
Keesokan harinya di SMA 22 TEGAR SARI, Tiara baru saja tiba di kelas. Para siswa dan siswi di kelas, kembali duduk di tempat sebelumnya. Sisi kanan mayoritas tempat duduk perempuan sedangkan sisi kiri tempat laki-laki.
Dia melihat Wulan, duduk di bangku meja kedua dari belakang. Wulan tetap duduk di tempat sebelumnya bersama Tamrin.
Wulan sedang memainkan game online lalu ia melirik ke arah Tiara yang baru datang, "Hei, Nyonya Bos!" sapa Wulan sambil melambaikan tangannya.
Tiara membalas melambaikan tangannya, dia berjalan dan duduk disamping Wulan, "Aku kira kamu pindah di tempat kita sebelumnya."
Wulan kembali memainkan game online sambil berkata, "Membosankan, sekarang aku lebih nyaman duduk di sini."
Ketika Wulan sedang serius bermain game, sebuah pesan dari nomer yang tidak dikenal membuat notifikasi pesan berbunyi. Sontak sinyal melemah dan karakter yang ia mainkan langsung mati.
"Hai, Wulan."
Pesan singkat itu membuat Wulan jengkel. Kemudian Tiara pun tertawa lalu Wulan melirik ke arahnya. Dia melihat Tiara memegang sebuah handphone baru di bawah meja, "Cie, handphone baru."
Tiara tertawa lalu menunjukkan handphone miliknya, "Kemarin sore, suamiku yang membelikannya. Padahal aku sama sekali tidak memintanya.Tapi, aku masih merasa tidak enak dan tidak pantas memiliknya. Apa aku kembalikan saja?"
Wulan meminjam meminjam handphone Tiara lalu mengembalikannya sambil berkata, "Tidak perlu, Bos membeli mu handphone karena kamu pantas mendapatkannya."
Tiara tersenyum, dia memeluk handphone baru miliknya. Senyuman Tiara, membuat Wulan ikut merasa senang. Dia bertanya kepada Tiara, mengenai apa yang sudah diajarkan oleh Alexander seputar penggunaan handphone.
Tiara menjawab, bahwa Alexander hanya mengajarkan cara mengirim pesan, menelfon, mengisi daya dan memfoto. Rencana, setelah pulang sekolah Alexander akan mengajarinya tentang penggunaan internet.
Wulan terdiam, dia melirik ke arah Tiara lalu ia bertanya, "Boleh aku lihat koleksi nomer kontakmu?"
Tiara memberikan handphone miliknya, "Tentu, silahkan saja."
Wulan membuka dan melihat isi handphone miliknya. Tiara menggeser tempat duduknya. Mereka berdua melihat koleksi foto Alex yang dia ambil secara diam-diam.
Wulan tertawa, saat melihat wajah Alex yang sedang tidur dalam mulut terbuka. Selain foto Alex juga terdapat foto dirinya dan pemandangan. Sebagai seorang gadis, Wulan mengakui bahwa Tiara selalu indah untuk difoto.
Selanjutnya, Wulan penasaran berapa jumlah nomer kontak yang Tiara miliki. Terdapat empat nomer kontak di dalam handphone.
Wulan terkejut, melihat nomer kontak bertuliskan Papah. Dia pun berkata, "Ha?! Papah?!" ujarnya dengan nada terheran-heran.
__ADS_1
Wajah Tiara memerah lalu ia mendekat pada daun telinga Wulan, "Sebenarnya itu nomer Alex," katanya berbisik.
Wulan mengembalikan handphone milik Tiara, "Kamuflase, ya? Menarik."
Tiara mengangkat handphone miliknya, "Wulan, ayo kita Selfi!"
Mereka berdua berfoto layaknya sahabat. Hana masih duduk ditempatnya melihat hal itu. Dia berjalan menghampirinya mereka berdua.
Hana menepuk meja, "Hei!" ujarnya sambil bersuara lantang.
Wulan dan Tiara menoleh kepadanya. Tiara sambil mengelus dada pun berkata, "Astaga Hana! Bikin aku kaget saja."
Hana pun tertawa lalu ia berkata, "Biarin, biar jantung copot sekalian. Kalian jahat, foto-foto gak ngajak-ngajak!" ujarnya dengan nada kesal.
"Suruh siapa tidak nimbrung," balas Wulan.
"Tiara, kenapa kemarin kamu tidak masuk?" tanya Hana.
