Senar Takdir

Senar Takdir
Oleh-oleh


__ADS_3

Alexander berjalan seorang diri, meninggalkan tempat pertemuan rahasianya dengan Tiara. Wajahnya memerah, mengingat apa yang barusan ia katakan. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya hingga membuat Alexander terkejut.


Dia melirik pada orang yang telah menepuknya. Rupanya, orang itu tidak lain adalah Tamrin.


"Jantungan gue, Tamrin!"


"Ha.ha.ha! Maaf Bos. Habis ketemuan sama Tiara, ya?"


"Hah?! Elu menguntit?" tanya Alex lalu Tamrin menjawab, "Iya."


Alexander menepuk keningnya sendiri. Dia tidak menyangka, bahwa Tamrin telah menguntitnya. Padahal, dirinya berusaha bergerak rapih agar tidak dicurigai.


"Maaf, habisnya melihat melihat tingkah Bos yang langsung keluar terlihat mencurigakan. Ya, akhirnya. Gue memutuskan untuk menguntit. Ngomong-ngomong, kenapa Bos ingin bertemu di Warung Belakang Sekolah?"


"Biasa, Tamrin. Melepas Rindu..."


"Bos, sialan! Bikin iri saja! Pokoknya, kapan-kapan Bos harus ajarin gue cara memikat cewek! Kalau bisa cewek sekelas Tiara," pinta Tamrin kepada Alex.


"Ah, mana bisa!"


"Ayolah, Bos! Ajarin gue, Tolong!"


Tamrin terus merengek kepada Alex hingga sampai di Kawasan Parkir berada seberang jalan. Kemudian, mereka berdua menaiki motor masing-masing lalu melaju di atas aspal kembali ke rumah masing-masing.


Sepasang roda motor Vespa merah milik Tamrin, melaju mulus di atas aspal. Namun tiba-tiba, secara mengejutkan roda depan masuk ke dalam lubang. Sontak, bahasa binatang langsung keluar dari mulutnya.


Dia mulai teringat, mengenai ramalan yang telah ia terima dari Wulan. Di dalam dirinya, ia sangat penasaran mengenai maksud dari perkataan Wulan. Tetapi akal sehat, memaksa Tamrin untuk tidak mempercayainya.


Sambil melaju, Tamrin berpikir keras mengenai maksud dari ramalan tersebut. Tanpa ia sadari, pengendara motor menepi di atas trotoar. Di depan, ia melihat pertigaan jalan lalu ia pun berbelok.


Secara mengejutkan, aparat berseragam berseragam coklat menghadangnya di jalan. Tamrin pun langsung berhenti di pinggir jalan sesuai arahan Polisi.


"Selamat siang, dek. Tolong perlihatkan SIM dan STNK," pinta polisi itu.


Tamrin dengan santainya, mengambil dompet miliknya di dalam saku belakang celana. Betapa terkejutnya Tamrin, melihat masa berlaku kartu STNK telah habis. Seketika, wajahnya menjadi pucat dan mulai berkeringat.


Tidak berselang lama, segerombolan anak sekolah ikut terjaring Rajia Motor. Tamrin baru menyadari, bahwa papan pemberitahuan mengenai rajia motor hanya berjarak 5 m. Seharunya, papan tersebut berada sekitar 15 m dari tempat berlangsungnya Rajia Motor.


Tamrin merasa tidak asing, dengan segerombolan pelajar tersebut. Rupanya, mereka adalah Tiara, Wulan, Hana, Ilham dan teman-temannya. Dari kejauhan Wulan, Tiara dan Hana menyadari keberadaanya lalu ia melambaikan tangan.


"Mana SIM dan STNK, Dek?" ujar Sang Polisi.


Terpaksa, Tamrin menunjukkan SIM dan STNK kepada Sang Polisi. Melihat masa berlaku STNK milik Tamrin telah habis, ia mendapatkan surat tilang. Sementara Wulan dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan.


"Oh, jadi ini maksud dari ramalan itu!"


