Senar Takdir

Senar Takdir
Hal yang harus dipikirkan


__ADS_3

Upacara telah selesai, Alexander berjalan seorang diri meninggalkan lapangan upacara. Dia duduk pada sebuah bangku kayu di pinggir lorong sekolah. Alexander melihat Wulan dan Tamrin, berdiri dengan satu kaki serta kedua jari mereka menarik kuping samping temannya.


Alexander menertawakan mereka bertiga, membuat Wulan dan Tamrin melirik ke arahnya. Raut wajah mereka berdua, menatap datar Sang Ketua Empat Serangkai. Puas menertawakan mereka berdua, wajah Alexander ceria kembali murung ketika mengingat Tiara jalan berdua dengan Ilham.


Tangan Ilham menggenggam erat, membuat hati Alexander terbakar api cemburu. Mengingat hal itu, membuat rasa sakit, panas dan hampa tercampur aduk. Lama Alexander berjalan, akhirnya ia tiba di depan kelas. Perlahan dia berjalan masuk ke dalam kelas.


"Tiara, pita kamu bagus banget!" puji Hana melihat pita rambut merah yang ia kenakan.


"Terima kasih," balas Tiara.


"Beli di mana?" tanya seorang gadis berambut hitam sebahu dan bermata coklat bernama Melati.


"Mall Cikini. Tapi pita ini bukan aku yang beli, tapi pemberian seseorang," jawabnya tersipu malu.


Para siswi mengerumuninya langsung heboh. Mereka bertanya-tanya, siapa lelaki yang telah memberikan pita. Diam-diam, Alexander dan Tiara saling berpandangan.


Gadis itu, memandang seorang pangeran yang telah memberikan pita rambut merah dengan penuh rasa cinta. Kemudian, dia kembali melanjutkan perbincangan dengan teman-temannya sedangkan Alex berjalan ke tempat duduk.


"Hei, Alex!" panggil Fajar kepada Alex baru saja duduk.


"Iya?"


"Kapan kita latihan?" tanya Fajar lalu Alexander balik bertanya, "Sudah kamu temukan tempat latihannya?"


"Di Desa Wanggai, dekat rumah gue ada lapangan Sepak Bola. Kalau mau, sepulang sekolah kita langsung latihan," jawab Dandi lelaki mengenakan kupluk hijau.


"Ya, sudah. Hari Kamis jam 2 siang, kita langsung latihan. Tolong kamu urus sisanya," ujar Alex memberikan arahan.


"Siap, Bos!" jawab kompak Fajar dan Dandi.


Setelah memberikan instruksi, Alexander membaringkan kepalanya di atas meja. Perlahan, dia memejamkan mata lalu mengubur wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Hatinya terasa hampa dan sakit, setiap kali ia mengingat Ilham menggenggam tangan Tiara.


Selain hal itu, dia juga memikirkan bagaimana caranya mencari uang untuk membeli handphone baru untuk Tiara. Apakah harus mengorbankan uang jajan bulanan? Begitulah yang dipikirkan Alexander di dalam tidurnya.


"Hei, Bos! Masih pagi sudah tidur!" ujar seseorang menepuk punggungnya.


Alexander mulai duduk bersandar, dia melirik ke arah samping. Rupanya, siswa itu adalah Tamrin. Sebelumnya, Tamrin sempat melihat raut wajah yang sedih dan terlihat lesu.


Sampai sekarang, raut wajahnya masih seperti itu. Dirinya penasaran, apa yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya.

__ADS_1


"Hari ini, Bos kelihatan sedih dan lesu. Sebenarnya ada apa, Bos?"


"Di Parkiran, gue sama Tiara ketemu Ilham. Gue sama Ilham sempat kenalan, tapi sorot mata sama auranya menatap gue soal ancaman. Kemudian, Ilham menarik dan menggenggam tangan Ilham. Entah mengapa, hati gue ngerasa sakit dan hampa."


"Cie, ada yang cemburu. Sepertinya alarm pertempuran mulai berbunyi. Dari cerita Bos, Ilham suka dengan Tiara. Dia benar-benar serius ingin merebut Tiara dari Bos. Kenapa Bos, tidak bilang saja bahwa gue ini pacarnya? Sepandai-pandainya Bos menyembunyikan status, cepat atau lambat pasti ketahuan juga."


"Elu, benar Tamrin. Rencana sehabis Ujian Akhir Semester, gue akan beritahu hubungan kami pada yang lain. Persetan soal pengakuannya, dikucilkan dan tidak diakui pun aku tidak peduli."


"Nah, bagus itu! Sebelum hari itu tiba, cobalah Bos manfaatkan momentum pertandingan antar kelas sebagai ajang menarik perhatian Tiara," balasnya dengan suara lantang lalu berbincang dengan suara intonasi rendah.


