Senar Takdir

Senar Takdir
Pekerjaan Ayah


__ADS_3

Pak Dirman meminta para siswa untuk mengerjakan soal pada buku Latihan Siswa. Di dalam buku tersebut, terdapat soal mengenai unsur-unsur intrinsik dan PUEBI. Suasana seketika menjadi sunyi, para siswa di kelas mulai fokus mengerjakan soal.


Diam-diam, Alexander mengintip soal yang dikerjakan oleh Tiara. Dia terkagum-kagum, melihat tulisan Tiara yang hampir menyamai dengan tulisan komputer. Tiara merasa diperhatikan, dia melirik ke arah Alex lalu menggeser bukunya.


"Silahkan, lihat. Padahal semua soal ini sangat mudah," kata Tiara.


"Bukan, aku bukan ingin melihat jawabanmu. Aku hanya melihat tulisanmu. Tulisanmu sangat bagus, hampir mendekati tulisan komputer," puji Alexander.


"Kamu berlebihan, sayang. Tulisanku tidak sebagus itu, sebaiknya kita kembali kerjakan soal-soal ini sampai selesai."


Mereka berdua kembali mengerjakan soal masing-masing. Selesai mengerjakan soal, buku latihan siswa dikumpulkan lalu Pak Dirman memeriksa jawaban para siswa.


"Selama saya periksa jawaban kalian, tolong tulis cerita tentang kegiatan dan pekerjaan Ayah kalian. Setelah saya periksa jawaban kalian, satu persatu bapak panggil untuk berdiri dan ceritakan tentang Ayah kalian pada teman kelas."


Pak Dirman, mulai memeriksa jawaban murid-muridnya satu persatu. Para murid di kelas, mulai menulis tentang kegiatan dan pekerjaan Ayah masing-masing pada buku tulis.


Alexander mulai menulis tentang kegiatan sehari-hari di rumah. Terkadang, dia teringat rasa kesepian dan perlakuan tidak adil oleh Ibunya sendiri. Setelah memeriksa jawaban murid-muridnya, Pak Dirman mengambil absen kelas di atas mejanya.


"Sekarang, Bapak panggil kalian satu persatu. Bagi yang belum selesai, silahkan cerita seadanya. Alexander berdiri! Ceritakan tentang kegiatan dan pekerjaan Ayahmu."


Alexander berdiri, jantungnya berdegup begitu kencang. Kedua tangannya menggenggam buku miliknya di atas meja. Tangannya gemetar, dia gugup ketika semua orang fokus memperhatikan dirinya.


"Ayahku tukang kebun. Setiap hari, Ayahku pergi ke Bandara jam empat pagi. Jam delapan Ayahku pergi ke kebun. Pada jam Satu ayahku pergi ke kantor dan jam tiga sore ayahku main golf. Biasanya, ayahku pulang dua Minggu sekali."


"Hah?! Gimana-gimana?! Ayahmu tukang kebun, pergi ke bandara, pergi ke kantor dan main golf?! Memangnya Ayahmu punya kebun apa?"


"Kebun Sawit."


Seluruh penghuni kelas terkejut, mendengar bahwa Ayahnya adalah Bos pemilik Kebun Kelapa Sawit. Seperti yang kita tahu, bahwa setiap satu hektar dalam sekali panen menghasilkan keuntungan sebesar sempat puluh juta. Sedangkan Erwin, Ayah Alex memiliki dua puluh lima hektar kelapa sawit di Pulau Kalimantan dan Sumatera.


Selain itu, Ayahnya Alexander memiliki kebun teh serta memiliki perusahaan di bidang pangan dan minuman. Perusahaan bidang pangan dan minuman yaitu Perusahaan Wijaya Alam Sentosa. Mendengar hal itu, Wulan menggeser tempat duduknya mendekati Tamrin.


"Sekarang kamu tau, alasanku memanggil Alex dengan sebutan Bos," balas Wulan.


"Iya, Wulan. Sekarang, semuanya terdengar masuk akal," balas Tamrin.


