
Tidak terasa jam satu telah tiba. Alexander baru saja tiba di rumah. Alexander masuk ke dalam kamar lalu mengganti bajunya.
Selesai mengganti baju, dia berbaring di atas kasur seorang diri di dalam kamar. Hari ini, Tiara tidak langsung pulang karena ada suatu urusan dengan Wulan. Wajahnya memerah, seiring teringat momen perbincangan dengan Dandi, Budi, Tamrin dan Fajar.
Setelah Tiara pergi mendekati Nanda, Alexander duduk bergabung bersama Tamrin dan yang lainnya. Mereka asik membicarakan pertandingan Sepak Bola antar Kota semalam. Alexander tidak menonton, diam mendengar apa yang mereka bicarakan.
Fajar menjulurkan tangannya kepada Budi lalu berkata, "Kembang FC kalah, Budi? Tamrin? Mana lima ribu?!" ujarnya menagih hasil taruhan.
Budi memberikan selembar lima ribu sambil berkata, "Alah dibantu wasit jangan sok keras!"
Fajar menerima uang mereka berdua sambil berkata, "Menang tetap saja menang!" balasnya lalu tertawa.
Fajar sangat senang, menerima uang hasil taruhan bola dengan kedua temannya. Sedangkan Budi dan Tamrin, terdiam dengan wajah lesu melihat kemenangan Fajar.
"Bud, punya koleksi film terbaru?" tanya Dandi berbisik kepada Budi.
Budi pun tertawa lalu menjawab, "Ada dong!"
"Pemain baru?" tanya Tamrin berbisik kepada Budi.
Budi menggelengkan kepala lalu menjawab, "Sini, kalian lihat saja sendiri," bisiknya kepada mereka semua.
Pada layar handphone, terdapat sebuah video porno. Dalam video tersebut, terdapat adegan panas dilakukan oleh seorang wanita yang hanya mengenakan berjubah putih bermotif ukiran huruf aksara berwarna emas.
Pasangan itu terus melakukan persetubuhan, namun pihak wanita melakukannya tanpa melepas jubahnya. Tetapi, pihak wanita diperlakukan kasar layaknya binatang. Sewaktu sekolah dasar hingga sekarang, dia sering melihat para wanita mengenakkan jubah tersebut. Namun sampai sekarang, Alexander tidak tau maksud dibalik jubah tersebut.
Suasana kelas ramai seperti biasanya. Setiap siswa di kelas, membentuk kubu masing-masing. Ada juga beberapa siswa yang lebih memilih memainkan handphonenya seperti Wulan.
Alexander berkeringat dingin, jantungnya berdegup kencang sambil melirik ke sana dan kemari ketika mengingat posisinya sebagai Ketua Kelas. Di dalam hati dia berkata, "Sial! Gue harus apa? Kenapa gue yang harus jadi Ketua Kelas?"
Kemudian Alexander mendekat pada mereka semua. Perlahan dia berkata, "Berani sekali menonton di kelas. Kalian sinting ya? Gak takut ketahuan?" kata Alex berbisik kepada mereka semua.
"Asal gak ada gerak-gerik mencurigakan, aman. Sudahlah ayo nonton bareng," rayu Fajar.
Terpaksa, Alexander bergabung bersama mereka menonton video pada layar handphone milik Budi. Semakin lama dia perhatian, birahi pada dirinya semakin meningkat.
__ADS_1
Seiring video berjalan, Budi menceritakan bahwa wanita pada video tersebut merupakan korban kejahatan jalanan. Pelaku berhasil ditangkap, namun sebelum penangkapan itu terjadi video berhasil disebarkan pada situs dewasa. Pada akhirnya, korban keluar dari sekolah dan menanggung malu.
Berkat penjelasan tersebut, membuat burung peliharaan Alex kembali tertidur. Hasrat birahi dan rasa kemanusiaan menjadi imbang, begitulah yang dirasakan oleh mereka semua. Puas menonton, Budi memasukkan handphone ke dalam saku celananya. Fajar dan Dandi, merayu Budi agar membagikan koleksinya. Dengan senang hati, Budi akan memberikannya setelah pulang sekolah.
"Ada film terbaru. Yuk, kita nonton bareng!" ajak Budi sambil membuka galeri di dalam handphonenya.
Wajah Alexa merah padam, dia masih membayangkan adegan panas dalam film. Namun bukan wanita dalam film, melainkan kekasihnya sendiri. Baru menyentuh pemutar film Alexander berkata, "Menurut kalian di Sekolah ini siswi siapa yang paling cantik?"
Pertanyaan itu, membuat mereka semua menoleh kepada Alex. Budi memasukkan handphone kembali ke dalam saku celananya. Sementara waktu, nama baiknya sebagai Ketua Kelas terselamatkan.
