tadinya, ayah ingin menyewa seorang pembantu. Melihat kehidupan kamu di sini, sepertinya kamu tidak membutuhkannya."
"Tidak perlu, Ayah. Alex bisa mengurus diri sendiri."
Erwin sangat senang mendengarnya. Kemudian dia berjalan menuju mobilnya.
Sebelum membuka pintu mobil ia pun berkata, "Soal motor mu, sementara waktu kamu jangan membawa motor ke sekolah. Ayah yakin, pelakunya pasti tidak akan tinggal diam. Yang pasti, mulai sekarang ayah tidak akan diam. Jadi, kamu jangan pernah takut untuk melawan."
Alexander tersenyum lalu membalas, "Iya Ayah."
Pintu gerbang rumah mulai terbuka, mobil hitam itu mulai melaju ke luar. Sekali lagi, dia melihat mobil yang dinaiki ayahnya melaju menjauhi dirinya.
__ADS_1