Tiara menghembuskan nafas, dia melipat kedua tangannya sambil berkata, "Aku terjebak badai. Mau tidak mau, aku gak masuk sekolah. Sesekali menikmati waktu membolos, lagian Papah juga menyuruh untuk tidak sekolah."
Tiara melirik ke arah Wulan, dia dengan wajah datarnya mengangguk membenarkan perkataan Hana. Wulan bercerita ketika jam kosong di kelas.
Ilham bersama dua temannya, masuk ke dalam kelas lalu ia bertanya di mana Tiara. Wulan menjawab, bahwa Tiara tidak masuk hari ini. Kemudian, Ilham bertanya kepada Wulan di mana Tiara tinggal lalu Wulan menjawab bahwa dirinya tidak tau.
Hana dengan raut wajah kesal bertanya, "Tiara, kamu tinggal di mana?"
"Aku tidak bisa memberitahu, Papah orangnya galak dan terlalu protektif," jawab Tiara dengan nada gugup dan terbata-bata.
"Aku penasaran, seberapa galak Papah mu ini?! Masa tega, tidak membiarkan putrinya sendiri mengundang teman-temannya? Seandainya kamu sakit, gimana kami bisa menjenguk? Alamat rumahmu saja tidak diberitahu."
Perkataan Hana benar, tetapi Tiara benar-benar tidak bisa memberitahunya. Seandainya ia memberitahu tempat tinggal yang sebenarnya, maka satu sekolah akan heboh. Alexander terus memperingatinya, oleh karena itu Tiara bersikeras untuk menyembunyikannya.
"Begitulah Papahku!" kata Tiara lalu tersenyum sambil melebarkan kedua tangan.
Hana melihat sebuah handphone hitam di atas meja. Dia menunjuk pada handphone tersebut, "Handphone siapa?"
__ADS_1
"Handphone ku," jawab Tiara.
Hana langsung mengambilnya sambil berkata, "Wah! Pinjam dong aku mau lihat!" serunya sambil memegang handphone milik Tiara di kedua tangannya.
Tiara menggeser tempat duduknya, mereka bertiga bersama-sama menatap layar handphone. Kemudian Tiara berkata, "Papahku yang membelikannya."
Namun, ketika Hana ingin menyentuh icon galeri foto Tiara langsung merebutnya. Hana terkejut melihat Tiara yang tiba-tiba mengambilnya handphone miliknya kembali.
Hana melihat hal itu terheran-heran lalu ia bertanya, "Ada apa?! Kamu kenapa Tiara?!"
Wajah Tiara merah padam, ia masukkan handphone miliknya ke dalam saku rok sambil berkata, "Di dalam galeri ada foto pacarku," jawabnya dengan terbata-bata.
Hana pun langsung heboh, dia mendekati Tiara dengan sorot mata berbinar-binar dan penuh rasa penasaran, "Pacar?! Aku ingin lihat!"
"Tidak mau! Aku belum siap!"
Hana menunjuk kepada Tiara sambil berkata, "Pacarmu itu jangan-jangan Ilham!"
Tiara menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Bukan-bukan!"
"Begitu rupanya, padahal kalian berdua itu sangat cocok. Apalagi, aku sempat melihat kalian berduaan dua hari yang lalu di lapangan Sepak Bola."
Wulan memegang pundaknya, "Sudahlah Hana, dekat bukan berarti tertarik. Lagi pula, Tiara mau pacaran dengan siapa pun bukan urusanmu."
Hana melipat kedua tangannya, dia pun berkata, "Iya, aku juga tau. Tapi aku masih penasaran."
"Aku juga sama ingin tau, tapi nanti juga kamu tau sendiri," balas Wulan.
"Ya, sudah," ujar Hana lalu mengeluarkan handphone miliknya lalu menyodorkan kepada Tiara, "Tiara, aku minta nomer mu, dong!"
Tiara menerima handphone miliknya sambil berkata, "Tentu," ujarnya dengan ramah lalu tersenyum.
Lonceng telah berbunyi, Hana sempatkan berfoto bersama kedua temannya. Kemudian dia berjalan kembali ke tempat duduk.
Seluruh siswa di kelas, kembali ke tempat duduk masing-masing.
__ADS_1
Tiara tidak kembali ke tempat duduk sebelumnya. Dia lebih memilih duduk bersama Alex dan dua temannya. Alexander dan Tamrin masuk ke dalam kelas. Tidak berselang lama, Sang Guru masuk ke dalam kelas dan pelajaran pertama pun dimulai.