Sementara itu, Pak Dirman terdiam dengan raut wajah datar. Beliau menggelengkan kepala dan merasa dipermainkan.


"Oh, Bos Sawit rupanya. Selanjutnya...."


Satu persatu, para siswa mulai menceritakan pekerjaan orang tua masing-masing. Namun tetap saja, Alexander masih menjadi topik hangat. Sekarang, giliran Dandi untuk bercerita tentang pekerjaan dan kegiatan Ayahnya.


"Bapakku tukang gambar. Setiap selesai sarapan, Bapakku sering menggambar. Jam sembilan pagi Bapakku pergi ke kantor."

__ADS_1


"Bapakmu tukang gambar dan pergi ke kantor. Memangnya bapakmu gambar apa?"


"Gambar bangunan."


"Bapakmu Arsitek! Selanjutnya..."


Satu persatu siswa, mulai menceritakan tentang pekerjaan dan kegiatan Ayahnya. Tidak terasa, kini giliran Tamrin untuk bercerita.


"Tamrin, sekarang ceritakan pekerjaan dan kegiatan Ayahmu."


"Baik, Pak. Ayahku adalah seorang pemimpin yang hebat. Dia rajin memimpin anak buahnya membangun negeri."


"Bapakmu penjabat?" tanya Pak Dirman lalu Tamrin menjawab, "Mandor Bangunan."


"Hmm... gak salah sih. Selanjutnya Tiara, tolong ceritakan pekerjaan dan kegiatan Ayahmu."


Tiara berdiri dari tempat duduknya, dia tersenyum membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Mereka penasaran, pekerjaan seperti apa orang tua yang menjadi primadona kelas.


"Ayahku bekerja sebagai pegawai kantoran. Setiap jam delapan Ayahku pergi ke kantor. Sebelum berangkat, ayahku memberi uang jajan dan mengurus hewan peliharaannya. Terkadang, ayahku harus pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan."


Wulan dan Alexander terdiam karena mengetahui bahwa Tiara buka manusia melainkan sosok bidadari. Kebohongan itu setidaknya membuat Tiara terlihat normal.


Kemudian, para siswa yang mendapat giliran menceritakan pekerjaan dan kegiatan Ayah mereka. Terakhir, giliran Wulan untuk bercerita.


"Ayahku Kepala Sekolah, setiap hari Ayahku berangkat jam 9 pagi. Biasanya, Ayahku pulang jam dua. Sesampainya di rumah, ayahku selalu tidur siang. Terkadang Ayahku duduk di ruang keluarga menonton acara televisi sambil minum kopi. Kalau rapat, Ayahku biasanya pulang jam lima sore."


"Gue gak nyangka, Bos anak Bos Sawit!" puji Tamrin.


"Ah, jangan berlebihan. Ayahku tidak sehebat itu," balas Alex kepada Tamrin.


"Rencana, hari ini kita mau ke mana?" tanya Wulan.


"Entahlah, semenjak ada pertandingan melawan kelas 10 IPA A rasanya gue ingin langsung pulang."


"Jangan begitu, Bos. Setidaknya Bos harus ada persiapan. Kalau mau, sepulang sekolah kita latihan," ujar Tamrin.


"Sayang, aku izin mau ketemu Ilham di lapangan Sepak Bola. Katanya, dia ingin mengajariku sepak bola," kata Tiara berbisik meminta izin kepada Alex.


"Boleh-boleh," jawabnya lalu tersenyum.


Lonceng telah berbunyi, seluruh siswa keluar dari kelas lalu berjalan memulai aktivitas masing-masing. Tiara berjalan menelusuri koridor seorang diri. Beberapa siswa yang menongkrong, menyapa dirinya lalu Tiara dengan ramah balas menyapa.


Seseorang menarik telinganya, ia berbalik namun tidak ada siapa-siapa. Sekali lagi ada orang menyentuh telinganya namun tidak ada siapa pun. Dia berbalik lalu terkejut melihat Ilham berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Astaga, bikin aku kaget saja!"