Setelah mendapatkan surat tilang, ia pun diminta untuk datang ke Kantor Polisi minggu depan. Dia pun kembali melanjutkan perjalanan tanpa membawa kartu SIM miliknya.


Satu jam telah berlalu, akhirnya Tiara dan yang lainnya sampai di Kawasan Parkiran Mall. Tiara turun dari motor Ninja hitam yang dikendarai oleh Ilham. Dia teringat, bahwa sebelum berangkat Ilham sedikit memaksa membonceng pada motornya.


Kursi belakang sedikit tinggi, membuat Tiara merasa tidak nyaman. Dia lebih merasa nyaman menaiki motor milik Alex dan Wulan.


Mereka semua mulai memasuki Mall. Baru pertama kali, Tiara mengunjungi Mall bersama teman-teman. Dia tidak berhenti memandang sekitar dengan rasa kagum.


"Luasnya..."

__ADS_1


"Kamu baru ke sini?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Iya. Ayahku tidak mengizinkan ku untuk datang."


"Memangnya kenapa?" tanya Ilham.


"Keluargaku miskin, jadi kami harus menghemat. Enaknya orang-orang berduit tebal. Mereka bisa datang kapan pun mereka mau..," ujarnya berbohong kepada Ilham dan yang lainnya.


"Kalau kamu mau, aku bisa mengajakmu datang ke mari kapan pun kamu mau.."


"Hebat juga modusnya, mentang-mentang anak Wakil Gubernur," kata Bobi teman satu kelasnya.


"Ha.ha.ha! Apaan sih, Rob!" timpal Ilham sambil menahan malu.


Mereka semua, menaiki eskalator menuju Time Zone berada di lantai dua.



Tiara melihat, berbagai macam permainan yang ada di Time Zone. Mereka semua, duduk di sebuah kursi panjang berada di seberang Time Zone. Ilham dan Hana, pergi membeli minum dan cemilan sedangkan yang lainnya diam menunggu.


"Tiara, uang pemberianku masih ada?" tanya Wulan berbisik kepada Tiara.


"Sudah habis..."


"Ya, sudah. Di dalam sana, biar aku yang bayar," kata Wulan lalu Tiara membalas, "Tidak perlu.,"


"Kenapa?"


"Sepulang sekolah, suamiku memberikan tiga ratus ribu," jawabnya berbisik kepada Wulan.


Ilham dan Hana datang membawa minum dan cemilan. Mereka semua, menikmatinya bersama-sama. Canda dan tawa, menghiasi masa putih abu-abu.


Tiara berdiri di depan salah satu permainan bernama "Dance Pump It Up". Sebuah permainan, mengharuskan untuk menekan tanda panah yang berbeda dipermukaan, sesuai instruksi yang ada pada layar dengan iringan lagu.


"Bagaimana cara memainkannya?"


"Biar aku tunjukkan caranya," kata Ilham lalu mulai menggesekkan kartu Time Zone miliknya.


Ilham mulai menunjukkan kemampuan. Pada awal permainan, ia memiliki level cukup sulit. Kedua kakinya mulai bergerak, menginjak tanda panah dengan iringan lagu.


Gerakan yang lincah, membuat Ilham menjadi pusat perhatian. Melihat kemampuannya, membuat Tiara penasaran untuk mencobanya. Dia terus mengamati, cara kerja dan apa yang harus dilakukan ketika bermain berlangsung.


"Ayo, sini! Sekarang kamu coba," ujarnya meminta Tiara untuk mencoba.


Tiara berdiri ke atas, ia mulai berkonsentrasi pada layar. Permainan level terendah dimulai, kedua kaki Tiara bergerak sesuai instruksi. Gerakannya yang lincah, membuat paras cantiknya terpancar luas.


Kecantikan Tiara, membuat para pengunjung bertanya-tanya mengenai identitasnya. Level selanjutnya, Ilham bergabung ke dalam permainan. Mereka berdua, terlihat serasi ketika bermain bersama.


Pada saat itu, Tiara benar-benar menikmati permainan dan suasana yang ada di Time Zone. Puas bermain, mereka semua pergi menuju Restoran Cepat Saji.


