
Sementara itu, Tiara sedang sibuk membaca buku hitam milik Alex. Dia mendapatkan berbagai pelajaran dan hal baru seputar sosialisasi. Dia tersenyum sambil menahan tawa ketika melihat tulisannya seperti tulisan Sansekerta.
Sesekali dia menoleh ke depan, mencari keberadaan Alex. Aura kecantikan, membuat siapa pun terpikat termasuk seorang lelaki berusia kepala tiga. Pria itu, mengenakan jas hitam, kharisma yang memukau membuat ia aura kaum menengah ke atas terlihat jelas.
"Selamat siang, dek," sapa pria itu lalu duduk begitu saja di hadapannya.
Tiara menutup bukunya, dia melihat pria itu dengan sorot matanya yang dingin. Dirinya bertanya-tanya, siapa dan apa tujuan pria itu duduk di hadapannya.
"Siang."
"Dek, Sekolah di SMA 22 TEGAR SARI?"
"Iya, maaf Om ini siapa ya?" tanya Tiara lalu pria itu menjawab, "Saya alumni SMA 22 TEGAR SARI, angkatan tiga puluh."
Diam-diam, pria itu mengambil handphone di dalam saku celananya. Dia mengarahkan kamera, dan memfoto apa yang ada di balik meja.
"Kelas berapa, dek?" tanya pria itu lalu Tiara menjawab, "Kelas sepuluh."
"Hebat, kelas sepuluh makan di tempat mewah seperti ini. Dulu semasa SMA, Om makan di warung angkringan pinggir jalan. Beda sama anak sekarang makan di Mall. Apalagi restoran mahal seperti ini.."
Sementara itu, seorang siswi SMA 22 TEGAR SARI berjalan melintas. Gadis itu, memiliki rambut hitam panjang dan berparas cantik Diam-diam, siswi itu memfoto Tiara dan pria itu. Sementara itu, lelaki asing terus menceritakan, kenangan palsu semasa SMA. Tanpa Tiara sadari, sudah banyak foto yang lelaki itu dapatkan. Seseorang mengambil handphonenya, seketika raut wajahnya menjadi panik.
Orang itu tidak lain adalah Alexander. Dia melihat, apa yang ada dibalik layar handphone milik lelaki itu.
Keberuntungan tidak berpihak padanya, dia gagal mengambil gambar apa yang ada dibalik rok. Semua foto yang ada di handphone milik lelaki itu blur.
"Sialan! Tidak punya adab! Kembalikan handphone ku!"
"Mengajak korbannya berbincang, sementara tangan kirimu mengambil foto yang menarik. Dasar amatir, Om Mesum!"
"Ada apa ini?!" tanya seorang Manajer restoran berjalan mendekati mereka bertiga.
"Mohon maaf Manajer, salah satu pelanggan restoran anda telah melakukan pelecehan dengan mengambil gambar yang seharusnya ia tidak ambil," jawab Alexander sambil memberikan handphone itu kepada Manajer Restoran.
Wajah lelaki itu berkeringat dingin dengan raut sangat ketakutan. Manajer Restoran, menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil keamanan.
Setelah dua keamanan itu datang, Sang Manajer menunjukkan bukti kejahatan pria itu pada semua orang. Kemudian, dia mengangkat handphone milik lelaki itu setinggi mungkin.
"Saya akan hapus, beberapa foto yang terlihat jelas dan kalian harus menjadi saksi bahwa saya tidak menyimpannya!" ujar Sang Manajer kepada semua orang.
Sang Manajer, menghapus sebagai foto yang terlihat jelas lalu menunjukkan kepada semua pelanggan bahwa ia telah menghapusnya. Sebagai permintaan maaf, Sang Manager memberikan gratis makanan dan minuman yang telah ia pesan. Beliau meminta, kepada mereka berdua supaya melupakan kejadian hari ini.
Setelah itu, mereka berdua berjalan meninggalkan restoran. Alexander menggenggam tangan Tiara dengan erat. Dia melihat, kekasihnya terlihat syok atas apa yang terjadi di Restoran.
__ADS_1
Di sudut Mall lantai dua, Alexander melihat sebuah bangku panjang dekat dengan poster film. Suasana di lantai dua cukup sepi.
Dia menarik tangan Tiara lalu duduk berdampingan pada bangku tersebut. Secara mengejutkan, Tiara memeluk dengan erat. Alexander, membalas pelukannya lalu membelai rambutnya secara perlahan.
"Kamu ke mana saja? Kenapa kamu lama?" tanya tiara sambil menyandarkan wajahnya di dada Alex.
"Maaf Tiara, ada sesuatu yang ingin aku beli. Andaikan aku datang lebih cepat, mungkin pria itu tidak akan macam-macam."
"Aku kira, kamu pergi meninggalkanku...," ujarnya sambil memandang wajah Alex.
"Mana mungkin aku melakukan itu," balas Alex sambil membelai rambutnya lalu ia berkata,"Sudahlah sayang. Kita lupakan yang terjadi di Restoran itu. Sekarang, sudah waktunya kita fokus pada kencan kita."
Tiara tersenyum sambil menganggukkan kepala. Mereka berdua, berjalan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Sekian lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di Time Zone.
Tiara dengan semangat, menarik tangan Alex dan membawanya ke dalam Wahana Bermain tersebut.
Berbagai macam permainan telah mereka berdua lalui. Canda dan tawa, membuat Wahana Bermain dipenuhi oleh keceriaan. Baru pertama kali, Alexander bermain dan menikmati suasana penuh keceriaan.
