
Sementara itu, tiga puluh menit sebelum masuk sekolah. Ilham dan Tiara duduk di bangku taman. Tiara memegang mangkuk berisi eskrim, sedangkan Ilham memegang bungkus styrofoam berisi nasi goreng.
Tiara menoleh kepada Ilham. Dia melihat Ilham makan begitu lahap lalu ia bertanya, "Kamu gak sarapan?"
"Iya, aku bangun kesiangan. Terus motor gue rusak, untungnya ada supir pribadiku."
"Kamu ada-ada saja," balasnya.
Ilham tersenyum melihat Tiara begitu menikmati eskrim miliknya. Kemudian dia berkata, "Kamu kelihatannya suka sekali dengan eskrim sampai belepotan begitu."
"Masa sih?" tanya Tiara sambil mengelap mulutnya dengan tangan.
Ilham tersenyum lalu mendekatkan pergelangan tangannya pada pipi Tiara tepat sebelah kiri. Tiara yang peka, langsung mengelap eskrim dengan telapak tangannya sendiri. Melihat hal itu, Ilham pun menahan tawa. Sontak Tiara pun langsung cemberut.
"Ngapain ketawa-ketawa?" tanya Tiara sambil melipat kedua tangannya.
Ilham tertawa lalu berkata, "Habis kamu lucu kayak anak kecil. Makan eskrim sampai belepotan. Segitu sukanya kamu sama eskrim?"
"Tidak terlalu, aku cuman mengisi waktu luang dibandingkan melihatmu makan sendiri."
"Maaf-maaf, mau aku belikan?"
Tiara menggelengkan kepala lalu menjawab, "Tidak perlu, aku sudah sarapan."
"Begitu rupanya, ngomong-ngomong Sabtu malam kamu nonton pertandingan ku?"
Tiara pun teringat, tentang pertandingan Ilham yang ia sewaktu menginap di rumah Wulan pada ponsel miliknya. Suasana pertandingan malam hari sedang diselimuti oleh hujan.
Angin berhembus kencang seiring dinginnya suasana malam. Tim Batavia .FC yang dipimpin oleh Ilham telah kebobolan dua gol. Begitulah sekilas pertandingan yang diceritakan oleh Tiara.
Ilham pun murung lalu tertunduk dan berkata, "Andaikan tidak hujan waktu itu. Mungkin timku sudah menang."
"Hei," balasnya membuat Ilham menoleh lalu kembali berkata, "Jangan pernah salahkan cuaca, mungkin itu bukan hari keberuntunganmu."
"Tapi, tetap saja timku kalah. Maaf..."
Tiara tersenyum lalu berkata, "Semua ada jalannya, kamu tidak perlu meminta maaf apalagi kepadaku. Ilham tau Roberto Carlos?"
"Aku tau! Beliau itu pemain legenda sepak bola tahun 1998 asal Brazil!" ucapnya begitu bersemangat.
"Beliau memiliki sebuah teknik tendangan legendaris yaitu tendangan pisang. Berdasarkan posisi gol lawan dan arah mata angin, seharusnya timmu bisa membalikkan keadaan," ujarnya menjelaskan.
"Hebat, pemikiranmu sudah seperti seorang pengamat profesional. Analisamu sangat cocok untuk bergabung dengan timku Tiara."
Tiara tertawa lalu berkata, "Tidak, kamu berlebihan. Aku hanya asal saja menganalisanya," balasnya rendah hati kepada Ilham.
"Aku serius, Tiara. Lagi pula, melakukan tendangan pisang itu sangat sulit. Memangnya kamu bisa?"
Tiara melipat tangannya lalu berkata, "Bisa dong!" ucapnya dengan nada sombong.
Ilham tertawa lalu berkata, "Bohong, coba buktikan. Baru aku percaya," tantang Ilham.
"Boleh, tentukan tanggal dan waktu."
Ilham langsung berjabat tangan dengan Tiara sambil berkata, "Sepakat!"
Berjabat tangan dengannya, membuat Ilham merasakan peluang mendapatkan Sang Pujaan Hati. Andaikan waktu bisa terhenti, ia ingin sekali terus berdua dengannya. Sekilas dia teringat saat rajia berlangsung.
Ilham melihat Tiara, mendapat teguran dari komite kedisiplinan. Dia penasaran, mengenai apa yang sebenarnya terjadi kepada Tiara.