"Hmm....," gumamnya dengan lesu.


Dia kembali teringat, mengenai rencana untuk membeli handphone baru untuk Tiara. Dirinya bingung, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membelinya. Alexander yang lesu, semakin terlihat lesu dan sedih.


"Kenapa tambah lesu, Bos? Masih kepikiran soal Ilham?"


"Bukan, soal itu. Aku kepikiran, bagaimana caranya mendapatkan uang."


"Ha.ha.ha! Baru pertama kali, melihat Bos besar memikirkan uang," canda Tamrin.


"Hmm..."


"Bos, segala rahasia. Kalau Bos memang butuh uang, kenapa gak ikut lomba?"


Alexander terdiam, mendengar kata lomba yang diucapkan oleh Tamrin. Dirinya baru terpikirkan soal lomba.


"Ikut pun belum tentu menang."


"Kalau begitu, minta saja ke orang tuamu. Orang tuamu orang berada bukan?"


"Iya, kamu benar. Keluargaku orang berada, sebulan sekali Ayahku memberikan uang sepuluh juta. Tapi, aku merasa tidak enak kalau harus menghamburkan uang."


"Jangan begitu, selama orang tua Bos tidak keberadaan kenapa tidak. Lagi pula, jika seandainya Bos ikut dan menang perlombaan jumlah uang itu akan tertutupi. Tapi sudahlah, Bos! Sekarang, pikirkan saja pertandingan Sabtu depan."


"Iya, kamu benar. Tamrin."


Saat ini, ada hal yang harus Alexander pikirkan. Diam-diam, Tiara memperhatikan Alexander dari tempat duduknya. Dia sangat memikirkan pertandingan yang akan berlangsung pada hari Sabtu.


Tidak terasa waktu istirahat telah tiba. Tiara baru saja keluar dari kelas. Seseorang menarik daun telinganya. Ketika ia berbalik, tidak ada siapapun.

__ADS_1


Sekali lagi, entah siapa orang itu kembali menarik. Tiara terkejut melihat Wulan, berada dihadapannya.


"Yo, Nyonya Bos," sapa Wulan.


"Ha.ha.ha! Segala panggil Nyonya Bos."


"Kenapa? Kamu itu memang istri Bos," bisik Wulan membuat Tiara tersipu malu.


"Sudahlah, ayo kita ke Kantin!" ajak Tiara.


Mereka berdua, berjalan menelusuri lorong menuju kantin. Kedua gadis itu, mulai melintasi lapangan basket. Para anak-anak kelas 10 IPA A terlihat sedang bermain bola.


Seorang siswa, secara tidak sengaja menendang tepat ke arah Tiara. Spontan Tiara melompat lalu menangkis bola itu dengan tendangan putaran. Penghuni Sekolah yang melihat aksinya langsung bertepuk tangan.


Bola itu melesat kembali ke lapangan basket. Seorang siswa, mengembangkan baju olahraga datang mendekat.


Dia membawa buku absen dan sebuah kalung peluit merah. Orang itu tidak lain adalah Ilham.


"Halo, kalian berdua. Maaf, reman-temanku tidak sengaja."


"Tidak, apa-apa Ilham. Baru selesai olahraga?" tanya Tiara.


"Begitulah. Tadi itu, reflek mu keren sekali!" puji Ilham kepada Tiara.


"Ah, tidak. Hanya reflek, mungkin selanjutnya bola itu akan mengenai wajahku."


"Jangan begitu! Oh, iya. Mumpung masih istirahat, bagaimana kalau aku ajari kamu Sepak Bola sekarang? Wulan kamu juga boleh ikut."


"Menarik, aku akan ikut. Kebetulan, suasana di Kantin sedang ramai."


Ilham berlari ke Ruang Olahraga untuk mengambil bola futsal. Dia berlari sambil menggiring bola dipinggiran lapangan basket. Bobi dan Martin berlari mendekat, mereka berdua meminta izin pada Ilham untuk bergabung.


"Ikutan dong!" kata Martin.


"Boleh-boleh. Semakin banyak semakin baik. Sekarang, kita main kucing-kucingan!"


Ilham, Bobi, Wulan dan Tiara membentuk lingkaran besar. Martin berdiri diantara mereka semua. Kemudian, Ilham mengoper kepada Tiara sebagai awal mulainya pemain.


Martin berusaha merebut bola dari mereka semua. Namun, kekompakan dan konsentrasi membuatnya tidak mudah. Setelah mendapatkan bola, kini giliran Bobi untuk berjaga.

__ADS_1


Puas bermain kucing-kucingan, Ilham memasang rintang kerucut di pinggir lapangan basket. Dia mulai unjuk gigi, menggocek bola melewati kerucut tersebut. Mereka berempat, memberikan tepuk tangan sebagai rasa kagum hebatnya mengocek bola.


__ADS_2