Berbeda ketika dirinya semasa kecil hingga masa SMP yang penuh dengan rasa sakit serta rasa hampa. Alexander merasa, semua hal yang terjadi di masa lalu telah tergantikan. Mereka berdua, berdiri di depan permainan Dance Pump.
"Sayang, ayo kita main!" seru Tiara sambil menunjuk pada permainan tersebut.
Permainan pun dimulai dengan tingkat kesulitan paling rendah. Tanda panah, bergerak dengan sangat perlahan. Alexander dengan gerakan yang kaku, menginjak tanda panah tersebut.
Sedangkan Tiara, menginjak tanda panah di telapak kakinya dengan lincah. Alexander melirik ke arah Tiara. Melihat Tiara yang ceria seolah tidak terjadi apapun, membuat Alexander tersenyum.
Senyuman Tiara, membuat Alex ingin terus meluangkan waktu bersama Tiara. Sebab jarang sekali, menikmati suasana di luar bersama orang lain terutama gadis seperti Tiara. Dirinya merasa, bahwa ia telah menjadi sosok yang bernama "Manusia".
Puas bermain Dance Pump, Tiara membawanya ke tempat karoke. Ketika memasuki ruang karaoke, jantung Alex berdetak begitu kencang. Tempat Karoke yang penuh lampu remang-remang, membuat Alexander merasa canggung. Layar televisi mulai menyala, Tiara bertanya mengenai lagu yang ingin Alexander nyanyikan.
"Entahlah, suaraku tidak terlalu merdu,"kata Alex tidak percaya diri.
"Ayo, sayang gak apa-apa. Aku ingin dengar suara kamu," pinta Tiara dengan bersungguh-sungguh.
Alexander menghembuskan nafas, dia memilih album Grup Hivi dengan judul "Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi." Tiara tersenyum memandang Alex sedang fokus menatap layar televisi. Dia tidak sabar, mendengar suara Alex.
"Ketika ku mendengar bahwa
Kini kau tak lagi dengannya
Dalam benakku timbul tanya..."
__ADS_1
Suara merdu Sang Kekasih, baru pertama kali ia dengar. Tiara tersenyum, menikmati irama merdu yang keluar dari mulut Alex. Dia tidak menyangka, selain mahir bermain gitar ia juga merdu dalam bernyanyi.
"Kini ku tak lagi dengannya
Sudah tak ada lagi rasa
Antara aku dengan dia..."
Tiara ikut bernyanyi, membuat Alexander melirik ke arahnya. Suara merdu Tiara, membuat dirinya terpikat. Sekarang, dua irama merdu saling berkolaborasi menutupi kekurangan-kekurangan satu sama lain.
Di dalam tempat itu, tidak ada suara lain selain irama musik dan suara merdu mereka berdua. Perlahan, kedua tangan mereka saling bersentuhan lalu menggenggam satu sama lain.
Posisi duduk mereka berdua menempel satu sama lain. Irama musik yang merdu, membuat mereka merasa bahwa dunia ini milik mereka berdua. Berbagai macam lagu telah mereka nyanyikan.
Suara merdu mereka yang berkolaborasi, membuat jiwa mereka seolah bersatu. Puas bernyanyi, mereka berdua berjalan keluar meninggalkan Kawasan Time Zone.
Di tengah perjalanan lantai satu, Alexander melihat toko olahraga. Langkah kakinya terhenti, ketika melihat atribut dan perlengkapan olahraga lainnya.
Dia teringat, pertandingan melawan kelas 10 IPA A yang akan berlangsung Sabtu depan.
"Silahkan masuk!" ujar seorang penjaga toko kepada mereka berdua.
Mereka berdua, berjalan masuk ke dalam toko. Alexander, memegang sebuah bola sepak berwarna hitam dan kuning emas. Dia menatap bola itu dengan raut wajah yang murung.
Dirinya teringat, masa kecil ketika bermain bersama teman-teman semasa Sekolah Dasar. Kedua tangannya gemetar, ketika ia teringat bahwa ketika bermain bola sepak mengenai wajahnya.
"Bola Sepak itu harganya seratus ribu," ujar Sang Penjaga Toko.
"Saya beli yang ini. Tolong nanti di bungkus, saya masih ingin lihat-lihat barang di toko."
"Kalau begitu, saya pergi ke gudang sebentar. Kalau ada apa-apa panggil saja."
Penjaga toko itu pergi ke gudang meninggalkan mereka berdua. Tiara sedang melihat-lihat, melirik kepada Alex. Dia melihat raut wajahnya murung, kedua tangannya gemetar memegang bola sepak. Kemudian, dia pun berjalan mendekatinya.
"Kenapa tanganmu gemetar, sayang?"
"Entah mengapa, setiap melihat bola ini aku selalu teringat kenangan buruk. Menatap bola ini saja sudah membuatku takut. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini," kata Alex tertunduk menatap bola di kedua tangannya.
Tiara tersenyum, kedua tangannya menyentuh tangan Alex sedang memegang bola.
"Dengar sayang. Kamu tidak bisa selamanya terbelenggu oleh masa lalu. Jika melihat bola ini membuatmu selalu teringat kenangan buruk. Kalau begitu, kita buat saja kenangan baru. Hanya ada aku, kamu dan dua serangkai," balasnya lalu ia tersenyum membuat Alexander melirik dan memandang wajahnya.
__ADS_1