__ADS_1
Ilham melepas genggaman tangannya lalu bertanya, "Selesai upacara, aku melihatmu dimarahi oleh petugas Komite Kedisiplinan. Sebenarnya ada apa?"
Tiara menghembuskan nafas lalu menjawab, "Rok sekolahku terlalu pendek."
Ilham tertawa lalu membalas, "Itu salah kamu sendiri. Ngapain sih, pakai rok pendek segala? Mau jualan paha?"
Tiara tertunduk lalu menutup mulutnya sambil menahan tawa begitu teringat oleh perkataan Alex. Melihat hal itu, membuat Ilham penasaran tentang apa yang ditertawakan olehnya.
"Kamu orang kedua yang bilang aku begitu."
Ilham membalas tawanya lalu bertanya, "Memangnya siapa yang pertama? Temanmu Wulan?"
Tiara menggelengkan kepala lalu menjawab, "Alexander."
Mendengar nama rivalnya, perlahan keceriaan pun mulai menghilang pada raut wajah Ilham. Di dalam hati, dia menyebutkan nama rivalnya dengan penuh iri, dengki dan amarah. Setelah itu, dia memandang Tiara dengan cukup serius.
"Kamu gak marah?"
Tiara tertawa lalu balik bertanya, "Marah kenapa?"
"Alexander itu sudah melecehkan mu loh. Perkataan Alex itu termasuk pelecehan verba Seharusnya kamu marah, paling bagus tampar mulutnya," ucap Ilham memprovokasi.
Tiara tersenyum lalu membalas, "Memang sih, cuman aku tidak berpikiran seperti itu. Terus, apa bedanya dengan kamu yang juga berkata seperti itu?"
Sontak Ilham pun terdiam. Dirinya tidak menyangka, Tiara tidak terprovokasi dan terus membela rivalnya. Tiara tidak tau menahu apa yang dipikirkan olehnya mengambil topi yang sedang Ilham kenakan.
Tiara tertawa terbahak-bahak, begitu melihat Ilham yang juga terkena rajia rambut.
"Di sekolah tidak boleh pakai topi!" ucapnya sambil berdiri lalu berlari.
Ilham yang malu langsung mengejarnya sambil berkata, "Malu! Balikin topi gue!"
Sesampainya di kelas, dia melihat Wulan dari kejauhan sedang asik memainkan ponselnya. Wulan pun langsung menoleh kepadanya.
Sambil mengangkat tangan Wulan pun berkata, "Yo!"
"Hei, sendirian saja. Di mana Alex dan Tamrin?" tanya Tiara sambil duduk disampingnya.
Tidak berselang lama, Tamrin pun masuk ke dalam kelas. Dia berjalan sambil mengibaskan rambutnya merahnya yang lemayan panjang. Bajunya keluar dan berlagak seperti preman.
Tamrin berjalan mendekati mereka berdua sambil mengangkat tangan sambil berkata, "Yo! Gadis-gadis!"
"Sok keren, pas upacara gue gak lihat elu di barisan. Elu habis dari mana?" tanya Wulan.
Tamrin tertawa lalu menjawab, "Orang keren kayak gue banyak kesibukan. Jadi gue gak sempat masuk barisan. Apalagi hari ini ada ancaman yang harus dihindari.
Tiara tertawa lalu berkata, "Bahaya laga mu, bilang saja kabur dari rajia."
"Kayak seru nih kalau cepuin ke Nanda," canda Wulan sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Cepuin ah! Nanda! Nanda!" sambung Tiara.
"Cepu, gak seru!" balas Tamrin kepada mereka semua.
Untungnya, Nanda sama sekali tidak menanggapinya. Dia fokus pada buku mempersiapkan kegiatan belajar hari ini. Kemudian, Tiara pun berdiri dan kembali duduk di tempatnya.
Tiara merasakan firasat yang tidak enak. Dia teringat kekasihnya tidak berada di dalam kelas. Gadis itu menoleh ke sana dan kemarin mencari keberadaan Alex.
"Ada apa Tiara?" tanya Tamrin.
__ADS_1
"Alex."
"Maksudmu ayang beb?"
Wajah Tiara langsung tersipu malu lalu ia mendekatkan telunjuk kepada mulutnya. Dia pun berkata, "Stt! Jangan keras-keras!"