Mereka semua memasuki restoran lalu memesan menu masing-masing. Tiara kebingungan, melihat apa yang ada di daftar menu.


"Aku sarankan, memilih paket ke tujuh. Spaghetti, burger, Coca-Cola, Eskrim, Chicken dan nasi semuanya lengkap," kata Ilham merekomendasikan.


"Tapi, harganya seratus ribu," jawab Tiara lalu Ilham membalas, "Biar aku yang bayar."


"Ya, sudah kalau kamu memaksa. Aku pilih paket satu," balas Tiara sambil menunjuk.

__ADS_1


Pada paket satu, terdapat tiga menu yaitu kentang goreng, Sop Cream Jagung dan Coca-Cola.


"Kenapa?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Aku sedang diet."


"Diet? Padahal tubuhmu itu bagus," balas Ilham.


"Kamu ngeledek, ya?"


"Ha.ha.ha! Aku serius Tiara."


Meskipun begitu, dia tetap bersi keras membayar pesanan Tiara. Selesai memesan, satu persatu pergi menuju meja berapa di samping kaca.


Tiara dan Wulan, pergi menuju wastafel khusus untuk mencuci tangan. Wulan penasaran, mengapa Tiara tidak memesan paket tujuh. Sesampainya di depan wastafel mereka mulai mencuci tangan.


"Diet? Bohong sekali. Kenapa tidak pesan paket tujuh?" tanya Wulan lalu Tiara menjawab, "Aku ingin makan berdua dengan suamiku. Selain itu, uang pemberian Alexander sangat berharga. Sebisa mungkin, aku ingin menghemat."


Wulan tersenyum sambil mengeringkan kedua tangannya dengan mesin pengering. Kemudian, Wulan dan Tiara kembali ke meja makan lalu menikmati hidangan bersama.


"Jadi, apa jawaban dari tantangan kelas kami?" tanya Martin, teman sekelas Ilham.


"Kelas kami, siap menerima tantangan kelas kalian," jawab Tiara.


"Hah? Sejak kapan? Kelas kita belum memutuskan," bisik Hana kepada Tiara.


"Tenang.."


Jawaban Tiara, membuat Wulan menggelengkan kepala. Dia penasaran, bagaimana reaksi teman-teman di Grup Kelas. Ilham pun memberitahu, bahwa pertandingan akan berlangsung pada hari Sabtu depan.


Selesai makan, Tiara kembali ke meja kasir untuk memesan. Dia melihat-lihat, menu yang ada di menu. Ilham pun berjalan mendekatinya yang sedang melihat menu.


"Kamu masih lapar?" tanya Ilham lalu Tiara menjawab, "Tidak, aku hanya memesan makanan untuk keluarga di rumah."


"Hebat, masih sempat-sempatnya mengingat keluarga. Selain cantik, kamu itu baik hati," puji Ilham.


"Hi.hi.hi, bisa saja kamu."


"Ya, sudah kamu pesan. Biar aku yang bayar."


"Tidak perlu, aku bisa bayar sendiri. Rasanya tidak enak dibayar terus menerus," timpal Tiara.


"Santai, apa sih yang enggak buat kamu..."


Akhirnya, Tiara tanpa ragu memesan dua paket tujuh. Selesai makan, mereka semua berjalan keluar Restoran.


"Habis ini, ayo kita ke Toko Aksesoris!" seru Hana kepada mereka semua.


"Maaf, aku tidak bisa," balas Tiara.


"Kenapa?!" tanya Martin lalu Tiara menjawab, "Aku takut, mungkin Ayahku sedang mencari ku."


"Kalau begitu, setidaknya biar kami yang antar."


"Tidak, perlu. Aku naik angkot," ujarnya berbohong kepada mereka semua.


Setelah itu, dia pamit kepada mereka semua lalu berlari keluar Mall mencari tempat sepi. Tiara berdiri seorang diri di sebuah bangunan yang sepi belakang Mall. Dalam sekejap, ia menghilang dibalik butiran cahaya lalu muncul di halaman rumah.

__ADS_1


__ADS_2