"Ha.ha.ha! Maaf-maaf, ayok kita ke lapangan."


Mereka berdua, berjalan bersama menuju lapangan Sepak Bola. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Alexander, Wulan dan Tamrin menguntit mereka dari belakang. Alexander memang mengizinkannya, namun hati kecilnya berkata tidak.


Oleh karena itu, Alexander berniat untuk mengikuti kekasihnya secara diam-diam walau melibatkan dua sahabatnya. Sesampainya di lapangan Sepak Bola, Tiara menjadi pusat perhatian anggota ekskul. Bobi yang juga merupakan anggota ekskul datang menghampiri mereka berdua.


"Halo, Kapten Ilham. Wah! Gak nyangka ada Tiara di sini," sapa Bobi pada mereka berdua.


"Maaf, Ilham mengajakku ke sini. Kebetulan aku ingin tau cara bermain dan berlatih sepak bola," balas Tiara.


Sinar matahari menusuk kulit, seluruh anggota Ekskul Sepak Bola mulai melakukan pemanasan. Tiara, duduk di bangku cadangan ditemani oleh seorang pelatih muda berusia 25 tahun.


"Hei, perkenalan. Nama saya Heri, pelatih di Ekskul ini," ujarnya menjulurkan tangannya.


"Tiara," balasnya lalu berjabat tangan.


"Kamu sedang apa di sini? Melihat pacarmu berlatih?" tanya Heri lalu Tiara menjawab, "Tidak, Kak. Tiara hanya ingin tau cara bermain dan metode berlatih Sepak Bola."


"Kamu suka Sepak Bola?" tanya Heri sekali lagi lalu Tiara menjawab, "Tidak, Pak."


"Hmm..., saya tidak tau tujuanmu sebenarnya apa. Silahkan dan nikmati sepuasnya, kalau ada sesuatu yang ingin kamu tau bilang saja."


"Baik, Pak. Eh, baik kak!"


"Kak Heri saja cukup."


Ilham melihat Tiara berbincang berdua dengan pelatihnya. Api cemburu telah membakar hatinya, ia memandang pelatihnya dengan tatapan kesal. Selesai pemanasan, dia berjalan menghampirinya lalu ia menarik tangannya.


"Hei! Kamu kenapa?!" tanya Tiara lalu Ilham menjawab, "Itu bangku khusus pemain cadangan. Kamu gak boleh duduk di sana."


Tiara terdiam lalu mengikuti ke mana Ilham membawanya. Mereka berdua, duduk pada sebuah bangku cadangan cukup jauh dari tempat duduk sebelumnya. Dia melihat, tubuh Ilham penuh dengan keringat. Lalu dia mengambil sapu tangan di dalam tasnya.


"Keringatmu banyak sekali," kata Tiara sambil mengelap keringat di wajah serta leher Ilham.


"Iya, namanya juga pemain bola. Apalagi, cuaca hari sangat panas."


Mendapatkan perhatian kecil dari Tiara, membuat Ilham semakin terpikat. Di saat itu juga dia merasa menjadi manusia paling beruntung.


"Kuatnya, tapi kamu jangan memaksakan diri. Jika ada waktu, manfaatkan waktu untuk beristirahat."


"Iya, Tiara. Thanks," balasnya lalu tersenyum."

__ADS_1


Di sebuah tempat yang tidak diketahui oleh Tiara dari kejauhan, Alexander melihat hal itu. Hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum panas. Jiwanya terasa hampa, apalagi melihat Tiara mengelap keringat Ilham dengan sapu tangannya. Di saat yang bersamaan, Tiara memegang dadanya sendiri.


Dia tidak tau, mengapa dadanya merasakan sakit. Rasa sakit, panas dan hampa bercampur menjadi satu. Tiara melirik ke sana dan kemari sambil memegang dadanya yang sakit. Dia tidak melihat hal yang mencurigakan.


__ADS_2