"Cantik itu relatif sih bro, kalau melihat tingkat kepopuleran ada empat siswi di sekolah kita," kata Budi memulai pembicaraan.
"Hebat Budi! Selain film dan berita Bansos, elu up-to-date soal cewek!" kata Fajar.
"Elu ngeledek, ya?!"
Fajar tertawa lalu berkata, "Justru gue muji elu."
"Iya jar, gue percaya dah!" balas Budi lalu ia melanjutkan perkataannya, "Siswi tercantik yang pertama Salsa Putri Kelas 12 IPA F."
"Selain itu, tubuhnya seksi dan paling penting gunungnya fantastis," puji Fajar tentang kecantikan Salsa.
"Kedua Nindi, siswi dari kelas 11 IPS E. Kalau tidak salah, Nindi itu anak Ekskul Voli," kata Budi kepada mereka semua.
"Bokong sama pahanya mantap, dia juga manis dan populer dikalangan siswa kelas sebelas," balas Fajar.
Tamrin mengibaskan telapak tangannya ke samping sambil berkata, "Skip gue gak kenal."
"Siswa langsung pulang kayak elu, mana tau. Sesekali berpetualang di sekolah lah," sindir Dandi.
Tamrin tertawa lalu berkata, "Tapi mereka gak ada apa-apanya dibandingkan Tiara, benarkan Bos?"
Wajah Alexander memerah lalu berkata, "Apaan sih!"
Budi menghembuskan nafas. Raut wajahnya terlihat mesum sambil berkata, "Tiara itu gadis tercantik pernah gue temui. Kulitnya putih mulus, tidak belang di kaki layaknya gadis yang pernah gue temui."
__ADS_1
Dandi tersenyum lalu melirik kepada Tiara dan berkata, "Cantik, pintar dan pandai berolahraga. Tiara benar-benar gadis idaman."
"Selain itu pahanya mulus, gunungnya montok dan bodynya seksi gak jauh beda dengan gitar spanyol. Beruntung banget lelaki yang tidur seranjang dengannya," sambung Fajar.
Begitulah yang Alexander ingat, mengenai percakapannya dengan empat temannya. Perkataan Fajar mengenai kecantikan Tiara, membuat Alexander semakin gelisah apalagi burung kecilnya terus berontak.
"Dasar sinting, kenapa mereka bahas hal itu sih?!" ucapnya sambil memandang langit kamar.
Alexander terbangun dari tidurnya, dia mengambil gitar miliknya berada di dalam lemari pakaian. Perlahan dia menarik nafas lalu menatap ke depan.
"Semoga Si Jabrik bisa tidur," ucapnya sambil memainkan gitar.
Alexander, mulai memainkan Aluna lagu tidur. Nada tinggi dan rendah mulai ia mainkan, namun bagian bawah perut masih terasa panas dan burung kecilnya tidak kunjung tidur. Dia terbayang, sepasang paha mulus dan selembar kain merah jambu.
Usahanya tidak berhenti sampai di sini. Alexander membuka laptop lalu membuka dokumen naskah terlarang. Dia pun melampiaskan hasratnya dalam karya fiksi. Pada akhirnya, usaha yang dilakukan Alexander sia-sia.
Alexander mengambil kotak tisu lalu berjalan menuju pintu. Saat menegang gagang pintu kamar, dia teringat perkataan Wulan ketika duduk pada sebuah bangku depan kelas.
Dalam keadaan wajah memerah Wulan berkata"Bos, gue ada dua ramalan penting hari ini," kata Wulan malu-malu.
"Ramalan apa?" tanya Alexander penasaran.
"Pertama jangan mengunci pintu, kedua jangan ragu dan lakukan."
"Apa maksudnya?"
Wajahnya makin memerah lalu ia membalas, "Nanti juga tau."
Akhirnya, Alexander tidak mengunci pintu kamarnya lalu kembali ke tempat duduk menghadap laptop di atas meja belajarnya. Dia melihat sebuah foto tentang keindahan di balik rok kekasihnya. Burung perkasa keluar dari kandangnya, tangan kirinya mulai melakukan senam lima jari.
Suasana kamar yang sunyi, selembar tisu dan layar laptop menjadi saksi atas apa yang dilakukan oleh Alex. Ketika hampir mencapai puncak, pintu kamar tiba-tiba saja terbuka.
"Sayang aku pulang..." kata Tiara baru saja membuka pintu.
Tiara terdiam, melihat Alexander memegang burung peliharaannya sendiri. Alexander sangat syok, melihat Tiara berdiri mematung. Buru-buru, Alexander memasukkan burungnya ke dalam kandang lalu memindahkan tampilan laptop dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
__ADS_1
Alexander memandang layar laptop sambil berkata, "Ramalan bullsit," ucap Alex di dalam hati.