Tamrin tertawa lalu berkata, "Maaf-maaf. Sewaktu masuk sekolah, gue sempat cari-cari Bos. Gue kira, Bos lagi sama elu."
Mendengar hal itu, Tiara pun langsung berdiri lalu berjalan keluar dengan penuh tergesa-gesa. Wulan dan Tamrin yang melihatnya langsung menyusul Tiara.
Mereka berdua berjalan cepat langsung memanggilnya. Akhirnya, Tiara pun berhenti dan menoleh kepada kedua sahabatnya.
"Tiara, kamu mau ke mana?" tanya Wulan.
"Buru-buru sekali, kelihatan cemas begitu sebenarnya ada apa?" sambung Tamrin bertanya kepada Alex.
"Selesai upacara, aku dan suamiku berjalan di lorong. Lalu, kami bertemu dengan Ilham. Terus suamiku bilang, ingin ke kelas duluan tetapi sekarang tidak ada di kelas. Aku kira lagi sama kamu Tamrin. Aku khawatir, suamiku kenapa-kenapa. Sebab tidak biasanya dia begini!" ucapnya begitu panik.
"Tenang, jangan panik. Ayo, kita Bos di kantin," ujar Tamrin memberi saran.
Seseorang menepuk pundak mereka berdua sambil berkata, "Dor!"
Sontak mereka berdua pun terkejut. Mereka berdua langsung menoleh ke belakang. Rupanya orang yang mengejutkan mereka berdua adalah Hana.
"Halo guys, pada mau ke mana nih?!" sapa Hana.
Tamrin dan Wulan berkata dalam hati, "Cih, pengganggu."
"Kami mau cari Alex," jawab Tiara.
"Ngapain sih cari Alex? Yuk, kita ke Kantin saja!" ajaknya sok akrab.
Terpaksa, mereka membiarkan Hana untuk ikut ke Kantin. Sesampainya di Kantin, diam-diam mereka bertiga menoleh ke sana dan kemari mencari Alex. Namun mereka tidak menemukannya di sudut mana pun.
Mereka ingin mencari Alex di tempat lain. Namun mereka bertiga terikat oleh Hana beserta cemilan pagi hari.
"Paling nikmat makan cemilan di pagi hari. Kalian celingak-celinguk begitu sedang cari apa sih?" tanya Hana kepada mereka bertiga.
"Enggak-enggak," ucap kompak mereka bertiga.
"Makan cemilan begitu, emangnya kamu gak takut gendut?" kata Tamrin.
"Enggak dong! Makan banyak pun gue gak bakal gemuk," jawabnya begitu angkuh.
Tiara tertawa lalu berkata, "Dikasih gemuk sama Dewa-dewi nanti ribut!" canda Tiara.
Wulan dan Tamrin saling berpandangan, mereka mengangguk-anggukkan kepala lalu berdiri. Hana dan Tiara langsung menoleh kepada mereka berdua.
"Kita ada urusan dulu, elu berdua ke kelas saja duluan. Kebetulan hari ini ada ujian bukan? Lebih baik belajar mumpung ada waktu," kata Wulan kepada mereka berdua.
"Cie! Kalian mau date? Sebentar lagi mau masuk loh," balas Hana.
Tamrin tertawa lalu berkata, "Kalau gue ngedate sama dia. Pasti gue bawa dia ke Kebun Binatang buat ketemu kembarannya!" canda Tamrin.
Wulan langsung menepuk pundak Tamrin begitu mendengarnya. Mereka mereka tertawa dan bercanda begitu melihat reaksi Wulan. Setelah itu, Wulan dan Tamrin berpisah dengan mereka berdua.
Sebelum itu, Wulan menepuk pundak Tiara sebagai isyarat agar tidak perlu khawatir dan menyerahkan sepenuhnya kepada dirinya dan Tamrin. Setelah itu, pencarian Alexander pun di mulai.
Mereka berdua berpencar mencari Alexander di seluruh lingkungan sekolah. Bahkan, Tamrin mencari Alexander di tempat rental PlayStation tak jauh dari sekolah.
__ADS_1
Sayangnya, mereka berdua tidak menemukannya. Akhirnya, mereka berdua memutuskan kembali ke kelas walau harus mendapatkan hukuman.